
"Kau tidak sedang cemburu kan Gerald?" Tuding Naya.
"Cemburu? Apa maksudmu aku cemburu? Itu tidak mungkin Naya, lagipula apa yang harus aku cemburukan darimu? Aku sama sekali tidak cemburu," bantah Gerald.
"Oh ya? Lalu kenapa kau menuduhku seperti itu? Aku ini baru saja selesai kuliah dan langsung pulang ke rumah karena kau, kalau tidak aku pasti sudah berjalan-jalan dengannya tadi," kata Naya sengaja memanasi Gerald.
Terbukti saat ini Gerald begitu kesal mendengarnya, lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan hendak menuju ke kamar.
"Kau mau kemana Gerald?" Tanya Naya.
"Sudah aku katakan terserah aku. Kau tidak perlu mencampuri urusanku," kata Gerald.
"Jadi kau tidak mau makan? Kalau memang kau tidak mau makan, ya sudah aku akan memasak makanan untuk diriku sendiri," kata Naya.
Gerald mengeratkan gigi dan mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang dibuat oleh istrinya itu.
"Terserah kau saja, aku sudah tidak berselera lagi untuk makan gara-gara kau," kata Gerald lalu pergi meninggalkan Naya begitu saja.
"Heh, dasar pria arogan bisanya hanya marah-marah saja. Bisa tidak kau bersikap manis saja kepadaku, tidak perlu seperti itu. Kau itu sudah tua, terlebih lagi kau sedang sakit, sangat tidak baik untuk kesehatanmu," kata Naya.
Gerald mendengar perkataan Naya itu, akan tetapi ia sama sekali tak menggubrisnya dan lebih memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.
***
Seminggu telah berlalu, keadaan Gerald semakin membaik meskipun perintah dokter yang menyuruhnya untuk selalu kontrol seminggu sekali sama sekali tidak pernah dijalaninya. Tetapi ia tetap rutin meminum obat yang diberikan oleh dokter, tentu saja itu semua juga karena paksaan dari Naya dan berkat Naya yang selalu telaten merawatnya dengan tulus. Kalau tidak, mana mungkin Gerald mau meminum obat tersebut dan kondisinya terlihat lebih sehat. Bahkan Gerald sekarang sudah menganggap dirinya tidak sakit, ia sudah pergi ke kantor seperti biasanya, ia juga sudah tidak pernah merasakan sakit lagi. Menurut Gerald ia sudah sembuh, sehingga tidak perlu kontrol lagi atau melakukan pengobatan apapun.
__ADS_1
Akan tetapi, saat itu Naya mendapatkan telepon dari rumah sakit yang meminta mereka berdua harus segera ke rumah sakit karena ada hal penting yang hendak dokter sampaikan. Dengan berbagai cara Naya merayu suaminya itu agar mau pergi ke rumah sakit, tempat yang paling dibenci oleh Gerald.
"Sudah aku katakan padamu Naya kalau aku tidak mau. Kalau aku harus mati sekarang pun aku sudah siap. Aku juga sudah tidak memiliki kekasih lagi, untuk apa aku hidup. Aku juga tidak mau harus bolak-balik ke tempat yang sangat aku benci itu," kata Gerald.
"Tapi Gerald-" ucapan Naya terhenti.
"Stop Naya! Sudah aku katakan kalau aku tidak mau ya tidak mau. Kenapa kau memaksa sekali, sudah kukatakan kalau aku tidak mau berobat, aku baik-baik saja," kata Gerald dengan sangat murka.
