
Kairos tiba di Amerika, dia tidak memberitahukan kepada Carlos dan Jessica kalau dia akan Amerika. Kairos ingin memberikan kejutan kepada mereka. Kairos memanggil taxi lalu taxi berhenti di depan Kairos.
Kairos masuk ke taxi lalu sopir taxi mengantar Kairos ke rumah orang tuanya. Kairos tiba lalu dia membayar taxi dan mengambil tas punggungnya. Kairos pergi ke dalam, dia masuk perlahan-lahan. Kairos melihat tidak ada siapapun kemudian dia naik ke lantai dua, Kairos membuka kamar Laura dan melihat Laura sedang bermain di box.
Kairos tersenyum kemudian dia mengangkat dan menggendong Laura. Kairos mencium kedua pipi Laura berulang kali.
“Kesayang papi semakin cantik,” ujar Kairos sambil memegang pipi Laura dan membawa Laura keluar dari kamar. Laura melingkarkan tangan di leher Kairos, dia sangat senang melihat Kairos pulang.
“Kairos pergi ke kamar Jessica kemudian dia mengetuk pintu, tidak lama kemudian pintu terbuka. Kairos tertawa melihat mimik wajah Jessica yang terkejut melihatnya.
“Sayang, kamu ….” Jessica terhenti bicara lalu Kairos tertawa kembali dan memeluk Jessica.
“Aku tidak memberi kabar karena aku ingin membuta kejuta,” ujar Kairos sambil menarik tangan Jessica keluar dari kamar dan pergi ke ruang santai.
“Apakah kamu baik-baik saja selama di Indonesia?” tanya Jessica seraya mengambl Laura dari Kairos dan duduk di sofa.
“Iya, Mam. Aku baik-baik saja, Mama tidak usah khawatir. Oh ya, papa belum pulang?”
“Iya, dia lagi di kediaman Paman Mike. Ada yang sedang mereka rencakan dengan Charlie,” sahut Jessica dengan tersenyum. “Bagaimana perusahan di Indonesia, apakah lancar-lancar saja?”
“Tentu saja, Mam. Aku rencana ingin bangun smelter di dekta tambang, tapi sepertinya keungan perusahaan belum cukup,”
“Kalau project itu bagus, mama siap bantu,” Ujar Jessica dengan wajah serius.
“Tentu saja bagus. Aku sudah perhitungkan matang-matang, Mam,”
“Baiklah, kamu hitung berapa anggaran biaya dan selisihnya berapa. Nanti selisih itu yang akan mama ambil dari perusahaan Well’s Group,”
“Seriua, Mam?” Wajah Kairos terlihat berbinar mendengar Jessica akan membantunya.
“Tentu saja mama serius, Sayang.” sahut Jessica dengan tersenyum lalu terdengar bunyi mobil masuk.
"Itu pasti papa," ujar Kairos seraya berdiri. Dia ingin menyambut Carlos, Kairos berjalan ke depan dan melihat Carlos turun dari mobil.
Sedangkan Carlos, dia terkejut melihat Kairos yang berdiri di depan pintu.
Dia berlari dan memelik Kairos, mereka berdua saling berpelukan dengan erat.
"Ah, papa sangat rindu padamu," ucap Carlos dengan memegang kedua pipi Kairos dan mengecup kening Kairos.
"Aku juga rindu padamu." Kairos dan Carlos berpelukan kembali.
Carlos mengajak Kairos masuk, mereka berjalan ke dalam sambil berbincang-bincang.
Carlos melihat Laura kemudian dia menggendongnya dan duduk di sekat Jessica.
Kairos duduk di depan Jessica dan Carlos, dia tersenyum melihat Laura yang terus di cium Carlos.
"Oh ya. Mam, Pap. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian."
Carlos berhenti bermain dengan Laura lalu dia menatap Kairos sambil mengkerutkan dahi.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Apakah perusahaan baik-baik saja?" tanya Carlos seraya mendudukan Laura di antara dia dan Jessica.
"Perusahan baik-baik saja, Pap. Aku ingin mengatakan kepada kalian kalau awal bulan depan aku akan menikah."
Jessica dan Carlos terkejut mereka berdua saling tatap kemudian mereka berpaling menatap Kairos.
"Benarkah?" tanya Jessica dengan heran.
"Iya, Mam. Aku ingin melangsungkan pernikahanku di Tomohon dan aku ingin semua keluarga hadir. Oma, Opa Federico dan Opa Jeremmy harus hadir begitu juga Paman Mike. Pokoknya semua keluarga harus ke Indonesia.
"Mengapa kamu begitu cepat ingin menikah?" tanya Carlos dengan menatap Kairos.
"Begini, Pap ...." Kairos menceritakan semua tentang dia dan Nasya kepasa Carlos dan Jessica.
