End Of Love

End Of Love
SS2 EOL Eps 84


__ADS_3

Kairos dan Gilang pergi ke kantor polisi dan melapor. Kairos menunjukkan lokasi terkahir ponsel Nasya aktif.


Salah satu polisi mengambil ponsel Kairos dan melihat lokasi yang di screen shot oleh Kairos.


"Oh, terakhir aktif di daerah Kepuharjo ya." Dia mengangguk-anggukan kepala dan mengembalikan ponsel itu kepada Kairos.


"Apakah bisa langsung ke sana?" tanya Kairos dengan wajah memohon.


"Tentu saja, kita bisa lacak dari kelurahan kepuharjo," sahut salah satu polisi kemudian dia berdiri dan memanggil anggota lain.


Kairos dan Gilang berdiri dan keluar dari ruangan. Mereka berdua melihat polisi sedang bersiap-siap.


Salah satu polisi menghampiri Kairos dan Gilang.


"Kami akan berangkat sekarang dan kami akan menyusuri setiap tempat yang ada di kelurahan Kepuharjo,"


"Terima kasih, Pak. Bisa kami ikut?" tanya Gilang seraya melihat beberapa amggota polisi naik ke mobil patroli.


"Tentu saja, kalian bisa ikut," sahut salah satu polisi itu kemudian Kairos dan Gilang pergi ke mobil. Mereka berdua masuk lalu Gilang menjalankan mobil mengikuti mobil polisi dari belakang.


Mereka langsung menuju ke daerah kepuharjo. Mereka melewati rumah-rumah penduduk yang tidak padat.


Mereka sampai di daerah yang sudah tidak ada rumah penduduk, lalu mereka berhenti.


Kairos dan Gilang turun dari mobil lalu mereka menghampiri salah satu pemimpin mereka.


Kenapa berhenti di sini?" tanya Gilang sambil memperhatikan pohon-pohon yang rindang serta bukit di sekita mereka.


"Ponselnya terakhir aktif di daerah ini bukan?"


Kairos mengeluarkan ponsel dan menunjukkan kepada polisi.


Polisi mengambil ponsel dan melihat posisi terakhir ponsel Nasya.


"Terakhir di derah ini. Tapi kita tidak tahu, apakah mereka lurus atau belok ke kana ini," sahut polisi.


Kairos dan Gilang saling pandang kemudian Gilang mengeluarkan ponsel dan menghubungi pamannya.


Dia menanyakan keluarga istri pamannya yang tinggal di daerah lumajang. Terlihat wajah Gilang berubah senang kemudian dia menutup telepon.


"Kairos ini sudah menjelang Magrib, kita kerumah keluarga istri pamanku. Kita menginap di sana,"


"Baiklah Gilang, kita pamit kepada mereka."


Kairos dan Gilang berpamitan kepada polisi kemudian mereka pergi rumah keluarga dari istri paman Gilang.


Sedangkan polisi mereka mencoba mencari Nasya dengan mengambil jalan lurus.


Sementar di sebuah rumah, terlihat Nasya memegang perutnya, dia merasakan sakit. Nasya merintih kesakitan dan memanggil Rayhan dengan mengetuk pintu kamar dengan kencang.


Rayhan membuka kamar Nasya dan melihat Nasya terduduk di lantai. Rayhan langsung mengangkat Nasya dan membaringkan di tempat tidur.


"Aku ingin ke dokter Rayhan, perutku sakit sekali. Aku tidak mau keguguran di sini," ujar Nasya sambil menangis.


Terlihat wajah Rayhan begitu panik, dia mengangkat Nasya dan membawanya ke mobil. Rayhan mendudukan Nasya di belakang kemudian Nasya berbaring.


Rayhan langsung masuk ke mobil dan menjalankan mobil ke rumah sakit.


Masuk di pedesaan, di dalam mobil Nasya memiringkan tubuhnya lalu dia melihat ponselnya, dia berusaha meraih ponsel itu.


Nasya memegang ponselnya dan melihat begitu banyak panggilan, dia melihat nomor Kairosz Gilang dan kedua orang tuanya.


