
"Putri kamu kenapa diam? Maaf ya kalau kata-kata aku tadi menyinggung kamu," ucap Naya.
"Oh nggak kok Naya, nggak kenapa-napa. Tapi jujur sampai sekarang aku memang belum bisa membuka hati untuk pria lain, jujur aku masih mencari teman kecil aku itu," ucap Putri yang terlihat sedih.
"Oh gitu ya, sepertinya kamu benar-benar sangat mencintai teman lama kamu itu meskipun pada awalnya hanyalah cinta monyet," ucap Naya.
"Iya kamu benar Nay, awalnya hanya main-main aja, tapi entah kenapa semakin lama aku merasa benar-benar mencintainya dan tidak bisa melupakan teman lama aku itu. Mungkin yang tidak mengerti bagaimana perasaan aku ini menganggap aku bodoh, aku mencari dan menunggu orang ya yang tidak tahu sekarang ada dimana, belum tentu dia mencariku seperti aku yang selalu mencarinya, bisa aja kan kalau saat ini dia sudah menikah dan punya anak? Aku juga sudah mencari dia ke mana-mana selama ini tetapi sama sekali belum menemukannya, bahkan orang tua aku yang dulunya juga berteman dengan orang tuanya tidak mengetahui dimana keberadaan mereka saat ini," ucap Putri.
"Put, aku mengerti kok perasaan kamu. Kamu jangan sedih lagi ya, aku doakan semoga suatu saat nanti kamu bisa bertemu dengan teman lama kamu sekaligus cinta pertama kamu itu. Atau paling nggak aku berdoa semoga kamu cepat move on deh dengan pria lain, supaya nggak sedih-sedih terus. Jangan pernah mengatakan kalau kamu bodoh, aku nggak pernah menganggap kamu seperti itu," kata Naya.
"He … he … he … makasih ya Nay, aku malah jadi curhat nih sambil jalan. Ya sudah kalau gitu aku mau ke kelas dulu ya, kamu juga kan," ucap Putri.
"Iya aku juga mau ke kelas. Ya sudah, sampai ketemu lagi nanti kalau sudah selesai kelas ya," kata Naya.
"Oke Nay," jawab Putri, lalu mereka pun berpisah untuk mengikuti kelas masing-masing.
***
Sore hari di saat matahari hendak menenggelamkan wujudnya dan akan berganti dengan indahnya bulan, di sebuah kamar mewah berukuran cukup besar, tampak Putri yang sedang mencari-cari sesuatu di dalam box yang belum semua ditata di kamarnya. Karena memang sejak kepindahannya dari Jogja ia belum 100% mengemasi barang-barangnya milik pribadinya itu, hanya yang terpenting saja yang baru ia rapikan. Saat ini ia sedang mencari barang yang sangat penting baginya, tetapi ia sudah membongkar beberapa box tetapi belum menemukannya sehingga Putri meminta tolong asisten rumah tangganya untuk membantunya mencari.
"Memangnya Non Putri lagi cari apa?" Tanya ART yang biasa ia panggil dengan sebutan Mbok Sari.
"Aku lagi cari album foto lama yang berwarna biru. Kalau Mbok sudah ketemu kasih tahu ke aku ya," kata Putri.
"Baik Non, kalau begitu akan segera saya cari," jawab Mbok Sari.
Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Putri sendiri yang menemukan album tersebut. Ia begitu sangat senang dan langsung saja membawa album tersebut ke sofa yang ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Mbok, aku sudah ketemu dengan albumnya. Makasih ya Mbok sudah membantu aku mencarinya," ucap Putri.
"Syukurlah Non, tapi apa Non tidak mau saya bantu untuk merapikan barang-barang Non ini?" Tanya Mbok Sari.
"Nggak usah Mbok, biar nanti aku aja yang merapikan sendiri pelan-pelan," jawab Putri.
Putri memang tidak suka jika isi di dalam kamarnya itu diganggu oleh siapapun, termasuk meletakkan barang-barangnya tersebut. Ia lebih suka untuk menatanya sendiri sesuai dengan keinginannya.
"Baik Non, kalau begitu saya permisi," ucap Mbok Sari dan segera saja keluar dari kamar Nona mudanya itu.
