Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Kabar Buruk


__ADS_3

Semakin lama, langkah tersebut terdengar semakin mendekat yang membuat Gerald bingung harus melakukan apa. Ia juga tidak mau pasrah dengan membiarkan orang-orang yang menculiknya merajalela.


"Bagaimana ini?" Gumam Gerald.


Padahal ia sudah memegang pecahan kaca tersebut, hanya tinggal mengiris tali yang mengikat tangannya itu.


"Bro!" Terdengar suara dari luar yang memanggil temannya, hingga langkah yang terdengar sudah mendekati pintu, kini terdengar menjauh.


Gerald tampak bernafas dengan lega, ia pun segera saja kembali melakukan aksinya dengan mencoba mengiris tali yang yang mengikatnya. Akan tetapi karena tali tersebut cukup besar dan sangat kuat, sedangkan pecahan kaca tersebut sangat kecil, sehingga Gerald pun mengalami kesusahan untuk memotong talinya. Tetapi ia tidak menyerah, meskipun saat ini darah telah bercucuran dari jari-jarinya akibat terkena kaca tersebut, itu semua tak mengapa baginya, yang penting ia ingin segera bebas dari sini. Karena ia tidak mau membuat keluarganya khawatir, apalagi saat ini ia juga masih mencari keberadaan istri dan anaknya. Tentu saja Gerald tidak mau mati konyol dan sia-sia berada sini, di tangan orang-orang yang tidak ia ketahui siapa mereka.


Hingga setengah jam kemudian, Gerald pun berhasil memotong tali yang mengikat tangannya hingga terlepas. Setelah itu ia juga melepas ikatan tali pada kakinya, lalu mencoba mencari jalan keluar untuk kabur dari gudang tersebut.


"****! gudang ini sangat tertutup," umpat Gerald.


Dilihatnya juga di sekeliling hanya ada satu jendela, tetapi jendela tersebut juga ditutupi oleh teralis besi yang begitu kokoh. Sehingga Gerald pun kebingungan dan mencari alat di sekitar untuk membobol teralis tersebut.


Gerald mengobrak-abrik seluruh isi dalam gudang tetapi sama sekali tidak menemukan alat apapun yang bisa ia gunakan untuk membobol jendela. Ia juga berulang kali mencoba untuk mendorong teralis tersebut, tetapi tenaganya yang saat ini sangat lemah sama sekali tidak bisa untuk membuat jendela itu terbuka. Hingga pada akhirnya Gerald pun terlihat pasrah. Lalu tiba-tiba saja ia teringat dengan ponselnya yang ada di dalam saku.


"Ya Tuhan, kenapa aku bodoh sekali. Padahal ada handphone di kantong celanaku, kenapa aku tidak menghubungi orang saja untuk meminta bantuan," gumam Gerald.


Karena kondisinya yang panik saat ini membuatnya melupakan sesuatu yang sangat penting. Lalu ia segera saja meraih ponsel di dalam sakunya itu, orang yang pertama kali akan ia hubungi tentu saja Boy. Karena riwayat panggilan terakhir di dalam ponselnya itu juga asistennya tersebut.

__ADS_1


Tut … tut …


Akan tetapi, di saat teleponnya berhasil tersambung, tiba-tiba ponselnya mati karena kehabisan daya, padahal Boy belum sempat menjawabnya.


"****! Akh sial!" Lagi-lagi Gerald mengumpat karena kesialan yang saat ini dialaminya. "Tuhan, kenapa hal ini terjadi padaku, kenapa sepertinya memang tidak ada jalan untukku terbebas dari sini, apa ini juga termasuk salah satu hukuman untukku ya Tuhan."


***


Sementara itu, suasana di villa saat ini masih terlihat tegang. David terus saja menenangkan sang istri yang sedari tadi menangis memikirkan anaknya. Dania yakin jika saat ini memang sedang terjadi sesuatu kepada Gerald.


