
Sebulan pun telah berlalu, tak ada yang berarti dengan kehamilan Naya. Gerald tetap saja belum bisa menerimanya bahkan ia bersikap acuh tak acuh terhadap Naya. Ia yang tadinya mulai menaruh perhatian dan simpati terhadap Naya kini berubah kembali menjadi arogan saat mengetahui Naya hamil. Naya sendiri hanya bisa pasrah, ingin pergi pun ia juga tak tahu harus pergi ke mana. Di dalam hati kecilnya masih terus bertanya-tanya, harus tetap bertahan atau pergi?
Sedangkan Dania dan David sangat senang mendengar kabar bahwa menantu mereka itu sedang hamil, Mereka pun berantusias untuk segera pulang ke Indonesia agar selalu dapat menemani istri dari anaknya itu.
"Kau mau kemana lagi?" Tanya Naya saat melihat Gerald yang saat itu akan pergi, padahal ia baru saja pulang ke rumah setelah seharian beraktivitas di kantor.
"Bukan urusanmu," jawab Gerald ketus.
"Kenapa bukan urusanku? Aku istrimu Gerald," kata Naya.
"Kau memang istriku, tapi hanya istri di atas kertas. Apa kau lupa jika pernikahan kita ini hanya dijodohkan," kata Gerald.
"Aku tidak pernah lupa itu Gerald, tapi aku sudah ikhlas menjalaninya, aku sudah belajar untuk mencintaimu. Apa kau tidak bisa melakukan itu juga kepadaku?" Tanya Naya.
"Dengar aku Naya, tadinya aku sudah mau berusaha untuk mencintaimu, tapi apa yang kau lakukan? kau malah hamil anak orang lain. Bagaimana bisa aku belajar mencintaimu, kau itu tak lebih dari wanita murahan yang mau memberikan tubuhnya kepada setiap laki-laki," hina Gerald.
"Tutup mulutmu Gerald, apa kau tidak puas selama ini menghinaku seperti itu? Sudah berapa kali aku mengatakan kalau aku tidak pernah hamil anak orang lain, ini anakmu Gerald!" Bantah Naya.
"Kita tunggu saja sampai anak ini lahir untuk melakukan tes DNA, jika terbukti anak itu bukan anakku, maka kita akan bercerai," kata Gerald.
Naya meneteskan air matanya. Entah sudah berapa banyak air matanya yang keluar saat ia berhadapan dengan Gerald, akan tetapi tak juga kering. Ia selalu menahan diri untuk tidak menangis, tetapi nyatanya air mata itu selalu saja lolos.
__ADS_1
Segampang itu kau mengucapkan kata cerai. Bagaimana kalau ini memang anakmu tetapi aku sudah tidak mau lagi untuk bersamamu?" ujar Naya.
"Kau tak usah membalikkan fakta Naya, aku sudah tahu betul kalau itu pasti bukan anakku," kata Gerald tetap kekeh dengan pendiriannya.
Lalu ia pun segera saja meraih kunci mobilnya dan pergi meninggalkan Naya. Ia sama sekali tak peduli jika wanita itu melarangnya, karena baginya Naya bukanlah siapa-siapa yang dapat melarangnya.
***
"Bagaimana apa kau sudah melakukan tugasmu?" Tanya Bella.
"Ya seperti itulah, aku sudah berusaha untuk mendekati Naya, tetapi sepertinya wanita itu tetap saja tidak mau untuk berdekatan denganku," jawab Denis.
"Pakai cara lain dong Denis, lihat aku sudah berhasil untuk mendekati Gerald kembali. Ya meskipun saat ini Gerald belum menjalin kasih lagi denganku, setidaknya dia sudah memaafkanku dan mau bertemu denganku," kata Bella.
"Iya. Kau ini bodoh sekali Denis. Sudah aku katakan kalau Gerald saat ini sedang perang dingin dengan istrinya itu, Gerald tidak percaya jika Naya sedang mengandung anaknya dan malah menuduh itu adalah anakmu. Jadi ini adalah kesempatanmu untuk mendekati Naya, buat seolah-olah jika Naya itu benar-benar mengandung anakmu. Aku yakin dengan seperti itu, Gerald akan cepat menceraikan Naya. Itu artinya apa? Kau bisa bersamanya, aku sendiri bisa berbalikan dengan Gerald dan menikah dengannya," kata Bella.
