Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Gerald merasa mana mungkin jika hanya sakit biasa ia bisa sampai pingsan selama itu. Sedangkan ini juga merupakan pertama kalinya ia mengalami hal seperti ini.


"Gerald, kalau soal itu besok kau dengar saja ya penjelasannya dari dokter langsung. Aku juga sebenarnya tidak terlalu memahaminya," kata Naya.


"Apa maksudmu? Kenapa kau tidak bisa menjelaskannya kepadaku Naya!" Bentak Gerald.


"Sebaiknya kau tidak usah marah-marah, sekarang kau istirahat saja supaya tubuhmu itu bisa cepat pulih," kata Naya yang merasakan sesak di dadanya saat berhadapan dengan suaminya itu, ia benar-benar tidak tega untuk menyampaikan apa yang terjadi dengan kondisi Gerald saat ini. Untuk itu Naya pun berusaha untuk tetap diam saja sambil menunggu hari esok dokter yang akan menemui Gerald secara langsung.


Akan tetapi Gerald tidak bisa tinggal diam, ia terus saja memaksa Naya untuk memberitahu ada apa sebenarnya, kenapa ia bisa berada di rumah sakit dan pingsan selama itu.


"Nay, tolong kasih tahu aku Nay. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Pinta Gerald sembari mengguncang tubuh Naya.


Dengan susah payah Gerald pun berusaha membangunkan dirinya, tetapi kepalanya begitu terasa begitu sakit.


"Kau mau apa Gerald, lebih baik kau berbaring saja. Jangan memaksakan diri untuk bangun, kondisimu masih sangat lemah," kata Naya.


"Akh … ," rintih Gerald yang kesakitan dan ternyata memang ia tidak sanggup untuk bangun.


Naya pun membantu Gerald untuk berbaring kembali. Gerald yang sangat kasar itu pun berusaha untuk menahan amarahnya.


"Tolong jujur padaku Nay, kau tidak perlu menyembunyikan rahasia apapun dariku. Nay, jika kau sama sekali tidak mau menyampaikannya, aku tidak akan bisa tenang. Aku juga tidak bisa tidur lagi Naya," Gerald memohon membuat Naya merasa sangat kasihan terhadap suaminya itu.


Karena terus di pujuk, akhirnya dengan sangat terpaksa Naya pun akan membuka mulut tentang apa yang terjadi saat ini, tetapi belum sempat ia mengucapkan kata tersebut air matanya telah menetes terlebih dahulu.


"Nay, kenapa kau menangis? Aku meminta kau untuk menjelaskannya bukan malah menangis seperti itu," Tanya Gerald yang merasa kebingungan.

__ADS_1


"Dokter mengatakan jika kau terkena penyakit kanker otak," ungkap Naya.


"Apa? Tidak, tidak mungkin. Bagaimana bisa aku yang selama ini baik-baik saja terkena penyakit kanker otak? Tidak, itu sangat tidak mungkin Naya, aku tidak percaya. Kau pasti telah membohongiku kan, kau sengaja kan mau membuat aku merasa down? Kau bohong Naya!" Teriak Gerald begitu murka.


"Tidak Gerald, aku tidak membohongimu, itulah kenyataannya. Meskipun pahit tetapi kau harus bisa menerimanya Gerald. Kau tidak perlu khawatir, ada aku yang akan selalu menemanimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam kondisi apapun Gerald," kata Naya.


"Tidak, aku tidak mau dalam kondisi seperti ini Naya. Aku yakin ini pasti ada yang salah, cepat panggil dokter Sekarang! Aku akan bertanya langsung kepada dokter tentang kebenarannya. Cepat!" Teriak Gerald seperti orang kesetanan.


Naya yang merasa khawatir itu pun bergegas keluar untuk mencari dokter yang berjaga malam. Tidak berapa lama kemudian, dokter beserta suster datang ke ruang IGD tempat Gerald di rawat.


"Dokter, tolong katakan padaku, apa benar yang wanita ini bilang jika aku terkena penyakit kanker otak? Pasti dia sudah berbohong kan Dokter, cepat katakan padaku," kata Gerald.


