
Carlos mengadakan pertemuan di rumah Mike, mereka mengumpulkan anak buah mereka dan memberikan arahan. Sedangkan Charlie dia juga menambahkan anak buah untuk Carlos, dia memberikan anak buah yang profesional dan hebat kepada Carlos.
Mereka menempatkan beberapa anak buah di rumah Jeremmy dengan senjata lengkap. Cctv di mana-mana.
Begitu juga di kediaman Federico, mereka menempatkan anak buah mereka dengan senjata yang lengkap. Cctv juga di pasang di mana-mana.
Setiap sudut rumah Jeremmy dan Federico di jaga oleh anak buah Carlos.
Di rumah Carlos, Charlie menempatkan orang-orang yang hebat.
Selesai mengadakan pertemuan dengan Mike dan Charlie Carlos kembali ke rumah.
Sedangkan Diego terkejut mendengar Mecy lari bersama Acel. Dia mengerahkan anak buahnya untuk mencari Mecy, Diego tidak tahu kalau Mecy sudah berada di Spanyol.
Anak Tuan Rolland membantu Diego untuk mencari Mecy, dia juga mengerahkan anak buahnya.
Tapi mereka tidak berhasil, Diego sangat marah. Dia ingin memberi pelajaran kepada Carlos.
Dia dan anak Tuan Rolland mengatur rencana untuk menyerang Carlos dan Mike.
Kita lihat saja Carlos, aku akan memberi pelajaran kepada keluargamu. Berani sekali kamu melarikan putriku. Gumam Diego dalam hati, dia sangat geram kepada Carlos dan Acel.
Sedangkan Carlos, dia masuk ke dalam mobil dan pergi menemui Cella, dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Cella dan Joe juga cucunya.
Carlos tiba di kediaman Cella lalu dia mengetuk pintu, pintu terbuka lalu dia melihat Cella. Carlos memeluk dan menciuk kedua pipi Cella.
"Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Carlos sambil berjalan masuk menuju ke ruang tamu.
"Iya, kami baik-baik saja. Joe lagi di rumah sakit, bagaimana dengan mama, Carissa dan Laura. Apakah mereka baik-baik saja?" Cella balik bertanya kepada Carlos.
"Mereka baik-baik saja, Sayang. Mama, Carissa dan Laura juga oma lagi di Spanyol. Begitu juga Acel dan Mecy, mereka berada di sana.
Cella mengkerutkan dahinya, dia menatap Carlos dan bertanya.
"Mereka sedang berlibur?"
"Tidak, Sayang. Papa akan menjelaskan semuanya kepadamu." Carlos berdiri dan duduk di samping Cella. Carlos memegang tangan Cella dan menjelaskan semuanya kepada Cella.
"Oh .. jadi Tuan Diego menolak lamaran Acel?" sambil menarik napas Cella menatap Carlos, "Pap, kita harus berhati-hati. Seperti yang papa katakan mereka bukan orang sembarangan,"
"Iya, Sayang. Makanya papa ingin kalian untuk sementara tinggal di rumah orang tua Joe. Nanti papa menempatkan beberapa anak buah di rumah orang tua Joe juga," sahut Carlos sambil matanya mencari putra Cella.
"Dimana cucuku?"
"Dia masih tidur, Pap. Nanti aku akan beritahu Joe," ujar Cella sambil berdiri. "Ayo pap kita ke kamar Bryan."
Carlos berdiri dan ikut bersama Cella, mereka ke kamar Bryan. Carlos tersenyum melihat Bryan yang sudah bangun dan sedang bermain sendiri.
"Sayang, kamu sudah bangun ya," ujar Cella sambil mengangkat Bryan dari box dan menggendongnya.
"Berikan dia pada papa," pinta Carlos seraya mengambil Bryan dari tangan Cella.
Carlos mencium kedua pipi Bryan dan membawanya keluar. Carlos duduk dan bermain-main dengan Bryan.
***
Kairos mendapatkan nomor Nasya dari Pak Bramantoro, dia langsung menghubungi Nasya. Terdengar suara Nasya di seberang telepon.
"Hallo, siapa ini?"
__ADS_1
"Kairos, aku sedang berada di depan rumahmu. Aku tunggu!" Kairos langsung memutuskan panggilannya sebelum mendapat jawaban dari Nasya.
Sedangakan Nasya terbengong di dalam kamarnya.
"Pasti papa yang memberikan nomorku kepada Kairos. Ich ..." Nasya berdiri kemudian dia berdiri dan pergi ke jendela, dia melihat ada mobil terparkir di depan rumahnya.
Nasya mengganti pakaiannya kemudian dia keluar dari kamar. Nasya langsung pergi menemui Kairos. Dia menghampiri mobil itu lalu pintu mobil terbuka.
"Masuk!" Suara Kairos memerintah Nasya.
Nasya bagaikan di cocok hidungnya, dia masuk dan duduk. Nasya menutup pintu mobil kemudian Kairos langsung menjalankan mobilnya.
"Mau kemana?" tanya Nasya tapi Kairos tidak menjawab dia hanya diam dan menyetir.
Ich ... Nasya menggerutu dalam hati.
Kairos membawa Nasya kerumahnya. Mereka tiba lalu Kairos turun dari mobil di ikuti Nasya.
"Ayo masuk."
Nasya masuk mengikuti Kairos dari belakang. Kairos duduk dan menatap Nasya yang masih berdiri di hadapannya.
Kairos berdiri dan menarik tangan Nasya lalu dia mengajak Nasya duduk. Kairos duduk di samping Nasya kemudian dia memperhatikan perut Nasya.
