Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Trauma Ringan


__ADS_3

Sikap Naya yang seperti itu benar-benar membuat Gerald semakin khawatir memikirkan sang istri. Ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah saat ini juga untuk melihat kondisi istrinya itu dan memastikan semua keadaannya baik-baik saja. Setelah meminta izin kepada ayahnya, Gerald pun segera saja pergi meninggalkan rumah sakit.


Gerald melajukan mobilnya itu dengan kecepatan tinggi tanpa melihat kanan kiri, karena waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 00.00 dan jalanan sangat sepi sehingga Gerald dapat dengan lancar melakukan perjalanan hingga selamat tiba di rumah.


Setibanya di rumah, dengan cepat Gerald pun berlari menuju ke kamar untuk mencari keberadaan istrinya. Saat ia masuk ke dalam kamar, dilihatnya saat itu Naya dan Kania sudah tertidur. Gerald tampak bernafas lega, tetapi entah kenapa masih tetap ada yang mengganjal dalam pikirannya, merasa telah terjadi sesuatu dengan istrinya itu.


Untuk memastikan semua baik-baik saja, akhirnya Gerald pun memutuskan untuk tidur di rumah malam ini dan besok pagi-pagi sekali ia akan kembali ke rumah sakit untuk bergantian jaga dengan sang ayah. Lalu ia pun segera saja ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena setelah beberapa hari ia hanya mandi di rumah sakit.


Di saat Gerald sedang berada di kamar mandi, Naya tampak membuka matanya dan berusaha sebisa mungkin untuk tenang. Naya yang tadi mendengar suara mobil suaminya di bawah, dengan cepat ia pun mengganti piyama dan langsung saja berbaring di samping Kania serta berpura-pura tidur. Ia tidak mau jika Gerald merasa khawatir terhadap keadaannya.


Setelah membersihkan diri, Gerald pun merebahkan tubuhnya itu di samping sang istri, memejamkan matanya hingga terlelap.


"Jangan … tolong jangan lakukan itu kepada saya. Saya mohon lepaskan saya!" Teriak Naya.


"Sayang … Sayang … bangun Sayang," panggil Gerald sembari mengguncang pelan tubuh sang istri hingga Naya pun tersadar dari mimpi buruknya.


Naya pun segera saja bangun dan memeluk tubuh Gerald serta menangis di dalam dekapan hangat sang suami.


"Sayang, ada apa? Kamu mimpi buruk?" Tanya Gerald dan hanya ditanggapi anggukan pelan saja oleh istrinya itu.


Naya masih enggan untuk berbicara kepada suaminya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Biarlah Gerald menganggap jika ini hanyalah mimpi buruk Naya, bukan sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya. Akan tetapi Naya tidak bisa berbohong jika ia merasa takut dan trauma terhadap kejadian yang tadi dialaminya. Buktinya baru saja 1 jam yang lalu ia terlelap, sudah mengalami mimpi buruk yang terus mengganggu pikirannya.


"Sayang, kamu tenang ya. Di sini ada aku, aku akan selalu ada menemani kamu di sini. Mungkin karena kamu itu kurang istirahat sehingga mimpi buruk. Tapi kalau aku boleh tahu kamu mimpi apa Sayang?" Tanya Gerald yang membuat Naya pun terdiam.


"Sayang kalau kamu memang nggak mau cerita sekarang nggak apa-apa, yang penting kamu tenangkan diri kamu dulu ya. Tapi kalau kamu sudah siap, tolong kamu cerita ya sama aku," ucap Gerald.

__ADS_1


"Sayang, tadi aku mimpi ada orang jahat yang mau mencelakakan aku. Penjahat itu memegang pisau dan rasanya itu seperti nyata yang membuat aku ketakutan," ucap Naya yang terpaksa berbohong.


"Oh … seperti itu, ini sudah jelas karena kamu kurang beristirahat. Sekarang kita istirahat saja lagi ya. Ini masih jam 03.00, besok pagi aku akan kembali ke rumah sakit untuk bergantian dengan Papa menjaga Mama," ucap Gerald.


"Iya Sayang," jawab Naya yang terlihat mulai sedikit tenang.


Lalu mereka berdua pun kembali memejamkan mata, akan tetapi Naya sama sekali tidak dapat tidur hingga pagi pun menyapa.


***


Naya beranjak dari tempat tidur meskipun matanya saat itu terasa sangat berat. Ia sama sekali tidak dapat memejamkan mata karena rasa takut yang terus saja menghantuinya. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Naya pun menuju ke dapur hendak menyiapkan sarapan pagi untuk suami tercintanya.


