End Of Love

End Of Love
SS2 EOL Eps 63


__ADS_3

Kairos, Gilang dan Nasya tiba di sulawesi, mereka di jemput pakai mobil perusahaan. Dari bandara mereka langsung menuju ke lokasi tambang.


Gilang duduk di depan sedangkan Kairos dan Nasya duduk di belakang.


Mata Kairos memandang keluar dan menikmati perjalanannya, sementara Nasya sedikit-sedikit melirik Gilang.


Apakah dia sudah punya pacar? Tanya Nasya dalam hati lalu dia memalingkan wajahnya memandang keluar jendela.


Jalanan becek karena hujan seharian, mobil tidak bisa sampai ke lokasi tambang. Mereka turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki.


Kairos menatap Nasya yang sedang sibuk mengambil barang-barangnya di mobil.


"Makanya, sudah tahu mau ke lokasi tambang, bawah barang seperti mau pindahan rumah," ujar Kairos lalu terdengar tawa Gilang.


Nasya menunjukkan wajah cemberut kepada Kairos kemudian dia melingkarkan tas di pinggangnya.


Gilang tersenyum kemudian dia menghampiri Nasya dan mengambil koper Nasya.


Kairos menghampiri Gilang dan mengambil koper Nasya dari tangan Gilang.


"Biar aku saja yang bawah," ujar Kairos sambil tersenyum kepada Gilang.


Dari kejauhan berlari beberapa orang pria, mereka menghampiri Kairos dan menyapanya.


"Selamat sore Tuan, biarkan kami yang membawa barang-barang kalian," ujar salah satu pria lalu memerintahkan yang lainnya untuk membawa barang-barang milik Kairos, Gilang dan Nasya.


Mereka bertiga berjalan di belakang para pekerja tambang itu.


Kairos berjalan di belakang Nasya, sedangkan Gilang berada di depan.


Kairos tersenyum melihat kaki Nasya masuk ke lubang yang tergenang dengan air.


Saat Nasya akan jatuh, dengan cepat Kairos menahannya. Kairos kehilangan keseimbangan lalu dia terpeleset di ikuti Nasya.


Nasya menindih tubuh Kairos. Mereka berdua saling bertatap mata.


"Cepat berdiri, jangan berlama-lama di atas tubuhku," ujar Kairos dengan mendorong pelan tubuh Nasya.


Nasya mencoba berdiri tapi pijakannya licin dan akhirnya dia jatuh menimpa Kairos kembali.


Pakaian mereka berdua menjadi kotor, Gilang tertawa melihat Kairos dan Nasya kemudian dia membantu Nasya berdiri.


Kairos berdiri dan mengebas becek yang menempel di pakaiannya. Mereka melanjutkan perjalanannya.


Nasya terlihat sudah lelah lalu Kairos meminta kepada pekerja untuk berhenti.


Mereka beristirahat sejenak, tidak lama kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali.


Akhirnya mereka tiba di mes, para pekerka meletakkan barang-barang mereka di lantai kemudian mereka mengantar Kairos dan Nasya ke kamar mandi.


Kairos masuk ke kamar mandi begitu juga Nasya dia masuk ke kamar mandi satunya dan membersihkan lumpur yang menempel di badannya.


Kairos juga membersihkan tubuhnya, dia keluar hanya menggunakan underwear boxer, Kairos ingin mengambil handuk dan pakaian.


Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Nasya. Kairos terkejut mendengar Nasya berteriak.


Nasya terkejut melihat Kairos hanya menggunakan underwear boxer. Dengan cepat dia memutar tubuhnya membelakangi Kairos.

__ADS_1


Kairos menghampiri Nasya dan menarik dengan kasar tangan Nasya sehingga Nasya tersandar di dada Kairos dengan posisi membelakangi Kairos.


"Mengapa harus berteriak melihatku, memangnya aku monster," ujar Kairos sambil melepaskan tangan Nasya.


Nasya langsung menjauh dari Kairos dan memperhatikan sesuatu yang menonjol di balik underwear boxer.


Nasya memalingkan wajahnya kemudian dia meninggalkan Kairos.


Badan Nasya basah, dia meminta salah satu pekerja untuk mengantarnya ke kamar.


Pekerja mengantar Nasya ke kamar kemudian dia meletakkan barang-barang Nasya dan meninggalkan Nasya sendiri.


Nasya membuka koper dan mengambil pakaiannya. Dia memakai pakaian sambil menggerutu.


"Ngapain sih harus datang ke tambang." Nasya duduk di sisi tempat tidur


Di depan mes, Kairos berbincang-bincang dengan Gilang lalu Nasya keluar dari kamar dengan menggunakan celana pendek.


Mata Kairos dan Gilang langsu tertuju ke paha putih mulus itu.


Di depan kamar Nasya mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih basah itu.


Kairos terus memperhatikan Nasya. Gilang tersenyum melihat Kairos yang terus memperhatikan Nasya.


Gilang menyikut lengan Kairos kemudian dia tertawa.


"Apakah kamu menyukainya," goda Gilang lalu Kairos tertawa.


"Menyukainya? Tidak mungkin, aku tidak tertarik padanya," ujar Kairos dengan menepuk perut Gilang.


"Kalau kamu tidak tertarik padanya, aku akan mendekatinya. Sepertinya dia juga menyukaiku." Gilang ingin melihat reaksi Kairos.


Kairos tersenyum dan melipat tangan di depan dadanya.


