
"Naya, ada yang ingin aku bicarakan padamu," kata Gerald di sela makan malam mereka.
"Bicara? kau mau bicara apa?" Tanya Naya.
"Aku harap kau sama sekali tidak menyampaikan apa yang telah terjadi kepada orang tuaku, termasuk juga tentang penyakitku," kata Gerald.
"Ternyata kau takut kalau aku akan mengatakan hal itu kepada orang tuamu. Aku kira seorang Gerald tidak takut apapun," ledek Naya.
"Ck sialan! Kau meledekku? Aku tidak takut apapun kalau tidak berhubungan dengan Mama," kata Gerald.
"Kalau aku ingin mengatakannya, pasti sudah sejak awal aku mengatakannya Gerald. Tapi aku tidak akan mungkin melakukan hal itu karena aku memikirkan kesehatan Mama, lagipula aku bukan si pengadu seperti yang kau pikirkan itu. Tapi aku minta jangan pernah kau melakukan hal itu lagi, sekarang kau sudah tahu kan keburukan wanita yang kau puja-puja itu yang ternyata hanyalah seorang pengkhianat. Kau malah menyia-nyiakanku yang diibaratkan sebongkah berlian hanya demi batu krikil yang sama sekali tidak berharga seperti itu," kata Naya.
"Tutup mulutmu Naya! Kau ini, aku hanya meminta tolong tapi kau malah menceramahiku panjang lebar. Membuat nafsu makanku hilang saja," kata Gerald yang menghempaskan sendok di atas piringnya itu lalu pergi meninggalkan Naya.
Naya menarik nafasnya perlahan lalu menghembuskannya kasar. Ia mencoba lebih bersabar lagi untuk menghadapi suaminya itu seperti yang biasa ia lakukan.
"Gerald, kau harus menghabiskan makananmu dulu!" Teriak Naya.
"Kau saja yang menghabiskan makanan itu, dasar wanita gila," ucap Gerald.
Naya tak bergeming, ia sama sekali tak peduli dengan perkataan suaminya tadi, hatinya seakan seperti batu yang sama sekali sudah tak dapat lagi merasakan sakitnya saat ia dihina-hina oleh Gerald. Menurutnya sekeras apapun Gerald, dengan cinta suci yang ia miliki pasti ia akan Luluh juga.
Gerald masuk ke dalam kamarnya, lagi-lagi ia menghancurkan barang-barang yang ada di kamarnya itu. Naya yang mendengar itu pun hanya diam saja, ia sudah tak mau lagi mencampuri urusan Gerald saat sedang menghancurkan barang-barangnya karena melampiaskan kemarahannya pada mantan kekasih. Bisa-bisa Naya yang akan terkena sasarannya nanti. Ia pun lebih memilih masuk ke kamarnya untuk menyiapkan tugas dari kampus yang harus dikumpulkan esok hari, daripada harus melayani suami arogannya itu yang sedang uring-uringan seperti orang gila hanya karena wanita yang sudah jelas-jelas menyakiti hatinya.
***
"Halo Ma, Mama apa kabar?" Ucap Naya saat menjawab telepon dari ibu mertuanya, Dania.
"Halo Sayang, Mama baik-baik saja. Kamu gimana keadaannya dengan Gerald, baik-baik saja kan?" Tanya Dania pula.
"Iya Ma, aku baik-baik saja kok, begitu juga dengan Gerald," jawab Naya.
"Syukurlah, kenapa ya Gerald tidak menjawab telepon Mama. Mama dari tadi menghubunginya, tetapi dia sama sekali tidak menjawab telepon Mama," kata Dania.
"Oh gitu ya Ma, sepertinya Gerald lagi sibuk," kata Naya mencoba menyembunyikan yang sebenarnya sedang terjadi.
__ADS_1
"Naya, kamu nggak lagi menyembunyikan sesuatu dari Mama kan?" Tanya Dania yang curiga.
"Nggak Ma, aku sama sekali nggak menyembunyikan apa-apa. Memang yang aku lihat Gerald itu sangat sibuk, nggak di kantor, di rumah pun dia tetap mengerjakan pekerjaannya itu," kata Naya.
"Oh … seperti itu. Ya sudah, tapi kamu harus tetap mengingatkan suami kamu ya Sayang, jangan mementingkan pekerjaan terus, jangan lupa dengan kewajiban kalian berdua untuk memberikan Mama cucu," kata Dania yang membuat Naya tersentak.
