
Tanpa Putri ketahui, ternyata di saat itu Naya telah terbangun dan melihat Putri sedang menangis sembari menggenggam tangannya itu.
"Put, kamu kenapa menangis?" Tanya Naya.
"Naya, kamu sudah bangun? Gimana keadaan kamu sekarang?" Putri malah balik bertanya dan berusaha untuk menghapus air matanya itu.
"Aku baik-baik saja Put. Kamu Kok bisa ada di sini? Terus kamu belum jawab pertanyaan aku, kenapa kamu menangis?" Tanya Naya.
"Aku nggak apa-apa kok Naya. Aku sengaja datang ke sini untuk menemani kamu. Dan bukan hanya aku yang ada di sini, ada George juga di luar. Kita sengaja datang untuk menemani kamu. Karena Kak Gerald sedang berada rumah sakit menggantikan Om David menjaga Tante Dania sebentar, sepertinya Om David juga sudah pulang," terang Putri.
"Ya ampun terimakasih banyak ya Put, tapi seharusnya kalian nggak perlu repot-repot datang ke sini Put. Aku bisa sendiri kok, aku nggak kenapa-napa, aku baik-baik saja," ucap Naya.
"Baik-baik saja gimana? Aku sudah tahu kejadian yang menimpa kamu," kata Putri yang membuat Naya sedikit terkejut.
"Kamu tahu dari mana Put? Apa George yang sudah menceritakan hal itu ke kamu?" Tanya Naya.
"Iya Nay, aku minta maaf. Kamu benar Nay memang George yang sudah memberitahuku tentang ini. Tapi kamu jangan marah ya ke George, aku tahu kalau George sedang menyembunyikan sesuatu hingga aku yang memaksanya untuk memberitahuku. Tapi memang apa salahnya Nay? Kalau kamu memang menganggap aku ini sahabat kamu, seharusnya kamu cerita dong ke aku, bukan merahasiakannya seperti ini," kata Putri dengan tatapan sendu dan terlihat rasa kecewa sorotan matanya itu.
"Aku minta maaf Put. Aku sama sekali nggak bermaksud untuk merahasiakannya dari kamu, aku hanya nggak mau kalau kamu akan khawatir," ucap Naya dengan matanya yang berkaca-kaca dan kini ia pun telah bangkit dari tidurnya.
Putri pun langsung saja meraih tubuh sahabatnya itu ke dalam dekapannya.
"Nay, wajar kalau aku mengkhawatirkan kamu. Kamu itu sahabat aku Nay. Aku merasa kecewa dan menjadi sahabat yang tidak berguna karena tidak tahu tentang kondisi sahabat aku sendiri. Lain kali kalau ada apa-apa, seharusnya kamu itu cerita ke aku, kamu itu bilang ke aku. Jangan seperti ini dong Nay, jangan ada rahasia di antara kita. Untung aja George beritahu aku. George juga mengatakan kalau dia nggak bisa menyimpan rahasia ini dari aku, karena dia tahu kalau kamu adalah sahabat aku. Goerge sendiri ikut merasa khawatir memikirkan keadaan kamu Nay. Bahkan tadinya niat kita ke sini ingin memberitahu Kak Gerald, tapi ternyata Kak Gerald sudah tahu," ucap Putri.
"Aku nggak tahu lagi mau bicara apa sekarang. Yang jelas terimakasih banyak ya Put karena sudah peduli dan ada di sini untukku. Aku minta maaf karena aku sudah menyimpan rahasia dari kamu, tapi aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu Put," ucap Naya.
"Ya sudah Nay nggak apa-apa. Tapi lain kali kamu nggak boleh ya seperti ini lagi, kamu harus janji kalau ada apa-apa kamu harus bicara ke aku," ucap Putri.
Naya menganggukkan kepalanya. "Tapi kamu juga ya janji nggak boleh merahasiakan apapun dari aku," pinta Putri sembari menjulurkan jari kelingkingnya.
Putri tampak terdiam menatap Naya, ia teringat jika saat ini masih ada rahasia yang belum ia sampaikan kepada sahabatnya itu. Dengan ragu akhirnya Putri pun mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Naya.
"Iya aku janji," ucap Putri.
__ADS_1
Kini keduanya pun saling bertatapan dan tersenyum bahagia.
"Oh ya, kamu makan ya sekarang. Tadi suami kamu titip pesan ke aku, katanya kalau kamu sudah bangun, kamu harus makan dan minum obat dari dokter. Pokoknya selama Kak Gerald tidak ada di rumah, aku yang akan menggantikannya merawat kamu," kata Putri.
"Iya Suster, sekarang kita ke ruang makan saja ya," kata Naya.
"Nggak apa-apa deh mendadak jadi Suster pribadi. Tapi nggak usah ke ruang makan, kamu tunggu di sini aja. Biar aku yang ambilkan makanannya. Pokoknya khusus untuk Tuan Putri, akan dilayani dengan sepenuh hati," kata Putri.
"Yang putri kan kamu, aku Naya. Lagipula kami ini suster atau dayang sih," ucap Naya tersenyum.