Carlos berdiri dan duduk di samping Kairos, dia meletakkan tangan satunya di punggung Kairos.
"Papa bangga padamu, Nak. Kamu laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Mudah-mudahan suatu waktu kamu bisa mencintai Nasya seperti kamu mencintai Laura."
Jessica juga berdiri dan memeluk Kairos, dia mengecup kening Kairos.
"Mama sangat bangga padamu," ujar Jessica dengan memegang pipi Kairos.
"Aku hanya seminggu di sini, aku harus kembali ke Indonesia untuk mengurus pernikahanku."
Jessica dan Carlos menganggukan kepala dan kembali duduk dekat dengan Laura.
"Oh ya Acel mana, Mam?"
"Dia masih di Spanyol, besok dia dan Mecy kembali ke sini," jawab Jessica dengan tersenyum.
"Oh .." gumam Kairos, "apakah mereka berlibur?"
"Tidak, Nak. Mereka sedang menyingkir dari orang tua Mecy,"
"Ada apa dengan orang tua Mecy? Apakah dia tidak suka dengan Acel?" tanya Kairos penasaran.
"Begini, Kairos ...." Carlos menceritakan semua yang terjadi kepada Kairos, tampak wajah Kairos berubah.
"Lalu sekarang bagaimana dengan Diego? Apakah dia masih mencari Acel?"
"Iya, tapi papa akan hadapi dia, papa akan tunjukan kepadanya siapa keluarga kita supaya dia tidak main-main lagi dengan keluarga ini," ujar Carlos dengan geram
Jessica memegang tangan Carlos dan menenangkannya.
***
Indonesia
Nasya mengajak Gilang untuk menemaninya pergi ke Mall, Gilang menyetir mobil dan Nasya duduk di samping Gilang.
"Mengapa waktu itu kamu menghindar dari Kairos?" tanya Gilang sambil menyetir.
"Aku waktu itu sangat membencinya, dan aku tidak berpikir kalau aku bakal hamil," sahut Nasya
__ADS_1
"Aku pikir kamu menyukai Kairos,"
"Gilang, aku tidak suka laki-laki bule. Aku malah sempat suka sama kamu." Nasya keceplos kepada Gilang kalau sebenarnya dia lebih meyukai Gilang.
"What?!" Gilang mendadak menginjak rem mobil dan menepikannya. Dia menatap Nasya dengan heran.
"Mengapa kamu menatapku seperti itu," tanya Nasya seraya memalingkan wajahnya.
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak," sahut Nasya, "sudah jalankan mobilnya. Jangan menatapku terus, nanti kamu jatuh cinta padaku."
"Kalau aku jatuh cinta padamu, itu bagus," canda Gilang sambil menjalankan kembali mobilnya.
"Iya, dan kamu akan berhadapan dengan si direktur aneh itu."
Gilang langsung tertawa mendengar Nasya berkata begitu.
"Setelah kamu hamil dan sering bersama Kairos, apakah kamu sudah jatuh cinta padanya?"
"Belum, aku belum mencintainya," sahut Nasya dengan wajah cemberut.
"Tapi kamu dan dia sering melakukan hubungan itukan?"
Nasya menatap Gilang dengan heran, dia mengkerutkan dahi dan bertanya.
"Hubungan apa?"
Gilang langsung tertawa terpingkal-pingkal. Nasya semakin heran melihat Gilang.
"Mengapa kamu tertawa? Ada yang lucu?" tanya Nasya lagi dengan heran.
"Nas, maksud aku hubungan sex," jelas Gilang lalu Nasya memukul lengan Gilang. Gilang kembali tertawa.
"Apakah sering?"
"Iya, kenapa?" Nasya balik bertanya.
"Tidak kenapa-kenapa," sahut Gilang, "apakah kamu menikmatinya?"
Nasya membelalakan mata lalu kembali Gilang tertawa.
"Apakah aku harus menjawab dengan detail?" Nasya mulai bercanda dengan Gilang.
"Iya, aku ingin mendengarnya," canda Gilang.
"Um .. aku sangat menikmati permainan Kairos, ya ... walaupun dia sering menyebutku Laura," ujar Nasya
"Benarkah? Dia menyebutmu Laura? Apakah kamu sakit hati?" tanya Gilang lagi dengan penasaran.
"Tidak, untuk apa aku marah. Dia butuh aku juga butuh dan lagipula aku tidak mencintainya," jawab Nasya dengan tersenyum kepada Gilang.
"Apakah Kairos besar?"
Kembali Nasya melototkan matanya lalu dia memukul lengan Gilang.
"Ayolah," gurau Gilang.
