
Jessica POV
Hari ini aku pulang cepat dari sekolah, seperti biasa Andrew selalu mengantarku pulang, sampai di apartemen aku langsung masuk ke dalam dan menuju kamarku. Aku mendengar suara Carlos lagi teleponan, tapi aku tidak tau lagi telponan dengan siapa. Aku mengambil handuk dan pergi mandi. selesai mandi aku langsung memakai pakaian traningku dan kaos, hari ini latihan terakhir karena besok kami masuk babak semi final. Aku memakai sepatuku dan mengambil jacketku, kemudian aku mengetuk kamar Carlos. Carlos membukakan pintu, dia melihat aku sudah rapi dan dia bertanya
“Kamu mau kemana?” Tanya carlos.
“Aku ada latihan hari ini, besok kami masuk semi final. Aku harus pergi latihan.”
“Aku ingin bicara denganmu.”
“Nanti saja Carlos kalau aku sudah pulang baru kita bicara.aku sudah terlambat.”
“Tapi aku ingin bicara sekarang denganmu.” Kata Carlos lagi
“Carlos aku sudah terlambat, nanti saja selesai aku latihan.”
“Aku ingin bicara sekarang Jessi.”
Carlos bersi kuku ingin bicara denganku akhirnya ku mengalah
“Kalau begitu katakan sekarang apa yang ingin kamu bicarakankataku lagi pada carlos.
“Aku ingin kamu hentikan segala aktifitasmu.” Kata Carlos padaku.
Aku menatap Carlos dan mengernyitkan kedua keningku. “Kenapa?
“Aku tidak ingin sekolahmu terganggu.” Kata Carlos lagi
Dalam hatiku alasan yang tidak tepat.
“Sekolah ku tidak akan terganggu, karena aku tahu kemampuanku Carlos.”
“Jess kamu harus dengarkan aku, hentikan aktifitas mu itu. Selesai sekolah kamu harus pulang
Aku menatap Carlos lagi dan mengangkat kedua keningku. “Ohh.. Jadi kamu mau mengekang aku?”
“Ya… Kamu bisa keluar kalau bersamaku.”
“Sorry Carlos Jessi tidak bisa di kekang, aku akan pergi aku sudah telat.”
“Kamu tidak boleh pergi!” Carlos menahan tanganku. “Ingat aku yang membawamu kesini, aku membelikan segala keperluanmu disini. Semua yang melekat pada dirimu itu semua dariku, dan itu bukan barang murah. Jadi kamu harus mendengarkan aku.
Gila Carlos sampai ngomong begitu ke aku, sialan. Aku melepaskan tanganku dari Carlos.
“Carlos aku berterima kasih karena sudah membawaku kesini, dan aku sangat sangat berterima kasih atas segala pemberianmu kepadaku, tapi ingat.!!” { sambil menahan air mataku} Semua yang kamu berikan padaku itu tidak pernah aku minta, tapi aku berterima kasih.
“Oh ya satu hal lagi Carlos yang harus kamu ingat. Aku juga kehilangan perawanku disini dan kamu yang mengambilnya, tapi anggaplah itu balas budiku padamu.
Dan setiap bangun pagi dan malam sebelum tidur aku melayani kamu di ranjang layaknya seorang istri, anggaplah itu aku lagi melunasi hutangku padamu. Walaupun aku lakukan itu dengan tulus. {Hati terasa sakit} aku tau itu belum seberapa tapi aku akan melunasinya.
Tolong jangan halangi aku, aku mau pergi aku sudah terlambat.
Carlos menahan tanganku. “Sudah aku katakan kamu tidak boleh pergi!"
Aku melepaskan tanganku dari Carlos. “Maaf Carlos aku harus pergi.”
“Baik silahkan pergi tapi ingat begitu kamu keluar dari pintu itu jangan pernah kamu kembali.”
Kata Carlos dengan wajah marah
Aku menatap Carlos.
“Kamu mengancamku Carlos?”
“Aku tidak mengancammu hanya mengingatkanmu.” Kata Carlos sambil menatap marah padaku.
“Itu sama saja..!!” Kataku Pada Carlos sambil berjalan ke kamar.
Aku masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarku, aku mengambil semua peralatan olahragaku. Handphone aku letakkan di meja, jam yang aku pakai aku buka dan aku letakkan di atas meja. Kalung anting semua yang Carlos beli untukku, semuanya aku letakkan di atas meja. “Kamu pikir aku tidak bisa tanpamu, kamu pikir aku takut dengan ancamanmu. Kita lihat saja siapa yang akan tersiksa. Kamu mengekangku karena kamu takut kalau aku tau kelakuanmu diluar, aku tidak sebodoh itu Carlos.” Kataku dalam hati.