"Batteraynya tinggal sedikit, mudah-mudahan mereka menemukanku. Untung saja ponselku silent." Nasya berusaha mengirim pesan kepada Kairos sambil matanya mengawasi Rayhan.


Sedangkan Kairos dan Gilang, mereka berdua tiba di rumah keluarga istri dari paman Gilang. Tiba-tiba ponsel Kairos berbunyi, dia langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana dan melihat sebuah pesan.


Kairos membelalakan matanya kemudian dia membaca isi pesan Nasya.


Tolong aku, Rayhan menculikku dan sekarang aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


Kairos langsung melacak ponsel Nasya.


"Gilang, Nasya mengirim pesan dia dalam perjalanan ke rumah sakit bersama Rayhan."


"Kalau begitu kita cari sekarang, mereka pasti pergi ke rumah sakit daerah," sahut Gilang.


Mereka berdua kembali masuk ke mobil lalu Kairos dan Gilang langsung menuju ke rumah sakit.


Mereka tiba di rumah sakit dan menunggu Rayhan dan Nasya.


"Apakah mereka sudah dekat?" tanya Gilang seraya mematikan mesin mobil.


"Mereka masih jauh, apakah ini rumah sakit satu-satunya di sini?" tanya Kairos dengan wajah yang masih khawatir.


"Iya, Kairos ini rumah sakit satu-satunya, kalau puskesmas banyak tapi kalau malam tutup," sahut Gilang meyakinkan Kairos.


"Sepertinya mereka mulai dekat," ujar Kairos dengan menunjukkan ponselnya kepada Gilang.


"Iya, mereka sudah dekat. Mungkin 10 menit lagi mereka tiba, sebaiknya aku telepon polisi supaya mereka menangkap Rayhan,"


"Iya kamu benar Gilang, tapi aku harus menghajarnya terlebih dahulu," ujar Kairos dengan wajah marah.


Gilang menelepon polisi dan memberitahukan posisi mereka kepada polisi.


Sementara di surabaya, Istri Pak Bramantoro terus menangis di kamar, dia sangat khawatir kepada Nasya. Dia tidak tahu Nasya berada dimana.

__ADS_1


Pak Bramantoro masuk ke kamar kemudian duduk di sisi tempat tidur, dia menenangkan istrinya. Lalu ponselnya berbunyi.


Pak Bramantoro cepat-cepat mengambil ponselnya dan melihat panggilan dari Gilang. Dia langsung menjawabnya.


"Hallo, Gilang. Apakah kamu sudah mendapat kabar tentang Nasya?"


"Sudah om, Rayhan yang menculiknya. Aku dan Kairos sekarang lagi di rumah sakit,"


"Apa, rumah sakit? Apa yang terjadi dengan Nasya."


Istri Pak Bramantoro langsung duduk mendengar Pak Bramantoro, dia menjadi cemas mendengar Pak Bramantoro menyebut rumas sakit, dia langsung mengambil ponsel dari tangan Pak Btamantoro.


"Gilang, apa yang terjadi dengan Nasya?" tanya istri Pak Bramantoro dengan cemas.


"Tante, kami belum tahu. Kami sedang menunggu Rayhan dan Nasya. Nasya mengirim pesan kepada Kairos kalau mereka sedang menuju ke rumah sakit,"


"Gilang, tolong bawa Nasya pulang," ujar istri Pak Bramantoro sambil menangis.


"Iya, tante. Aku dan Kairos akan membawa Nasya pulang."


"Terika kasih, Gilang," ucap istri Pak Bramantoro kemudian dia memberikan ponsel ke Pak Bramantoro.


Pak Bramantoro memeluk dan membelai rambut istrinya


"Mudah-mudahan Kairos dsn Gilang berhasil membawa Nasya pulang. Sekarang mama tidur."


Istri pak bramantoro naik ke tempat tidur dan berbaring.


Sedangkan Kairos dan Gilang masih menunggu di parkiran rumah sakit.


