
Gerald dan kekasihnya itu juga sangat syok melihat Naya yang memergoki mereka sedang memadu kasih tanpa menggunakan apapun alias dalam keadaan polos. Ada rasa malu di dalam hati, tetapi seketika Bella tersenyum smirk karena menurutnya sangat bagus bila istri Gerald sudah melihat langsung bagaimana intimnya hubungan mereka berdua.
"Sebaiknya sekarang juga kau pulang Sayang, karena aku harus mengurusi istriku dulu," kata Gerald.
"Tapi untuk apa Gerald? Kenapa kau tega sekali mengusirku hanya demi wanita itu," kata Bella dengan memasang wajah masam.
"Bella, aku mohon kau mengerti dengan keadaannya sekarang. Bagaimana kalau wanita itu memberitahukan soal tadi kepada orang tuaku? Kau tahu apa akibatnya? Aku bisa kehilangan kepercayaan Papa dan Mama. Kau juga tahu kan bagaimana kondisi Mamaku saat ini," kata Gerald.
"Kau saja yang terlalu takut Gerald, dia tidak mungkin berani mengatakan hal itu kepada Mamamu," ujar Bella.
"Kita tidak tahu siapa dia. Mendingan sekarang kau pergi, aku akan membereskan masalah ini dulu. Tenang saja Sayang, setelah aku pastikan wanita itu tidak berani berbicara macam-macam kepada Mamaku, aku janji kita akan terang-terangan untuk berhubungan di depan Naya. Lagipula dia juga sudah tahu sejak lama kalau aku mempunyai kekasih," kata Gerald.
"Benarkah? Apa kau yakin?" Tanya Bella.
"Iya, aku sangat yakin Sayang," jawab Gerald.
"Kalau begitu, cium aku dulu," pinta Bella dengan agresif.
Lalu mereka berdua pun segera saja menyatukan bibir mereka serta saling melu***nya. Setelah itu Bella dan Gerald segera memakai pakaian mereka, lalu Bella segera saja pergi meninggalkan rumah Gerald.
Dengan gaya angkuh dan arogannya, Gerald berjalan menuju ke arah kamar Naya.
Tok … tok … tok …
Gerald mengetuk pintu kamar Naya dengan sangat keras. Sementara Naya menutup telinganya erat, ia tidak mau mendengar suara ketukan pintu itu lagi ataupun ocehan dari mulut Gerald.
"Naya buka pintunya, keluar kau cepat! keluar Naya. Aku ingin berbicara padamu," Teriak Gerald.
Naya sama sekali tidak menggubrisnya, meskipun suara itu tetap terdengar di telinganya.
__ADS_1
"Naya, kalau kau tidak mau membuka pintu ini maka aku akan mendobraknya," Gerald terpaksa mengancam berharap Naya akan keluar menemuinya.
Akan tetapi, lagi-lagi Naya tidak menggubris ucapannya itu. Hingga ketukan pintu pun berhenti.
"Brengsek! Kau lihat saja nanti," umpat Gerald.
Gerald pun kembali ke kamarnya. Dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, terbesit rasa penyesalan dengan apa yang telah ia lakukan tadi. Kenapa di saat ia sedang memadu kasih dengan sang kekasihnya tadi, ia tidak menutup pintu kamar sehingga Naya memergoki mereka. Ada rasa malu di dalam hati Gerald, karena saat itu ia sama sekali tidak menggunakan pakaian. Sudah pasti Naya akan sangat jijik melihat kelakuan mereka. Entah apa yang ada di dalam pikiran Naya sekarang tentang dirinya, yang pasti dia adalah pria brengsek yang tega menyakiti hati istrinya sendiri dengan terang-terangan melakukan hubungan dengan wanita lain.
Sementara itu, Naya yang berada di dalam kamar meratapi nasib dirinya yang begitu sangat tidak beruntung.
"Kenapa hal ini terjadi kepadaku? Pernikahan yang aku pikir adalah suatu kebahagiaan, ternyata hanyalah neraka. Aku harus berbuat apa sekarang? Aku benar-benar sudah tidak kuat, aku sudah berusaha sabar untuk menghadapi sifat arogan dari suamiku, tapi jika sudah berhubungan dengan perempuan lain apa aku bisa memaafkannya? Tuhan kuatkan hatiku untuk menerima ini semua. Apa mungkin akan ada kebahagiaan nantinya yang akan datang menghampiriku," ucap Naya dengan isak tangisnya.