Author POV
Carlos berpikir jessica tidak jadi pergi
“Baguslah kalau kamu mengunci diri di kamar, itu lebih baik dari pada dia bertemu dengan Glen, kenapa aku mengenalkannya pada Glen.” Kata Carlos dalam hati.
Jessica POV
“Ini yang aku tunggu tunggu, aku akan meninggalkanmu.” Aku keluar dan membawa tas olahragaku, aku membawa sedikit pakaianku dan Carlos menatapku.
“Aku pergi.” Kataku sambil berjalan menuruni tangga.
“Jess ingat kata kataku, kalau kamu keluar dari pintu itu jangan pernah kembali lagi.” Kata Carlos dengan nada marah
“Iya aku ingat." aku turun ke bawah dan membuka pintu.
“Jess… Kenapa kamu tidak mau mendengarkan aku.” Teriak Carlos.
Tapi aku tetap berjalan dan menuju lift, aku mendengar Carlos membanting sesuatu tapi aku berjalan terus. “Bye Carlos.” Aku menekan tombol lift dan lift terbuka, lift turun sampai lobby dan aku keluar. Aku langsung memanggil taxi dan taxi berhenti tepat di depanku, aku membuka pintu taxi dan masuk kedalam taxi. Kemudian aku menyalakan handphoneku yang satunya lagi. Handphone yang Carlos beli untukku, aku sudah tinggalkan di meja. Aku menelpon Glen dan Glen menjawab telponku.
“Hi Glen kamu lagi di mana?”
“Aku lagi menyetir Jess, mau jemput Fanya. Kamu lagi dimana?” Tanya Glen dari seberang telepon
__ADS_1
“Aku lagi di taxi, mau ke tempat latihan.”
“Jess kamu turun dari taxi nanti aku jemput kamu dulu baru Fanya.” Kata Glen padaku.
“Baik aku turun di mall nanti aku tunggu kamu depan mall ya.”
“ok Jess.”
Aku menutup telpon dan menyuruh sopir taxi untuk berhenti di mall
Author POV
Kepergian Jessica membuat Carlos tersadar, dia sangat menyesal dengan apa yang telah dia katakan pada Jessica.
“Kenapa aku bicara begitu pada Jessica, sekarang dia pergi. Aku sudah menyinggung perasaannya.” Kata Carlos dalam hati kemudian dia duduk di sofa. “Ohh Jess aku tidak bermaksud bicara seperti itu. Aku akan menelponnya aku ingin dia kembali, aku tidak mau kehilangan dia.” Kata Carlos lagi sambil mengambil handphonenya dan mencoba menelepon Jessica, tapi Carlos tidak tahu kalau handphone yang di berikannya pada Jessica sudah Jessica tinggalkan.
“ Hemm… Handphonenya tidak aktif.” Kemudian Carlos masuk ke dalam kamar Jessica, dia duduk di tempat tidur dan matanya tertuju di meja. Carlos berdiri dan melihat handphone, jam tangan, kalung, anting semua ada di meja.
semua yang Carlos beri untuk Jessica dia tinggalkan di atas meja. Carlos mengambil hanphone itu dan menghidupkannya dan dia terkejut. Wallpaper di handphone foto dia dan Olivia. Carlos membuka foto album dan disana juga ada berebapa foto dia dan Olivia.
“Ternyata dia sudah tahu semuanya.” Kata Carlos dalam hati, Carlos duduk di tempat tidur Jessica. “Dia sudah tahu semuanya, pantas saja dia begitu nekat meninggalkanku. Aku harus mencarinya.”
Jessica POV
Aku sampai di mall dan menunggu Glen, dan tidak lama kemudian aku melihat mobil Glen dan Glen berhenti tepat di di depanku. Aku membuka pintu dan masuk ke mobil, Glen tersenyum melihat ku dan ngeledekin aku.
“Apa kabar kesayangan carlos?” Kata Glen padaku, Glen belum tau kalau aku sudah meninggalkan Carlos
“Sudahlah Glen jangan menyebut nama Carlos lagi di depanku.” Glen menatapku heran.
“Ada apa kamu dengan Carlos? kamu bertengkar dengannya?” Tanya Glen padaku.
“Bukan bertengkar lagi, Kami sudah putus.
Glen membelalakan mata, dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan
“ Are you serious Jess?”
“Iya serius, aku sudah meninggalkannya. Sama seperti yang kamu bilangkan, jadi aku menuruti kata katamu.
