Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Pertemuan Tak Tertuga


__ADS_3

Tidak lama setelah Gerald meninggalkan rumah, selesai sarapan bersama, kini Naya pula yang berpamitan kepada kedua mertuanya itu untuk segera pergi ke kampus.


"Kamu hati-hati ya Sayang," ucap Dania.


"Iya Ma. Ma, Pa, Naya pergi dulu ya," pamit Naya sembari menyalami David dan Dania, lalu segera saja pergi meninggalkan rumah.


***


Setibanya di kampus, Naya sangat terkejut melihat Denis yang saat itu berada di kelas mata kuliahnya pagi ini. Denis sengaja duduk untuk menunggu kehadiran Naya karena sudah lama ia tidak berbicara dengan Naya.


"Hai Nay," sapa Denis saat melihat kehadiran Naya.


"Denis, kamu ngapain di sini? Yang aku tahu kita tidak sekelas," tanya Naya.


"Kamu benar Naya, kita memang tidak sekelas. Tapi aku sengaja datang ke sini untuk bertemu denganmu, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu Naya," ucap Denis.


"Oh ya? Memangnya kamu mau berbicara soal apa lagi? Aku rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi diantara kita," ucap Naya.


"Nay, please dengarkan aku dulu. Aku bisa menjelaskan semuanya sama kamu, aku benar-benar tidak terlibat atas penculikan Kak Gerald waktu itu. Aku benar-benar tidak tahu Nay, itu semua ulah Bella dan kekasihnya, bukan aku," ucap Denis


Beberapa bulan yang lalu, memang pelaku atas penculikan Gerald sudah tertangkap dan tentu saja Robert sang pelaku tidak tinggal diam, ia mengatakan jika Bela lah dalang dibalik semuanya. Setelah dilakukan penyelidikan dan terbukti bahwa Bella dan Robert memang bersalah, mereka langsung dijatuhkan hukuman penjara selama 5 tahun atas tuntutan dari keluarga Gerald. Semenjak saat itu, Naya merasa jika Denis juga terlibat akan ini semua, karena ia adalah sepupu dari Bella. Tentu saja Naya bisa berpikir seperti itu karena Denis sangat tidak menyukai hubungannya dengan Gerald. Sebelumnya Naya juga sudah mengetahui jika Denis pernah sekongkol bersama Bella untuk menghancurkan hubungannya dengan Gerald. Jadi Naya pun memutuskan tidak mau lagi untuk berhubungan dengan Denis meskipun hanya sebagai teman.


"Nay, kamu itu sudah salah paham. Aku benar-benar tidak melakukan apapun Nay, kalau aku terlibat sudah pasti sekarang aku juga sudah masuk penjara kan," kata Denis mencoba untuk meyakinkan Naya.


"Sudahlah Denis, lebih baik sekarang kamu keluar dari sini! Sebentar lagi Dosen akan masuk, jadi kamu sekarang pergi ke kelas kamu sendiri," kata Naya yang enggan menatap wajah Denis.


Karena Naya sama sekali tidak mau menanggapinya dan kebetulan kelas Naya juga sebentar lagi akan dimulai, akhirnya Denis pun segera saja pergi meninggalkan Naya.


***


"Apa tidak bisa jika kita meeting-nya di kantor saja?" Tanya Gerald.


"Tidak bisa Tuan, klien yang meminta bertemu di luar sekalian makan siang," jawab Boy.


"Ada apa dengan hari ini? Kenapa semua klien mengajak untuk bertemu dan meeting di luar. Tadi pagi sarapan bersama klien dan sekarang juga harus makan bersama dengan klien. Lalu kapan waktuku untuk bersama istriku Boy? Apa kau tahu jika aku ingin makan siang bersama istriku hari ini dan semuanya menjadi berantakan," ucap Gerald.

__ADS_1


Boy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa kebingungan. "Aku juga tidak tahu Tuan. Tapi ini permintaan dari klien, tidak mungkin kan jika kita menolaknya," ucapnya.


"Ya sudah. Jadi aku pergi sendiri atau bersama denganmu?" Tanya Gerald.


"Sepertinya hanya Tuan sendiri. Aku tidak bisa ikut karena aku masih ada pekerjaan lain Tuan," kata Boy.


"Oke, kalau begitu kau urus saja pekerjaanmu itu. Jangan lupa makan siang, karena kesehatan juga sangat penting. Aku tidak mau gara-gara kau sakit nantinya pekerjaan semuanya akan berantakan,"ucap Gerald.


Meskipun alasannya itu mendasar, tetapi Boy merasa sangat senang karena mempunyai atasan yang begitu perhatian kepadanya. Meskipun sifatnya terkadang suka arogan dan membuat Boy merasa kesal sendiri.


