
Seperti biasa, Gerald terlihat sangat tidak berselera menyantap sarapan paginya, ia terus saja kepikiran sang istri dan juga anaknya. Ia tidak tahu entah apa yang harus dilakukannya agar bisa menemui mereka dan menebus segala kesalahannya, menembus segala dosanya selama ini. Kerap kali Gerald mondar-mandir ke kamar Naya, ia berharap jika wanita itu sedang berada di kamarnya itu seperti biasanya saat mereka masih bersama.
"Kenapa kamu menyerah Nay? Bukankah dulu kamu selalu bertahan dengan segala keegoisanku, kamu selalu kuat menghadapi aku, kamu tidak pernah menanggapi jika aku berbuat kasar padamu. Aku merindukan sikap cuekmu, sikap keras kepalamu itu Nay. Tapi kenapa? Kenapa kamu pergi meninggalkan aku dan membuat aku rapuh seperti ini? Apakah ini balasan buat aku, apakah ini hukuman buat aku Nay? Maafkan aku karena selama ini telah membuat kamu kecewa dan terus saja menangis. Aku mohon kembalilah, aku tidak akan pernah berbuat kasar lagi padamu, aku janji. Rasanya terasa sangat berat hidup tanpa kamu, lebih baik kamu terus memarahiku, menyiksaku secara langsung atau bahkan membunuhku sekaligus daripada kamu meninggalkanku seperti ini, sama saja kamu telah menyiksaku secara perlahan," gumam Gerald dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gerald, kamu sudah selesai sarapannya? Kenapa rotinya hanya diacak-acak seperti itu saja," tegur Dania.
Sedangkan David hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah laku anaknya itu. Tubuhnya memang sedang berada di hadapan mereka saat ini, tetapi pikirannya melayang entah kemana.
"Pa, apa boleh kalau aku hari ini tidak pergi ke kantor lagi? Aku ingin mencari Naya dan Kania Pa," ucap Gerald.
"Tidak, hari ini kamu harus pergi ke kantor. Sudah terlalu lama kamu mengabaikan pekerjaan-pekerjaan kamu Ger, kamu pikir Papa dan Boy bisa mengatasi terus semua permasalahanmu? Kita punya tanggung jawab masing-masing dan tanggung jawab kamu dimana sebagai seorang CEO. Apa kamu tidak kasihan melihat Papa dan Boy yang selalu saja menyelesaikan semua pekerjaanmu? Mau sampai kapan kamu terpuruk seperti ini, harusnya kamu lebih semangat lah. Bagaimana kalau suatu saat nanti Naya pulang dan melihat kondisi kamu seperti ini, apa kamu tidak kasihan dengan Naya? Seharusnya kamu itu semangat mencari uang untuk anak dan istri kamu," ucap David memberi nasehat kepada laki-lakinya itu. Usianya saja yang sudah dewasa, tetapi sifatnya sungguh seperti anak kecil jika sudah terkena masalah berat seperti ini.
"Ya sudah Pa, nanti aku akan pergi ke kantor. Papa pergi saja dulu, Papa dan Boy saja yang ikut meeting. Aku janji akan segera sampai ke kantor," ucap Gerald yang terlihat tidak ada semangatnya sama sekali.
"Tidak bisa, kamu harus pergi bersama dengan Papa," kata David.
"Selamat pagi semuanya," ucap seseorang.
__ADS_1
Jika terdengar dari suaranya, itu adalah seorang wanita yang suaranya sangat tidak asing di telinga Gerald. Mereka bertiga pun langsung saja menoleh ke arah sumber suara.
Betapa terkejutnya mereka saat ini karena telah kedatangan tamu yang tak diundang ada di hadapan mereka. Wanita itu tampak tersenyum lebar dan tidak tahu malu segera melangkahkan kakinya mendekati keluarga yang sedang menikmati sarapan bersama.
"Untuk apa kau ke sini? Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Gerald, emosinya langsung naik saat melihat wanita licik itu.
"Sudah Gerald," kata Dania. Meskipun ia sama sekali tidak menyukai wanita itu, tetapi tetap saja Dania tidak mau semakin merusak mood Gerald di pagi ini.