“Tapi kenapa wajah mu tidak terlihat sedih?” Tanya Glen padaku sambil memperhatikan wajahku.
“Untuk apa bersedih, sudah cukup semalam aku menangis. Sekarang Jessi mau berubah.
Kita mau menjemput Fanyakan?”
“Iya.” Jawab Glen
Glen masih merasa heran melihat sikapku biasa biasa saja, tapi dia gak tau hati ini lagi sakit. Kalau aku di hutan aku sudah berteriak.
“Fanya kamu di depan saja biar aku yang di belakang.”
“Sudah disitu saja kamu Jess gak apa apa.” Kata Fanya padaku.
“Jess sudah duduk saja di sampingku, biar aku lebih semangat menyetir mobil.” kata Glen padaku.
“Icch Fanya kamu yang di depan aku gak mau dekat Glen, aku mau turun tapi tanganku di tahan sama Glen dan Fanya malah menertawaiku.
“Sudah Jess duduk aja.” Kata Fanya lagi.
Dalam hatiku. “Kalian pacaran apa gak sich”. Glen mengantar kami ke tempat latihan dan akhirnya kami sampai, kami bertiga langsung masuk ke dalam dan mereka semua sudah berkumpul. Aku dan Fanya langsung bergabung. Tini mendekati aku dan Fanya
“Dari mana kalian? kok baru sampai?” Tanya Tini
“Dari kosanlah, maklum jalanan macet.” Jawab Fanya pada Tini
“Ohh...Begitu.” Gumam Tini
Aku tidak semangat untuk berlatih aku hanya banyakan duduk dan coach menghampiriku.
“Kamu baik baik saja Jess?” Tanya coach sambil duduk di sampingku
“Iya coach, aku hanya merasa sedikit lelah.”
“Kalau begitu kamu beristirahat saja dulu.”
“Iya coach, terima kasih.”
Coach berdiri dan meninggalkan aku. Dan Glen selalu menatapku. “Kenapa Glen memandangku seperti itu.” Aku menunduk dan memegang kepalaku, dipikiranku aku harus mencari tempat tinggal. Aku harus mencari tempat kos dekat sekolah, untung aku punya tabungan. Waktu kelas satu kami ada tabungan pelajar dari bank B dan aku selalu menyimpan uang jajanku, aku bisa gunakan untuk membayar kos.
Glen memperhatikanku dan dia mendekatiku dan duduk di sampingku.
“Bagaimana selanjutnya, kamu mau tinggal dimana jessi?” Tanya Glen padaku, aku menatap Glen dan tersenyum.
“Untuk sementara aku akan sewa kos, aku punya keluarga di jakarta tapi aku tidak ingin bertemu mereka. Aku ingin menjalani hidupku sendiri, aku ingin berusaha sendiri tidak ingin merepotkan orang lain.” Kataku pada Glen sambil tersenyum. Aku tidak mau menunjukan kesedihanku.
“Kalau kamu mau kamu bisa tinggal denganku di Pondok Indah.” Kata Glen
“Thanks Glen aku tidak ingin merepotkan mu.”
“Jess kamu tidak merepotkanku.” Kata Glen lagi.
“Glen tempat tinggal mu terlalu jauh dari sekolahku, aku ingin mencari tempat kos dekat dengan sekolahku.
__ADS_1
“Kamu bisa pindah, di dekat tempat tinggalku banyak sekolah yang bagus bagus.”
”Oh.. No.. No... Glen aku ingin berusaha sendiri.” Kataku pada Glen. Cukup Carlos saja aku tidak ingin hal yang sama terjadi lagi padaku.
“Pikirkan Jess setiap bulan kamu membayar kos dan uang sekolah, belum kehidupan kamu sehari hari. Aku tahu uang sekolah mu tidak murah karena sekolanya bertaraf Internasional, bagaimana caranya kamu bisa memenuhi semua kebutuhan kamu.
Aku menatap Glen dan tersenyum.
“Glen semuanya pasti ada jalan keluar, aku yakin itu.”
Glen memegang tanganku. “Aku kagum padamu, kamu begitu kuat. Jess jangan segan segan meminta bantuanku, aku pasti menolongmu.” Kata glen padaku dan aku hanya tersenyum
“Thanks Glen, kamu baik.” Glen tersenyum padaku.
Author POV
Sementar dalam hati Glen. “Carlos kamu bodoh melepas orang yang begitu baik, cantik pintar dan masih muda lagi. Ini saatnya aku akan membuat Carlos cemburu, kamu akan merasakan rasa sakit seperti yang jessica rasakan. Aku akan mengatur siasat dengan Fanya.” Kata Glen dalam hati sambil memperhatikan Jessica.
