Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Kabar Bahagia Part 2


__ADS_3

Sementara itu Putri dan George yang masih berada di luar ruang IGD merasa sangat khawatir karena Gerald belum juga keluar dari ruangan tersebut. Tak henti-hentinya Putri berdoa mengharapkan agar sahabatnya itu baik-baik saja.


"Sayang, kamu tenang ya. Aku yakin kok kalau Naya itu tidak akan kenapa-napa, pasti dia akan baik-baik saja," ucap George.


"Tapi aku khawatir dengan Naya George, kenapa Kak Gerald nggak keluar-keluar juga coba dari tadi. Sebenarnya ada apa? Seharusnya kan sekarang sudah keluar dan memberi kabar ke kita," ucap Putri.


"Iya aku tahu. Tapi kamu harus sabar dong, kamu tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak. Aku yakin kok kalau Naya baik-baik saja, mungkin memang ada sesuatu yang dokter sedang sampaikan kepada Gerald, maka dari itu mereka belum keluar," ucap George mencoba menenangkan kekasihnya itu.


Krek …


Suara pintu ruangan IGD terbuka, tampak Naya yang saat itu sedang dituntun oleh Gerald keluar dari ruangan tersebut.


Putri pun merasa sangat lega karena akhirnya ia melihat sahabatnya saat ini baik-baik saja, meskipun wajahnya masih terlihat pucat.


"Naya, syukurlah kamu baik-baik saja. Aku khawatir banget memikirkan kamu dari tadi Nay. Terus kenapa coba kalian lama banget ada di dalam," ucap Putri.


"Kalian tahu nggak sih aku sampai nggak tahu harus mengatakan apa lagi saat Putri tanya ke aku bagaimana keadaan Naya, Putri benar-benar cemas ingin segera mengetahui kabar Naya," ucap George.


Tetapi Naya dan Gerald malah menanggapinya dengan senyuman yang membuat George dan juga Putri merasa kebingungan.


"Ini ada apa ya, kenapa nih senyum-senyum? Kenapa aku mencium bau-bau mencurigakan. Pasti ada sesuatu kan," ucap George.


"Iya, aku ini sedang panik Kak Gerald, Naya. Tapi kenapa kalian berdua malah senyum-senyum seperti itu, ada apa?" Tanya Putri.


"Putri, George, kalian tenang saja ya. Apalagi kamu Put nggak usah khawatir berlebihan seperti itu dong, aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat," ucap Naya. "Iya kan Sayang?" Naya melirik suaminya itu.


"Iya benar, istriku baik-baik saja," ucap Gerald.


"Baik-baik saja gimana maksudnya dan gimana coba aku nggak khawatir melihat Naya yang tiba-tiba saja pingsan seperti tadi," ucap Putri yang masih terlihat cemas, ia merasa jika sahabat dan suami sahabatnya itu hanya berusaha untuk membuatnya tidak khawatir.

__ADS_1


"Justru Naya tadi bisa pingsan karena ada kabar bahagia yang mau kita sampaikan ke kalian berdua," ucap Gerald.


"Kabar bahagia? Kabar bahagia apa?" Tanya Putri.


"Naya hamil," ucap Gerald begitu antusias.


"Hah, serius? Jadi kamu pingsan tadi gara-gara kamu hamil Nay," ucap Putri. Ia begitu sangat senang karena mendengar kabar bahwa sahabatnya hamil.


"Iya, benar kata my husband kalau aku hamil," jawab Putri.


Putri pun langsung saja mendekati Naya dan memeluknya. "Congratulation ya Bebh, aku senang banget mendengar kabar bahagia ini. Selamat buat kalian berdua karena sebentar lagi akan memiliki anak kedua," ucap Putri.


"Makasih ya Bebh," ucap Naya.


"Selamat ya Naya, Gerald," ucap George pula.


"Terimakasih banyak ya George, mudah-mudahan kalian berdua cepat menyusul. Tapi harus ke pelaminan dulu ya," ucap Gerald.


"Oh ya sebenarnya kita berdua juga mau menyampaikan kabar bahagia ke kalian," ucap Putri.


"Oh ya? Memang kabar bahagia apa?" Tanya Naya mendadak penasaran.


"Sayang, biar aku saja ya yang mengatakan hal ini kepada mereka berdua," ucap George dan Putri pun menanggapinya dengan anggukan kepala tanda menyetujuinya.


"Jadi, kita berdua akan segera menikah," ucap George.