Nasya menatap Kairos, jantungnya berdebar saat tangan Kairos menyentuh perutnya.
"Kamu mau apa?" tanya Nasya sambil menepis tangan Kairos.
"Aku hanya ingin memberi kasih sayang kepada anakku yang ada di perutmu itu," sahut Kairos sambil meletakkan kembali tangannya dan mengelus perut Nasya.
Nasya terdiam, dia membiarkan Kairos mengelus perutnya, napasnya terhenti saat Kairos mencium perutnya, terlihat lehernya bergerak menelan saliva.
Kairos teringat saat Laura hamil, dia sering melakukan hal seperti yang dia lakukan kepada Nasya. Memberikan perhatian kepada janin yang ada di dalam kandungan.
Tanpa terasa air matanya menetes, dia sangat merindukan Laura. Wanita yang sangat dia cintai.
Nasya memperhatikan air mata yang menetes di pipi Kairos.
Apakah dia teringat istrinya yang sudah meninggal itu. Tanya Nasya dalam hati, dia merasa kasihan kepada. Tanpa sadar dia membelai rambut Kairos.
Kairos meletakkan kepalanya di paha Nasya dan meraskan belaian tangan Nasya di kepalanya.
"Aku sangat merindukannya," ujar Kairos sambil menangis.
Nasya tidak bisa berkata-kata, dia hanya menatap Kairos yang tidur di pahanya.
"Seandainya dia mengikuti kata-kataku, dia pasti masih hidup," kata Kairos sambil menyeka air matanya.
"Jangan diingat lagi, dia sudah tenang di sana." sahut Nasya dengan suara pelan seraya membelai rambut Kairos.
Tiba-tiba ponsel Nasya berbunyi, Nasya meraih tas yang ada di atas meja dan mengambil ponselnya. Dia melihat panggilan dari Rayhan.
Nasya menatapa Kairos yang masih berbaring di pahanya, dia bingung mau menjawab telepon dari Rayhan.
"Jawab saja," ucap Kairos dengan suara pelan kemudian dia bangun dan duduk.
Nasya tidak mau menjawab telepon dari Rayhan, dia mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tas.
"Rayhan yang meneleponmu?" tanya Kairos sambil bersandar di sandaran sofa dan menatap Nasya.
__ADS_1
"Iya," jawab Nasya sambil meletakkan kembali di atas meja.
"Kenapa kamu tidak menjawabnya?"
"Tidak kenapa-kenapa," sahut Nasya dengan memalingkan wajahnya.
Kairos memiringkan tubuhnya kemudian dia kembali memegang perut Nasya dan mengelusnya.
"Kapan kamu akan membatalkan pernikahanmu dengan Rayhan?"
"Aku tidak tahu," sahut Nasya dengan menunduk.
"Apakah kamu ingin aku yang mengatakan kepada Rayhan?"
"Jangan, please. Biar aku saja, biar aku yang mengatakannya," mohon Nasya kepada Kairos.
"Baiklah, jangan lama-lama," ujar Kairos sambil terus mengelus perut Nasya.
Mereka berdua saling bertatap mata, wajah Kairos semakin mendekat di wajah Nasya.
Nasya langsung memejamkan matanya saat bibir Kairos menyentuh bibirnya. Dia meletakkan kedua tangannya di dada Kairos dan mencoba mendorangnya dengan perlahan.
Tapi Kairos memegang tangan Nasya dan menahannya. Nasya mulai merasakan lidah Kairos menerobos masuk ke dalam mulutnya.
Nasya memilih diam, dia tidak mau membalas ciuman Kairos. Kembali dia mencoba mendorong Kairos tapi Kairos menahannya bahkan membaringkan Nasya di sofa sambil tetap mencium bibir Nasya.
Tangan Kairos mulai meremas dada Nasya tapi Nasya menahannya.
Kairos tidak berhenti dia terus berusaha meremas dada Nasya sambil memainkan lidahnya di dalam mulut Nasya.
Nasya kembali mendorong tubuh Kairos dan memiringkan lehernya menghindar dari serangan ciuman Kairos.
"Cukup, Kairos. Jangan lakukan itu." Nasya terus mendorong Kairos.
Akhirnya Kairos berhenti kemudian dia duduk. Kairos memegang kepalanya lalu dia berdiri dan pergi ke kamarnya.
Dia berbaring dan menekuk tubuhnya.
"Aku sangat mencintaimu Laura, aku rindu kamu." Kairos menangis di kamar.
Nasya memperhatikan Kairos yang sedang menangis di kamar. Dia masuk dan duduk di sisi tempat tidur.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
Mendengar suara Nasya, cepat-cepat Kairos menghapus air matanya.
Kairos bangun dan duduk di tempat tidur, dia menatap Nasya. Matanya begitu sayu.
"Aku sangat rindu istriku, aku sangat mencintainya." Kairos kembali berbaring dia membelakangi Nasya.
"Maaf aku sudah berlaku tidak sopan padamu," ucap Kairos sambil memutar tubunya menghadap Nasya.
"Tidak apa-apa, aku mengerti," sahut Nasya sambil menatap mata Kairos.
"Tinggalah bermalam disini, aku janji tidak akan menyentuhmu. Aku merasakan kesepian,"
"Baiklah, tapi kamu harus pegang janjimu," ujar Nasya.
"Iya, aku janji." Kairos menarik tangan Nasya dan mengajak Nasya tidur di sampingnya.
__ADS_1
Nasya tidur di samping Kairos lalu Kairos mengelus perut Nasya. Dia membayangkan Nasya adalah Laura.