Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Mengidam sate


__ADS_3

"Kau benar-benar membelanya?" Tanya Bella.


"Ya tentu saja, karena dia istriku, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya," jawab Gerald yang membuat Naya terkejut dan juga senang, sedangkan Bella semakin murka mendengarnya.


"Aku tidak percaya secepat itu itu kau melupakanku," umpat Bella dengan sorotan mata tajam seakan ingin menerkam Gerald dan Naya.


"Apa yang kau lakukan di sini Bella? Bukankah kau sama sekali tidak ada sangkut pautnya di sini," cibir Gerald.


"Sebenarnya kenapa aku bisa berada di sini sama sekali bukan urusan kalian, tapi karena kalian sepertinya sangat penasaran baiklah akan aku kasih tahu. Aku datang ke sini bersama dengan salah satu pengusaha, dia adalah pacar baruku," ucap Bella dengan angkuh.


Tentu saja ucapan Bella tadi membuat Gerald bertanya-tanya siapa yang dimaksud oleh Bella sebagai pacar barunya? Sedangkan Bella sendiri merasa sangat puas setelah mengatakan hal itu, ia yakin Gerald pasti tidak akan suka karena sebenarnya dia masih sangat mencintainya bukan Naya.


"Kenapa kau terdiam, apa kau merasa cemburu?" Tanya Bella kepada Gerald.


"Ck, aku sama sekali tak peduli dengan urusanmu," jawab Gerald sembari menunjuk dan menatap Bella dengan tajam. Lalu beralih menggandeng tangan sang istri. "Ayo Nay kita pergi saja dari sini," ajaknya.


"Bye … ." Naya melambaikan tangannya kepada Bella seraya tersenyum penuh kemenangan.


Dengan rasa kesal, Bella pun membiarkan saja pasangan suami istri itu berlalu dari pandangan matanya.


"Sial! Kau pikir kau siapa Gerald bisa mempermalukan aku seperti ini," umpat Bella.


***


"Aku tidak menyangka kau sangat berani melawan Bella seperti tadi," ucap Gerald saat mereka di dalam perjalanan pulang.


"Memangnya kenapa? Ada masalah?" Tanya Naya ketus.


"Tidak, justru aku bangga karena kau tidak seperti biasanya yang selalu merasa kasihan dan mengalah terhadapnya. Bagiku apa yang kau lakukan tadi adalah yang hal yang sangat bagus, kau berani melawannya," kata Gerald.


"Ck, aku tidak pernah takutnya padanya Gerald, aku hanya mengalah saja. Tapi setiap kesabaran manusia itu kan ada batasnya. Aku rasa kelakuan Bella sudah sangat keterlaluan, jadi sudah saatnya aku membalasnya supaya aku tidak terus diinjak-injak olehnya," kata Naya.


Gerald tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Sedangkan Naya menatap Gerald penuh kebingungan.


"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Naya.


"Aku tidak kenapa-napa. Oh ya tadi kan kita belum sempat menikmati makanan di pesta, apa kau lapar? Kalau lapar aku akan membawamu makan terlebih dahulu," kata Gerald.


"Ya kau benar, bahkan tadi saat aku hendak menikmati sepotong kue, mantan kekasihmu malah datang menggangguku," gerutu Naya yang menekankan kalimat mantan kekasihmu.

__ADS_1


"Kau tidak perlu menyebutnya mantan kekasihku," hardik Gerald.


"Memang dia mantan kekasih bukan? Lantas aku harus bilang apa lagi coba," kata Naya.


"Sudahlah, aku tidak ingin membahas wanita itu lagi. Sekarang katakan kau ingin makan apa dan dimana? Aku akan membawamu ke sana," kata Gerald.


"Kau yakin akan membawaku kemana pun aku mau?" Tanya Naya.


"Ya, asalkan kau tidak mengajakku ke luar Negeri malam ini juga. Tapi kalau besok pagi aku akan mengusahakannya," jawab Gerald.


"Ck, aku tidak butuh gombalanmu," cibir Naya.


"Aku juga sedang tidak menggombalimu Naya," ucap Gerald.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kita ke jalan XX, aku ingin makan di sana," kata Naya.


"Ada apa di sana? Ehm maksudku itu restoran apa?" Tanya Gerald karena memang belum pernah ke sana sebelumnya.


"Nanti kau juga akan tahu," jawab Naya.


Lalu Gerald pun segera saja melajukan mobilnya ke arah tujuan yang dimaksud oleh istrinya itu.


