End Of Love

End Of Love
SS2 EOL Eps 67


__ADS_3

Pagi-pagi Nasya terbangun, dia meraskan sakit di daerah organ intimnya. Dia belum menyadari kalau Kairos tidur di sampingnya. Nasya terkejut melihat tubuhnya dalam keadaan bugil, dia lebih terkejut melihat Kairos ada di sampingnya dalam keadaan bugil juga.


Nasya bangun lalu dia melihat ada sisa darah di sprei, dia berusaha turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Dia menyalakan shower lalu dia menagis.


“Apa yang sudah di lakukan direktur padaku?” Nasya duduk di lantai kamar mandi dan menagis, dia membiarkan air membasahi tubuhnya.


Kairos terbangun dan melihat tubuhnya masih telanjang, dia juga melihat Nasya tidak ada di kamar. Kairos memakai pakaiannya kemudian dia keluar dari kamar dan mencari Nasya. Kairos mendengar bunyi air dan tangisan di kamar mandi.


Kairos membuka pintu kamar mandi dan melihat Nasya sedang duduk di lantai sambil menangis. Kairos menghampiri Nasya dan mencoba memegang tangan Nasya.


Nasya menatap Kairos dengan tajam, dia berdiri dan mendorong tubuh Kairos sehingga Kairos tersandar di dinding.


“Jangan menyentuhku, aku membencimu. Kamu sengaja membuatku mabuk agar kamu bisa menyentuhku,” tuduh Nasya kepada Kairos sambil menangis.


“Aku bersumpah, aku tidak berniat membuatmu mabuk untuk menyentuhmu,”


“Aku tidak percaya padamu, mentang-mentang kamu bossku lalu kamu berbuat seenaknya padaku!” Nasya begitu marah kepada Kairos.


“Tadi malam aku tidak ingin menyentuhmu, tapi masih dalam mobil kamu menyentuh tubuhku lebih dulu dan aku selalu menepiskan tanganmu, bahkan waktu aku membaringkanmu malah kami menarikku dan menciumku. Bahkan kamu memegang milikku dan mengajakku untuk melakukan hubungan itu.” ujar Kairos dengan kesal.


“Kamu pikir aku juga mau melakukkannya? Kalau aku ingin sedari Sulawesi aku sudah menyentuhmu. Tapi aku bukan laki-laki seperti itu. tapi tadu malam kamu yang memulainya lebih dulu. Bukan aku!” tegas Kairos lalu dia keluar dari kamar mandi.


Nasya berdiri dan mengambil handuk, dia mengeringkan tubuhnya kemudian dia membalut tubuhnya dengan handuk, dia pergi ke kamar dan memakai pakaiannya. Nasya keluar menemui Kairos, dia menyeka air matanya kemudian dia duduk di depan Kairos.


“Pergi dari sini,” ucap Nasya lirih


Kairos menatap Nasya kemudian dia berdiri. “Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu,” ucap Kairos


“Tidak perlu, aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai,” sahut Nasya dengan menyeka air matanya.


“Baiklah kalau begitu, aku pergi sekarang.” Kairos keluar dari apartemen dan masuk ke dalam mobil, “dia yang begitu agresif, kenapa dia harus marah padaku?” Kairos terlihat sangat kesal lalu dia menjalankan mobil menuju ke apartemennya.


Sedangkan Nasya dia masuk ke kamar dan memperhatikan sprei yang ada noda darah, dia melepaskan sprei dan memasukkan ke dalam kantong plastik lalu dia membuangnya. Nasya kembali ke kamar dan memasang sprei lalu dia berbaring. Dia masih merasakan sakit di organ intimnya, Nasya menangis di kamarnya.


Setelah hilang virginku apakah masih ada lelaki yang mau padaku? Batin Nasya lalu dia mengusap air matanya.


****


Keesokan Kairos pergi ke kantor, dia masuk dan melihat tempat Nasya kosong. Kairos menunduk kemudian dia masuk ke ruang kerjanya. Dia duduk dan bersandar, pikirannya langsung tertuju kepada Nasya.

__ADS_1


“Aku harus membujuk Nasya untuk menikah denganku, aku harus bertanggung jawab,” ujar Kairos kemudian dia berdiri dan keluar dari ruang kerja. Dia melihat Nasya belum juga datang, Kairos pergi ke parkiran kemudian dia masuk ke dalam mobil.


Kairos langsung meluncur ke apartemen Nasya, dia tiba lalu dia masuk. Kairos tiba di depan apartemen Nasya, dia mengetuk pintu. Tapi pintu tidak di buka.


“Nasya, aku ingin bicara padamu, tolong buka pintunya dan biarkan aku masuk,” teriak Kairos sambil mengetuk pintu dengan keras tapi piintu tetap tidak di buka.


“Dia sudah pergi dari tadi pagi.” Terdengar suara wanita lalu Kairos menoleh kea rah suara itu.


“Dia pergi kemana, Nyonya?” tanya Kairos sambil berjalan menghampiri wanita separuh bayah itu.


“Aku tidak tahu, tadi aku hanya selift dengannya. Dia membawa koper dan sepertinya dia baru selesai menangis.”


Kairos memegang kepala dengan kedua tangannya, dia memutar tubuh membelakangi wanita itu. Dia merasa geram kepada Nasya.


“Mengapa kamu harus pergi? Mengapa kamu tidak mau membiarkan aku untuk bertanggung jawab?” Kairos memutar tubuhnya lalu dia berterima kasih kepada wanita itu. Kairos keluar dari apartemen dan masuk ke mobil. Kairos langsung kembali ke kantor.


