
Aku benar-benar nggak menyangka karena akhirnya kita akan pergi liburan bertiga setelah masalah yang kita hadapi ini. Aku jadi nggak sabar deh," ucap Naya.
"Apalagi aku, aku lebih nggak sabar lagi. Aku ingin menikmati liburan bersama kamu dan juga Kania, orang-orang yang sangat aku cintai," ucap Gerald.
"Tapi bagaimana dengan Mama? Masa kita harus meninggalkan Mama sendirian?" Tanya Naya.
"Sayang, kita nggak meninggalkan Mama sendirian. Kamu tenang aja, aku sudah bicarakan ini ke Mama kok. Mama juga nggak mau ikut, karena kamu sendiri juga tahu kan bagaimana kesehatan Mama. Mama capek kalau harus ikut kita bolak-balik ke luar negeri. Lagipula besok Papa juga sudah pulang dari Surabaya, jadi Mama ada teman di rumah," jawab Gerald.
"Jadi Mama dan Papa sudah tahu tentang rencana kamu ini dan hanya aku yang baru tahu?" Tanya Naya.
"Iya dong, kan ini kejutan buat kamu. Jadi aku baru memberitahu kamu sekarang," jawab Gerald.
"Oh … begitu, ya deh nggak apa-apa. Yang penting aku senang karena mau liburan sama kamu Kania," ucap Naya tersenyum bahagia.
Gerald juga merasakan bahagia yang sangat luar biasa karena melihat istrinya itu tersenyum lebar.
"Ini hanya kebahagiaan kecil yang baru aku berikan untuk kamu Sayang, aku janji pasti aku akan terus membuat hari-hari kamu bahagia setelah dulu aku selalu membuat hidup kamu menderita," batin Gerald sembari menatap wajah sang istri.
***
Tok … tok … tok …
Vera mengetuk pintu kamar Putri bermaksud ingin mengajak anaknya itu makan malam.
"Masuk aja nggak dikunci kok," teriak Putri.
Segera saja Vera membuka pintu dan masuk ke kamar menghampiri Putri yang saat itu tampak sedang sibuk di depan laptop.
"Kamu lagi apa Sayang?" Tanya Vera.
"Ini Ma, ada tugas kampus tapi sudah mau selesai kok, terus tinggal aku kirim deh ke email-nya Dosen," jawab Putri.
"Benar sudah mau selesai?" Tanya Vera.
"Iya, memangnya kenapa Ma?" Tanya Putri pula.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, hanya mau ajak kamu makan malam saja. Papa kamu juga sudah menanyakan kamu dari tadi karena kamu belum ada keluar kamar," ucap Vera.
"Oh … iya Ma, aku lagi banyak tugas dari kampus. Kalau Mama dan Papa lama menunggu aku, sebaiknya kalian makan duluan aja. Nanti aku nyusul," ucap Putri.
"Tidak apa-apa Sayang, biar Mama dan Papa tunggu kamu ya. Karena ada yang sekalian Mama dan Papa mau bicarakan ke kamu," kata Vera.
"Oh ya? Memang mau membicarakan soal apa Ma?" Tanya Putri.
"Kalau mau tahu, cepat selesaikan tugas kamu, terus kamu cepat ke ruang makan dan kita makan malam bersama. Setelah itu baru deh Mama dan Papa akan menyampaikan apa yang ingin kita bicarakan," ucap Vera.
"Ya sudah Ma. Ini juga mau selesai kok. Mama dan Papa tunggu aja ya di ruang makan," ucap Putri.
Vera mengangguk, lalu ia keluar dari kamar anaknya itu dan menuju ke ruang makan menghampiri sang suami.
Tidak lama kemudian, Putri yang baru saja selesai dengan tugasnya segera saja menyusul kedua orang tuanya itu. Dan saat ini mereka tengah menikmati makan malam bersama.
"Putri, Papa sudah mendengar cerita dari Mama mengenai teman masa kecil kamu itu," ucap Firman yang merupakan ayah Putri, saat mereka baru saja selesai makan.
"Terus kenapa Pa?" Tanya Putri.
