
Saat ini Naya dan Gerald sedang berada di sebuah restauran mewah bintang lima. Tentu saja sebagai CEO sukses dan pewaris tunggal harta kekayaan orang tuanya, Gerald tidak mungkin mengajak istrinya untuk makan di tempat sembarangan.
Kenapa kau begitu belepotan sekali makannya," ucap Gerald sembari mengelap sudut bibir Naya yang kotor karena terkena makanan dengan jarinya.
Naya begitu sangat terkejut mendapatkan hal yang romantis ini dari Gerald. Kenapa ia menjadi mendadak perhatian? Ini adalah pertama kalinya mereka makan di luar bersama dan Gerald memperlakukan Naya dengan sangat baik meskipun terkadang ucapannya masih saja menyebalkan. Tentu saja hal ini membuat Naya begitu bahagia, Gerald sendiri tak menyadari kenapa ia begitu memperhatikan Naya hari ini.
"Ehem," Naya berdehem sehingga membuat Gerald yang tersadar itu langsung saja menyingkirkan jarinya serta menjadi salah tingkah.
"Kau itu bisa tidak makan yang benar? Jika kau makan belepotan seperti itu, aku juga yang malu. Ini restauran mahal dan pengunjungnya para kalangan elit, masa iya masih ada orang yang makan berantakan seperti anak kecil sepertimu," kata Gerald ketus.
Naya memutar bola matanya malas lalu melanjutkan melahap makan siangnya itu daripada harus mendengar ocehan Gerald. Tidak heran jika Gerald bersikap menyebalkan seperti itu. Menurut Naya itu sudah menjadi makanan sehari-harinya, jika saat ini Gerald bersikap mendadak perhatian itu hanya ketidaksengajaan saja yang dia lakukan, meskipun terkadang Naya merasa GR dengan perhatian yang diberikan oleh Gerald.
***
"Kita mau ke mana lagi? Bukankah ini bukan jalan pulang?" Naya bertanya karena saat ini Gerald memang mengarahkan mobilnya tidak melewati jalan biasa menuju pulang ke rumah.
"Sebaiknya kau diam saja, kau juga akan tahu nanti," kata Gerald.
Naya pun terdiam, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Gerald dan kemana akan membawanya pergi. Ia hanya berharap jika Gerald tidak akan bermacam-macam dengannya, itu saja harapan Naya.
Gerald memarkirkan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan besar. Tentu saja pusat perbelanjaan itu bukanlah mall biasa melainkan mall mewah yang isinya itu adalah toko-toko mewah dangan produk import berkualitas dan tentu saja hanya kalangan orang mampu yang berani masuk ke dalam mall tersebut.
Naya mengerutkan keningnya merasa heran, untuk apa Gerald mengajakku ke sini? Apa dia sedang mencari sesuatu? Tapi untuk apa dia mengajakku, pikir Naya.
"Ayo masuk, kenapa kau melamun di situ?" Ajak Gerald.
"Untuk apa kau mengajakku ke sini?" Tanya Naya.
"Apa kau tidak bisa melihatnya, ini mall. Sudah jelas aku ingin mengajakmu berbelanja," jawab Gerald.
Lagi-lagi Naya dibuat bingung oleh sikap Gerald, setelah makan siang sekarang dia malah mengajak Naya untuk berbelanja. Sungguh sesuatu yang sangat langka. Selama 6 bulan mereka menikah, baru kali ini Gerald memperlakukannya seperti ini.
__ADS_1
"Sudah, ayo!" ajak Gerald lagi, lalu Naya pun mengikuti Gerald masuk ke dalam mall tersebut.
Naya begitu kagum melihat ke sekelilingnya, di sana terdapat toko pakaian, perhiasan, aksesoris dan yang lainnya yang sudah jelas harganya juga sangat fantastis, ia saja baru pertama kali masuk ke mall tersebut. Naya mengikuti tujuan Gerald saat ini yang menuju ke sebuah toko perhiasan.
"Tidak salah lagi, pasti Gerald ingin mencarikan perhiasan untuk kekasihnya. Jadi dia sengaja mengajakku untuk menanyakan saran atau mungkin akan menjadikanku kelinci percobaannya," gumam Naya dalam hati.
"Menurutmu mana cincin yang bagus?" Tanya Gerald.
