
Naya berulang kali memperhatikan cincin yang baru saja melingkar di jarinya itu, bukan hanya karena keindahan kemilau yang dimiliki dari cincin tersebut melainkan karena orang yang memasangkan cincin tersebut adalah suaminya. Ia ingat betul enam bulan yang lalu Gerald pernah memasangkan cincin juga di jari Manis sebelah kanannya tetapi Gerald pada saat itu sama sekali merasa tidak suka alias sangat terpaksa. Tetapi untuk kali ini Gerald sendirilah yang memberikan hadiah itu khusus untuknya dan memasangkannya langsung tanpa paksaan dari siapa pun, ya meskipun Naya yang minta dipasangkan tetapi Gerald dengan senang hati melakukannya.
"Apa kau suka?" Gerald sekedar berbasa-basi, padahal ia tahu betul bagaimana ekspresi istrinya saat ini.
"Untuk apa kau bertanya lagi, sudah jelas aku menyukainya. Kalau aku tidak suka, untuk apa aku menerimanya," jawab Naya.
"Ya, ya, terlihat sangat jelas jika kau menyukainya. Hanya saja kau yang terlalu gengsi tadi untuk mengakuinya," tuding Gerald.
"Bukan seperti itu Gerald, cincin ini terlalu mahal, aku tidak berani bermimpi untuk memilikinya. Lagipula aku mengira jika cincin ini untuk kekasihmu. Kenapa kau tidak membelikannya?" Tanya Naya.
"Sudah terlalu banyak hadiah yang aku berikan untuknya, lagipula dia bisa membelinya sendiri asalkan aku memberikannya uang," kata Gerald terang-terangan.
Naya menjadi sakit hati mendengar akan hal itu, tetapi ya sudahlah. Yang penting Gerald adalah suaminya dan ia yakin jika wanita itu tidak mungkin bisa menggantikan posisinya sebagai istri. Dengan sedikit perubahan Gerald saat ini, Naya yakin bisa menyingkirkan wanita yang menjadi benalu dalam rumah tangganya.
"Ya sudah ayo kita pulang," ajak Naya.
"Pulang? Siapa bilang aku ingin mengajakmu pulang?" Tanya Gerald.
"Lalu?" Tanya Naya pula.
__ADS_1
"Kita masih akan berbelanja lagi dan berjalan-jalan, hari ini kita akan menghabiskan waktu bersama. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau aku tidak pernah melakukan hal ini, tidak pernah mengajakmu jalan-jalan. Aku hanya ingin membuktikan jika aku bisa melakukan hal yang lebih daripada pria yang ada di rumah Ibu tirimu tadi," kata Gerald.
"Jadi gara-gara itu? Kau merasa tersinggung sehingga kau melakukan ini semua?" Tanya Naya.
"Aku tidak tersinggung, aku hanya ingin melakukannya," jawab Gerald.
"Hem, ya sudah ayo aku akan mengikutimu," ucap Naya lalu mengikuti Gerald kemana saja.
Mereka berdua berbelanja, bermain di Timezone, berjalan mengelilingi taman sambil menikmati cemilan, terakhir makan bersama sebelum pulang ke rumah karena hari juga sudah malam, matahari sudah berganti dengan cahaya bulan. Yang jelas hari ini mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama. Canda tawa pun tak lepas dari keduanya sehingga mereka lupa bagaimana kondisi ini rumah tangga mereka biasanya. Gerald yang biasanya menjadi pria yang sangat arogan, mendadak menjadi pria yang begitu ramah dan begitu tampan di mata Naya karena selalu menampilkan Senyum manisnya. Terlebih lagi sikapnya yang begitu sangat perhatian membuat siapapun wanita itu pasti akan merasa bahagia, termasuk Naya.
Akan tetapi, terbesit dalam hati Naya yang merasa takut jika sikap Gerald yang sangat manis untuknya hanya berlaku untuk hari ini. Karena Gerald masih memiliki seorang kekasih dan tetap saja belum bisa menerima Naya. Terbukti saat mereka sudah sampai di rumah, Gerald langsung saja masuk ke dalam kamarnya tanpa mempedulikan Naya seperti sudah melupakan kejadian yang telah mereka lewati bersama hari ini.