"Silahkan, semoga kamu berhasil." Kairos tersenyum kemudian dia masuk ke kamarnya.


Gilang mengangkat kedua keningnnya kemudian dia menghampiti Nasya dan menyapanya.


"Sudah terlihat segar ya." Gilang menarik kursi kemudian dia duduk.


Nasya tersenyum dan duduk di depan Gilang, matanya mencari Kairos tapi dia tidak menemukkannya.


"Iya, tadi badanku penuh dengan lumpur. Lagi pula untuk apa kita datang ke tambang?" ujar Nasya dengan kesal.


"Ada yang ingin di lihat Kairos, karena rencananya dia akan membangun smelter di tambang ini.


"Oh ..." gumam Nasya seolah-olah mengerti.


"Kamu tahu apa itu smelter?"


Nasya menggeleng-gelengkan kepala lalu Gilang tertawa.


"Smelter itu sendiri adalah sebuah fasilitas pengolahan hasil tambang yang berfungsi meningkatkan kandungan logam seperti timah, nikel, tembaga, emas, dan perak hingga mencapai tingkat yang memenuhi standar sebagai bahan baku produk akhir. Proses tersebut telah meliputi pembersihan mineral logam dari pengotor dan pemurnian," jelas Gilang sambil tersenyum.


"Oh ... begitu," gumam Nasya lagi sambil menganggukkan kepala.


Kairos keluar dari kamar dan melihat Gilang dan Nasya berbincang-bincang di depan kamar Nasya, Kairos memalingkan wajahnya saat Nasya menatapnya. Gilang melihat Kairos lalu dia tersenyum.

__ADS_1


“Hei, Kairos. Ayo kesini,” panggil Gilang


Kairos hanya melambaikan tangan dan kembali masuk ke kamarnya, dia berbaring dan mengeluarkan foto putrinya, dia melihat jam menunjukkan pukul 19:00 malam. Kairos mengambil ponsel kemudian dia menghubungi Jessica, dia menghidupkan video call lalu terhubung dengan Jessica.


“Hi, Mom. Dimana putriku?” tanya Kairos dengan tersenyum melihat Jessica di layar ponsel.


“Dia sedang bersama papa, sebentar mama ke kamar.” Nampak di layar ponsel Jessica sedang berjalan ke kamar. Mata Kairos tertuju terus di layar ponsel lalu dia melihat Carlos dan Laura sedang bermain di tempat tidur. Kairos melambaikan tangan kepada Laura dan berbincang dengan Laura. Walaupun belum jelas bicara tapi Kairos mengerti apa yang di maksud Laura.


***


Amerika


Cella pulang dari dokter kemudian dia masuk ke dalam kamar, Cella pergi ke kamar mandi. Tidak lama kemudian dia keluar dan mengambil kunci mobil, cella meraih tasnya dan keluar dari kamar. Cella masuk ke dalam mobil lalu dia langsung meluncur ke rumah sakit. Dia ingin bertemu dengan Joe.


Cella tiba kemudian dia masuk ke dalam rumah sakit, dia langsung menuju ke ruangan Joe. Tanpa mengetuk pintu Cella langsung masuk. Dia tersenyum kepada Joe dan duduk di pangkuan Joe.


“Kamu darimana?” tanya Joe dengan melingkarkan tangannya di pinggang Cella.


“Um, aku dari dokter?”


Joe mengkerutkan dahinya dan memegang pipi Cella, dia menatap Cella dengan heran.


“Kamu lagi sakit?”


Cella tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya di punggung Joe.


“Aku tidak sakit tapi … ini,” Cella memberikan sebuah amplop kepada Joe.


Joe mengambil amplop putih dari tangan Cella, dia menatap Cella kembali dan bertanya.


“Apa ini, Sayang?”


“Buka saja dan kamu baca.” Cella ingin memberikan kejutan kepada Joe.


Joe membuka amplop putih itu, dia mengeluarkan selembar kertas dan membacanya, wajah Joe berubah. Dia mengkerutkan dahinya kemudian dia menata Cella kembali.


“Kamu …?? Joe terhenti kemudian dia membaca kembali, dia tidak percaya dengan apa yang di abaca, “kamu hamil?” Joe membelalakan mata kemudian dia memeluk Cella. Dia sangat bahagia.


Joe berdiri dan melepaskan pakaian dokternya kemudian dia mengajak Cella keluar, mereka pergi ke parkiran lalu masuk ke dalam mobil. Joe langsung menjalankan mobil menuju ke rumah orang tuanya. mereka tiba lalu Joe dan Cella langsung masuk ke rumah.


“Mom … Mom …” panggil Joe sembari menarik tangan Cella.


Nyonya Arnets keluar menemui Joe dan Cella dia tersenyum melihat mereka berdua.


“Sayang, ada apa berteriak-teriak?”


“Mom, sebentar lagi Mommy dan daddy akan memilik cucu. Cella sedang hamil sekarang,” ujar Joe dengan gembira.


Nyonya Arnets terkejut kemudian dia langsung memeluk Cella, dia sangat bahagia mendengar Cella hamil.


“Akhirnya aku akan memiliki cucu,” ujar Nyonya Arnets kemudin dia melepaskan pelukkannya dan mencium kedua pipi Cella, “Sayang, aku bahagia mendengarnya,”


“Terima kasih Nyonya,” ucap Cella


Nyonya Arnet mengajak mereka ke ruang makan dan menyediakan makan siang untuk mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2