
Keesokan harinya, Naya dan Gerald serta anak mereka Kania sudah berada di dalam perjalanan menuju ke Jogja. Gerald memilih untuk membawa kendaraan sendiri agar di sana nanti ia akan lebih bebas untuk berjalan-jalan dengan menyetir sendiri.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih selama 4 jam di perjalanan, kini Gerald dan keluarga kecilnya itu pun telah tiba di rumah lama Gerald dahulu. Memang rumahnya masih tampak asri dan bersih, tidak ada yang berubah sejak dulu karena selalu dirawat oleh penjaga rumah. Bahkan dulu Dania dan keluarganya masih sering datang untuk mengunjungi rumah tersebut, akan tetapi selama 3 tahun belakangan ini karena kesibukan mereka masing-masing, sehingga belum sempat lagi untuk mengunjungi rumah itu. David dan Dania memang sengaja tidak menjual rumah sejuta kenangan bersama orang tuanya, ditambah lagi kenangan masa kecil Gerald di sana.
"Suasana di kota ini benar-benar sangat asri ya, sangat indah, nyaman. Kania juga dari tadi terlihat sangat tenang berada di sini," ucap Naya tersenyum.
"Iya Sayang, apalagi ini kan rumah Peninggalan Oma dan Opa aku dulu. Di rumah ini banyak sekali kenangan yang sudah aku lalui bersama Mama, Papa juga Oma dan Opa. Pastinya Kania merasakan kehadiran buyutnya itu di rumah ini. Mama dan Papa sengaja tidak menjual rumah ini, biarkan saja sebagai kenang-kenangan, asalkan tetap terjaga dan terawat," kata Gerald.
Naya menatap Gerald dengan seksama, sejak tadi ia yang mendengarkan penjelasan dari suaminya itu merasakan jika Gerald telah mengingat masa lalunya. Tetapi ia tidak mau mempermasalahkan hal itu untuk saat ini. Jika memang benar seperti itu, bukankah itu lebih baik? Pikir Naya.
"Ehm Sayang, kamu siap-siap ya, aku mau ajak kamu makan siang di luar," kata Gerald.
"Boleh, ya sudah kalau begitu aku mau siap-siap dan siapkan Kania dulu ya, terus kita pergi makan," kata Naya.
"Oke Sayang," jawab Gerald.
Beberapa menit kemudian, mereka pun segera saja pergi mencari restoran untuk makan sekaligus berjalan-jalan. Gerald merasa sangat bahagia karena bisa menikmati udara segar di kota kelahirannya, kota masa kecilnya itu bersama orang-orang yang dicintainya sesuai dengan niatnya sewaktu kecil dulu.
Gerald menatap keluar jendela mobil saat melewati pohon yang sudah tua, tempatnya sedikit berubah. Karena yang dulunya terdapat kursi kayu di bawah pohon, kini telah berubah menjadi kursi besi. Yang dulunya dikelilingi dengan pohon-pohon ini, kini sudah tampak lapang dengan taman bermain untuk bermain anak-anak kecil.
Tiba-tiba ia teringat jika dulu ia juga selalu menghabiskan waktu bersama teman kecilnya di tempat itu. Tetapi saat ini, ia tidak tahu dimana keberadaan teman kecilnya, bahkan jika bertemu juga ia tidak akan ingat wajahnya. Dulu mereka masih sangat kecil, apapun yang mereka ucapkan di masa lalu juga hanyalah lelucon yang diucapkan serta tidak perlu diingat lagi.
***
__ADS_1
"Apa? Kamu mau ke Jogja?" Tanya Vera ibunya putri.
"Iya Ma, aku mau ke Jogja. Boleh kan?" Tanya Putri penuh harap.
"Tapi kamu mau apa ke sana Sayang? Kita kan sudah pindah ke Jakarta, Papa kamu juga sudah pidah tugas, bahkan rumah kita di sana sudah di jual," kata Vera.
"Ma aku mau ke sana satu hari aja kok, boleh ya mumpung ini hari Sabtu dan besok hari Minggu, jadi aku kan nggak kuliah Ma," kata Putri.
"Memang ada apa sih Sayang, kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi ke Jogja. Bukannya di sini lebih enak daripada di Jogja, kamu juga bilang mau melupakan masa lalu kamu di sana bersama teman kecil kamu itu kan?" kata Vera.
Ya Vera memang mengetahui kisah masa lalu anaknya itu. Putri sendiri yang menceritakan kepada ibunya soal masa lalunya bersama teman kecil yang sampai saat ini masih dicarinya. Hal itulah yang menyebabkan Putri sampai sekarang tidak pernah memiliki pacar, karena ia tidak mau membuka hatinya untuk pria lain.
