Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Kenangan Masa Lalu


__ADS_3

Naya merasa panik saat melihat keadaan suaminya yang terus merintih kesakitan ditambah lagi dengan anaknya yang saat itu menangis tiada henti, ia pun keluar dari kamarnya untuk meminta pertolongan dengan menggendong Kania.


"Sayang kamu yang tenang ya, Papa akan baik-baik aja," ucap Naya menenangkan sang anak.


Tok … tok … tok …


Naya mengetuk pintu dan terpaksa membangunkan mertuanya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa saat ini. Untungnya di saat itu David belum tidur sehingga segera membukakan pintu kamar untuk menantunya. Ia juga merasa jika terjadi sesuatu karena melihat Kania sedang menangis.


"Naya, ada apa? Kenapa Kania menangis seperti itu?" Tanya David.


Dania yang mendengar akan hal itu pun menjadi terbangun, karena ia juga baru saja tertidur dan langsung menghampiri suami dan menantunya sedang berbicara di depan pintu.


"Naya, Papa, ini ada apa? Kenapa Kania menangis, sini sama Oma Sayang," tanya Dania sembari mengambil Kania dari gendongan ibunya.


"Ma, Pa, Gerald tiba-tiba merasakan kepalanya sakit. Sepertinya dia mengingat sesuatu tentang masa lalunya itu," ucap Naya dengan panik.


Tanpa mengucap kata apapun, David segera saja berlari menghampiri Gerald di kamarnya. Sedangkan Dania mencoba untuk menenangkan Kania dan juga Naya.


Kini Mereka pun telah berada di kamar menghampiri Gerald, di saat itu Gerald masih terlihat sangat kesakitan sambil terus memegangi kepalanya.


"Gerald, kamu kenapa Nak? Apa kamu mengingat sesuatu?" Tanya David menghampiri sang anak.


"Pa, kepala aku sakit Pa. Ya aku mengingatnya, aku mengingat sesuatu yang kelam di masa lalu aku," ucap Gerald lirih hingga Naya dan Dania yang berada di depan pintu pun tidak mendengar apa yang diucapkan olehnya.


Yang Naya lihat hanyalah Gerald yang terus menahan sakit sehingga ia tidak dapat lagi membendung air matanya yang kini telah jatuh bercucuran. Ia sangat tidak tega melihat keadaan suaminya meskipun ini bukanlah untuk pertama kali. Begitu juga dengan Dania, ia pun merangkul tubuh menantunya itu agar bisa tenang melihat kenyataan yang ada di depan matanya.


"Sayang, kamu yang kuat ya. Mama sama sedihnya dengan kamu, tapi mungkin ini adalah awal yang baik, mungkin saja setelah ini Gerald akan mengingat semuanya," ucap Dania.


"Iya Ma, tapi aku benar-benar tidak tega melihat suami aku merasa kesakitan seperti itu," ucap Naya dengan isak tangisnya. Sedangkan saat ini Kania sudah tenang dan tidur berada di gendongan sang nenek.

__ADS_1


David menghubungi dokter pribadi yang biasa menangani Gerald, untungnya dokter tersebut selalu siap siaga kapanpun keluarga David memanggil dan memerlukannya.


Tidak berapa lama kemudian, karena lokasi rumah dokter tersebut tidak terlalu jauh dengan rumah mereka, dokter itu pun telah tiba dan langsung memeriksa keadaan Gerald. Untuk sementara keluarga diminta untuk menunggu di luar terlebih dahulu agar Dokter Farhan bisa leluasa memeriksa dan berinteraksi dengan pasien.


"Bagaimana Tuan Gerald, apa Anda sudah merasa sedikit tenang?" Tanya Dokter Farhan.


"Iya Dokter, aku hanya merasa heran kenapa setiap aku mengingat sesuatu di masa lalu, kepalaku ini terasa sakit seakan mau pecah," kata gerald.


"Itu adalah hal yang wajar Tuan, karena otak Anda tidak mampu menerima atau tidak siap mengingat tentang masa lalu itu. Tetapi ini merupakan kemajuan yang bagus, karena saya yakin sebentar lagi Tuan akan mengingat semuanya," ucap Dokter Farhan.


"Justru aku tidak ingin mengingat kenangan masa lalu itu, kenapa Dokter tidak membuatku lupa ingatan saja selamanya," ucap Gerald.


"Tapi kenapa Tuan? Bukankah semua orang yang hilang ingatan ingin mengembalikan ingatannya, kenapa Tuan Gerald malah tidak ingin mengingatnya kembali?" Tanya Dokter Farhan keheranan.