***


"Kau kenapa?" Tanya Naya.


"Aku tidak melihat ada restoran di sini. Memangnya kau ingin makan dimana?" Tanya Gerald.


"Siapa bilang aku ingin makan di restoran," hardik Naya.


Gerald kembali melirik Naya seakan meminta penjelasan darinya.


"Sudahlah, sekarang kita turun saja," ajak Naya.


Mereka berdua pun turun dari mobil dan melangkahkan kaki menuju ke suatu tempat, hingga langkah kaki keduanya berhenti.


"Aku mau makan di sini," kata Naya menunjuk gerobak sate yang ada di pinggir jalan.


"Di sini? Kau yakin?" Tanya Gerald.

__ADS_1


"Ya aku yakin, memangnya kenapa?" Tanya Naya balik.


"Kau tidak salah ingin mengajakku makan di tepi jalan seperti ini? Ini tempat makan rakyat jelata, tidak pantas untukku," ucap Gerald, ia sama sekali tidak berselera untuk makan di tempat seperti ini.


Reflek Naya membungkam mulut Gerald yang seperti kaleng rombeng itu. "Tutup mulutmu Gerald, kenapa kau harus berbicara seperti itu. Aku bosan setiap hari makan makanan mewah di rumahmu. Aku merindukan makanan ini, aku sedang mengidam sate Gerald. Kau juga tahu kan kalau aku bukan orang kaya sepertimu jadi aku sudah terbiasa makan makanan ini. Lagipula sate di sini enak kok, kau jangan berkomentar sebelum merasakannya," kata Naya lalu melepaskan bekapan tangannya dari mulut Gerald.


"Melihatnya saja aku tidak yakin," cibir Gerald.


"Sudahlah Gerald, sebaiknya kau ikuti saja aku. Bukankah kau tadi mengatakan akan mengikuti kemanapun aku mau," sindir Naya.


Gerald terdiam karena apa yang diucapkan oleh Naya adalah benar, akhirnya ia pun mengikutinya saja dan duduk di kursi yang telah disediakan. Ia tampak begitu tidak nyaman berada di situ, berbeda dengan Naya yang terlihat begitu bersemangat. Lalu Gerald pun mencoba untuk menyesuaikan dirinya.


Kini 2 porsi sate telah tiba di hadapan mereka. Dengan sangat antusias Naya mengambil sate bagiannya.


"Wah harum sekali baunya. Aku sudah sangat merindukannya, pasti rasanya masih sama, sangat enak. Nak, akhirnya kita bisa makan sate ini juga," ucap Naya sembari mengelus perut buncitnya.


Gerald tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Naya, entah kenapa hatinya juga ikut merasakan senang. Lalu Naya pun segera saja menyantap sate tersebut dengan sangat lahap.


"Gerald, kenapa kau tidak makan?" Tanya Naya karena Gerald sama sekali belum menyentuh makanannya. Dia hanya memegang satu tusuk sate dan melihat Naya.


"Melihatmu makan dengan rakus seperti itu saja, sudah membuatku kenyang," jawab Gerald.


"Kau harus mencobanya Gerald, kau akan tahu rasanya dan kau boleh komentar setelah kau memakannya," kata Naya.


"Iya, iya, aku akan makan," jawab Gerald.


Secara perlahan, Gerald pun mengarahkan satu tusuk sate menuju ke dalam mulut, lalu dengan sangat pelan pula ia menggigit sate tersebut. Kini sate sudah berada di dalam mulutnya, ia pun segera saja mengunyah dan menikmatinya. Naya tertegun melihat Gerald, ia ingin mendengar komentar dari suaminya itu.


Satu kunyahan, dua kunyahan, tiga kunyahan, Gerald merasa ada suatu kenikmatan yang berbeda dari makanan tersebut, lalu segera saja ia menghabiskan satu tusuk sate yang dipegangnya dengan lahap.


"Ternyata makanan seperti ini enak juga, aku baru sekali memakannya," gumam Gerald dalam hati.


"Bagaimana, enak kan?" Tanya Naya.


"Biasa saja," jawab Gerald.


Akan tetapi mulut tak sesuai dengan perilaku Gerald yang saat ini tampak rakus memakan sate. Naya tersenyum, ia tahu jika sebenarnya suaminya itu hanya gengsi saja untuk mengakuinya. Jika tidak enak, mana mungkin dia bisa menghabiskan sate tersebut.


Selesai makan dan kekenyangan karena mereka memesan berapa porsi sate, Gerald dan Naya pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2