
Tok tok tok!
”Nyonya, maaf saya mengganggu!” seru seseorang dari depan pintu.
Naya merenggangkan tubuhnya lalu menguap. Dia melirik ke arah pintu yang sedang diketok. Dengan gontai ia berjalan ke arah pintu.
Klik!
”Ya, ada apa?” tanya Naya yang masih mengantuk. Padahal jam sudah menunjukkan angka tujuh malam.
”Saya disuruh Tuan untuk membantu Nyonya bersiap,” ucap pelayan yang sebelumnya tidak pernah terlihat di rumah ini. Tertulis nama Sanum pada name tag perempuan itu.
”Kamu pekerja baru, yah?” tanya Naya merasa asing sambil mempersilahkan Sanum masuk.
”Iya, Nyonya, nama saya Sanum dan ini hari pertama saya bekerja.” Sanum merasa sungkan ketika Naya mengamatinya.
”Santai aja, panggil aku Naya aja,” pinta Naya.
Naya cukup kagum dengan penampilan Sanum. Gadis itu terlihat anggun dan cantik meskipun menggunakan baju pelayan. Sanum memiliki tubuh proporsional untuk ukuran perempuan. Kulitnya putih bersih, dan matanya sedikit sipit.
”Tapi, Nyonya …”
”Naya saja, karena aku masih muda. Penghuni di rumah ini tidak ada yang memanggilku Nyonya,” balas Naya dengan jujur. Sebab penghuni rumah memanggilnya dengan sebutan Nona atas permintaannya sendiri.
”Tadi kamu bilang Jeremy menyuruhmu dalam hal apa?”
”Membantu anda bersiap untuk ke acara rekannya Tuan,” jawab Sanum dengan ramah.
”Acara?” gumam Naya yang tidak tau apa-apa. Pria itu tidak pernah mengatakan apapun pada Naya, setelah kepergiannya dua hari lalu. Lagian tumben Jeremy mengajak dirinya.
”Kalau gitu kita siap-siap sekarang ya, Non?” jelas Sanum.
Naya mengangguk menuruti Sanum.
”Mau saya pilihkan dress nya?” tanya Sanum.
”Dengan senang hati,” jawab Naya. Ia berdiri dan membawa Sanum ke lemari besar yang berisi penuh pakaian milik Naya.
Sebelum menikah sepertinya Jeremy sudah menyiapkan segala keperluan Naya. Terutama semua pakaian yang ada di dalam lemari dengan kondisi baru serta bermerk. Mulai dari pakaian dalam, tidur, santai, formal, hingga dress, semua ada di dalam lemari itu.
”Nona ingin memakai dress model apa?” tanya Sanum sumringah mengamati dress mewah Naya yang tergantung.
”Sembarang kamu aja, Shan, aku ngikut pilihan kamu,” jawab Naya yang duduk di pinggiran kasur sambil memperhatikan Sanum.
Sanum menengok ke arah Naya di belakang. Lalu ia kembali memilih-milih dress sambil tersenyum.
”Apa suamimu mengizinkan kamu untuk bekerja?”
”Jika dia masih hidup, pasti akan melarang. Sayangnya dia meninggal, enam bulan lalu.” Raut wajah Sanum berubah drastis. Ia menundukkan kepalanya.
Naya terkejut merasa sangat tidak enak. Spontan ia berdiri dan merengkuh tubuh Sanum yang sedikit lebih tinggi darinya.
__ADS_1
”Maaf Sanum … aku tidak bermaksud—"
”Tidak apa-apa, Non. Non Naya gak perlu minta maaf,” potong Sanum.
”Panggil Naya aja!” Naya mengingatkan.
Brak!
Sanum dan Naya terkejut dengan kedatangan Jeremy.
"Kamu keluar!" Jeremy menunjuk Sanum
Sanum mengangguk dan berpamitan pada Naya. Tugasnya mendandani Naya sudah selesai tinggal gadis itu mengganti sendiri pakaiannya.
Jeremy menutup pintu lalu menguncinya. Dia berjalan ke arah Naya yang mematung.
"Kenap—" Jeremy mencengkram rahang Naya. Menatap tajam mata gadis didepannya.
Naya tersentak. Matanya mulai memanas. Dia yakin bulir-bulir hangat akan turun. Cengkraman Jeremy cukup kuat di wajah kecil Naya.
"Cepat gantian pakaianmu! Jangan mempermalukan ku dengan penampilan lusuh mu!" hina Jeremy menghempaskan tangannya.
"Baik, Om." Naya bergegas mengambil dress yang dipilihkan Sanum.
"Mau kemana?" tanya Jeremy dari sisi ranjang.