"Itu kan hanya nama aku, ini aku bilang Tuan Putri yaitu kamu. Aku bisa jadi apa saja, suster, dayang, baby suster, ART, sahabat, adik, pokoknya apa aja deh kalau buat kamu," ucap Putri yang juga membalas senyuman Naya.
"Iya makasih ya Put," ucap Naya.
Terlihat senyuman manis yang terpancar dari sudut bibir kedua sahabat itu. Lalu Putri pun segera saja keluar dari kamar Naya untuk mengambilkan makanan.
***
"Put bagaimana keadaan Naya di dalam?" Tanya George seperti bodyguard yang menjaga di luar kamar sedari tadi.
"Ya mudah-mudahan saja ya Put. Aku kasihan kalau Naya masih terus mengalami traumanya. Oh ya lalu apa kamu sudah memberitahu ke Naya tentang hubungan kita?" Tanya George.
Putri menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Belum, dari kemarin aku mau memberitahu Naya ada saja halangannya. Kamu tahu sendiri kan kalau akhir-akhir ini Naya sibuk bolak-balik ke rumah sakit dan sekarang kamu tahu juga bagaimana keadaan Naya. Aku egois nggak sih kalau harus mementingkan urusanku. Tapi kamu tenang saja, aku juga nggak mau menyembunyikannya dari Naya. Nanti kalau sudah ada waktu yang tepat, aku pasti akan memberitahu Naya."
"Oh jadi jadi ceritanya kalian berdua sudah jadian terus nggak kasih tahu ke aku gitu," ucap Naya yang tiba-tiba saja keluar dari kamar dan muncul di hadapan mereka. Naya juga sudah mendengar sepenggal percakapan mereka tadi dari balik pintu.
"Naya," ucap Putri.
"Hai Nay," sapa George.
"Hai juga George. Ternyata selain suster aku juga punya bodyguard ya," ucap Naya yang membuat ketiganya tertawa kecil.
"Iya dong, kita ada di sini khusus buat kamu. Karena kita care sama kamu dan kita minta maaf ya karena belum sempat memberitahu kamu tentang hubungan kita. Karena akhir-akhir ini kamu kan lagi sedih, kamu juga lagi sibuk bolak balik ke rumah sakit mengurus ibu mertua kamu, jadi menurut kita nggak pantas saja kalau kita memberitahu kamu tentang masalah ini," ucap George.
__ADS_1
"Tapi berita sebahagia ini loh yang kalian rahasiakan dari aku," ucap Naya.
Lalu Putri pun menghampiri sahabatnya itu, serta merangkulnya.
"Naya, aku minta maaf deh. Jadi ceritanya itu-" ucapan Putri terhenti.
"Sudah, sudah, sebaiknya kamu ambilkan saja makanan untuk Naya, biar aku yang menceritakannya," ucap George yang memotong ucapan Putri begitu saja.
"Oke, kalau begitu aku ambil makanan dulu ya," ucap Putri dan segera berlalu.
Sedangkan George saat itu langsung saja menceritakan kepada Naya tentang perjodohan yang telah disepakati oleh kedua pihak keluarga mereka.
"Oh ya? Kok bisa ya kebetulan seperti itu. Aku percaya kalau dunia ini benar-benar sempit. Tapi kamu senang kan George, karena yang aku tahu dan yang aku lihat kamu itu menyukai Putri bahkan mencintainya," ucap Naya.
"Kamu tahu saja Nay. Memangnya sejelas itu ya terlihat kalau aku mencintai Putri?" Tanya George.
"Ya iyalah George, bukan hanya aku tapi Gerald juga bisa melihatnya kok. Semua itu terlihat dari bagaimana sifat kamu ke Putri," jawab Naya.
"Tapi aku kan memang orangnya seperti itu Put. Aku care kok sama semua orang, termasuk dengan kamu," ucap George.
"Tetapi ke Putri lain," ujar Naya.
"Kalau memang seperti itu, menurut kamu apakah Putri juga bisa melihat kalau aku mencintainya?" Tanya George.
"Aku rasa Putri juga merasakan sesuatu, tapi dia belum menyadarinya saja kalau kamu mencintainya," ucap Naya
"Seperti itu ya Nay. Ya Putri mengatakan di depan kedua orang tua kita kalau kita sama-sama belum mencintai, jadi kita berdua dekat saja dulu untuk membina cinta itu," ucap George.
"Ya bagus dong kalau seperti itu. Karena kamu sudah mencintai Putri, jadi sekarang tugas kamu bagaimana caranya untuk membuat Putri mencintai kamu. Dan satu lagi jangan pernah kamu menyakiti dan mengecewakan sahabat aku, karena aku nggak akan rela. Kalau Putri kecewa atau merasa sedih, kamu orang pertama yang akan aku cari untuk bertanggung jawab atas itu," ancam Naya.
"Iya Nay, kamu tenang saja. Aku juga tidak akan mungkin menyakiti Putri, wanita yang sudah aku cintai sejak pertama kali kita bertemu. Meskipun kita belum lama kenal, tapi aku merasakan kalau cinta ini semakin lama semakin besar untuknya Nay," ucap George.
Putri terdiam, saat ini ia sedang berdiri di tangga dan tidak sengaja mendengarkan percakapan kekasih dan sahabatnya itu.
__ADS_1
...Bersambung …...