"Cucu? Gimana mau punya cucu kalau anak Mama itu nggak mau menyentuh aku," batin Naya.
"Naya, kamu masih di sana kan?" Tanya Dania.
"Iya ma, aku masih di sini," jawab Naya yang tersadar dari lamunannya.
"Kamu dengarkan Mama tadi bilang apa?" Tanya Dania lagi.
"Iya Ma aku dengar kok, nanti aku sampaikan ke Gerald dan kalau soal cucu mungkin itu memang belum rezeki kita aja Ma, kalau sudah rezekinya nanti pasti Naya dan Gerald akan mempunyai anak. Oh ya gimana pengobatan Mama, berjalan lancar kan?" Tanya Naya mengalihkan pembicaraan lain.
"Alhamdulillah Nay, sekarang masih dalam proses penyembuhan. Kamu doakan ya Mama cepat sembuh dan akan cepat kembali ke Indonesia," ucap Dania.
"Aamiin, iya Ma aku tunggu ya kepulangan Mama dan Papa," ucap Naya.
"Iya Sayang. Ya sudah kalau begitu Mama mau istirahat dulu ya, Dokter bilang mama harus banyak istirahat," kata Dania.
"Oh iya Sayang, kalau gitu kamu hati-hati ya," kata Dania.
"Iya Ma. Da … ," ucap Naya.
"Da Sayang," balas Dania.
Lalu panggilan telepon pun berakhir.
"Dor … ," suara Denis dari belakang mengagetkan Naya.
"Denis, ada apa?" Tanya Naya.
"Nggak ada apa-apa sih, sebenarnya sudah dari tadi aku mau menegurmu, tapi karena aku lihat kamu lagi teleponan, jadi aku urungkan dulu deh dan baru ini aku menghampiri kamu," jelas Denis.
__ADS_1
"Oh gitu, iya tadi mertua aku di luar Negeri yang telepon," kata Naya.
"Oh … kamu ada kelas nggak?" Tanya Denis.
"Iya nih 10 menit lagi aku ada kelas, kenapa Den?" Jawab Naya dan bertanya.
"Yah Sayang banget ya, rencananya aku mau mengajak kamu makan karena aku sudah nggak ada kelas lagi," kata Denis.
"Maaf ya Denis, aku ada kelas dan selesai kelas nanti aku harus segera pulang, karena aku sudah janji dengan Gerald mau pulang ke rumah untuk menyiapkan makan siang untuknya," ucap Naya.
"Ya sudah kalau begitu," jawab Gerald yang terlihat sangat kecewa.
Sebenarnya Naya juga merasa tidak enak menolak kebaikan Denis, akan tetapi mau bagaimana lagi, ia hanyalah seorang wanita yang telah bersuami dan harus menjaga jarak dengan pria lain.
"Aku duluan ya Den," ucap Naya lalu melangkahkan kaki meninggalkan Denis.
"Naya, sepertinya kamu sudah mulai mencintainya, buktinya kamu sama sekali tidak mau menggubrisku lagi," gumam Denis sembari menatap kepergian Naya yang semakin menjauh.
***
Naya tiba di rumahnya tepat pukul 01.00 siang, saat itu ia melihat Gerald yang sedang duduk di ruang keluarga menonton televisi.
"Gerald, tumben kau menonton televisi di sini?" Tanya Naya keheranan.
Gerald melirik Naya yang saat itu baru saja pulang masih membawa tas kuliahnya.
"Memang kenapa? ini kan rumahku, terserah aku mau berada dimana dan mau berbuat apa saja," jawab Gerald ketus.
"Ya, ya aku tahu. Apa salahnya aku hanya bertanya," kata Naya lalu melenggangkan kakinya hendak meninggalkan Gerald.
"Tunggu!" Panggil Gerald hingga langkah Naya terhenti.
Naya pun tersenyum lalu membalikkan badannya menghadap ke arah suaminya itu.
"Kenapa?" Tanya Naya.
__ADS_1
"Bukankah kau berjanji akan pulang cepat untuk menyiapkanku makan siang, tapi kenapa kau baru pulang? Atau jangan-jangan kau pergi dengan pria itu ya?" Tuding Gerald yang membuat Naya mengernyitkan dahinya.
...Bersambung......