"Aku tidak tahu," lebih baik kau pilih saja sendiri," jawab Naya ketus. Ia sangat enggan untuk memberikan saran, apalagi cincin tersebut untuk Kekasih Gerald yang jelas-jelas wanita itu adalah pelakor dalam rumah tangganya.
"Kau itu istriku, jadi tidak ada salahnya kalau aku ingin menanyakannya kepadamu," kata Gerald.
"Tapi aku tahu cincin itu untuk kekasihmu. Jadi lebih baik kau saja langsung yang memilihnya," kata Naya yang entah mengapa merasa begitu kesal.
Akan tetapi rasa kesalnya itu malah membuat Gerald menahan tawanya. Karena Naya tidak mau memilihnya, akhirnya Gerald pun memilih sendiri dengan bertanya langsung kepada pelayan toko perhiasan tersebut.
"Halo Tuan ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan.
"Nona, tolong pilihkan aku cincin yang paling indah limited edition yang ukuran jarinya seperti jari istriku ini," kata Gerald.
"Sudahlah Naya, kau ikuti saja," kata Gerald.
Beberapa saat kemudian, pelayan tersebut pun membawakan sebuah cincin berlian yang sangat indah, Naya sendiri tidak bisa memungkiri jika ia begitu kagum melihat cincin tersebut.
"Tuan ini adalah cincin limited edition yang hanya dibuat dua. Yang satu adalah cincin ini dan satu lagi sudah dipesan oleh orang lain. Apakah Tuan mau?" Tanya pelayan.
"Kalau cincin ini cocok dan pas di jari istriku, maka aku akan mengambilnya," ucap Gerald sembari melirik Naya. Gerald dapat melihat jika Naya sangat mengagumi cincin tersebut.
"Baik Tuan, tapi harga cincin ini juga sangat mahal sesuai dengan kondisi cincin ini," kata pelayan.
"Kau menghinaku? Apa kau tidak tahu berapa uang yang aku punya!" Bentak Gerald murka, ia merasa terhina saat pelayan mengucapkan kata tersebut.
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya menyampaikan saja," ucap pelayan.
"Sudah lagi Gerald, untuk apa juga kau memarahi Nona ini, dia juga tidak tahu. Lagipula dia hanya memberitahu saja. Bisa tidak jika kau mengurangi sikap aroganmu sedikit saja, kau itu sangat menakutkan," kata Naya.
"Tapi kau sama sekali tidak takut denganku," ujar Gerald.
"Karena aku sudah terbiasa," jawab Naya.
Agar Gerald tidak semakin murka, Naya pun menyetujui mencoba cincin tersebut di jarinya yang ternyata ukurannya sangat pas dan sangat terlihat cantik di jari manis Naya itu.
"Baiklah! Bungkus. Aku akan membelinya," kata Gerald lalu menyerahkan Black card kepada pelayan tersebut dan segera saja melakukan proses pembayaran.
Setelah itu, Gerald dan Naya pun segera saja keluar dari toko perhiasan tersebut.
"Ini untukmu," ucap Gerald seraya memberikan cincin yang baru saja dibelinya tadi untuk Naya.
"Apa? Bukankah cincin ini untuk kekasihmu?" Tanya Naya.
"Siapa bilang? Aku memang sengaja membelikannya untukmu. Selama ini kan aku tidak pernah memberikanmu hadiah apapun, jadi karena aku baru saja memenangkan tender jadi tidak ada salahnya bukan jika aku memberikan hadiah ini untukmu," kata Gerald.
"Tapi aku sedang tidak berulang tahun," bantah Naya.
"Memberi hadiah itu tidak harus di saat ulang tahun. Jadi kau mau atau tidak?" Tanya Gerald.
Naya yang gengsi itu pun akhirnya tersenyum dan merasa sangat senang, ia menjulurkan tangannya seraya memainkan jari-jari kirinya itu.
Gerald mengernyitkan dahinya, kenapa Naya tidak menerima cincinnya tapi malah main-mainkan jarinya seperti itu.
"Kau kenapa?" Tanya Gerald.
"Kau ini sama sekali tidak mengerti, aku memintamu untuk memasangkan cincin itu ke jariku," kata Naya.
__ADS_1
"Oh … ," ucap Gerald, ia yang sudah mengerti akan maksud dari Naya itu pun segera saja mengeluarkan cincin dari kotaknya dan memasangkan ke jari manis Naya.
...Bersambung......