"Bukankah Mama dan Papa dari dulu sudah meminta kamu untuk melupakan teman masa kecil kamu itu, anaknya David itu kan? Tapi kamu tetap kekeh dan ngeyel ingin mencarinya. Ternyata apa? Setelah kamu menemukannya, pria itu sama sekali tidak mengingat kamu apalagi mengharapkan kamu. Dia sudah memiliki istri dan juga anak, apalagi yang mau kamu harapkan dari dia?" Kata Firman.
"Mama tahu bagaimana caranya supaya kamu bisa melupakannya dengan cepat," ucap Vera.
"Dengan cara apa Ma?" Tanya Putri.
"Caranya, kamu harus dekat dengan pria lain, kamu harus membuka hati kamu untuk pria lain," jawab Vera.
"Pria lain? Pria lain siapa Ma? Kan Mama tahu kalau selama ini aku juga tidak bisa untuk dekat dengan pria lain, apalagi membuka hati aku untuk pria itu," ucap Putri.
"Mama dan Papa punya solusinya kok," ucap Vera.
"Maksud Mama? Apa solusinya?" Tanya Putri penasaran.
"Jadi Mama dan Papa sudah berniat akan mengenalkan kamu dengan anak rekan bisnis Papa yang ada di sini," ucap Vera.
__ADS_1
"Ya benar kata Mama. Kalian kenalan saja dulu, tidak harus langsung jadian. Yang terpenting kalian berdua saling mengenal, saling tahu dulu satu sama lain, kalau nanti cocok kalian bisa melanjutkan ke hubungan yang lebih serius," sambung Firman.
"Maksudnya, Mama dan Papa mau menjodohkan aku dengan anaknya teman Papa gitu?" Tanya Putri meminta penjelasan dari kedua orang tuanya.
"Ya bisa dibilang seperti itu. Lagipula untuk apa juga kamu terus saja mengharapkan pria yang jelas-jelas tidak bisa kamu miliki, lebih baik kamu berkenalan sama anak teman Papa, siapa tahu cocok. Papa akan atur waktunya untuk kita bertemu dengan mereka," kata Firman.
"Enggak, aku nggak mau Pa, Ma. Ini bukan zaman Siti Nurbaya," tolak Putri dan langsung saja beranjak dari tempat duduknya, lalu meninggalkan ruang makan.
"Putri, kamu mau kemana?" Teriak Vera.
"Sudah Ma biarkan saja. Mungkin Putri butuh waktu untuk memikirkannya," ucap Firman.
Putri pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
"Masalah apa lagi sih ini? Satu masalah belum selesai, datang lagi satu masalah baru. Papa dan Mama mau menjodohkan aku, memangnya ini zaman apa yang masih di jodoh-jodohkan. Mereka pikir bisa semudah itu apa buat aku membuka hati untuk pria lain. Ada-ada aja," gerutu Putri yang terlihat sangat kesal.
***
Pada malam hari, satu rumah dibuat heboh dengan teriakan ART di rumah Gerald saat melihat Nyonya besarnya tiba-tiba pingsan di ruang tamu. Tentu saja semua yang mendengar teriakan itu pun berlari menghampirinya termasuk Gerald dan juga Naya yang tampak berlarian menghampiri ART-nya itu. Mereka sangat terkejut melihat Dania yang tergeletak di lantai.
"Mama?" Ucap Naya yang terlihat sangat panik.
"Mama kenapa Bi?" Tanya Gerald yang tak kalah paniknya dengan sang istri.
"Saya tidak tahu Tuan, tiba-tiba saja saya menemukan Nyonya sudah dalam keadaan pingsan seperti ini," jawab bibi.
"Kita bawa Mama ke kamar," ucap Naya.
Gerald mengangguk, lalu segera saja ia membopong sang Ibu menuju ke kamarnya.
Naya pun segera mengambil minyak angin lalu memberikannya pada hidung dan dada Dania seperti yang biasa ia lakukan, berharap wanita itu akan terbangun. Akan tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa Dania akan sadar. Sehingga Gerald pun dengan cepat menghubungi Dokter Farhan, dokter keluarga mereka itu.
"Sayang, aku mau ke atas dulu ya. Aku mau ambil Kania dulu, takut nanti Kania terbangun dan tidak ada orang di kamar," ucap Naya.
Memang tadi Naya dan Gerald terburu-buru turun ke lantai bawah, sehingga meninggalkan Kania yang sedang tidur.
__ADS_1
...Bersambung …...