Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Keputusan Orang Tua Gerald


__ADS_3

"Kau yakin ingin berpisah denganku?" Tanya Gerald.


"Iya, untuk apa juga kita berstatus sebagai suami istri kalau kau memang sama sekali tidak menginginkanku, untuk apa juga kita tinggal bersama," kata Naya.


"Kau yakin? Lalu apa kau bisa mengganti semua uang yang telah orang tuaku berikan untuk keluargamu?" Tanya Gerald.


Naya terdiam, dia tidak mungkin bisa mengganti uang yang tidak tahu berapa jumlahnya itu, yang jelas sangat banyak. Karena memang keluarga Gerald memberikan uang yang begitu banyak kepada ibu tirinya agar Naya bersedia untuk menikah dengan Gerald.


"Kenapa kau diam? Sudah pasti kau tidak akan sanggup untuk membayarnya. Jadi jangan pernah berpikir untuk berpisah denganku. Lagipula ini semua keinginan Mama, apa kau sengaja membuat Mama kepikiran dan bertambah sakit? Kau tahu kan kalau Mamaku itu sedang sakit," kata Gerald.


"Tapi aku tidak tahan kalau kau terus saja bersikap kasar padaku. Enam bulan bukan waktu yang sebentar, aku selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu Gerald. Apa salahku, kalau kau memang sangat membenciku, kenapa kau tidak membunuhku supaya kau puas!" Teriak Naya.


"Pelankan suaramu! Kita ini berada di rumah orang tuaku. Walaupun kamar orang tuaku ada di lantai bawah dan suara kita tidak sampai ke sana, tapi bisa saja kan jika mereka tidak sengaja lewat sini dan mendengarnya. Kau sengaja ya ingin aku dimarahi oleh orang tuaku!" Bentak Gerald.


Gerald pun segera saja meninggalkan Naya, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sedangkan Naya duduk di sofa sambil menangis. Ia sudah terbiasa tidur di sofa tersebut seorang diri karena Gerald sama sekali tidak mau tidur satu ranjang dengannya. Bahkan tubuhnya juga terasa sangat sakit karena tidur di tempat yang hanya pas dengan tubuhnya saja, bahkan seringkali ia terjatuh jika terlalu banyak bergerak.


Tok … tok … tok …


Suara ketukan pintu kamar terdengar, Naya segera saja menghapus air matanya lalu beranjak untuk membukakan pintu. Ternyata yang ada di luar adalah Bi Astri Asisten Rumah Tangga keluarga Gerald.


"Ada apa Bi?" Tanya Naya.


"Nona Naya, Nyonya memerintahkan saya memanggil Nona dan Tuan Gerald untuk segera turun dan bertemu di ruang keluarga sebelum makan malam," kata Astri.


"Iya Bi, tapi Gerald sedang mandi. Bibi Tolong sampaikan pada Mama jika Gerald sudah selesai mandi, kita akan segera turun," kata Naya.

__ADS_1


"Baik Nona," kalau begitu saya permisi," ucap Astri.


"Iya Bi, terimakasih ya," ucap Naya.


"Sama-sama Nona," jawab Astri lalu pamit pergi meninggalkan kamar Nona dan Tuannya itu.


***


Setelah Gerald selesai mandi, Naya pun menyampaikan kepada Gerald tentang pesan yang disampaikan oleh ART-nya tadi. Lalu mereka berdua pun langsung saja turun dan menuju ke ruang keluarga untuk menemui Dania dan David yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Gerald, Naya, ayo sini duduk!" perintah Dania.


Naya dan Gerald pun segera saja duduk di kursi seberang kedua orang tuanya itu.


"Ada apa Ma, Pa?" Tanya Gerald.


"Ada apa Pa?" Tanya Gerald lagi.


"Seperti yang kalian berdua tahu, bahwa saat ini Mama sedang sakit. Penyakit Mama itu bukan penyakit yang biasa, rumah sakit di Indonesia tidak mempunyai alat yang memadai untuk mengobati Mama. Jadi Papa berencana akan membawa Mamamu untuk berobat ke luar Negeri," kata David.