Naya menghentakkan langkah. "Kan, Om menyuruh Naya berganti pakaian," jawab Naya berani.
Naya gugup. "Maksud, Om?" tanya Naya balik tanpa berani melihat Jeremy.
"Ganti sekarang!" tegas Jeremy.
Naya jalan pelan menuju toilet sambil menunduk.
"Disini Kanaya!" bentak Jeremy.
"Tapi ..."
"Cih. Kamu pikir saya berselera melihat tubuh kurusmu!" Jeremy berdecih.
Ucapan Jeremy menusuk hati Naya. Rasanya lebih sakit daripada Jeremy menarik atau mencengkram badannya.
Naya menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia tanpa memikirkan apapun langsung mengganti pakaiannya di depan Jeremy. Beruntung dia selalu memakai tanktop dan celana pendek berbahan tipis.
"Apa kau tidak diberi makan orang tua mu?!" geram Jeremy saat melihat lekuk tubuh Naya.
Jeremy menendang bangku meja rias lalu meninggalkan Naya.
**
Sanum menuntun Naya sampai ke pintu utama mansion. Jeremy memperhatikan penampilan Naya dari ujung kaki sampai atas kepala. Gadis itu mengenakan mini dress yang cocok pada tubuh mungilnya, membuat dia terlihat elegan. Rambut panjang bergelombang terurai sangat rapi ditambah sentuhan make up tipis.
__ADS_1
”Om!!” sentak Naya tepat di depan wajah Jeremy.
”Mau jalan atau ngeliatin Naya terus?” tanya Naya blak-blakan.
”Saya cuma heran aja, sudah make up dan menggunakan pakaian mahal, kamu tetap tidak menarik!” sarkas Jeremy yang langsung memasuki mobil.
Naya tersenyum sinis ke arah Jeremy yang sudah lebih dulu masuk mobil. Dengan malas dia berjalan ke sisi lain mobil dan duduk disamping Jeremy. Belum selesai Naya memasang seatbelt, Jeremy sudah melajukan mobil dengan kecepatan normal. Naya hanya bisa cemberut dan mengkritik dalam hati.
”Pertama, bersikap layaknya pasangan yang romantis. Kedua, jangan berbicara dengan siapapun tanpa izin saya. Ketiga, jangan memanggil saya dengan sebutan Om. Keempat, kalau kamu melanggar, saya akan menghukum mu!” ujar Jeremy panjang lebar dalam perjalanan mereka.
”Kamu mendengar saya, Naya?!” sentak Jeremy, merasa di abaikan.
Naya dengan malas memalingkan wajah dari jendela ke arah Jeremy dengan raut datar.
”Dengar, Tuan,” jawab Naya dengan jutek.
”Saya bukan Tuan kamu!”
”Jadi, saya harus memanggil Om dengan sebutan apa?” tanya Naya datar.
”Terserah!” Jeremy fokus pada jalan di depan.
”Kalau begitu Uncle. Bagaimana, Uncle?”
”Bodoh!” cetus Narendra.
”Abang.”
”Kita bukan saudara dan saya tidak akan mau menjadi saudara mu!”
”Kalau—”
”Sayang! Panggil saya dengan sebutan itu!” pinta Jeremy yang tidak ingin dibantah.
Naya terbelalak. Ia tidak pernah sudi memakai panggilan itu pada pria tua seperti Jeremy. Pria berkepala tiga yang tega merenggut masa depan gadis belia seperti Naya. Ya, meskipun mereka belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri.
”Menjijikan,” timpal Naya yang merasa kesal.
Cit!!
Gesekan antara ban mobil dengan aspal membuat suara decitan yang memekikkan.
Jeremy spontan menghentikan laju mobil di bahu jalan.
Reflek tubuh Naya terdorong ke depan, membuat gadis itu kaget sambil memegang dada. Jeremy dengan cepat melepas seatbelt yang melindungi tubuhnya. Lalu mendorong keras tubuh Naya ke belakang hingga membentur sandaran kursi.
”Katakan lagi,” ucap Jeremy, dingin.
Naya ingin membalas Jeremy, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa terkejut dan perlakuan Jeremy saat ini membuat nyali Naya menciut. Tatapan Jeremy sangat tajam dan menusuk.
”Jangan pernah mengatakan iya itu lagi atau aku akan membunuhmu Kanaya Zeroun!” ancam Jeremy penuh penekanan.
__ADS_1
Naya terdiam seribu bahasa. Kejadian barusan mengingatkan dia pada sesuatu yang tidak bisa dia ingat dengan jelas. Bukan tentang Jeremy. Tetapi, suatu hal yang berhubungan dengan peristiwa dalam mobil.