
Acel tiba di rumah tempat Elena di sekap, dia melihat sudah banyak polisi dan Ambulance. Acel turun dari motor lalu dia melepaskan helmnya. Acel melihat disana juga ada Charlie, kemudian dia belari menghampiri Charlie.
“Charlie bagaimana dengan Elena?” Tanya Acel sambil matanya melihat ke dalam rumah.
“Acel saat kami tiba disini, Elena sudah meninggal. Dia meninggal dengan luka tembak di tubuhnya.” Kata Charlie.
“Charlie ini sudah pasti perbuatan Clinton, Clinton yang sudah membunuh Elena.” Kata Acel dengan geram
“Belum tentu juga Acel, mereka masih memeriksanya. Di dalam rumah juga ada darah berceceran sampai di pintu depan. Mereka sudah mengambil darah itu.” Kata Charlie kepada Acel.
“Aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya kepada Kairos. Dia sangat mencintai Elena.” Kata Acel lagi
“Jangan di beritahu dulu, nanti aku yang akan beritahu Kairos.” Kata Charlie kemudian dia meninggalkan Acel dan bergabung dengan teman temannya.
Luca dan Dean menghampiri Acel
“Acel bagaimana dengan Elena?” Tanya Luca
“Dia sudah meninggal, aku curiga Clinton yang membunuhnya.” Kata Acel kepada Luca.
“Apakah Kairos sudah tahu?” Tanya Dean
“Hmm.. belum Dean, nanti Charlie saja yang mengatakannya.” Kata Acel kemudian dia berjalan mengambil motornya. Acel naik ke atas motor kemudian dia memakai helm. Acel langsung menjalankan motornya menuju ke rumah.
Acel tiba di rumah, dia melihat mobil Kairos sudah ada di depan rumah. Acel membuka helmnya lalu turun dari atas motor kemudian dia masuk ke dalam rumah. Acel langsung menuju ke kamarnya. Dia tidak ingin bertemu dengan Kairos, dia takut kalau Kairos menanyakan Elena.
Sementar di kediaman Tuan Arnet terdengar pintu di ketuk, Nyonya Arnets pergi membukakan pintu, dia melihat ada dua orang polisi.
“Selamat siang Nyonya.” Sapa opsir
“Selamat siang Opsir. Ada yang bisa aku bantu?” Tanya Nyonya Arnets
“Apa benar ini kediaman Tuan Arnets?” Tanya Opsir
“Oya benar Opsir, aku istrinya.” Jawab Nyonya Arnets. Dia kelihatan khawatir. “Ada apa Opsir?”
“Ohh..kebetulan sekali, apakah Elena putri Anda Nyonya?”
“Iya benar sekali, Elena putriku.” Jawab Nyonya Arnets. “Ada apa dengan putriku?”
“Ehmm… Begini Nyonya, tadi kami menemukan Putri Anda sudah tidak bernyawa di rumah kosong.” Kata Opsir lalu Nyonya Arnets terkejut
“Apaaa?? Itu tidak mungkin.” Kata Nyonya Arnets
“Nyonya tenangkan dirimu.”
“Arneeettsss..” Nyonya Arnets memanggil Tuan Arnets
Terlihat Tuan Arnet berlari menghampiri Nyonya Arnet.
“Ada apa kamu berteriak?” Tanya Tuan Arnets. “Dan kenapa ada polisi disini, apa yang terjadi?”
“Elena Arnets.. Elena..” Nyonya Arnets menangis
“Ada apa dengan Elena? Apa yang terjadi?” Tanya Tuan Arnets kepada Istrinya.
“Maaf Tuan Arnets, kami menemukan putri Anda sudah tidak bernyawa di rumah kosong.” Kata opsir kepada Tuan Arnets
Tuan Arnet terkejut.
“Apaaa?? Itu pasti ulah Clinton. Sekarang dimana putriku opsir?”
“Putri anda sedang berada di forensic, anda bisa datang kesana.” Kata Opsir lagi
Tuan Arnets memeluk istrinya.
__ADS_1
“Terima kasih opsir” Ucap Tuan Arnets
Polisi meninggalkan kediaman Tuan Arnets. Sedangkan Tuan Arnets menenangkan istrinya yang lagi menangis. Kemudian dia mengeluarkan handphonenya dia menelepon anak laki lakinya. Panggilan tersambung
“Hallo Joe, kamu lagi dimana?” Tanya Tuan Arnets
“Papi, aku lagi di rumah sakit. Aku lagi menangani pasien, ada apa pi?” Tanya Joe
“Bisa kamu pulang sekarang?” Tanya Tuan Arnets lagi.
“Papi, aku sangat sibuk. Aku lagi banyak pasien.” Jawab Joe dari seberang telepon.
“Joe pulanglah, adikmu Elena Joe…” Tuan Arnets terhenti bicaranya
Terdengar suara khawatir Joe di seberang telepon
“Elena kenapa pi? Apa yang terjadi dengan Elena?”
“Joe, Elena sudah meninggal.” Kata Tuan Arnets sambil menangis
“Apaa? Elena meninggal? Apakah Elena sakit pi?”
“Tidak Joe, tapi Elena mati di bunuh.” Jawab Tuan Arnets
“Pi aku segera pulang.” Kata Joe kemudian terdengar telepon di tutup
Tuan Arnets memeluk Istrinya yang lagi menangis.
