
"Rencana kita berhasil Pa, sekarang mereka berdua pasti lagi menikmati makan malam romantis yang udah kita atur," kata Dania yang begitu terlihat bahagia.
"Iya dong Ma, Mama memang hebat. Kok bisa sih Mama berpikiran seperti itu, Papa saja tidak pernah terpikir," puji David. Jika masalah seperti ini memang istrinya yang paling jago.
"Iya dong Pa. Mama bisa melihat kalau hubungan mereka berdua seperti sedikit renggang, ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari kita, tapi Mama tidak tahu apa itu. Yang jelas Mama merasa seperti ada yang janggal, mereka berdua saling mendukung untuk menutupi. Maka dari itu Mama sengaja membuat rencana ini semua," kata Dania.
"Ya Ma, mudah-mudahan saja hubungan Naya dan Gerald bisa membaik. Dan yang paling penting mereka tidak curiga dengan kita," ucap David.
"Aamiin, tentunya tidak dong Pa. Mama yakin mereka berdua tidak merasakan hal-hal yang aneh," kata Dania.
"Ya sudah kalau begitu kita mau makan di mana Sayang? Papa kan juga lapar Ma. Gara-gara rencana Mama itu kita tidak jadi makan di restoran favorit kita kan," kata David dengan sedikit memasang wajah cemberut sepertinya anak kecil, padahal usia sudah memasuki kepala 6.
"Jangan ngambek dong Sayang, kita makan di restoran seafood saja gimana? Mama lagi ingin sekali makan seafood yang dimasak, tidak seperti di luar Negeri ketemunya selalu makanan mentah," kata Dania.
"Iya Ma, ya sudah ayo Ma. Lagipula kita duduk di taman seperti ini sudah seperti anak ABG saja. Jadi umpan nyamuk lagi," kata David yang sedari tadi memang sibuk menepuk binatang kecil yang menggigit kakinya.
"Tapi sekali-sekali mengenang masa-masa muda, bernostalgia, tidak masalah dong Pa," ujar Dania.
"Iya Ma sama sekali tidak salah. Tidak terasa usia pernikahan kita sudah 31 tahun lamanya. Anak kita saja sudah menikah dan sebentar lagi akan mempunyai anak," ucap David mengulas senyum manis untuk sang istri.
"Iya dong, itu artinya sebentar lagi kita akan punya cucu. Kita akan jadi Oma dan Opa," kata Dania pula serta membalas senyuman manis dari suaminya itu.
Lalu David meraih tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Meskipun usia mereka sudah tak lagi muda dan juga usia pernikahan mereka yang sudah terbilang lama, tetapi keromantisan di antara keduanya tidak pernah memudar, bahkan semakin tua mereka semakin terlihat romantis dan cinta di antara mereka semakin kuat.
"Ya sudah, kita pergi sekarang ya." David mengajak istrinya untuk segera pergi meninggalkan taman.
__ADS_1
***
Sementara itu, Gerald dan Naya terlihat sedang menikmati makan malam mereka. Naya yang tadinya terlihat sangat lahap memakan makanannya tiba-tiba berhenti, membuat Gerald menjadi kebingungan.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Tidak tahu, tiba-tiba saja rasanya mual ingin muntah dan sudah tidak berselera lagi untuk makan," jawab Naya.
"Kau tidak boleh mubazir seperti itu, kau harus menghabiskan makanannya. Kau sendiri kan yang memesan makanan ini," kata Gerald.
"Kau ini benar-benar suami yang tidak pengertian. Apa kau tidak tahu kalau wanita hamil ini banyak maunya dan juga mood-nya bisa berubah-rubah. Tapi kau sama sekali tak mau mengerti dengan kondisiku," hardik Naya.
