Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Bertemu Kembali


__ADS_3

Tiba-tiba Gerald menghentikan ucapannya itu saat ia menyadari sedang dipandang oleh keluarganya. Ia jadi merasa canggung karena sepertinya keluarganya itu merasa curiga kepadanya.


"Gawat, pasti Mama, Papa dan Naya curiga karena aku bisa berbicara selancar itu. Seolah aku sudah mengingat tentang semuanya, aku harus tetap tenang supaya kecurigaan mereka tidak semakin bertambah," gumam Gerald dalam hati.


"Mama, Papa, Naya, kenapa kalian melihat aku dengan tatapan seperti itu? Ada apa? Apa ada yang salah?" Tanya Gerald.


"Gerald, Mama merasa sepertinya kamu tidak sedang hilang ingatan sekarang, kamu sudah mengingat semuanya kan? Kasih tahu deh ke kita semua, apa kamu menyembunyikan sesuatu dari kita?" Tanya Dania.


"Mama ngomong apa sih. Tentu saja aku belum ingat Ma. Aku mengatakan hal itu semua karena aku dengar dari Pak Ujang, penjaga rumah lama kita itu," ucap Gerald beralasan, akan tetapi keluarganya dapat melihat jika saat itu Gerald terlihat sangat gugup dan menutupi sesuatu.


Saat Dania akan mengucap kata lagi, tampak David yang mencubit tipis pinggang sang istri pertanda memintanya untuk diam. Dania yang mengerti maksudnya itu pun segera saja bungkam dan pura-pura percaya dengan apa yang diucapkan oleh anaknya itu.


"Ya sudah Mama percaya kok, kalau begitu sekarang kalian masuk saja ke kamar ya, mandi, lalu beristirahat. Nanti malam kita bertemu di ruang makan," kata Dania.


"Iya Ma, kalau begitu kita ke kamar dulu ya Ma," ucap Naya.


"Iya Sayang," jawab Dania.


Lalu Naya dan Gerald yang juga membawa Kania segera beranjak pergi meninggalkan David dan Dania menuju ke kamar mereka.


"Papa apa-apaan sih, kenapa coba tadi colek-colek Mama seperti itu, memberhentikan ucapan Mama," protes Dania saat Naya dan Gerald sudah tak terlihat lagi dari pandangan mereka.


"Mama tuh yang apa-apaan, bukannya Mama sudah sepakat dengan Naya kalau kita akan berpura-pura tidak tahu, kita lihat saja sampai dimana nantinya Gerald akan merahasiakan soal ini dari kita. Papa yakin kok nantinya Gerald pasti akan memberitahu kita, dia pasti punya alasannya Ma," ucap David.


"Iya, iya Mama tahu. Tapi mau sampai kapan Pa, Mama benar-benar penasaran. Kenapa Gerald harus menyembunyikannya dari kita? Padahal apa yang diucapkannya tadi sudah jelas menunjukkan kalau Gerald itu benar-benar sudah mengingat masa lalunya. Coba deh Papa tanya sama Dokter Farhan tentang kebenarannya, sudah pasti Dokter Farhan akan tahu. Tidak mungkin kan jika Dokter Farhan tidak mengetahuinya, beliau yang menangani anak kita dan sudah jelas beliau juga yang tahu bagaimana kondisi Gerald saat ini," ucap Dania.


"Tapi jika Dokter Farhan mengetahuinya, masa iya beliau tidak memberitahukan kepada kita," kata David.

__ADS_1


"Bisa saja Pa, mungkin saja kan jika Gerald yang memintanya untuk tidak memberitahu kita," ujar Dania.


"Ya jika Mama sudah tahu seperti itu, lalu untuk apa lagi kita bertanya kepada Dokter Farhan Ma, sudah jelas Dokter Farhan akan bungkam karena dia sudah berjanji kepada Gerald untuk tidak memberitahukan kita," kata David.


Dania terdiam dan tampak memikirkan sesuatu, apa yang dikatakan oleh suaminya itu memang benar dan masuk akal. Jadi untuk sementara waktu Dania pun memilih untuk diam saja dan tetap pada rencana awal mereka untuk pura-pura tidak tahu sampai nantinya Gerald akan memberitahukan sendiri kepada mereka.


****


Selesai mandi, Naya meraih ponselnya yang berada di atas nakas, saat itu ia melihat ada sebuah pesan WhatsApp masuk dari Putri, langsung saja ia membuka pesan tersebut.


