Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Curiga


__ADS_3

Dengan kehadiran Gerald di tengah-tengah mereka, membuat Putri terlihat sedikit lebih santai. Karena di saat ia melihat Gerald dan Naya asik berbicara dan tampak mesra, ia pun mengalihkannya dengan mengajak George juga untuk berbicara. Meskipun apa yang mereka bicarakan itu tidaklah terlalu penting.


"Putri, aku masih tidak percaya dan benar-benar tidak menyangka kalau kita bisa bertemu lagi di sini. Padahal aku pikir setelah hari itu kita tidak akan bertemu lagi, aku juga sih yang salah kenapa waktu itu aku tidak langsung meminta nomor WhatsApp kamu," ucap George.


"Oh ya? Tapi waktu itu kamu juga yang buru-buru pergi kan, karena kata kamu masih ada urusan," ucap Putri.


"Oh iya iya, aku ingat. Lagipula waktu itu aku melihat kamu sepertinya sedang ingin sendiri, maka dari itu aku buru-buru pergi, karena tidak mau mengganggu kamu," kata George.


Meskipun sebenarnya mereka berdua barulah saling mengenal, hal tersebut juga membuat Putri terlihat tidak terlalu nyaman, tetapi Putri hanya berusaha untuk bersikap sok akrab agar ia bisa melepaskan rasa canggungnya terhadap Gerald.


"Sayang, aku nggak nyangka banget deh ternyata Putri dan klien kamu George itu sudah saling mengenal. Sepertinya kita tidak perlu menjodohkan mereka lagi karena mereka sudah akrab sendiri tuh," bisik Naya sembari memuncungkan mulutnya ke arah Putri dan George.


Kebetulan saat ini Putri memang duduk di sebelah George, sedangkan Naya tentunya duduk di samping suaminya itu.


"Hayo kalian berdua bisik-bisik apa?" Tanya putri menatap curiga.


"Ada deh. Ya sudah sekarang kita lanjutkan aja makannya, kita siapkan, setelah itu kita jalan-jalan, gimana?" kata Naya.


"Jalan-jalan?" Boleh juga, kebetulan sehabis ini saya sedang tidak ada pekerjaan," kata George.


"Iya, saya juga rencananya sehabis meeting ini mau langsung pulang bersama istri saya," kata Gerald.

__ADS_1


"Bagus dong, sekarang kamu gimana Put? Kamu bisa kan?" Tanya Naya.


"Maaf Nay, bukannya aku mau menolak, tapi sepertinya aku nggak bisa. Karena tadi Mama minta aku cepat-cepat pulang, minta diantar arisan gitu deh," kata Putri beralasan, ia benar-benar tidak sanggup jika harus melihat kemesraan antara Gerald dan sahabatnya itu. Jadi lebih baik ia menghindar saja daripada hal itu akan terjadi lagi.


"Ya sayang banget ya. Tapi nggak apa-apa juga sih namanya juga ada tugas, apalagi Ibu Negara yang memintanya. Kalau begitu gimana kalau jalan-jalannya kita atur lain kali saja, untuk sekarang kita langsung saja pulang ke rumah masing-masing. Putri makasih ya karena kamu sudah memberi aku tumpangan sampai ke sini, tapi kalau sekarang aku pulang sama suami aku nggak apa-apa kan?" Tanya Naya.


"Oh iya, nggak apa-apa dong Nay. Lagipula aku juga masih mau mampir sebentar ke toko, disuruh Mama sekalian belanja sesuatu yang mau dibawa ke arisan gitu katanya," ucap Putri yang selalu saja mendapat ide untuk menghindar dari Gerald. Akan tetapi ia melakukan hal itu semua karena terpaksa, demi kebaikan.


Meskipun demikian, Naya yang hanya bersikap iya-iya saja dengan ucapan Putri itu, bukan berarti ia tidak menaruh rasa curiga sedikitpun. Sejak pertama mereka datang dan duduk di restoran ini, ia dapat melihat gerak-gerik Putri yang begitu mencurigakan. Putri terlihat begitu gugup bukan karena ia bertemu dengan George, tetapi di saat itu ia tidak sengaja melihat Putri yang diam-diam menatap Gerald seperti ada rasa kekecewaan dalam dirinya, begitu juga saat melihat ia dan Gerald sedang berbicara atau bersikap romantis. Tentu saja hal ini telah membuat Naya bertanya-tanya di dalam hatinya, instingnya itu begitu kuat dan biasanya apa yang Naya rasakan selalu benar apa adanya, tidak pernah meleset sedikitpun.


***


Makan siang bersama telah usai, kini mereka berpisah untuk kembali ke kediaman atau tujuan masing-masing.


"Kita langsung pulang aja ya Sayang. Aku sudah merindukan Kania," jawab Naya.


