Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Firasat Buruk


__ADS_3

Prang …


Tiba-tiba saja gelas yang sedang dipegang Naya terjatuh ke lantai hingga hancur berkeping-keping, sedangkan Dania memegangi dadanya karena mendadak saja merasakan begitu sesak.


"Naya, Mama, kalian kenapa..?" Tanya David yang terlihat sangat khawatir melihat apa yang terjadi pada istri dan menantunya itu.


"Tiba-tiba saja dada Mama terasa sakit sekali Pa," jawab Dania.


"Aku juga tidak tahu Pa, tiba-tiba gelas ini terlepas dari tangan aku dan tiba-tiba perasaan aku jadi tidak enak memikirkan Gerald," jawab Naya.


"Sama Sayang, Mama juga merasakan hal yang sama. Perasaan Mama benar-benar tidak enak tertuju pada Gerald. Apa jangan-jangan ini firasat buruk dari seorang ibu dan istrinya? Mungkin saja terjadi sesuatu dengan Gerald Pa," ucap Dania terlihat mulai panik dan ketakutan, begitu juga dengan Naya.


"Mama, tenang Ma. Mama jangan berbicara seperti itu ya, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Gerald," ucap David yang menenangkan istrinya.


Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya David juga merasakan hal yang sama dengan istri dan menantunya itu. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi tak karuan dan tertuju kepada sang anak.


"Mama juga maunya Gerald baik-baik saja, tapi bagaimana jika perasaan Mama mengatakan hal seperti itu. Mama ini seorang ibu, sudah pasti Mama akan merasakan ikatan batin yang kuat dengan anak Mama sendiri," ucap Dania.


Owe … owe …


Suara tangisan Kania terdengar sangat kencang, padahal tadinya ia sudah tertidur sangat pulas dan tidak biasanya bangun malam-malam seperti ini jika tidak ada sesuatu hal yang benar-benar mengganggunya.


Naya pun segera saja masuk ke dalam kamar untuk menenangkan bayinya itu.


"Ada apa dengan Kania? Tidak biasanya Kania seperti ini. Atau jangan-jangan dia juga ikut merasakan sesuatu yang terjadi dengan ayahnya," ucap Naya yang terlihat semakin panik.

__ADS_1


Di sini, David sebagai kepala keluarga dan juga seorang laki-laki tidak mungkin menambah kepanikan dua wanita yang ada di dekatnya. Segera saja ia meraih ponselnya dan menghubungi Gerald. Akan tetapi karena tidak ada jawabannya, David pun menghubungi asisten Gerald.


"Halo boy," ucap David saat Boy telah menjawab teleponnya tersebut.


"Iya, Halo Tuan, ada apa?" Tanya Boy dari seberang telepon.


Terdengar suara berisik hujan karena dari daerah keduanya sama-sama sedang diguyur hujan yang sangat lebat, untungnya tidak ada petir sehingga mereka masih bisa berkomunikasi dengan baik.


"Maaf saya mengganggu kamu malam-malam Boy. Apa kamu masih berada di perusahaan bersama Gerald?" Tanya David.


"Sama sekali tidak mengganggu Tuan. Tapi maaf saya tidak sedang bersama dengan Tuan Gerald, saya sudah berada di rumah sejak jam 08.00 tadi Tuan. Karena saya merasa sangat lelah ditambah lagi Ibu saya juga sedang tidak sehat, jadi Tuan Gerald meminta saya untuk pulang terlebih dulu. Sedangkan beliau menyiapkan pekerjaan yang tadi sudah hampir selesai," jelas Boy. "Ada apa Tuan?"


"Begini Boy, tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Begitu juga dengan istri dan menantu saya, bahkan cucu saya juga tiba-tiba menangis, kita semua merasa seolah terjadi sesuatu terhadap Gerald. Saya sudah mencoba menghubungi Gerald, tetapi tidak ada jawabannya. Saat ini saya masih berada di villa yang cukup jauh dari kota ditambah lagi cuaca buruk yang tidak memungkinkan untuk saya kembali. Apa boleh saya minta tolong kepada kamu untuk mencari tahu bagaimana keadaan di kantor, apa Gerald masih di sana atau tidak," ucap David.