Jessica POV
Aku mencari info tempat kos lewat handphoneku, aku membuka website dan mencari kosan yang dekat sekolahku dan Glen memperhatikanku tapi aku cuek. “Hmm.. Ada dua kamar yang available, sebentar aku akan ke sana.”
“Sudah dapat?” Tanya Glen padaku.
“Iya Glen, kebetulan dekat dengan sekolahku.”
“Aku antar ya.”
“Iya thanks ya.”
Glen menganggukan kepala, latihan sudah selesai aku Glen dan Fanya berjalan keluar, Fanya ingin langsung pulang ke tempat kosnya dan Glen mengantar Fanya duluan. Aku duduk di belakang dan Fanya di depan.
Aku tau Glen selalu memperhatikanku lewat kaca spionnya. Dasar, sudah tau ada Fanya di sampingya masih saja begitu. ternyata semua laki laki sama.” Gumamku dalam hati.
Tidak lama kemudian kami sampai di kosan Fanya dan Fanya turun, aku disuruh Glen pindah ke depan dan akupun pindah ke depan.
“Kita langsung mencari tempat kos ya!” Kata Glen padaku.
Aku menganggukan kepala.
“Nanti kamu kasih tahu alamatnya ya.” Kata Glen lagi.
“Iya jalan saja.”
Glen menjalakan mobilnya dan mencari alamat tempat kosnya, akhirnya aku dan Glen menemukan tempat kos itu. Kami turun dan bertemu dengan pemilik kos, kami berbincang bincang kemudian dia menunjukan kamar kosnya dan ada kamar mandinya di dalam. Aku merasa cocok dan aku memberitahukan kalau aku akan masuk hari ini juga. Dan pemilik kos membersihkan kamar kosnya. Selesai membersihkan, pemilik kos memberikan kunci padaku dan aku meletakkan tasku di kamar. Depan kamar kos ada teras dan kursi, aku dan Glen duduk dan berbincang bincang. dan tidak terasa sudah malam dan perutku berbunyi. Glen melihatku dan tertawa.
“Kamu lapar ya?” Tanya Glen sambil tersenyum.
“Iya tadi aku lupa makan.”
“Ayo kita cari makan.”
Aku dan Glen menuju ke mobilnya dan mencari makan.
Author POV
Sementara di apartemen Carlos mengkhawatirkan Jessica.
" Ini sudah malam kamu di mana Jess, kamu tidur dimana?” Carlos begitu memikirkan Jessica. dia sangat mengkhawatirkannya. Dia merasa menyesal sudah menyakiti Jessica. Carlos berdiri dan melihat keluar jendela. “Kemana aku akan mencarimu, aku tidak begitu mengenal kota ini. Aku juga tidak mengenal teman temannya.” Carlos berdiri di depan kaca jendela dan memandang keluar.
Jessica POV
Aku dan Glen mampir di restoran sea food, kami duduk dan pelayan memberikan buku menu. Aku memesan udang goreng mentega dan Glen memesan cumi bakar, tidak lama kemudian makanan datang dan kami berdua pun makan. Sambil makan Glen bercanda denganku.
“Jess kamu suka makan udang ya?”
“Iya udang dan cumi makanan favoritku.”
“Hmm.. Kamu tau tidak, orang yang suka makan cumi udang dan kepiting itu (glen berbisik di kuping) nafsunya besar.
Aku membelalakan mata
“Serius Glen.”
“Iya nafsunya besar, nafsu marahnya, nafsu makannya itu semua besar.” Canda Glen padaku.
Aku langsung tertawa. “Ada satu lagi jess.”
“Apa lagi Glen?”
Glen berbisik padaku, “kalau makan udang cumi dan kepiting bisa membangkitkan nafsu seksual.”
“Masa sich?”
“Iya benar, coba kamu cari di internet kalau tidak percaya.” Kata Glen lagi.
Aku langsung tertawa, Glen bisa aja.
Selesai makan kami pulang ke tempat kos, Karena sudah malam Glen langsung pulang.
“Ok Jess aku pulang ya, besok aku jemput.” Glen berpamitan padaku.
“Ok thanks ya glen, hati hati ya!” Glen menganggukan kepala dan dia pergi, aku langsung masuk ke kamar dan berbaring. Pikiranku melayang pada Carlos, aku tidak percaya dengan ucapannya tadi. Gila Carlos bisa bicara begitu padaku, sakit mendengarnya. Aku memejamkan mata dan akhirnya aku tertidur.
__ADS_1
Selamat Membaca