
Jeremy menarik Naya bahkan lebih seperti menyeret tubuh kecil Naya. Sedangkan Naya hanya pasrah menerima perlakuan Jeremy. Naya sama sekali tidak menangis seperti biasanya.
"Masuk!" bentak Jeremy.
Naya mematung di ambang pintu kamar mandi.
"Aku gak mau." Naya menggelengkan kepala pada Jeremy.
"Mau aku dorong atau aku lempar?"
Naya tetap menggeleng. Dia tidak mau menuruti perkataan Jeremy. Bukan karena dia ingin melawan Jeremy, namun trauma yang dia alami begitu besar hingga dia dewasa.
"Please, Om, jangan kurung Naya di kamar mandi, Naya sangat takut." Naya memohon sampai berlutut di kaki Jeremy.
"Hiks ... hiks ...!" Yang awalnya kuat akhirnya menangis juga.
"Om hukum Naya yang saja. Asalkan bukan mengurung Naya di kamar mandi, Om."
"Buat apa kamu seperti itu? Kamu pikir saya akan mengasihani mu?"
"Berdiri!"
Jeremy menarik Naya lalu menyeretnya ke dalam kamar mandi. Naya memberontak membuat Jeremy sedikit kesulitan. Dia mendorong Naya ke lantai yang dingin dan keras.
"Kamu sudah membuat saya malu Naya."
"Apa yang kamu lakukan di dalam sana, hah?!"
"Apa kau sekotor itu? Atau lebih kotor dari yang aku perkirakan?"
"Sudah berapa banyak pria yang mencicipi mu?"
"Itukah alasan orang tua mu menjual mu?"
Jeremy meluapkan emosinya. Menyakitkan mendapati gadis yang dia anggap polos ternyata telah ternoda. Dia merobek baju Naya yang sudah rusak lebih dulu.
"Akh ...!" Naya menghalangi tubuhnya dengan kedua tangan, meskipun percuma.
Air dingin dari shower yang Jeremy siram menusuk hingga ke tulang-tulang Naya. Rasanya dia seperti diselimuti oleh es.
"Dingin ..." bibir Naya gemetar.
"Ingat! Hukuman ini gak seberapa buat kamu. Kalau kamu buat kesalahan lagi, saya akan menghukum kamu lebih dari ini!" Ancam Jeremy.
Brak!
Jeremy meninggalkan Naya begitu saja. Tanpa memberinya handuk untuk mengeringkan tubuh. Setelah memastikan Jeremy tidak ada di kamar, Naya bergegas berganti pakaian.
Naya mengeringkan rambut menggunakan hair dryer. Dia tidak bisa tidur dengan rambut yang masih basah karena akan membuat kepalanya sakit.
Pintu terbuka setelah diketuk. Sanum masuk membawa nampan berisi makanan. Dia menatap nanar Naya, lalu mendekati gadis itu.
"Apa kamu baik-baik aja?" Sanum mengambil hair dryer dari tangan Naya.
"Aku baik-baik aja." Naya tersenyum.
Dia merasa lebih baik karena kedatangan Sanum. Sanum mengeringkan rambut Naya seperti seorang profesional. Jari-jari lentiknya sangat lembut menyentuh kepala Naya.
__ADS_1
"Sudah selesai!" Sanum meletakkan hair dryer kembali pada tempatnya.
"Makasih." Tersenyum manis.
"Sama-sama, Naya."
"Sekarang, kamu makan, ya?" Mengusap pundak Naya.
Sanum merangkul Naya menuju sofa kecil. Naya menelan ludah melihat menu makan malam ini. Semua yang tersedia merupakan makanan favorit nya.
"Apa aku boleh makan ini?" tanya Naya memastikan.
Sanum kebingungan dengan maksud Naya. "Tentu aja! Apa ada yang salah?" Sanum balik bertanya.
"Om Jeje baru saja menghukum ku." Naya menunduk. Raut wajahnya berubah.
Sanum langsung mengerti maksud Naya. "Justru kalau kamu tidak menghabiskan ini semua, Tuan akan marah."
"Beneran?"
"Iya, Naya ... Masa aku bohong, sih, sama kamu." Sanum menyelipkan rambut ke belakang telinga Naya.
"Makasih Sanum." Memeluk erat Sanum.
Naya makan dengan lahap. Sejak tadi perutnya terasa sangat lapar. Bahkan perutnya terasa sedikit nyeri. Tidak tau apa jadinya kalau Sanum tidak membawakan dia makanan dan dia tidak makan hingga keesokan harinya.
"Pelan-pelan, Naya!" Sanum tertawa kecil.
'Kasihan sekali kamu, Nay. Jatuh ke tangan seorang Jeremy.' Batin Sanum.