"Tentu saja bisa Tuan, saya akan segera ke sana sekarang. Kebetulan Ibu saya juga ditemani adik sepupu saya yang tadi baru datang," kata Boy menyetujuinya.


"Sama-sama Tuan," jawab Boy.


Lalu panggilan telepon tersebut berakhir.


"Bagaimana Pa? Apa ada kabar dari Gerald?" Tanya Dania, Naya pun ikut tampak menunggu jawaban dari David.


"Boy sudah pulang terlebih dahulu, sedangkan Gerald tidak dapat dihubungi, tetapi saat ini Boy sedang menuju ke perusahaan untuk mencari keberadaan Gerard. Kalian berdua yang tenang ya, semoga saja Boy cepat memberikan kabar tentang Gerald dan tidak terjadi apa-apa dengannya," ucap David.


"Iya Pa," jawab Naya.

__ADS_1


Sedangkan Dania hanya mengangguk saja. Terlihat raut wajah tegang dari Naya dan juga Dania yang sedang menunggu kabar Gerald saat ini.


***


"Bagus, letakkan saja dia di rumah tua itu, nanti saya akan segera ke sana," ucap seseorang dari balik telepon.


"Baik Bos, saat ini beliau masih dalam keadaan tidak sadar," kata seorang preman.


"Sekap dia di dalam gudang, jangan lupa ikat tubuhnya, takut sewaktu-waktu dia bangun dan akan kabur. Pastikan pria bodoh itu akan tetap aman di situ," kata seseorang itu.


"Baik Bos, akan saya lakukan," jawab preman dan mengakhiri telepon.


"Dasar bodoh, katanya kuat, belagak paling hebat, tetapi baru kena pukul sekali saja langsung pingsan seperti ini," cibir preman lalu ia pun menarik tubuh tawanannya itu ke dalam gudang dan didudukkan di atas kursi serta mengikatnya dengan kuat.


***


Gerald mengerjap-ngerjapkan matanya, tubuhnya terasa begitu sakit seperti ada yang menahannya saat hendak bangun. Ia sempat syok melihat tempat asing di sekelilingnya saat ini. Kira-kira waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, hening, tidak ada siapapun di sekitar. Yang ada hanyalah perkakas di dalam gudang seperti sudah lama tidak ditempati. Gerald yang mendapati dirinya saat itu sedang terikat pun tak bisa kemana-mana. Ia berusaha memberontak, tetapi ikatan tersebut sangat kuat sehingga ia tak dapat terlepas.


"Sial! Siapa yang berani melakukan ini padaku," umpat Gerald.


Kepalanya terasa begitu sakit, itu sebabnya sewaktu ia dipukul tadi sama sekali tidak bisa berkonsentrasi hingga ambruk begitu saja. Gerald heran siapa yang sudah berbuat hal ini kepadanya dan apa salahnya sampai-sampai ia disekap di sini.


Tiba-tiba saja ponsel Gerald berdering ada panggilan masuk dari seseorang, akan tetapi karena kondisi tangannya yang terikat, membuat ia sama sekali tidak bisa menjawab telepon tersebut. Gerald berusaha sekuat mungkin untuk meraih ponsel dalam saku celananya, tetapi tetap saja tidak bisa, bahkan ia sudah meringkuk ingin mengambil ponselnya itu melalui mulut tetap saja tidak ada hasil.


Tiba-tiba matanya tertuju pada pecahan botol kaca yang berserakan di atas lantai, sepertinya botol minuman bekas penjaga yang tadi berada di dalam ruangan ini terjatuh dari atas meja. Gerald menjatuhkan dirinya bersama dengan kursi, lalu menggeserkan tubuhnya itu meski sulit karena masih terikat dengan kursi, sebisa mungkin ia tidak menimbulkan suara kebisingan agar tidak ada orang di luar sana yang akan mendengarnya dan usahanya akan sia-sia. Perlahan tapi pasti Gerald menyeret tubuhnya hingga akhirnya ia pun berhasil menuju ke pecahan botol tersebut, ia juga berhasil meraih pecahan botol. Akan tetapi saat Gerald hendak memotong tali, tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang menuju ke arah ruangan itu.

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2