"Karena aku tahu bagaimana sikapku di masa lalu terhadap sang istri. Aku benar-benar sudah melakukan hal yang tidak wajar kepadanya. Saat mendengarnya saja sudah membuatku merasa bersalah, apalagi di saat nanti aku sudah mengingat semuanya tentang sifat aroganku itu," kata Gerald.


"Tapi apakah saat ini Tuan benar-benar belum mengingatnya sama sekali?" Tanya Dokter Farhan ingin memastikannya, karena dari hasil pemeriksaannya tadi, ia tahu jika terjadi perkembangan baik dalam otak Gerald.


Dokter sangat senang mendengar pernyataan Gerald, akan tetapi ia juga merasa penasaran dengan apa permintaan dari pasiennya tersebut.


"Apa yang Tuan inginkan? Tuan meminta saya membantu dalam hal apa?" Tanya Dokter Farhan.


"Untuk sementara tolong jangan katakan kepada orang tuaku ataupun istriku jika aku saat ini sudah mengingat kembali ingatan itu," ucap Gerald.


"Tapi kenapa? Ini adalah yang baik dan berita yang sangat dinantikan oleh keluarga Anda Tuan." Dokter Farhan di buat bingung dengan permintaan Gerald saat ini.


"Untuk alasannya aku tidak bisa mengatakannya saat ini. Tapi percayalah Dok, aku melakukan ini semua juga ada penyebabnya dan demi kebaikan," ucap Gerald.


Dokter tampak ragu, tetapi jika memang ini untuk kebaikan tentu saja Dokter Farhan tidak keberatan.

__ADS_1


Setelah memeriksa Gerald dan memastikan kondisinya sudah baik-baik saja, dokter pun berpamitan untuk pulang meskipun keadaannya sudah larut malam. Dokter Farhan menolak untuk menginap di rumah keluarga David meskipun mereka sudah memintanya, karena dokter sendiri mempunyai keluarga yang sudah menunggunya di rumah.


***


"Selamat pagi suamiku Sayang. Kamu sudah bangun?" ucap Naya di pagi hari.


Memang sejak Dokter memeriksanya tadi malam, setelah meminum obat Gerald langsung saja tertidur karena efek obat tersebut. Naya juga membiarkan suaminya itu untuk beristirahat tanpa mengganggunya sama sekali, hingga Gerald terbangun pada pukul 09.00 pagi.


"Pagi Sayang, kenapa kamu tidak membangunkanku? Seharusnya aku sudah pergi ke kantor," ucap Gerald sembari melihat jam di dinding.


"Aku memang sengaja tidak membangunkanmu, lebih baik kamu beristirahat saja Sayang. Papa juga mengatakan kalau pekerjaan di kantor hari ini biar Papa dan Boy yang menghandlenya. Kamu cukup beristirahat di rumah dan bermain dengan Kania," ucap Naya.


Gerald tersenyum, lagi-lagi ia merasa sangat beruntung memiliki istri yang begitu tulus mencintainya dan juga perhatian terhadapnya. Akan tetapi jika ia mengingat lagi tentang perlakuannya itu di masa lalu, entah kenapa ia menjadi insecure sendiri dengan perlakuannya yang tidak baik. Kenapa Tuhan begitu baik dengannya dan memberikannya istri sebaik Naya, sedangkan ia adalah pria yang tidak baik dan menurutnyatidak pantas untuk memiliki wanita sebaik istrinya itu. Gerald ingin membuang jauh-jauh tentang masa lalunya, tetapi pada kenyataannya ia sudah mengingat tentang semuanya, hanya saja ia belum siap jika harus mengatakan hal itu kepada sang istri saat ini.


"Sayang, kamu kenapa jadi bengong seperti itu? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Naya yang melihat Gerald saat itu sedang melamun sembari menatapnya.


"Oh iya Sayang, aku baik-baik saja kok. Aku hanya terpesona melihat kecantikan kamu," ucap Gerald mencari alasan, tapi memang benar jika istrinya itu sangat cantik meskipun belum mandi dengan tampilan rambut yang acak-acakan.


"Kamu tuh bisa aja menggombal pagi-pagi," ucap Naya tersipu malu.


"Aku nggak gombal Sayang, itulah kenyataannya," ucap Gerald.


"Sudah ah, yang penting sekarang kamu bangun, mandi lalu kita sarapan bersama ya. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kamu seperti biasa," kata Naya.


"Kita mandi sama-sama ya," ajak Gerald yang tiba-tiba merasakan juniornya tampak mengeras karena melihat kecantikan istrinya itu.


Naya yang sebenarnya juga sangat merindukan belaian kasih sayang dari suaminya itu pun langsung menyetujuinya. Kini mereka mandi bersama sembari melepas adrenalin di bawah guyuran air shower dengan hasrat yang menggebu.


...Bersambung …...

__ADS_1



__ADS_2