Di saat Naya terlihat sedang fokus membuat sarapan, tiba-tiba saja Gerald memeluknya dari belakang dengan sangat mesra serta membenamkan kepalanya itu di leher jenjang Naya, sehingga membuat istrinya itu sontak terkejut dan melepaskan tangannya.


Tentu saja hal itu membuat Gerald menjadi kebingungan, ia yakin pasti telah terjadi sesuatu terhadap Naya yang membuatnya seperti trauma.


"Sayang, ini aku. Aku Gerald suami kamu, aku bukan orang jahat," ucap Gerald yang perlahan mendekati istrinya.


"Tidak, saya mohon jangan lakukan itu kepada saya. Saya mohon Pak!" Ucap Naya yang terus saja memohon.


"Pak? Ada apa ini sebenarnya, apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Naya? Sayang, aku Gerald. Aku suami kamu," ucap Gerald lagi.


"Gerald?" Ucap Naya, lalu ia pun memeluk suaminya itu.


Gerald membalas pelukan tersebut dengan sangat erat sembari mengusap lembut punggung sang istri untuk menenangkan hatinya.

__ADS_1


"Sayang, ada apa sebenarnya? Aku yakin kalau tadi malam itu kamu mimpi buruk pasti karena telah terjadi sesuatu kan? Ceritakan ke aku ada apa?" Tanya gerald yang tampak begitu cemas.


Naya menangis sejadi-jadinya, rasanya ia tidak sanggup lagi untuk menyembunyikan rahasia ini kepada suaminya. Di saat itu Gerald segera saja membangunkan sang istri lalu menuntunnya untuk duduk di ruang makan. Setelah dirasa Naya sudah cukup tenang, Gerald pun mencoba kembali bertanya kepada sang istri.


"Sayang, tolong ceritakan sama aku, apa yang sudah terjadi tadi malam sehingga membuat kamu seperti ini? Kamu jangan takut ya, ada aku di sini yang akan selalu menjaga kamu," ucap Gerald dengan tatapan mendamba sembari menggenggam tangan Naya, berharap jika istrinya itu akan memberitahukan padanya. Ia benar-benar penasaran dan merasa khawatir terhadap kondisi istrinya saat ini.


Naya mencoba menetralisir perasaannya, lalu secara perlahan ia pun menceritakan apa yang telah menimpanya hingga George datang menyelamatkannya.


"Apa?"


Gerald sangat terkejut dan merasa tubuhnya lemah seketika. Ia sangat terpukul dan marah atas apa yang terjadi pada istrinya. Ia juga menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bejus menjaga Naya hingga istrinya itu mengalami kejadian buruk.


"Sayang, maafkan aku ya. Ini semua karena kesalahan aku, karena kebodohan aku. Kalau saja tadi malam aku memaksa mengantar kamu pulang ke rumah, kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Tapi bagaimana bisa George tahu soal ini dan menolong kamu tetapi dia sama sekali tidak mengabarkan aku," ucap Gerald.


Naya menggelengkan kepalanya. "Enggak Sayang, kamu jangan menyalahkan diri sendiri atau marah terhadap George, karena aku yang memintanya untuk tidak memberitahu kamu," ucap Naya yang terus saja meneteskan air matanya.


Gerald sangat sedih melihat keadaan sang istri saat ini, lalu ia kembali meraih tubuh istrinya itu dan memeluknya erat. Gerald merasa sangat terpukul dengan keadaan ibunya dan sekarang ditambah lagi dengan kondisi istrinya yang memprihatinkan.


Akhirnya Gerald pun menghubungi sang ayah mengabarkan bahwa ia belum bisa kembali ke rumah sakit karena ada urusan mendadak. Ia memutuskan untuk menemani Naya dulu saat ini karena istrinya itu masih dalam kondisi yang belum stabil. Terkadang Naya masih sering berteriak memohon untuk tidak diganggu.


Karena tidak mau kondisi Naya semakin memburuk, Gerald memanggil dokter untuk memeriksa keadaan istrinya. Dokter mengatakan jika saat ini Naya mengalami trauma ringan. Setelah diberi obat penenang, kini Naya pun tertidur dan beristirahat. Sedangkan Kania dijaga oleh baby sister seperti biasanya.


"Sayang, maafkan aku ya. Ini semua karena kesalahan aku yang telah membuat kamu terluka dan mengalami trauma seperti ini. Aku telah lalai menjaga kamu Sayang. Tapi aku janji, kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi. Aku janji akan menjaga kamu dengan baik. Cepat sembuh ya Sayang, aku dan Kania butuh kamu," ucap Gerald sembari menggenggam erat tangan istrinya itu serta mencium punggung telapak tangannya dengan penuh cinta.


...Bersambung …...

__ADS_1


__ADS_2