Kini Naya dan Gerald sama-sama sudah merebahkan tubuh mereka yang lelah di atas kasur setelah seharian menghabiskan waktu di luar. Untungnya esok masih hari libur sehingga mereka masih bisa beristirahat di rumah.
Sedangkan Naya di dalam kamarnya juga merasakan sangat bahagia dengan tersenyum sendiri. Seakan ia sudah melupakan tentang Denis yang tadi pagi ada di rumah ibu tirinya itu. Kini di dalam otaknya hanya dipenuhi dengan bayangan Gerald. Naya yang memang sudah memiliki perasaan lebih terhadap Gerald sejak lama, tetapi mencoba melupakannya karena Gerald sama sekali tidak menginginkannya, dan kali ini Naya merasa jika perasaan itu muncul lagi.
"Apa mungkin suatu saat nanti Gerald akan membuka hatinya untukku sebagai istri sahnya? Lalu bagaimana dengan kekasihnya itu? Aku tidak yakin tapi aku sangat ingin. Apa aku salah jika ingin memiliki hubungan yang serius dengan suamiku tanpa gangguan pelakor?" Gumam Naya, lalu ia pun mencoba memejamkan matanya hingga terlelap.
Begitu juga dengan Gerald, ia mencoba untuk menajamkan matanya hingga tidak beberapa lama kemudian ia pun menyusul Naya ke alam mimpi.
__ADS_1
***
Waktu pun telah berlalu, meskipun Naya dan Gerald sempat melewati indahnya hari bersama, tetapi sikap Gerald kini berubah kembali menjadi arogan setelah ia sudah bertemu dengan Bella. Sudah jelas Bella selalu memberikan senjata pamungkasnya agar Gerald semakin mencintainya dan tidak memberikan celah sedikit untuk Naya masuk ke dalam hati suaminya. Akan tetapi kali ini berbeda, meskipun sedang bersama dengan Bella, tidak bisa dipungkiri jika Gerald selalu saja memikirkan Naya.
"Gerald kau kenapa? Dari tadi aku berbicara padamu, tetapi kau sama sekali tak menggubrisku, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Bella.
"Maaf Sayang, aku hanya sedang memikirkan soal pekerjaan," ucap Gerald.
"Aku tidak percaya, kau pasti sedang memikirkan istrimu itu kan?" Tuding Bella.
"Bella, untuk apa aku memikirkannya sedangkan aku hanya mencintaimu," bantah Gerald.
"Oh ya? Jika kau memang mencintaiku, lalu kenapa kau sekarang jarang menghubungiku jika sedang berada di rumah. Kau pasti sibuk kan dengan istrimu itu?" Tuding Bella lagi.
"Sama sekali tidak Bella, aku tetap bersikap arogan terhadapnya. Kau tahu sendiri jika aku hanya bersikap manis terhadapmu," kata Gerald.
"Awas saja, kalau kau ketahuan sudah memberikan hatimu untuknya, maka aku tidak akan segan untuk melakukan hal yang akan merugikanmu," ancam Bella.
"Itu tidak mungkin Sayang, aku mencintaimu jadi aku tidak mungkin mengkhianatimu," ucap Gerald lalu melakukan penyatuan bibir dengan kekasihnya itu, serta melu***nya sehingga mereka lupa jika saat ini sedang berada di perusahaan.
__ADS_1
Memang Bella itu selalu saja mondar-mandir ke perusahaan Gerald untuk menemuinya, meskipun ia tahu Gerald sudah memilki istri. Tentunya para pegawai di perusahaan itu sudah mengetahui siapa istri Gerald dan sering membicarakan jika Bella hanyalah seorang wanita yang berusaha untuk merusak rumah tangga Gerald. Akan tetapi Bella sama sekali tidak peduli, karena ia tak ingin meninggalkan Gerald yang itu artinya ia akan kehilangan sumber dananya.
...Bersambung......