"Kamu gila ya. Kamu tahu aku tidak pernah melakukan hubungan dengan laki-laki. Kairos laki-laki pertama yang tiduri aku. Aku baru pertama kami melihatnya, jadi aku tidak tahu itu besar atau kecil." Nasya kembali memalingkan wajahnya.
"Kamu serius dengan perkataanmu tadi?" tanya Gilang sambil matanya lurus kedepan.
"Perkataan yang mana?" Nasya mengkerutkan dahinya dan menatap Gilang
"Tadi kamu bilang menyukaiku bukan?"
"Iya, awalnya. Tapi sekarang sudah tidak lagi."
"Oh .. begitu," gumam Gilang.
Akhirnya mereka tiba di Mall, Nasya langsung masuk ke salah satu toko dan melihat-lihat baju hamil.
Sedangkan Gilang terus menemani Nasya matanya selalu mengawasi kalau-kalau Rayhan mengikuti mereka.
Selesai berbelanja Nasya dna Gilang kembali ke rumah.
****
Amrika
Acel dan Mecy tiba di airport Lax. Mereka di jemput oleh Kairos.
Tampak Kairos sedang menunggu di ruang kedatangan, matanya mencari-cari Acel. Tiba-tiba punggungnya di tepuk.
Kairos menoleh kemudian dia berdiri dan langsung memeluk Acel. Mereka berdua saling berpelukan.
Kairos melepaskan pelukkannya kemudian dia bersalaman dengan Mecy.
Mereka masuk ke mobil dan pulang.
Sementara di kediaman Joe dan Cella, terlihat mereka berdua lagi besiap-siap. Mereka ingin berkunjung ke rumah Carlos dan Jessica. Joe dan Cella akan makan malam bersama di rumah Jessica dan Carlos.
"Kamu sudah selesai, Sayang," tanya Joe sambil menggulung lengan kemejanya.
"Iya, aku sudah selesai. Aku akan ke kamar Bryan." Cella pergi ke kamar Bryan kemudian dia mengangkat Bryan dan menggendongnya.
Cella kembali ke kamar dan memanggil Joe.
"Ayo, honey. Mereka pasti sedang menunggu kita,"
"Iya, Sayang. Ayo!" ajak Joe kepada Cella lalu mereka keluar kamar.
Joe mengambil kunci mobil lalu dia mengatur booster seat untuk Bryan. Cella meletakkan Bryan di booster seat kemudian dia menutup pintu mobil dan duduk di depan.
Joe masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya menuju ke kediaman Carlos.
__ADS_1
Mereka tiba laku Kairos menyambut Cella dan Joe, dia langsung menggendong Bryan dan membawanya ke dalam.
Joe dan Cella langsung menyapa Jessica dan Carlos mereka mencium kedua pipi Jessica dan Carlos kemudian Cella memeluk Acel dan menyapa Mecy.
Cella melihat Carissa kemudian dia memeluknya.
"Adikku yang paling cantik, apakah kamu baik-baik saja?"
"Tentu saja, Cella. Aku kangen dengan Bryan," sahut Carissa.
"Iya, Sayang. Makanya aku datang membawa Bryan karena aku tahu kamu pasti kangen kepada Bryan," ujar Cella dengan mencubit pipi Carissa.
Jessica tersenyum melihat Carissa lalu dia mengajak mereka ke meja makan.
Mereka semua duduk di meja makan, sambil makan mereka berbincang-bincang tentang pernikahan Kairos.
"Jadi Kairos, kamu ingin menikah di tomohon?" tanya Cella seraya menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Iya, Cella. Aku ingin menikah di sana," sahut Kairos sambil tersenyum.
"Kamu sudah dapat tempat yang bagus?" sambung Acel
"Iya, aku sudah mendapatkannya. Oh ya, Mam. Aku ingin menggunakan pakaian adat, nanti sekembalinya di Indonesia aku akan menyewa EO Wedding untuk mengatur pernikahanku."
"Itu bagus, Sayang. Nanti mama akan hubungi kakak mama untuk mencari sanggar tari-tarian adat di Tomohon.
"Terima kasih, Mam," ucap Kairos lalu mereka melanjutkan makan.
Mereka terlihat sangat bahagia.
Sekembali dari Spanyol Mecy tinggal bersama Acel di kediaman Carlos dan Jessica.
Sedangkan Diego, dia berusaha untuk membalas perbuatan Carlos terhadap anak Tuan Rolland.
Dia ingin membunuh Carlos dan Acel. Dia mengumpulkan anak buahnya dan menyerang kediaman Carlos.
Di kediaman Carlos, terlihat mereka masih berbincang-bincang di ruang makan lalu terdengar suara tembakan di depan. Carlos langsung berdiri.
"Jessi, Cella bawa anak-anak ke kamar dan masuk ke kamar mandi. Acel hubungi Charlie dan Mike sekarang!" perintah Carlos kemudian dia berlari masuk ke ruang kerja dan mengambil senjata.