"Ya mungkin suasana di kota Jakarta lebih ramai, tapi aku lebih menyukai kota Jogja Ma. Apalagi Mama tahu kan jika di sana ada kenangan aku yang begitu indah dan sampai sekarang belum bisa aku lupakan. Aku juga nggak tahu Ma kenapa tiba-tiba aku ingin sekali pergi ke Jogja, seakan hati aku yang menuntun," kata Putri.
"Mama sudah yakin, lagi-lagi kamu mengingat masa lalu itu. Sudah Mama katakan lupakan dia Putri, itu hanya Masa lalu anak kecil yang sangat tidak penting. Kamu selalu saja mengingatnya, belum tentu kan dia mengingat kamu," kata Vera berharap anaknya akan sadar, tapi kenyataanya tidak.
"Ya sudah kalau begitu, terserah kamu saja. Tapi kamu diantar supir ya, tidak boleh menyetir sendirian ke Jogja. Atau kamu naik bus saja nanti di sana kamu minta jemput sama Bude kamu," kata Vera yang akhirnya mengizinkan. Ia paling tidak bisa melarang jika anaknya sudah merayu dan memintanya.
"Iya Ma, makasih banyak ya," ucap Putri lalu memeluk sang ibu.
Setelah bersiap-siap, Putri langsung saja meminta supir untuk mengantarnya pergi ke Jogja.
***
__ADS_1
Sore pun telah tiba, bersamaan dengan Putri yang baru saja tiba di kota Jogja. Ia begitu merindukan kota Jogja, meskipun baru seminggu meninggalkannya. Untungnya rumah mereka yang saat itu sudah dijual ternyata belum laku, sehingga Putri masih bisa masuk ke dalam rumahnya itu untuk sekedar melihatnya saja. Putri tidak bisa menginap di rumahnya yang telah kosong dan lebih memilih menginap untuk menginap di rumah budenya atau kakak dari ayahnya itu.
"Rumah Kak Eral gimana ya? Apa sampai sekarang masih tetap dijaga dan belum juga dijual? Tapi kenapa Kak Eral sama sekali tidak pernah kembali ke rumahnya yang di sini ya," gumam Putri.
Sebenarnya Putri saja yang memang tidak tahu jika Eral dan kedua orang tuanya itu pernah sesekali datang mengunjungi rumah lamanya, tetapi hanya sebentar, sehingga di saat itu putri benar-benar tidak mengetahuinya.
Muncul niat di dalam hati Putri untuk melihat rumah teman kecilnya itu, barangkali ada keajaiban yang akan mempertemukan mereka lagi. Putri diantar oleh supir meskipun rumah mereka yang tidak terlalu jauh, hanya berbeda beberapa gang saja.
Hingga kini Putri sudah tiba di depan rumah Eral, ia segera keluar dari mobil dan terdiam mematung menatap ke arah rumah lama tetapi masih sangat terawat. Ia sangat berharap jika saat ini bisa melihat pria yang sudah lama dicintainya dan tidak tahu dimana keberadaannya, muncul di hadapannya. Sambil memejamkan mata, lalu menghitung 1, 2, 3. Akan tetapi di saat Putri membuka matanya …
"Akh … ," Putri berteriak histeris. Ia sangat terkejut melihat sosok pria yang kini ada di depan matanya. Bagaimana bisa, baru saja ia berdoa tiba-tiba benar-benar muncul seorang pria meskipun tidak tahu itu Eral atau bukan.
"Maaf jika aku membuat kamu terkejut, tapi kamu siapa? Ada apa kamu ada di depan rumah ini?" Tanya Gerald kepada Putri.
"Oh iya maaf, tadi aku hanya kebetulan saja lewat dan ingin melihat rumah ini," ucap Putri.
" Oh begitu, aku kira kamu kenal dengan pemilik rumah ini. Kalau begitu permisi ya, saya mau memasukkan mobil dan kamu menghalanginya," kata Gerald.
Naya yang saat itu masih berada di dalam mobil, segera saja keluar karena merasa mengenali sosok wanita yang saat ini sedang berbicara dengan suaminya.
"Sayang, ada apa?" Tanya Naya.
"Loh Naya," ucap Putri saat melihat teman barunya itu.
__ADS_1
Naya melihat ke arah Putri dan membuat keduanya kini pun saling berpandangan.
...Bersambung …...