Sedangkan Naya juga tak henti-hentinya meneteskan air mata sembari memeluk sang buah hati yang sesekali menangis tanpa sebab seolah mengerti akan kesedihan dan kondisi yang sedang terjadi saat ini.


"Ma sudah Ma. Kalau Mama sedih terus seperti ini, kasihan Naya Ma, dia menjadi semakin sedih. Seharusnya di saat seperti ini, kita menenangkan Naya," ucap David.


"Kamu dimana Gerald, aku harap dimanapun kamu berada, kamu baik-baik saja. Aku sangat menyayangi kamu Gerald, aku dan Kania tidak mau terjadi apapun dengan kamu. Aku mohon jaga dirimu baik-baik ya, aku ingin kita dapat berkumpul lagi suatu saat nanti," gumam Naya.


***


Boy begitu terkejut melihat panggilan tak terjawab dari tuannya yang sedari tadi ia cari. Akan tetapi di saat ia mencoba menghubunginya kembali, ponselnya sudah tidak aktif. Lalu Boy pun segera saja menghubungi David untuk memberitahunya kabar ini.


"Halo Boy apakah ada kabar lagi tentang Gerald?" Tanya David.

__ADS_1


"Belum Tuan, saya belum menemui keberadaan Tuan Gerald. Sejak dari kantor tadi saya sudah berusaha untuk mencari kemana-mana, tapi belum juga menemukannya. Tapi saya ada kabar penting Tuan dan mungkin saja ini bisa jadi petunjuk. Tadi Tuan Gerald menghubungi saya, tapi saat saya mau menghubunginya kembali, handphonenya sudah tidak aktif lagi Tuan," ucap Boy.


"Apa? Lalu apa kamu sudah melacak keberadaan Gerald melalui nomor ponselnya?" Tanya David, ia sedikit lega karena akhirnya sudah ada petunjuk untuk mencari anaknya.


"Belum Tuan, karena kejadiannya baru saja sebelum saja menghubungi Tuan David," jawab Boy.


"Baiklah jika memang seperti itu. Mudah-mudahan saja kita bisa cepat mengetahui keberadaan Gerald ada dimana. Sedangkan anak buah saya juga saat ini belum ada yang berhasil menemukannya. Apa tidak ada tanda-tanda lain Boy? Kamu sudah memeriksa seluruh CCTV kan," kata David.


"Sudah Tuan, sepertinya semua ini memang sudah direncanakan secara matang. Seperti yang saya katakan tadi bahwa saya mendapati satpam yang berjaga malam ini mengaku jika dia dipukul hingga pingsan, sedangkan CCTV ke arah ruangan Tuan Gerald juga tidak terlihat karena keadaannya gelap. Saya yakin Tuan Gerald diculik dan pelakunya tidak hanya satu orang," Boy berasumsi.


"Diculik? Atas dasar Boy diculik? Apa kesalahannya dan siapa yang berani melakukannya?" David bertanya-tanya.


"Saya tidak tahu Tuan. Tapi bisa jadi ini adalah rekan bisnis dari tuan Gerald," ujar Boy.


"Siapa? Yang saya tahu Gerald tidak pernah mempunyai masalah dengan rekan bisnisnya. Tapi saya juga tidak tahu jika ada yang diam-diam merasa iri dengannya," kata David.


"Iya bisa saja seperti itu Tuan atau bisa juga orang-orang suruhan dari mantan kekasih Tuan Gerald yang dendam terhadapnya," ucap Boy.


"Ya kamu benar, saya juga sempat berpikiran seperti itu. Tapi Boy tolong jangan kamu katakan apa-apa dulu kepada istri ataupun menantu saya. Saya tidak mau mereka merasa khawatir," pinta David. Memang saat ini ia menjawab telepon dari Boy menjauh dari istri dan menantunya.


"Dimana Gerald? Kenapa Papa menyembunyikannya dari Mama?" Apa yang Papa sembunyikan?" Tanya Dania tiba-tiba yang membuat David pun tersentak dan langsung saja memutuskan panggilan telepon.

__ADS_1


...……… Bersambung ………...


__ADS_2