Sedikit-sedikit matanya melihat ponsel.


"Gilang mereka sudah di sini," ujar Kairos sambil menunjukkan posisi ponsel Nasya.


"Mungkin itu mereka," sahut Gilang sambil menunjuk sebuah mobil yang baru masuk.


"Jangan turun, biarkan dia dan Nasya masuk lalu kita berdua turun," kata Kairos sambil menahan tangan Gilang.


Kairos dan Gilang mengawasi mobil yang baru masuk, mereka menunggu siapa yang akan keluar dari mobil itu.


Sementara itu Rayhan memarkirkan mobil kemudian dia turun dan mengangkat Nasya.


Saat Rayhan akan mengangjat Nasya di melihat ponsel Nasya tergeletak di lantai mobil.


Nasya memperhatikan Rayham lalu dia merintih kesakitan sambil memegang perutnya.


Rayhan mengangkat Nasya, di tidak perduli dengan ponsel Nasya. Dia membawa Nasya masuk ke rumah sakit.


Melihat Rayhan menggendong Nasya masuk ke rumah sakit, Kairos dan Gilang langsung turun dari mobil. Mereka berdua langsung berlari menyusul Rayhan.


Melihat Kairos dan Gilang, wajah Nasya langsung berubah senang. Dia langsung melepaskan diri dari Rayhan.


Rayhan menatap Kairos dengan marah. Dia menurunkan Nasya kemudian melayangkan pukulan ke wajah Kairos tapi Kairos bisa menghindar dan melepaskan pukulan ke perut Rayhan.


Gilang langsung memegang Nasya dan membawanya ke dalam, petugas langsung membawa Nasya ke ruangan.


Sementara Kairos terus menghajar Rayhan, dia melepaskan pukulan ke wajah Rayhan sehingga Rayhan terjatuh. Melihat Rayhan terjatu Kairos langsung menendang perut Rayahan.


Rayhan meringis kesakitan. Kairos mengangkat Rayhan lalu dia melepaskan lagi pukulan di wajah Rayhan.


"Berani sekali kamu menculiknya, sekarang kamu rasakan ini." Kairos kembali melepaskan pukulan di wajah Rayhan.


Terlihat Rayhan tidak berdaya lagi saat Kairos ingin menendang wajah Rayhan polisi menahan Kairos dan menjauhkan Kairos dari Rayhan.


Polisi mengangkar Rayhan dan membawanya ke dalam untuk mendapatkan perawatan.


Kairos ikut masuk ke rumah sakit bersama beberapa polisi, dia langsung mencari Nasya dan Gilang.


Dia melihat Gilang sedang berdiri di depan ruang dokter. Kairos berlari menghampiri Gilang.


"Bagaimana keadaan Nasya?" tanya Kairos dengan cemas.


"Dia masih di periksa di dalam," sahut Gilang sambil menunjuk ruangan dokter.


Kairos langsung masuk dan melihat Nasya sedang di periksa oleh dokter dan bidan.


"Bagaiamana dengan kandungannya, Dok?" tanya Kairos sambil berdiri di samping tempat Nasya berbaring.


"Kandungannya baik-baik saja, hanya ibunya jangan terlalu stress. Nanti akan berpengaruh kepada janinnya," sahut dokter dengan tersenyum kemudian dokter kembali duduk.


Kairos membantu Nasya berdiri, dia memegang tangan Nasya lalu mereka berdua duduk.


"Nanti rajin makan buah-buahan dan sayuran ya," jelas dokter lalu Kairos dan Nasya menganggukan kepala.


"Terima kasih, Dok. Kalau begitu kami pamit dulu," ujar Kairos kemudian dia dan Nasya keluar dari ruang dokter.


Salah satu polisi menghampiri Kairos dan Nasya.


"Kalian harus ikut ke kantor polisi untuk di mintai keterangan,"


"Bagaimana kalau besok saja, calon istriku harus istirahat. Aku janji besok pagi aku akan mengantarnya ke kantor polisi," mohon Kairos kepada polisi.