Jeremy memantau monitor yang menampilkan ruang kamarnya. Perhatiannya tidak lepas pada gadis yang baru saja dia sakiti. Dia sadar sudah keterlaluan pada Naya.
Dia terus teringat Naya yang memohon agar tidak di kurung dalam kamar mandi. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Naya hingga ketakutan?
'Apa yang terjadi pada mu, Naya?' batin Jeremy. Meneguk minuman beralkohol.
"Cari orang tua angkatnya dan dapatin informasi apa saja tentang, Naya?" perintah Jeremy pada asistennya.
"Baik, Tuan."
Jeremy membuka laci meja kerjanya mengambil sebuah amplop coklat. Dalam amplop terdapat sebuah foto empat anggota keluarga. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah sendu.
"Aku janji akan menemukan putri kalian dalam keadaan bernyawa atau tidak." Air mata Jeremy menetes membasahi foto.
"Kamu dimana? Kakak mencari mu Selly."
Jeremy menangis dalam diam. Sudah belasan tahun dia mencari keberadaan adiknya, namun hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda kehidupan adiknya. Mungkinkah kecelakaan itu juga merenggut adiknya. Jika benar, dimana jasad adiknya?
Tok ... Tok ...Tok!
"Masuk!" Jeremy mengusap wajah. Memasukkan kembali foto beserta amplop ke dalam laci.
"Naya sudah menghabiskan makanannya, Tuan." Sanum melapor.
"Terimakasih Sanum."
"Apa lagi yang harus saya lakukan, Tuan?"
__ADS_1
"Tidak ada. Kamu istirahat saja!" perintah Jeremy.
"Baik, Tuan, terimakasih." Sanum membungkuk untuk pamit.
"Tunggu Sanum!" Jeremy menahan Sanum yang sudah mencapai pintu.
"Ya, Tuan, ada apa?" tanya Sanum menghadap Jeremy.
"Kamu tidak perlu bekerja terlalu over!" Jeremy menatap Sanum prihatin.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya senang bekerja." Sanum mengulas senyum.
"Jangan memanggil ku 'Tuan' panggil nama saja," saran Jeremy.
Sanum tersenyum sambil mengangguk. Lalu pergi meninggalkan ruang kerja Jeremy. "Terimakasih, Jemy," ucap Sanum sekalian pamit.
Jeremy memejamkan mata, memijat keningnya. Hari ini dia benar-benar merasa dilema, tidak ada semangat melakukan apapun, bahkan dia belum makan sejak siang.
Dering telepon membangunkan Jeremy yang baru terlelap. Dia mendengarkan serius suara di sebrang di telepon.
"Thanks." Jeremy membuka laptop di meja kerjanya.
"Jangan lakukan apapun!" Pesan Jeremy ke orang di seberang telepon sebelum mengakhiri panggilan.
Jeremy membuka file yang baru dikirim seseorang. Dia menyaksikan video yang mematahkan pendapatnya mengenai Naya.
Prang!
Jeremy melempar botol bir ke tembok. Tangannya terkepal sampai menonjolkan urat-uratnya.
" Wanita ******!" umpat Jeremy.
"Beraninya dia menghina dan menuduh Naya!" geram Jeremy.
Satu jam lalu Jeremy menyuruh orang dalam club untuk mengirimkannya salinan CCTV saat Naya berada di ruangan Eden. Hasilnya membuktikan tuduhan Karina salah. Karina dan Naya memang terlibat perkelahian di sana yang menyebabkan penampilan Naya mengenaskan.
Prang!
Jeremy membanting gelas kaca hingga pecah. Potongan kaca melukai telapak tangannya hingga mengeluarkan banyak sekali darah.
"Jemy!"
"Cepat siapkan mobil! Bawa Tuan Jeremy ke rumah sakit!" perintah Haris—Asisten Pribadi Jeremy.
Haris melilit tangan Jeremy menggunakan handuk. "Kenapa bisa begini, Jer?" Haris merasa khawatir.
"Ayo Jer, kita ke rumah sakit agar segera di obati." Haris membantu Jeremy berdiri.
"Tidak usah, ini cuma luka kecil," tolak Jeremy.
"Tapi, darahnya terus mengalir. Kamu bisa kehilangan banyak darah." Haris mulai kesal dengan sikap keras kepala Jeremy.
"Ini hukuman buat aku karena sudah menyakitinya."
Haris menghela nafas. "Minta maaf setelah kau diobati!"
Jeremy mengalah, tubuhnya juga sudah lemas. Handuk yang melilit tangannya mulai rembes oleh darah. Saat melewati lorong sekilas dia melihat Naya sedang mengintip dari celah pintu.
__ADS_1