“Kita tunggu Joe.” Kata Tuan Arnets sambil membelai rambut istrinya
“Arnets siapa yang membunuh Elena? Apa salah Elena?” Kata Nyonya Arnets sambil menangis
“Aku juga tidak tahu, mungkin saja Clinton yang membunuh Elena. Aku tidak tahu bagaimana aku menyampaikan hal ini kepada Kairos.” Kata Tuan Clinton
“Dimana Clinton menyekap Elena?” Tanya Kairos dalam hati. “Kalau terjadi sesuatu kepada Elena kamu akan menerima akibatnya Clinton.”
Tiba tiba handphone Kairos berbunyi, dia melihat panggilan dari Charlie. Kairos langsung menjawab panggilan Charlie
“Hallo Charlie, apa kabar?” Tanya Kairos
“Aku baik baik saja, kamu lagi di mana Kairos?” Tanya Charlie
“Aku lagi di rumah. Ada apa Charlie?”
“Umm… begini Kairos, bisakah kamu datang ke kantor polisi?” Tanya Charlie dari seberamg telepon
“Ada apa Charlie?” Tanya Kairos penasaran
“Kamu datang saja Kairos, aku tunggu kamu di kantor.” Kata Charlie dari seberang telepon, lalu telepon di tutup.
Kairos keluar dari kamarnya lalu dia naik ke atas menuju kamar Acel. Kairos membuka pintu kemudian masuk.
“Acel temani aku ke kantor polisi.” Pinta Kairos kepada Acel
“Ada apa Kairos? mengapa kamu mau ke kantor polisi?” Tanya Acel sambil bangun lalu dia duduk di tempat tidur
“Tadi Charlie meneleponku dan memintaku untuk datang ke kantor polisi.”
“Ohh.. Begitu. Kamu akan pergi sekarang?” Tanya Acel lagi
“Iya Acel, aku ingin kamu menemaniku.” Kata Kairos lagi.
“Hmmm.. baiklah, sebentar aku ganti pakaianku.” Kata Acel sambil turun dari tempat tidur.
“Aku tunggu di bawah ya.” Kata Kairos sambil berdiri lalu keluar dari kamar Acel
__ADS_1
Acel tidak ingin mengatakan kepada Kairos masalah Elena. Acel mengganti pakaiannya kemudian dia keluar dari kamarnya lalu menemui Kairos.
“Kita berangkat sekarang Kairos?” Tanya Acel
“Iya Acel. Ayo!”
Acel dan Kairos masuk ke dalam mobil lalu Acel langsung menjalankan mobilnya menuju ke kantor polisi.
“Acel, apakah kamu belum mendapatkan kabar dimana Clinton menyekap Elena?” Tanya Kairos
“Ehmm.. belum Kairos, aku belum mendapat kabar.” Jawab Acel. Dia berbohong kepada Kairos dia tidak ingin Kairos tahu kalau Elena sudah meninggal. Dia ingin Charlie yang mengatakannya.
Akhirnya mereka berdua tiba di kantor polisi. Acel memarkirkan mobilnya lalu mereka berdua turun dari mobil dan masuk kedalam kantor. Kairos mengirim pesan kepada Charlie
“Hi Charlie, aku dan Acel sudah di depan.” Kairos mengirim pesan itu kepada Charlie.
Tidak lama kemudian Charlie keluar bersama temannya.
“Ayo ikut aku Kairos!” Ajak Charlie kepada Kairos.
Kairos dan Acel mengikuti Charlie. Charlie membawa Kairos dan Acel di ruang forensic. Kairos semakin bingung melihat Charlie membawanya di ruang forensic.
Mereka sampai lalu Charlie mengajak Kairos masuk ke dalam ruangan. Charlie membawa Kairos ke tempat jenasah Elena, lalu Charlie membuka kain yang menutupi badan Elena. Kairos terkejut melihat Elena sudah tidak bernyawa lagi
“Ini tidak mungkin Charlie.” Kata Kairos sambil mengepalkan tangannya. “Ini tidak mungkin.” Kata Kairos lagi sambil menangis.
Acel menghampiri Kairos dan memegang punggung Kairos. Kairos memeluk Acel
“Aku akan membunuhnya Acel.” Bisik Kairos di kuping Acel.
“Iya Kairos, kita akan mencari Clinton dan kita habisi dia.” Kata Acel sambil memeluk Kairos.
Lalu Tuan Arnet dan Joe masuk. Dia langsung memeluk Jasad Elena dan menangis.
“Papi akan mencari Clinton dan papi akan membunuhnya.” Kata Tuan Arnets dengan geram
Joe memeluk Elena dan menangis.
“Kenapa kamu pergi dengang tragis begini adikku? Siapa yang melakukan hal ini padamu?” kata Joe sambil membelai wajah Elena.
Tuan Arnets melihat Kairos lalu dia memeluknya.
“Aku akan mencari orang yang telah membunuh anakku.” Bisik Tuan Arnets di kuping Kairos
“Aku juga akan mencarinya Tuan Arnets, aku akan membunuhnya.” Kata Kairos
TuanArnets memanggil Joe dan memperkenalkan Joe kepada Kairos dan Acel.
“Joe, ini Kairos rekan bisnis papi sekaligus pacar Elena. Dan ini Acel adik Kairos.”
“Hi Kairos, Acel. Senang bertemu dengan kalian.”
“Sama sama Joe.” Jawab Acel dan Kairos.
“Oh ya kalian sudah harus meninggalkan ruangan ini. Tuan Arnets, sebentar lagi jenasa putri anda akan di bawah ke kediaman anda.” Kata salah satu petugas di forensic.
“Baikla. Terima kasih.” Ucap Tuan Arnet kemudian mereka meninggalkan ruangan forensic.
Mereka semua kembali ke kediaman Tuan Arnets.
Selamat membaca
Jangan lupa like dan komentar
Terima kasih
__ADS_1