"Baiklah kalau begitu, besok kami tunggu kalian." Polisi meninggalkan Kairos, Nasya dan Gilang.


"Apakah kamu bisa berjalan?" tanya Kairos sambil menatap mata Nasya.

__ADS_1


"Iya, aku bisa," sahut Nasya di ikuti anggukan kepala.


"Baiklah kalau begitu, kita ke hotel sekarang." Kairos memegang tangan Nasya lalu mereka pergi ke parkiran.


Kairos dan Nasya masuk ke mobil, mereka berdua duduk di belakang. Lalu Kairos melingkatkan tangannya di punggung Nasya.


"Tidurlah."


Nasya menyandarkan kepalanya di dada Kairos, dia merasa senang Kairos dan Gilang menyelamatkan dia dari Rayhan.


Gilang masuk ke mobil lalu mereka langsung kembali ke hotel.


Mereka tiba di hotel kemudian Kairos turun dan memegang tangan Nasya untuk turun dari mobil. Nasya memegang lengan Kairos kemudian mereka masuk ke hotel. Kairos langsung membawa Nasya ke kamarnya.


“Istirahat saja,” ujar Kairos sambil merebahkan Nasya di tempat tidur.


“Kairos, ponselku di mobil Rayhan.”


Kairos duduk di sisi tempat tidur kemudian dia memegang tangan Nasya.


“Biarkan saja, nanti beli baru,” sahut Kairos dengan tersenyum.


“Tapi di situ ada file penting,” kata Nasya sambil menatap mata Kairos.


“Kita ambil di kantor polisi, kamu istirahat sekarang. Atau kamu ingin mengganti pakaian?”


“Aku tidak punya pakaian, pakaian yang aku beli waktu itu ada di vill dan sudah kotor karena aku sudah memakainya,” ujar Nasya dengan suara pelan.


“Baiklah, pakai kaosku saja.” Kairos berdiri kemudian dia membuka tas punggung dan mengambil kaos. “Pakai ini saja.” Kairos memberikan kaos itu kepada Nasya.


Nasya bangun dan mengambil kaos dari tangan Kairos kemudian dia melepaskan pakaian yang dia kenakan dan menggantinya dengan kaos milik Kairos.


Nasya kembali naik ke tempat tidur kemudian dia berbaring. Kairos juga berbaring di tempat tidur kemudian dia membelai perut Nasya.


“Terima kasih sudah menyelamatkanku. Oh ya, dari mana kalian tahu aku di daerah sini?” tanya Nasya seraya memiringkan tubuhnya menghadap Kairos


“Dari ponselmu, tanpa kamu ketahui aku menghubungkan ponselmu dengan ponselku,” sahut Kairos dengan membelai wajah Nasya.


“Oh … begitu,” gumam Nasya lalu Kairos tersenyum dan menganggukan kepala.


“Tidur sekarang, besok pagi kita harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan,” ujar Kairos kemudian dia memutar tubuh Nasya membelakanginya dan Kairos memeluk Nasya dari belakang.


Mereka berdua tertidur, sedangkan Gilang dia langsung menghubungi Pak Bramantoro dan memberitahukan kalau Nasya sudah berada bersama mereka.


Keesokan pagi Kairos dan Nasya bersiap-siap untuk ke kantor polisi, Nasya memakai pakaian yang sebelumnya kemudian Kairos keluar dari kamar dan mengetuk kamar Gilang.


Gilang membuka pintu dan tersenyum kepada Kairos.


“Sudah mau berangkat?” tanya Gilang


“Iya, lebih cepat lebih bagus supaya kita langsung kembali ke Surabaya,” sahut Kairos kemudian Gilang keluar dan mengunci pintu. Sedangkan Kairos dia pergi ke kamar Acel, dia mengetuk pintu lalu pintu terbuka.


“Kalian sudah selesai?” tanya Kairos kepada Acel


“Iya, aku dan Mecy sudah selesai,” sahut Acel seraya mengatur kemejanya.


“Baiklah, aku tunggu di depan,” ujar Kairos kemudian dia kembali ke kamar dan mengajak Nasya untuk ke lobby.