"Sudahlah Naya kau tidak usah memulainya. Lagipula di sini juga tidak ada orang tuaku sehingga aku tidak perlu bersandiwara untuk peduli terhadapmu kan? Apa kau lupa, sudah aku katakan berulang kali jika aku ini hanya suamimu, tetapi bukan ayah dari anak yang kau kandung. Jadi kau tidak perlu mengada-ngada seperti ini mencari perhatianku. Aku sama sekali tak peduli," kata Gerald yang berhasil membuat hati Naya yang sensitif terasa sakit dan ia memilih menangis dalam diam.
"Huek … ."
Naya benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkan isi perutnya saat itu juga hingga berserakan di lantai. Gerald sontak beranjak dari tempat duduknya dan merasa jijik melihat apa yang sedang terjadi dengan istrinya itu.
"Kau ini apa-apaan Naya! Buat malu saja. Kalau sudah seperti ini siapa yang akan membersihkannya?!" Bentak Gerald seraya menatap Naya dengan tajam.
"Maaf Gerald, aku yang akan membersihkannya sendiri," ucap Naya meskipun saat itu ia terlihat sangat lemah.
Di saat itu, seorang pelayan datang menghampiri Naya karena merasa kasihan dengannya.
"Nona, apa Nona Baik-baik saja? Ini diminum dulu air putihnya Nona," Tanya pelayan pria tersebut sembari memberikan segelas air yang langsung saja diambil oleh Naya dan segera meminumnya.
__ADS_1
Entah kenapa melihat pria lain bersikap perhatian serta memegang pundak istrinya membuat Gerald menjadi naik darah, lalu ia pun segera mendekati sang istri.
"Lepaskan tanganmu dari pundak istriku!" Bentak Gerald sembari menepis tangan pelayan tersebut.
"Maaf Tuan, saya lihat Anda sama sekali tak peduli dengannya, tidak terlihat seperti seorang suami. Maka dari itu saya menghampirinya hanya untuk menolong," ucap pelayan tersebut.
"Brengsek, berani sekali kau berkata seperti itu!" Bentak Gerald semabari menunjuk.
"Sudahlah Gerald, memang kenyataannya kau tidak pedulikan denganku. Kau terlihat jijik dan marah-marah setelah melihat aku muntah. Pelayan ini hanya datang untuk menolongku, kenapa kau harus marah padanya," kata Naya. "Mas terimakasih ya, saya tidak kenapa-napa, saya baik-baik saja. Tapi apa boleh saya meminjam kain pel, saya akan membersihkan ini semua."
"Syukurlah kalau Nona tidak kenapa-napa, tapi Nona tidak perlu membersihkannya, biar saya saja sebagai pelayan yang membersihkan ini semua," ucap pelayan.
"Baguslah jika kau tahu tugasmu," cibir Gerald, lalu ia pun membawa Naya untuk segera pergi meninggalkan restoran tersebut.
"Sombong sekali mentang-mentang orang berada, jelas-jelas dia yang salah malah menyalahkanku," gerutu pelayan tersebut yang merasa sangat kesal melihat kelakuan Gerald. Memang dia sama sekali tidak mengenal Naya dan Gerald, tetapi niatnya hanya ingin membantu ibu hamil tadi.
***
Sepanjang perjalanan pulang, suasana hening tidak ada pembicaraan apapun. Naya yang merasakan tiba-tiba tidak enak badan, hanya terdiam menahan sakit. Sedangkan Gerald fokus menyetir mobilnya menuju pulang ke rumah.
Hingga saat mereka sudah tiba di rumah, Gerald pun hendak membukakan pintu mobil untuk Naya tetapi istrinya itu sudah terlebih dahulu membukanya dan berjalan sendirian masuk ke dalam rumah.
"Naya tunggu!" Panggil Gerald, akan tetapi dilihatnya saat itu mobil orang tuanya belum ada di rumah yang artinya ia aman dan tidak perlu bersandiwara untuk saat ini, hingga akhirnya Gerald membiarkan Naya yang terus saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Gerald hanya menatap punggung Naya untuk memastikan jika wanita itu baik-baik saja.
...Bersambung......
__ADS_1