"Iya Gerald, Naya, sebenarnya Mama tidak mau ke luar Negeri, apalagi meninggalkan kalian. Mama ingin hidup bersama kalian, karena Mama juga tidak yakin dengan Mama berobat Mama bisa sembuh. Tapi Mama juga tidak mau menolak keinginan Papa yang ingin melihat Mama sembuh," ucap Dania.


"Mama, Mama harus pergi. Kalau menurut aku ini memang keputusan yang terbaik Ma. Mama pokoknya harus sembuh," ucap Naya.


"Iya Ma, bukan hanya Papa yang ingin Mama sembuh, tapi aku, Naya juga ingin melihat Mama sembuh," sambung Gerald yang begitu menyayangi Dania dan sangat ingin melihat ibunya itu sembuh.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan kalian berdua?" Tanya Dania.


"Bagaimana apanya Ma? Mama tidak perlu memikirkan Gerald dan Naya, kita berdua ini pasangan suami istri. Kita sudah dewasa Ma, kita bisa mengurus rumah tangga kita sendiri," kata Gerald yang meyakinkan ibunya. Padahal sifat arogannya di belakang sangat keterlaluan terhadap Naya.


"Iya Ma benar kata Gerald, kita berdua akan baik-baik saja di sini. Yang penting Mama Fokus sama kesehatan Mama untuk berobat, kita akan menunggu kepulangan Mama saat nanti Mama sudah sembuh," kata Naya.


Naya sudah membayangkan apa yang akan terjadi jika kedua orang tua Gerald itu pergi. Saat orang tua Gerald ada di sini saja, Gerald selalu menyiksanya, hanya bersandiwara bersikap manis di depan kedua orang tuanya. Bagaimana jika kedua orang tuanya itu sudah tidak lagi ada di rumah ini, sudah pasti Gerald tidak akan pernah lagi bersikap manis sedikitpun kepadanya meskipun hanya bersandiwara.


"Ya sudah, kalau begitu Mama lega," ucap Dania.


"Iya, Papa juga lega. Gerald, kamu urus ya perusahaan kita yang di sini. Papa akan bawa Mama berobat ke Jerman sekalian untuk membangun bisnis kerjasama dengan Om kamu di sana," kata David.


"Iya Pa, Papa Tenang saja ya. Perusahaan di sini pasti akan aman di tangan aku," ucap Gerald.


Walaupun Gerald sangat sedih karena akan ditinggal oleh ibunya yang entah berapa lama waktunya itu, tetapi ia juga ingin mamanya benar-benar sembuh. Terlintas juga dalam pikiran Gerald bahwa ini adalah hal yang sangat bagus, karena dengan tidak adanya kedua orangnya, sudah jelas Gerald tidak perlu lagi berpura-pura atau bersandiwara bersikap manis bersama Naya.


"Jadi kapan Mama mau berangkat ke Jerman?" Tanya Naya.


"Minggu depan Sayang," jawab Dania. Iya Ma, aku doain pengobatan Mama di sana berjalan lancar dan Mama cepat sembuh," ucap Naya.


"Aamiin … ," ucap Dania dan diikuti oleh Gerald dan David.


Setelah perbincangan antara keluarga, kini mereka pun menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama dan setelah itu kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


***

__ADS_1


Di dalam kamar, Naya dan Gerald hanya diam saja, padahal Naya sedang menunggu apa yang akan diucapkan Gerald setelah mendengar kabar bahwa orangtuanya itu akan pergi ke luar Negeri. Sudah pasti Gerald akan sangat senang mendengar kabar itu, tetapi untuk saat ini dia juga tidak mau berbicara apapun tentang hal itu kepada Naya karena kondisinya yang begitu lelah. Gerald pun segera saja merebahkan diri di atas kasur empuk miliknya dan mencoba memejamkan mata.


...Bersambung... ...


__ADS_2