"Baik Tuan," ucap Boy, lalu keluar dari ruangan CEO.


"Halo Sayang, kamu lagi apa dan ada dimana?" Tanya Gerald yang langsung saja menelepon istrinya.


"Aku masih di kampus, kenapa Sayang?" Jawab Naya dan bertanya pula.


"Oh … kamu lagi ada kelas ya Sayang. Maaf ya aku mengganggu kamu," ucap Gerald.


"Sama sekali nggak Sayang, kebetulan aku juga baru aja selesai kelas dan masih ada satu kelas lagi setelah ini. Kamu sendiri lagi dimana, sudah makan?" Tanya Naya.


"Oh gitu, kebetulan ini jam terakhir dan aku memang ada niat mau makan siang sih dengan Putri. Putri juga ajak pulang sama-sama karena kebetulan kita tinggal kelas terakhir juga," kata Naya.


"Oh ya? Bisa kebetulan begitu ya Sayang. Ternyata keinginan aku untuk makan siang bersama kamu bisa terwujud juga," kata Gerald yang terlihat begitu bahagia.


"Iya Sayang, ya sudah kalau begitu sampai bertemu nanti ya. Ini aku sudah mau masuk kelas lagi, nanti shareloc aja ya alamat restorannya." ucap Naya.


"Iya Sayang, sampai bertemu nanti ya. Bye … ," ucap Gerald.


"Bye … ," balas Naya mengakhiri telepon tersebut.


***


Akhirnya mata kuliah Naya dan Putri untuk hari ini telah selesai. Mereka pun segera saja pergi menuju ke restoran yang sudah di kirim lokasinya oleh Gerald kepada Naya.


"Nay, aku benar-benar nggak enak deh kalau harus ikut makan siang bersama kamu dan suami kamu," ucap Putri saat mereka dalam perjalanan.

__ADS_1


Sebenarnya alasannya bukan karena segan atau malu. Tetapi karena Putri saat ini sudah mengetahui jika Gerald adalah teman di masa lalunya yang sampai sekarang masih sangat ia cintai. Rasanya tidak sanggup jika harus terus bertemu dengannya dan berpura-pura tidak mengenalinya, ditambah lagi ia harus kuat melihat kemesraan Naya dan Gerald sebagai pasangan suami istri di depan matanya.


"Nggak apa-apa Put, santai aja. Lagipula Gerald kan sudah kenal kamu Put. Terus Gerald juga bilang kalau dia lagi bersama kliennya, laki-laki. Jadi nggak apa-apa kan aku ajak kamu, siapa tahu nanti kamu kecantol sama kliennya suami aku," ucap Naya tersenyum.


"Nay, aku nggak mungkin bisa secepat itu move on dari Kak Eral, apalagi hari ini kamu ajak aku untuk bertemu dengannya, itu akan terasa sangat sulit Nay," batin Putri.


****


Beberapa saat kemudian, Naya dan Putri telah tiba di restoran tersebut. Terlihat Gerald dan juga kliennya itu sudah menunggu mereka karena sudah selesai rapat dan baru saja memesan makanan.


"Nah itu dia istri saya bersama temannya," ucap Gerald menunjuk ke arah dua wanita cantik yang sedang berjalan ke arah mereka.


Klien Gerald tampak terkejut menatap salah satu di antara wanita itu karena ia sudah mengenali wanita tersebut.


"Sayang, maaf ya aku terlambat," ucap Naya.


"Nggak kok Sayang, kita juga baru selesai meeting dan pesan makanan," jawab Gerald, lalu mereka berdua pun cipika-cipiki layaknya sepasang suami istri atau kekasih.


"Putri?"


"George?"


Ucap Putri dan George hampir bersamaan.


"Jadi kalian berdua sudah saling mengenal?" Tanya Gerald yang mewakili penasaran yang dirasakan juga oleh Naya.


"Iya, kebetulan kita berdua kenal di Jogja kemarin," jawab George.


"Oh ya? Ini benar-benar pertemuan yang tak terduga ya, nggak nyangka kalau kalian berdua sudah saling mengenal," ucap Naya.


"Iya, aku juga nggak menyangka bisa bertemu George lagi di sini," ucap Putri.


George merasa sangat senang karena ia bisa bertemu lagi dengan wanita yang sudah membuatnya jatuh hati sejak pertama kali bertemu. Sayangnya di saat itu ia lupa untuk meminta kontak Putri sehingga tidak tahu bagaimana caranya untuk bertemu dengan wanita itu lagi. Tetapi hari ini takdir telah mempertemukan mereka kembali. Sungguh ini adalah pertemuan tak terduga, tanpa rencana yang membuat George begitu merasakan bahagia.


...Bersambung …...

__ADS_1


__ADS_2