Putri membuka album lamanya itu, ia tersenyum sekaligus juga terharu melihat foto lama yang ada di dalam album tersebut.
"Kak Eral, sudah lama kita tidak bertemu. Kak Eral sekarang ada dimana sih, aku sudah mencari Kakak kemana-mana, mencari informasi tentang Kakak, tetapi sampai sekarang aku belum bertemu dengan Kak Eral. Kira-kira Kakak masih ingat nggak ya sama aku. Aku masih berharap sampai sekarang kalau suatu saat nanti kita bisa bersama Kak," gumam Putri.
Flashback on …
"Puput kamu janji ya, kalau sudah besar nanti kamu tidak akan melupakan aku. Aku mau kalau kita sudah besar kita akan berpacaran," ucap Eral.
"Iya dong Kak, aku nggak akan melupakan Kak Eral kok. Kak Eral juga janji ya jangan melupakan aku," ucap Puput.
"Iya Put aku janji, nanti kalau sudah besar kita akan bersama, aku tidak akan pernah melupakan kamu dan meninggalkan kamu," ucap Eral.
Lalu keduanya pun mengaitkan jari kelingking sebagai tanda janji antara dua anak kecil itu.
Akan tetapi, nyatanya beberapa bulan kemudian Eral dibawa oleh orang tuanya pindah ke Jakarta karena sang ayah yang pindah tugas di sana. Sejak saat itu Puput dan Eral pun sudah tidak pernah bertemu lagi kira-kira sudah 18 tahun lamanya, bahkan jika bertemu saat ini belum pasti Puput dan Eral akan mengenali wajah mereka saat dulu.
Flashback off.
__ADS_1
***
"Sayang-sayangnya Papa lagi main apa sih, seru sekali sepertinya," ucap Gerald saat ia melihat Naya sedang bermain dengan Kania anak mereka.
"Eh Papa, aku lagi main cilukba nih Pa sama Mama," jawab Naya seolah menjadi anaknya.
Gerald mendekati keduanya lalu mencium kening sang istri dengan sangat romantis serta mencium pipi anaknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Anak Papa, gantian dong mainnya sama Papa," ucap Gerald lalu menggendong anaknya itu.
Naya sangat bahagia melihat Gerald yang terlihat begitu menyayangi Kania, ia tidak menyangka jika anak yang dulu tidak diakui oleh Gerald, saat ini begitu dekat dengannya dan Gerald terlihat sangat mencintai anaknya itu. Naya pun sudah berusaha tidak akan mengingat lagi masa lalunya yang kelam, karena sudah diganti oleh kebahagiaan yang saat ini menghampiri hidupnya.
Tanpa sadar Naya meneteskan air matanya saat menatap kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya. Gerald yang tidak sengaja menatap wajah istrinya pun merasa keheranan.
"Sayang, kamu kenapa menangis? Siapa yang sudah menyakiti kamu, katakan padaku," tanya Gerald.
"Enggak, aku nggak sedih dan nggak ada yang menyakiti aku Sayang. Aku hanya merasa terharu bahagia aja melihat kebahagiaan kita saat ini. Aku nggak menyangka kalau akhirnya aku bisa merasakan bahagia seperti ini, jika mengingat bagaimana penderitaan hidup aku di masa lalu bahkan sebelum aku kenal dengan kamu," ucap Naya dengan air matanya yang tak dapat dibendung lagi.
Rasanya ucapan tersebut telah menusuk ke dalam lubuk hati Gerald yang paling dalam. Karena hal itu, sekilas Gerald teringat bayangan masa lalunya disaat ia menyakiti istrinya dengan sangat kejam. Mendadak saat itu Gerald merasakan kepalanya begitu sakit sehingga ia pun meletakkan Kania di atas kasur.
"Akh … sakit!" Teriak Gerald sembari memegangi kepalanya, tentu saja membuat Naya menjadi panik melihatnya.
"Gerald, kamu kenapa Gerald?" Teriak Naya.
Di saat itu, tiba-tiba Kania juga menangis seolah ikut panik dan khawatir dengan apa yang sedang terjadi dengan ayahnya, sehingga membuat suasana di dalam kamar menjadi ricuh.
...Bersambung …...
__ADS_1