"Pagi Om, Tante," sapa Bella yang terlihat cuek meskipun tidak ada yang menyukainya.
"Gerald aku merindukanmu, maka dari itu aku datang ke sini pagi-pagi. Aku tahu kamu lagi sakit kan? Tidak berselera untuk makan, tidak bersemangat bekerja, tidak bergairah untuk hidup. Aku datang ke sini akan membantu kamu mengatasi itu semua, aku akan membuat kamu semangat kembali. Jadi biarkan aku di sini ya Gerald, Om, Tante," ucap Bella yang langsung saja duduk di samping Gerald.
Gerald sontak terkejut dan langsung saja berdiri, ia begitu muak melihat kelakuan wanita yang pernah mengkhianatinya itu.
"Ma, Pa, aku mendadak kenyang. Ayo sekarang kita pergi ke kantor Pa," ucap Gerald yang enggan yang meladeni Bella.
Setelah berpamitan dengan Dania, David dan Gerald pun langsung saja melangkahkan kakinya hendak keluar rumah tanpa mengucap kata apapun untuk Bella.
__ADS_1
Saat Bella hendak menyusul Gerald, Dania segera saja memanggilnya sehingga langkah kakinya pun terhenti.
"Bella, kamu mau kemana perempuan ular?" Tanya dania langsung saja menyerang wanita tidak tahu diri itu. Padahal sudah jelas-jelas Gerald sudah tidak menyukainya, terlebih lagi dia sudah mempunyai istri tetapi Bella tetap saja tak tahu malu mendekati Gerald.
"Tante, kenapa Tante panggil saya seperti itu dan saya ada salah apa ya dengan Tante? Saya ke sini hanya ingin bertemu dengan Gerald, apa itu salah?" Tanya Bella yang pura-pura bodoh.
"Tentu saja salah, kamu tahu kan kalau Gerald itu sudah mempunyai istri dan anak. Kamu datang ke sini hanya sebagai tamu yang tak diundang Bella, kamu sama sekali tidak dibutuhkan di sini. Kamu tidak perlu datang untuk menghibur atau menggoda anak saya lagi!" Bentak Dania.
"Tante, aku sudah tahu kalau saat ini istri Gerald sudah pergi meninggalkannya entah kemana. Bukankah sudah dua bulan berlalu? Aku datang ke sini dengan maksud baik-baik Tante, aku hanya ingin mengembalikan semangatnya," terang Bella.
"Tidak perlu, sekarang kamu pergi tinggalkan rumah saya. Jangan pernah mengganggu keluarga saya lagi. Saya benar-benar sudah sangat muak dengan kelakuan kamu Bella. Dari dulu saya sudah tahu siapa kamu sebenarnya, teman-teman saya, bahkan saya sendiri pernah melihat kamu bermesraan dengan pria lain. Tapi sayangnya anak saya sudah terlalu dibutakan oleh cinta kamu sehingga tidak mempercayai ucapan saya. Tapi syukurlah akhirnya Gerald sudah tahu sendiri dan sudah menyadari semuanya. Gerald sudah sadar jika dia sangat mencintai istrinya itu. Saya yakin jika istrinya juga sangat mencintainya dan suatu saat akan kembali," kata Dania yang sengaja memanas-manasi mantan kekasih anaknya itu.
Benar saja Bella begitu sangat murka mendengarnya, ia mengepal erat kedua tangannya serta mengeratkan gigi-giginya itu menahan amarah. Lalu segera saja ia pergi meninggalkan Dania.
Dania tersenyum puas, ia merasa senang karena berhasil membuat tamu tak diundang itu pergi dengan sendirinya. Dania berharap jika wanita ular itu tidak akan pernah lagi datang mengganggu anaknya, karena apabila hal itu sampai terjadi lagi maka Dania tidak akan pernah tinggal diam. Cukup sekali perempuan itu ada di dalam hidup anaknya dan merusak segalanya, bahkan ia juga sempat tidak menghargai sang istri karena wanita yang salah.
...Bersambung......
__ADS_1