Naya mencoba untuk melupakannya semuanya, ia merebahkan tubuh di atas kasur sambil mencoba memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu sangat lelah.
***
"Lepaskan!" Teriak Naya sembari menghentakkan tangannya itu hingga terlepas dari pegangan tangan Gerald.
"Wanita sialan, aku sudah tahu jika kau melihatnya tadi malam kan? Sekarang kau tahu kan kalau aku katakan bukan hanya sekedar ucapan, tapi kau telah melihatnya langsung jika aku mempunyai kekasih dan aku sudah melakukan lebih dengan kekasihku itu," kata Gerald.
"Lalu untuk apa kau menceritakan hal ini lagi, hal yang sangat menjijikkan itu kepadaku," kata Naya yang menatap Gerald dengan tajam, hingga rasanya menembus sampai ke hati. Gerald cukup terkejut karena ia tidak pernah melihat Naya semarah ini sebelumnya.
"Aku hanya ingin memberimu sedikit ancaman, jika kau menceritakan hal tadi kepada orang tuaku, maka aku pastikan kau akan habis," ucap Gerald.
"Sudahlah Gerald, sudah berapa kali kau mengancamku seperti ini. Sudah aku katakan padamu, jika kau memang tidak ingin melihatku ada di sini lebih baik kau bunuh saja aku Gerald. Kalau memang menurutmu perpisahan untuk kita berdua sangatlah tidak mungkin karena akan menyakiti Mama, ya sudah kau bunuh saja aku. Mungkin itu jalan yang terbaik," ucap Naya geram.
Gerald mendorong tubuh Naya hingga ia terbentur dinding.
"Akh," rintih Naya karena benturan yang sangat kuat.
__ADS_1
Bukannya kasihan terhadap Naya, akan tetapi lagi-lagi Gerald pun menyiksa Naya dengan mencengkram erat dagu mungilnya.
"Dengarkan aku, ancaman ini tidak main-main. Jika kau berani menyampaikan tentang hal ini kepada Mama dan membuat kondisinya semakin memburuk, aku sudah pasti akan menghancurkanmu. Aku tidak mungkin membunuhmu Naya, karena itu terlalu mudah bagimu untuk pergi. Aku akan menyiksamu secara perlahan," kata Gerald.
"Heh, jadi kau belum puas juga ya selama ini sudah menyiksaku. Apalagi yang ingin kau lakukan padaku? Menyiksa seperti apa lagi?" Tanya Naya dengan senyum menyeringai. Meskipun rasa sakit yang saat ini ia rasa, tetapi ia mencoba menyembunyikannya. Karena rasanya kesedihan itu sama sekali tidak ada gunanya jika ia nampakkan di depan gerald.
Gerald yang sangat kesal dengan ucapan Naya itupun segera melepaskan cengkeramannya dengan sangat kasar.
Naya mencoba untuk tidak menjatuhkan air matanya di depan Gerald, rasanya sangat sia-sia menangisi pria yang sangat membencinya tanpa tahu apa kesalahannya itu. Lalu Naya pun segera saja keluar dari kamar dan pergi ke kampus.
Sedangkan Gerald hanya terdiam, ia sama sekali tak menghentikan Naya. Akan tetapi tiba-tiba muncul suatu ide di dalam otaknya.
***
Seperti biasa, Naya selalu menaiki taksi online untuk menuju ke kampusnya.
Setibanya di kampus, Naya bertemu dengan Denis yang saat itu kebetulan juga baru sampai menggunakan mobil sport-nya.
"Hai Naya, kebetulan sekali kita bertemu di sini," ucap Denis.
"Denis? Hai, iya kebetulan ya," ucap Naya pula.
"Ya udah kalau gitu kita barengan ya masuknya," ajak Denis.
"Iya boleh. Yuk," jawab Naya.
Naya dan Denis saling berpandangan dan tersenyum, terlihat sangat bahagia. Ternyata hal tersebut telah dilihat oleh Gerald yang diam-diam mengikuti Naya. Gerald tak tahu kenapa dia menjadi murka dan merasa sangat sakit hati saat melihat istrinya itu sangat akrab berbicara dengan pria lain.
...Bersambung... ...
__ADS_1