Kairos menemui HRD dan meminta data diri Nasya kemudian dia kembali ke ruang kerjanya, Kairos mencoba mencari tempat tinggal Nasya lewat CV milik Nasya. Dia menemukan alamat Nasya kemudian dia berdiri dan keluar. Kairos mengeluarkan ponsel dan menghubungi Gilang, Kairos meminta Gilang untuk datang ke kantornya. Kairos pergi ke ruang HRD dan memberikan CV milik Nasya lalu dia kembali ke ruang kerjanya.


Kairos duduk dan menunggu GIlang, dia ingin mengajak Gilang untuk membantunya mencari Nasya. Tidak lama kemudian Gilang datang, Kairos langsung mengajak Gilang pergi. Mereka masuk ke mobil, Gilang menyetir dan pergi ke depok, mereka ingin pergi ke alamat yang tertera di CV milik Nasya.


Sementar itu, terlihat Nasya sedang berada di airport soekarno-Hatta, dia ingin kembali ke Surabaya. Dia ingin pergi ke rumah orang tuanya. Nasya tiba di Surabaya lalu dia memesan taxi online, taxi datang lalu Nasya naik. Taxi langsung mengantar Nasya ke rumah orang tuanya.


Nasya tiba lalu dia membayar taxi dan mengambil barang-barangnya, terlihat dari dalam seorang pria berlari-lari untuk membukakan pintu buat Nasya.


“Papa sakit? Kenapa kamu tidak memberitahukan kepadaku, Leo?” Nasya langsung berlari ke dalam rumah, dia masuk dan menuju ke kamar orang tuanya. Nasya masuk dan melihat papanya sedang berbaring dan di sisi tempat tidur ada mamanya. Nasya langsung berlari memeluk papanya.


“Ma, kenapa papa tidak di bawah ke dokter?” tanya Nasya dengan memegang tangan papanya.


“Papa tidak mau, Nasya. Kamu tahu sendirikan papa kamu,” sahut mama Nasya.


“Pa, kita ke dokter ya.”


“Sayang, papa tidak apa-apa. Papa hanya lelah saja,” sahut papa Nasya


“Pa, please. Kalau papa tidak ke dokter Nasya akan pergi lagi,” ancam Nasya seraya duduk di sisi tempat tidur.


“Sayang, jangan pergi lagi. kamu putri satu-satunya papa dan mama, kami sangat kesepian.” Papa Nasya memegang pipi Nasya.


“Aku tidak akan pergi asalkan papa janji mau ke dokter,”

__ADS_1


“Baiklah, Sayang. Papa akan ke dokter.”


Nasya terlihat senang lalu dia memeluk papanya, mama Nasya terlihat sangat senang karena suaminya mau juga ke dokter.


“Baiklah, Pap. Aku siapkan mobilnya dulu. Mam, bantu papa untuk siap-siap,” ujar Nasya dengan tersenyum kemudian dia keluar dari kamar orang tuanya dan pergi ke garasi. Nasya mengeluarkan mobil dari garasi dan memarkirkannya di depan rumah. Nasya turun dan masuk ke rumah menemui papa dan mamanya.


“Sudah selesai, Mam?” tanya Nasya sambil berjalan menghampiri papanya yang sedang memakai kaos.


“Sebentar, Sayang. Mama ambilkan sepatu papa,” sahut mama Nasya kemudian dia keluar dari kamar dan mengambil sepatu suaminya. Mama Nasya kembali ke kamar dan memakaikan sepatu kepada Suaminya.


***


Kairos dan gilang sampai di depok, mereka langsung menuju ke alamat yang tertera di CV Nasya. Mereka berhenti di salah satu rumah yang terlihat sangat sederhana. Kairos dan Gilang turun lalu mereka pergi mengetuk pagar. Pintu terbuka lalu tampak seorang wanita.


“Maaf, ada perlu apa?” tanya wanita itu


‘Apakah benar ini tempat tinggal Nasya?” tanya Gilang sambil mencoba melihat-lihat kalau ada Nasya.


“Ini bukan tempat tinggal Nasya, memang dia pernah tinggal di sini tapi semenjak dia mendapatkan pekerjaan dia pindah ke Jakarta,” sahut wanita itu sambil berjalan menghampiri Gilang dan Kairos.


“Oh, begitu? Apakah ibu saudara dari Nasya?” Gilang kembali bertanya


“Bukan, anakku berteman dengan Nasya.”


“Bisa kamu bertemu dengan anak ibu?” tanya Gilang lagi, sedangkan Kairos dia hanya diam dan membiarkan Gilang yang bertanya.


“Wah, anakku sudah lama di luar negeri,” sahut wanita itu sambil tersenyum.


Kairos menarik napas panjang kemudian dia mengajak Gilang untuk pergi, mereka berdua berpamitan kepada wanita itu kemudian mereka kembali masuk ke mobil. Kairos dan Gilang kembali lagi ke Jakarta.


“Ada apa dengan Nasya?” tanya Gilang sambil menyeti mobil.


“Ah, Gilang. Aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana,” sahut Kairos sembari memandang keluar jendela.


“Katakan padaku, apa yang terjadi,”


“Nanti saja,” ujar Kairos lalu dia memejamkan mata.


Jangan-jangan Nasya pergi karena ingin menghindar dari Kairos, apakah obat itu bekerja? Dan apakah mereka sudah melakukan hubungan itu? gumam Gilang dalam hati. Kalau Kairos tahu aku bisa di hajarnya. Gumamnya lagi dalam hati.

__ADS_1


Mereka tiba di apartemen lalu Kairos turun dari mobil dan masuk ke dalam, sedangkan Gilang dia langsung kembali ke rumahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2