"Oh iya Sayang, sebenarnya aku juga sudah rindu sama anak aku. Ya sudah kita langsung pulang aja ya. Tapi kamu mau beli sesuatu dulu nggak? Kalau ada kita mampir dulu ke supermarket atau ke mall," tanya Gerald.


"Nah kalau itu boleh. Kita mampir di supermarket dekat rumah aja ya. Aku hanya mau membeli sedikit cemilan, kebetulan stok cemilan aku sudah habis," kaya Naya.


"Siap Bos, kamu itu hobi banget ngemil tetapi sama sekali nggak buat kamu gemuk ya. Apa sih rahasianya Sayang," tanya Gerald menggoda istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu bilang aja lah kalau sekarang aku sudah mulai menggendut, iya kan?" Tanya Naya mengerucutkan bibirnya dan memasang wajah bete.


"Eh nggak Sayang, aku nggak ada berbicara seperti itu. Kamu sama sekali nggak menggendut seperti yang kamu bilang tadi. Tapi walaupun nantinya kamu gendut, aku juga nggak masalah kok Sayang. Aku berjanji nggak akan pernah sedikitpun rasa cinta ini berubah untuk kamu. Bahkan aku merasa semakin hari rasa cinta ini semakin besar untuk kamu dalam kondisi kamu seperti apapun," ucap Gerald yang menatap sekilas wajah Naya lalu kembali fokus untuk menyetir.


Naya tersenyum sembari menatap wajah suaminya dari samping yang tetap terlihat begitu tampan. Ia begitu bahagia memiliki Gerald di dalam hidupnya. Lalu tiba-tiba saja Gerald mencium tangan istrinya itu yang membuat Naya begitu tersentuh dan rasanya ingin terbang melayang karena mendapat perlakuan yang begitu romantis dari suaminya dan membuatnya menjadi wanita yang paling bahagia di dunia.


***


Saat sedang memilih beberapa cemilan, tidak sengaja Naya melihat Putri yang saat itu sedang membayar barang belanjaannya di kasir. Akan tetapi sepetinya Putri tidak mengetahui keberadaan Naya Dan Gerald.


"Sayang kamu lihat siapa?" Tanya Gerald yang melihat Naya tampak terdiam memperhatikan seseorang di sana.


"Itu Sayang, kamu lihat deh itu kan Putri. Ternyata apa yang dia katakan tadi benar. Tapi bukannya tadi Putri bilang mau ke toko untuk membeli sesuatu yang mau dibawa arisan ibunya ya? Nggak mungkin dong kalau yang mau dibawa arisan oleh ibunya itu cemilan," kata Naya, karena ia memang melihat jika Putri membayar beberapa snack.


"Sayang, kamu ini kenapa sih? Sepertinya kamu sekarang jadi curigaan gitu sama sahabat kamu sendiri. Mungkin saja yang titipkan ibunya sudah dibeli dan sekarang dia lagi beli cemilan untuk dirinya sendiri. Kan nggak ada salahnya," kata Gerald.


"Ya ampun kamu benar Sayang, kenapa aku malah jadi bersikap seperti ini terhadap sahabat aku sendiri? Kenapa aku jadi negatif thinking terhadap Putri? Padahal Putri itu benar-benar sahabat yang baik, aku yakin dan aku merasa begitu nyaman sangat bercerita dengan Putri. Bahkan dia juga begitu percaya sama aku sampai bercerita tentang teman kecilnya yang sangat ia cintai," ucap Naya.


"Jangan seperti itu lagi ya Sayang. Oh ya Sayang, memang Putri cerita seperti itu sama kamu?" Tanya Gerald.


"Iya Sayang, jadi tadi malam itu Putri cerita kalau dia sudah bertemu dengan teman masa kecilnya di Jogja, cinta monyetnya. Kamu tahu nggak sih Sayang, gara-gara hal itu Putri sampai tidak mau membuka hatinya untuk pria lain, dia masih menunggu teman kecilnya yang dulu pernah berjanji mau bersama dengannya saat dewasa. Tapi setelah pindah nyatanya pria itu tidak pernah menepati janjinya dan malah sudah berkeluarga saat ini. Aku jadi kasihan dengan putri," ucap Naya.

__ADS_1


Tiba-tiba Gerald teringat jika dulu saat di Jogja ia juga pernah mempunyai teman kecil yang ia kagumi. Bahkan Gerald pernah berjanji untuk bersama dengan teman kecilnya itu ketika dewasa. Tetapi kenapa di saat Naya menceritakan soal itu, ia malah kepikiran bahwa itu adalah Putri. Akan tetapi dengan cepat Gerald menyangkal dan membuang jauh- jauh pikirannya itu, tidak mungkin teman kecilnya di masa lalu adalah Putri, sahabat istrinya.


...Bersambung …...


__ADS_2