"Oh ya? Bagus dong. Memangnya kapan?" Tanya Gerald.


"Bulan depan," jawab Putri.

__ADS_1


"Hah? Serius? Kalian berdua ini ya, diam-diam tahu-tahunya sudah mau menikah aja," ucap Naya.


"Nggak bermaksud seperti itu juga Nay. Sejujurnya kita berdua juga terkejut sih karena hari pernikahan ini orang tua kita yang sudah mengatur semuanya. Ya menurut kita juga tidak ada masalah, mungkin ini lebih baik. Kadi kita menyetujuinya saja," ucap Putri.


"Iya, lagipula tidak baik juga kan jika lama-lama menunda untuk tujuan yang baik," ucap George.


"Iya benar sekali. Syukurlah, aku ikut senang mendengar kabar bahagia ini. Sepertinya kita berempat harus merayakannya deh," ucap Naya.


"Hm … pasti ajak double date lagi deh tuh," ucap Putri.


"Iya dong apalagi namanya kalau bukan itu. Tapi nggak nolak kan kalau diajak double date?" ucap Naya.


"Enggak sih, boleh aja. Siapa takut, tapi kamu harus sembuh dulu. Sekarang kamu harus pulang dan istirahat, kalau besok kondisi kamu sudah lebih baik, kita rayakan deh," ucap Putri.


"Aku setuju," ucap George.


"Apalagi aku. sebagai suami kamu dan juga ayah dari calon bayi yang ada di dalam perut kamu, aku nggak mau kalau kita jalan-jalan dalam keadaan kamu yang seperti ini. Jadi, kamu harus istirahat dulu. Besok kalau keadaan kamu sudah membaik, baru kita akan double date seperti yang kamu katakan tadi.


"Oke bos," jawab Naya.


Lalu mereka berempat pun segera saja pergi meninggalkan rumah sakit, tentunya setelah Gerald membayar administrasi rumah sakit dan menebus obat serta vitamin untuk istrinya.


***


Semenjak mengetahui Naya hamil, Gerald benar-benar menjadi suami yang siap siaga selama 24 jam. Di saat Naya ngin makan sesuatu Gerald akan segera pergi untuk mencarinya, di saat Naya melakukan aktivitas selalu saja Gerald yang mendampinginya. Bahkan di saat Naya sedang kuliah pun Gerald telah memutuskan bodyguard wanita untuk selalu menjaga Naya dan selalu memberi kabar kepadanya tentang kondisi istrinya. Jika Gerald ada waktu, maka ia sendiri yang akan menjaga istrinya itu. Ia tak peduli meskipun dirinya menjadi perbincangan teman-teman Naya di kampus. Ada yang merasa iri kepada Naya, tak heran juga jika ada yang membicarakannya karena seperti anak TK yang dijaga terus oleh orang tuanya dan ada pula yang menganggap Gerald sebagai suami yang posesif. Tetapi Gerald sama sekali tak pernah menghiraukan hal itu, karena menurutnya keselamatan sang istri adalah yang terpenting.


"Sayang, aku kan sudah bilang sama kamu, kamu nggak perlu menunggu aku sampai di depan kelas seperti ini dong. Aku kan jadi nggak enak dengan dosen dan teman-teman aku," ucap Naya.


"Kenapa juga kamu harus nggak enak. Semua orang di kampus ini juga sudah tahu kalau kamu itu istri aku Sayang dan mereka tidak bisa melarang aku. Memangnya kamu lupa siapa donatur terbesar di kampus ini, Papa. Jadi tidak ada yang bisa melarangnya. Lagipula aku sudah izin kok sama pihak kampus untuk menunggu kamu di sini, karena mereka juga mengerti bagaimana kondisi kamu yang tidak stabil. Terkadang kamu muntah, aku tidak mau sampai terjadi sesuatu seperti saat itu kepada kamu, tiba-tiba kamu pingsan. Karena aku akan menuntut mereka yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik," ucap Gerald yang membuat Naya pun terdiam dan menurut saja apa kata suaminya itu. Toh ini semua juga demi kebaikannya. Suaminya itu begitu overprotektif karena ia tidak mau terjadi apa-apa dengannya karena sangat mencintai dan menyayanginya. Tak bisa dipungkiri bahwa Naya pun sebenarnya juga merasa sangat bahagia memiliki suami yang begitu perhatian terhadapnya.

__ADS_1


...Bersambung …...


__ADS_2