Kairos dan Joe tidak tinggal diam, Joe mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan membawa Jessica dan Cella serta anak-anak pergi ke kamar. Joe memasukkan mereka ke kamar mandi.
Sedangakan Acel, dia membawa Mecy ke kamarnya dan menyuruh mecy untuk masuk ke kamar mandi. Acel mengeluarkan ponsel dan menghubungi Charlie.
Terlihat Kairos berlari ke kamarnya dan membuka lemari, dia mengambil senjata dan keluar mencari Carlos.
Dia melihat Joe keluar dari kamar Jessica lalu Kairos mengajak Joe untuk ke depan membantu anak buah Carlos.
Carlos keluar dari ruang kerja sambil membawa senjata. Carlos mematikan semua lampu di dalam rumah, dia mengokang shot gun dan memecahkan jendela kaca samping rumahnya.
Dia membidik salah satu musuh yang memegang senjata otomatis. Carlos melepaskan tembakan dan mengenai musuh itu. Tubuh musuh itu terpental ke tanah.
Sedangkan Kairos dan Joe, mereka berdua keluar lalu Kairos melepaskan tembakan kepada salah satu musuh yang sedang berlari mencari perlindunga.
Salah satu anak buah Carlos pergi menyalakan semua lampu taman bahkan lampu sorot sehingga seluruh pekarangan rumah menjadi terang.
Kairos dengan mudah menembak anak buah Diego. Joe berlari mencari tempat perlindungan lalu anak buah Diego melepaskan tembakan kepadanya dan mengenai kaki Joe.
Kairos melihat Joe tertembak kemudian dia melepaskan beberapa tembakan kepada orang itu kemudian dia berlari ke arah Joe. Kairos langsung membantu Joe berdiri dan membawanya ke dalam.
Acel mengambil senjata dan membantu Carlos. Dia berdiri di samping Carlos dan membidik dengan pistol kepada anak buah Diego yang sedang menembaki anak buah Carlos.
"Acel, Mecy dimana?" tanya Carlos sambil matanya mengawasi di luar.
"Ada di kamarku, Pap. Pap awas!' Acel menembak musuh yang ingin menembak Carlos dari belakang. Musuh langsung tersungkur.
"Terima kasih, Acel. Apakah kamu sudah menghubungi Charlie?"
"Sudah, Pap. Dia dalam perjalanan ke sini, begitu juga Paman Mike." sahut Acel.
"Bagus, papa harus ke depan melihat Kairos dan Joe. Papa khawatir terjadi sesuatu kepada mereka berdua," ujar Carlos kemudian dia pergi keluar di ikuti Acel.
Mereka berjalan membungkuk, Carlos perlahan-lahan membuka pintu kemudian dia memberi isyarat kepada Acel agar berhati-hati.
Sementara di luar anak buah Carlos masih terjadi saling baku tembak dengan anak buah Diego.
Terlihat dari ke jauhan cahaya mobil sedang menuju ke rumah Carlos.
"Itu pasti Paman Mike, Pap."
Carlos memperhatikan mobil-mobil itu dan menarik Acel masuk kembali ke dalam rumah.
"Itu bukan Mike, tapi mereka menambah orang untuk menyerang rumah kita," sahut Carlos.
Dia dan Acel masuk kembali ke dalan dan berlari ke teras belakang.
Sementara Kairos berusaha membawa Joe ke dalam lewat pintu belakang.
Kairos melihat Acel dan Carlos lalu dia berteriak memanggil Acel dan Carlos.
Acel melihat Kairos kemudian dia berlari menghampiri Kairos dan membantu membawa Joe ke dalam.
Di kamar mandi Jessica terus menghubungi Charlie dan menanyakan posisi Charlie sudah dimana.
"Aku dan rekan-rekan masih dalam perjalanan ke rumah kalian," sahut Charlie dari seberang telepon.
"Charlie cepat, Carlos dan anak buahnya sudah terdesak,"
"Tenang Jessi, kami sudah dekat," jawab Charlie lalu Jessica menutup telepon dan menenangkan Laura yang sedang menangis.
Di belakang Carlos dan Acel membawa Joe ke kamar. Acel kembali keluar membantu Kairos.
Sedangkan Carlos dia mengambil kain kafan dan mengikatnya di paha Joe.
Joe mengeluarkan ponsel dan menghubungi Tuan Arnets, dia memberitahukan situasi mereka di rumah Carlos.
__ADS_1
Tuan Arnets mengumpulkan anak buahnya dan pergi ke kediaman Carlos.
Sementara Mike, dia melajukan mobilnya. Dia terlihat sangat khawatir kepada keluarga Carlos.