Nasya dan Kairos pergi ke lobby kemudian Kairos memberikan kunci kamar kepada customer service dan kembali duduk dekat Nasya.


Terlihat Acel dan Mecy berjalan menghampiri Kairos dan Mecy, Kairos berdiri dan memperkenalkan Nasya kepada Acel dan Mecy.


“Nasya, ini Acel dan ini Mecy pacar Acel.”


Nasya berdiri lalu dia tersenyum kepada Acel dan Mecy, dia mengulurkan tagannya bersalaman kepada Acel dan Mecy.


“Nasya. Senang bertemu dengan kamu berdua,” ujar Nasya.


“Sama-sama, Nasya. Senang bertemu denganmu juga,” balas Acel dengan menyambut tangan Nasya dan bersalaman. Begitu juga Mecy.


Gilang mengajak mereka, Kairos memegang tangan Nasya dan berjalan ke parkiran. Kairos membukakan pintu mobil kepada Nasya kemudian Nasya masuk. Begitu juga Acel dia membuka pintu mobil lalu Mecy masuk. Mecy duduk dekat Nasya sedangkan Kairos dia duduk di depan samping Gilang. Acel duduk di sebelah Mecy.


Mereka langsung menuju ke kantor polisi sepanjang jalan mereka berbincang-bincang, Mecy hanya diam karena dia tidak mengerti apa yang Kairosx Acel dan Gilang bicarakan. Mecy tidak bisa berbahasa Indonesia sedangkan Acel dan Kairos mereka bisa berbahasa Indonesia karena Jessica sering mengajari mereka Bahasa Indonesia.


Mereka tiba di kantor polisi, mereka turun dari mobil kemudian Kairos memegang tangan Nasya dan masuk ke ruang pemeriksaan. Acel Mecy dan Gilang mereka bertiga menunggu di luar.


Polisi mempersilahkan Kairos dan Nasya duduk lalu dia meminta keterangan kepada Nasya. Nasya menjelaskan dari awal dia bertemu dengan Rayhan di mall sebelum dia di bius. Terlihat Kairos menggeleng-gelengkan kepala mendengar penjelasan Nasya kepada polisi. Dia merasa geram mendengar Nasya di bius.


Selesai dimintai keterangan mereka di ijinkan polisi untuk kembali ke Surabaya, sedangkan Rayhan kasusnya di pindahkan ke Surabaya juga.


Mereka kembali ke Surabaya, perjalanan mereka tempuh dalam waktu enam jam dan akhirnya mereka tiba di Surabaya. Gilang langsung mengarahkan mobil ke kediaman Pak Bramantoro. Mereka tiba lalu terlihat Pak Bramantoro dan istrinya sedang berdiri di teras sedang menunggu kepulangan Nasya.


Nasya turun dari mobil lalu istri Pak Bramantoro langsung berlari menyambut Nasya, dia memeluk Nasya dengan erat.


“Kamu baik-baik saja, Sayang,” tanya mama Nasya seraya memegang kedua pipi Nasya.


“Iya, Ma. Aku baik-baik saja, kandunganku juga baik,” sahut Nasya seraya tersenyum dan memeluk mamanya.


Pak Bramantoro menghampiri Kairos dan Gilang kemudian dia memeluk Kairos dengan erat.


“Terima kasih sudah membawa Nasya pulang,” ucap Pak Bramantoro kepada Kairos


“Ini semua berkat Gilang, Pak.” Kairos tersenyum kepada Gilang kemudian dia menepuk lengan Gilang. “Terima kasih ya, kalau tidak ada kamu aku tidak tahu mencari Nasya kemana.”


“Itu berkat ponselmu, kalau tidak ada ponselmu mana aku tahu kalau posisi Nasya di Lumajang,” canda Gilang lalu mereka tertawa.

__ADS_1


Pak Bramantoro mengajak mereka masuk lalu Kairos mengenalkan Acel dan Mecy kepada Pak Bramantoro dan istrinya.


__ADS_2