"Gerald dengarkan aku, jadi hanya segini saja nyalimu. Kau pria berbadan besar yang sangat arogan yang hobinya hanya memarahiku, tapi sangat takut dengan rumah sakit bahkan kau tidak mau diobati untuk kesembuhanmu. Kau hanya memikirkan kepentinganmu sendiri, kau egois Gerald. Kau bilang kau tidak mempunyai kekasih sehingga tidak mau sembuh, lalu bagaimana dengan orang tuamu Gerald? Apa kau tidak memikirkan bagaimana kalau orang tuamu tahu kau sakit dan tidak mau diobati. Kau sendiri tahu sekarang Mama juga sedang sakit, tapi Mama sedang berusaha untuk sembuh demi orang-orang yang mencintai dan dicintainya. Tapi apa yang kau lakukan di sini? Kau malah pasrah dengan penyakitmu itu. Dan satu lagi apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku Gerald, sedikit saja. Sudah aku katakan jika aku selalu ada untukmu dan aku sudah membuktikan itu, aku sama sekali tidak pernah meninggalkanmu, aku selalu menjagamu, selalu berada di sisimu. Aku selalu ada untukmu meskipun kau selalu menolak dan bersikap kasar padaku Gerald. Apa kau tidak pernah memikirkan itu sama sekali?" Naya mengeluarkan uneg-unegnya sembari menatap Gerald dengan tajam hingga menembus ke hati Gerald.
Gerald merasa tersentuh dengan ucapan yang baru saja dilontarkan dari mulut istrinya itu. Apa yang diucapkan oleh Naya semuanya memang benar, ya ia begitu egois karena hanya mementingkan dirinya sendiri, terlebih lagi ini semua hanya gara-gara wanita yang sudah menyakiti hatinya yang telah membuatnya patah semangat. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang menyayanginya? Tentu saja mereka tidak mau melihatnya dalam kondisi terpuruk seperti ini.
"Lalu apa yang kau inginkan sekarang?" Tanya Gerald.
"Ya sudah aku akan bersiap-siap," kata Gerald.
"Naya tersenyum, meskipun tubuhnya tadi sempat bergetar karena baru kali ini ia mengucapkan kata-kata yang begitu bermakna baginya, tapi kini ia puas karena akhirnya suami arogannya itu mau menuruti perkataanya.
Setelah siap, Gerald dan Naya pun segera saja menuju ke rumah sakit.
"Kau tidak perlu merasa gugup seperti itu Gerald, dokter hanya ingin bertemu dengan kita. Mungkin saja dokter mempunyai solusi agar penyakitmu itu cepat sembuh," kata Naya saat mereka dalam perjalanan.
"Apa bisa seperti itu? Bukankah penyakit kanker otak adalah penyakit yang mematikan?" Tanya Gerald.
"Iya benar, tapi penyakitmu itu masih stadium awal, masih bisa diobati. Buktinya dengan minum obat-obatan saja kau sudah merasa lebih baik kan," kata Naya yang sok tahu. Padahal dia sendiri baru kali ini menghadapi orang terdekatnya yang punya penyakit mematikan.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu," ucap Gerald yang mencoba menenangkan hatinya.
*****
Setelah tiba di rumah sakit, Gerald dan Naya pun langsung saja pergi ke ruangan Dokter Bram yang meminta mereka untuk segera datang ke rumah sakit.
Tok … tok … tok …
Naya mengetuk dan membuka pintu ruangan Dokter Bram.
"Permisi Dokter Bram," ucap Naya lalu ia pun masuk ke dalam diikuti oleh Gerald.
"Tuan Gerald, Nona Naya, Silahkan duduk!" Perintah Dokter Bram.
"Terima kasih Dokter," ucap Gerald dan Naya lalu mereka pun duduk di kursi seberang Dokter Bram.
"Tuan Gerald, Nona Naya, saya benar-benar mau meminta maaf atas kesalahan yang telah terjadi di rumah sakit ini," ucap Dokter Bram.
"Kesalahan? Maksud Dokter kesalahan apa?" Tanya Naya, sama halnya dengan Gerald yang merasakan kebingungan mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter Bram.
"Jadi begini Tuan, soal pemeriksaan penyakit Tuan Gerald waktu itu adalah salah," ucap Dokter Bram.
Naya dan Gerald sama-sama tersentak menatap Dokter Bram, mereka berdua seakan meminta penjelasan apa yang di maksud dengan hasil pemeriksaan yang salah itu.
...Bersambung... ...
__ADS_1