"Gerald sabar, kau tidak boleh marah-marah seperti itu," ucap Naya.


"Diam kau!" Bentak Gerald.


Gerald benar-benar sangat syok mendengarnya. Setelah mendapati sang kekasih yang selingkuh dan menyakiti hatinya, kini ia harus menerima kenyataan pahit tentang dirinya. Gerald sama sekali tidak menyangka jika ia yang menganggap dirinya selama ini baik-baik saja, ternyata bisa terkena penyakit yang mematikan seperti itu.


"Hah … !" Gerald berteriak histeris sembari menangis.


Baru kali ini Naya melihat Gerald sehisteris itu sembari menangis pilu. Ia bisa merasakan apa yang saat ini Gerald rasakan, hatinya ikut teriris merasakan begitu sakit dan perih melihat suaminya dalam kondisi yang sangat memilukan. Lalu apa yang bisa Naya lakukan selain hanya menenangkan Gerald.


Karena Gerald sama sekali tak bisa tenang malah menyakiti dirinya sendiri dengan mencabut jarum infus yang ada di tangannya, akhirnya dokter pun terpaksa menyuntikkan obat penenang hingga Gerald kini tertidur kembali. Lalu dokter dan suster keluar meninggalkan Naya dan Gerald.


Naya mendekati Gerald, ia menatap wajah polos sang suami yang saat ini tidak sadarkan diri karena obat penenang dengan air matanya yang bercucuran.

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir Gerald, meskipun kondisimu dalam seperti ini, aku tetap akan selalu menemanimu. Kau jangan takut Gerald, aku akan selalu berada di sisimu apapun yang terjadi, aku janji aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Meskipun kau bersikap kasar kepadaku, kau tak pernah berubah, kau selalu saja bersikap arogan dan menyiksaku, itu sama sekali tak akan menggoyahkan hatiku untuk mencintaimu. Ya aku akui aku sudah mencintaimu, jadi apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, itu janjiku Gerald," Gumam Naya sembari memegangi tangan Gerald lalu mencium kening suaminya untuk yang pertama kalinya.


Naya merasa sangat iba terhadap Gerald setelah mengetahui kondisinya saat ini. Tak ada niat di dalam hati Naya ingin menjauhi Gerald, tetapi ia malah merasa semakin mencintai Gerald. Ya dia yakin ini adalah cinta bukan rasa kasihan.


***


Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Gerald pun diperbolehkan untuk pulang. Naya dengan sangat telaten merawat dan menjaga suaminya itu hingga kondisinya pun berangsur sedikit membaik, tetapi Gerald juga harus tetap kontrol ke rumah sakit dan harus segera melakukan pengobatan.


"Naya, kau tidak perlu melakukan hal ini kepadaku. Aku bisa melakukannya sendiri. Sekarang kau keluar saja dari kamarku!" Usir Gerald saat Naya sedang berada di kamarnya mengantar makanan dan obat seperti biasa.


"Aku akan keluar setelah kau menghabiskan makanan ini dan minum obat," kata Naya.


Gerald merasa jika semakin hari sikap istrinya itu semakin keras kepala dan selalu membantah perkataan Gerald, padahal ia tahu jika Naya melakukan itu semua karena bentuk perhatiannya terhadap Gerald. Tetapi Gerald yang gengsi enggan mengakui kebaikan Naya.


"Aku ini sudah dewasa, aku akan makan sendiri dan meminum obatnya, kau tenang saja," kata Gerald.


"Tidak, aku tetap akan menemanimu makan dan setelah aku pastikan kau minum obatnya dan beristirahat, baru aku akan pergi," kata Naya.


Gerald pun langsung saja memakan makanan yang telah sediakan serta meminum obatnya. Naya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


"Sekarang kau sudah puas?" Tanya Gerald.


"Yah aku sudah puas," jawab Naya lalu ia pun segera saja mengemasi piring dan menaruh kembali di atas nampan.


"Selamat istirahat suamiku," gumam Naya sembari melangkahkan kaki keluar dari kamar Gerald.

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2