"Kau yakin ingin menikah dengan Gerald?" Cibir Denis.
"Kenapa tidak?" Tanya Bella.
"Bukankah kau tidak mau berpisah dengan Kelvin sumber uangmu itu?" Sindir Denis.
__ADS_1
"Entahlah, tapi sepertinya aku sudah muak dengannya yang selalu mengaturku. Tentunya aku lebih memilih Gerald daripada pria itu," kata Bella.
"Terserah kau saja, aku juga tidak mau perempuan lain kecuali Naya," kata Denis yang begitu mencintai istri orang.
"Ya sudah kalau begitu aku mau pergi dulu menemui pujaan hatiku. Apa kau tahu, dia yang mengajakku untuk bertemu," kata Bella dengan bangga.
"Heh sombong sekali," cibir Denis.
"Ha … ha … ha … jangan iri seperti itu anak kecil. Terserah saja apa yang mau kau lakukan di apartemenku ini, yang penting kau jangan sampai mengacak-acaknya apalagi membawa wanita ke sini untuk mengajaknya bercinta," kata Bella.
"Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun dengan wanita di apartemenmu ini," kata Denis.
Semenjak Denis memutuskan untuk tidak lagi menjadi pemuas hasrat tante-tante kesepian demi uang, kini ia pun kekurangan sumber dana sehingga menumpang di apartemen Bella. Karena Bella masih memiliki banyak uang dari Kelvin kekasihnya yang berada di Canada, sehingga masih bisa hidup mewah tanpa bekerja. Denis sendiri masih berusaha untuk mencari pekerjaan lain sambil berkuliah, akan tetapi ia belum menemukan yang cocok untuknya. Tentunya ia melakukan ini semua, merubah dirinya hanya untuk mendapatkan simpati dari Naya. Apalagi ia tahu hubungan Naya dan suaminya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
***
Seorang wanita sedang meringkuk di depan pemakaman sembari memegangi batu nisan yang tertancap di tanah. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Naya. Saat ini Naya sedang berada di depan makam kedua orang tuanya dengan air matanya yang bercucuran.
"Ayah, Ibu, Naya kangen sekali sama kalian berdua. Seandainya Ayah dan Ibu masih ada di sini, pasti hidup Naya tidak akan semenderita ini Bu. Apa kalian tahu, Naya tidak pernah merasa bahagia setelah Ayah pergi meninggalkan Naya, Naya selalu menderita. Naya pikir setelah Naya menerima perjodohan dengan seorang pria yang sama sekali belum Naya kenal waktu itu, hidup Naya akan berubah, tapi nyatanya tidak Bu, Yah, Naya semakin menderita. Lebih baik Naya disiksa oleh Bu Rosa daripada harus disiksa oleh suami Naya seperti ini, bahkan dia tidak mau mengakui anak yang sedang Naya kandung adalah anaknya. Ayah, Ibu, Naya sedang mengandung cucu kalian berdua. Kalian pasti senang kan karena sebentar lagi akan mempunyai cucu? Naya yakin Ayah dan Ibu bisa melihatnya dari sana. Doakan Naya ya supaya semuanya berjalan lancar hingga Naya bisa melahirkan anak ini dengan sehat dan selamat meskipun tanpa seorang suami. Naya berharap Naya bisa hidup bahagia bersama dengan anak Naya nanti," ucap Naya dengan air matanya yang terus saja mengalir bak air sungai.
Tidak ada tempat lagi untuk Naya mengadu. Ia sama sekali tidak mempunyai teman dekat apalagi sahabat, karena sejak sahabatnya mengkhianatinya dulu, ia sudah tidak percaya lagi untuk terlalu dekat dengan orang lain. Suami yang ia anggap untuk menjadi tumpuan nyatanya tidak pernah menganggapnya ada. Hanya sang mertua lah yang selama ini ia rasa benar-benar tulus menyayanginya, tetapi saat ini mereka sedang tidak berada di Indonesia. Lagipula tidak mungkin juga jika ia menceritakan masalah rumah tangganya kepada orang tua Gerald, sudah pasti akan membuat orang tua Gerald kepikiran dan akan berpengaruh pada kesehatannya. Jadi Naya hanya bisa memendamnya sendiri atau mencurahkan semuanya itu di depan pemakaman kedua orang tuanya, seperti yang saat ini ia lakukan.
__ADS_1
...Bersambung......