"Naya kalau boleh malam ini aku mau main ke rumah kamu. Aku ingin bercerita, karena aku juga tidak punya teman di sini selain kami. Selain saat ini aku membutuhkan teman cerita, aku juga ingin menjadi teman dekat kamu Naya. Sewaktu di Jogja juga kan aku nggak sempat tuh mampir, jadi boleh kan kalau aku main ke rumah kamu malam ini?" Isi pesan WhatsApp dari Putri.


Naya pun langsung membalas pesan tersebut dan tentu saja ia menyetujuinya. Karena Naya sendiri memang sudah lama tidak mempunyai teman dekat, jangankan teman yang mau datang ke rumah, bahkan teman di kampusnya saja sudah tidak ada. Ia sangat takut untuk mendekatkan diri kepada orang lain, karena takut kejadian di masa lalu akan terulang kembali, di saat ia dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Tetapi entah kenapa, Naya merasa begitu nyaman saat dekat dan berbicara dengan Putri bahkan percaya kepadanya jika Putri memang bisa menjadi sahabat baiknya.


"Sayang, tadi teman aku kirim pesan ke aku, teman yang kita jumpa di Jogja itu loh, si Putri," kata Naya kepada suaminya saat sedang bermain bersama Kania.


"Katanya dia mau main ke sini. Sewaktu di Jogja kan dia juga nggak sempat tuh buat mampir, jadi karena hari ini lagi ada waktu dan katanya dia lagi ingin cerita sama aku, jadi Putri mau datang ke rumah. Nggak apa-apa kan Sayang?" Tanya Naya.


"Ya nggak apa-apa lah Sayang. Nanti kalau memang teman kamu itu sudah datang, kamu temani saja teman kamu dulu, biar Kania aku yang jaga," ucap Gerald yang begitu pengertian.


"Makasih ya Sayang, kamu pengertian banget deh. Aku juga sudah bilang sih suruh datang nanti malam," ucap Naya.


"Iya Sayang sama-sama. Aku senang karena akhirnya kamu bisa memiliki teman dekat lagi," ucap Gerald.


"Ya mudah-mudahan saja, aku juga berharap jika Putri benar-benar bisa menjadi teman baik aku," ucap Naya tersenyum dan langsung mendapatkan balasan dari suaminya itu.


****

__ADS_1


Tepat jam 20.00, di saat keluarga Gerald sudah selesai makan malam dan sedang bermain bersama Kania di ruang keluarga, saat itu terdengar suara bel rumah yang berbunyi.


Gerald yang kebetulan saat itu baru saja masuk setelah tadi ke garasi mobil pun segera saja membukakan pintu tersebut. Dilihatnya saat itu ternyata Putri yang datang ke rumah.


Putri tampak terdiam mematung menatap Gerald. Akhirnya ia bertemu lagi dengan Gerald di rumahnya, tetapi Gerald saat itu sama sekali tidak mengenalinya yang membuat Putri tampak sedih akan hal itu. Ia benar-benar merasa gugup, ingin rasanya mengatakan kepada Gerald bahwa ia adalah Puput, temannya di masa kecil. Akan tetapi Putri tidak mau membuat Naya teman baiknya itu menjadi salah paham.


"Putri, kamu sudah datang," ucap Gerald.


"Iya Kak, Naya-nya ada?" Tanya Putri.


"Ada, justru dia sudah menunggu kamu dari tadi," jawab Gerald.


"Oh ya? Kalau begitu aku boleh kan Kak bertemu dengan Naya?" Tanya Putri lagi.


"Tentu saja boleh, silahkan masuk!" Ucap Gerald. Lalu Putri pun mengikuti Gerald masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo ikut aku, kita langsung ke ruang keluarga saja, kebetulan semuanya lagi ngumpul di sana, ada orang tuaku juga," ajak Gerald.


Sebenarnya Putri tampak begitu ragu dan merasa tidak enak, karena baru pertama kali datang tapi harus langsung masuk ke ruang keluarga. Tetapi menurutnya ini juga kesempatan yang baik agar ia bisa langsung bertemu dengan kedua orang tua Gerald. Karena Putri masih sangat mengingat bagaimana wajah kedua orang tua Gerald di waktu dulu.


Kini Putri pun telah berada di hadapan mereka semua, ia tampak terkejut karena benar saja ternyata ia memang mengenal kedua orang tua Gerald dan ternyata Gerald memanglah Eral teman kecilnya dulu.


...Bersambung …...



............

__ADS_1


__ADS_2