End Of Love

End Of Love
SS2 EOL Eps 61


__ADS_3

Kairos pergi ke kantor, dia berjalan menuju ke ruang kerja lalu para karyawan menyapanya. Kairos hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia melihat Nasya lalu memberi isyarat agar pergi ke ruang kerjanya.


Kairos masih bersikap dingin kepada Nasya, walaupun Nasya itu sangat cantik. Bayangan Laura masih terus membayanginya. Kairos masuk kemudian dia langsung duduk di ruang kerjanya.


Nasya masuk dan menyapa Kairoa yang sedang menyalakan komputer.


"Selamat pagi, Direktur,"


Kairos menatap Nasya dari ujung kaki sampau ujung rambut.


"Selamat pagi, silahkan duduk," ujar Kairos kemudian Nasya duduk di depan Kairos.


"Ada yang bisa aku bantu?"


"Kalau aku memanggilmu ke sini tentu saja ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, kalau tidak untuk apa aku memanggilmu," sahut Kairos dengan ketus.


"Siapkan tiket, besok lusa aku harus berangkat ke kalimantan, dan kamu juga harus ikut,"


"Aku juga ikut?" tanya Nasya dengan heran, selama ini dia tidak pernah bekerja sampai keluar kota.


"Tentu saja, bukankah itu sudah menjadi tugasmu untuk mendampingi aku kemana saja aku pergi."


Wajah Nasya berubah menjadi lesu, dia takut kalau Kairos meminta untuk sekamar dengannya.


"Kenapa kamu diam saja? Pesan tiket sekarang!" perintah Kairos lalu Nasya berdiri dan keluar dari ruang kerja Kairos.


Dengan wajah cemberut Nasya duduk di kursi lalu Tiara menyapanya.


"Kenapa wajahmu seperti itu?"


"Bu, direktur meminta aku untuk ikut bersamanya ke kalimantan,"


"Lalu?"


"Bu, kalau dia minta sekamar denganku gimana?"


Tiara langsung tertawa dan duduk di depan Nasya.


"Kamu pikir dia seperti itu, dia pria yang baik. Bukan seperti pria yang ada di pikiranmu," sahut Tiara kemudian dia berdiri.


"Pesan saja tiketnya, kamu gak usah khawatir,"


"Baikah, Bu." Nasya membuka laptop dan mencarikan tiket untuk dia dan Kairos.


***


Jessica mengasuh Laura dengan sangat telaten, Jessica dan Carlos sangat menyayangi Laura.


Jessica tidak mau menyewa pengasuh dia ingin merawat sendiri Laura, ke kantor Jessica selalu membawanya.


Hari ini Jessica juga akan membawa Laura ke kantor. Carlos menghampiri Jessica yang sedang menggantikan pakian kepada Laura.


Carlos duduk di sisi tempat tidur kemudian dia memegang tangan Laura dan bermain.


Jessica memberikan Laura kepada Carlos kemudian dia bersiap-siap.


Carlos mengantar Jessica dan Laura ke kantor lalu dia melanjutkan perjalanannya ke kantornya.


Acel dan Cella bertemu di kampus, mereka berdua pergi ke café lalu memesan kopi. Acel dan Cella mencari tempat duduk, mereka duduk dekat jendela.


“Bagaimana perkawinanmu dengan Joe, apakah baik-baik saja?”


“Iya, Acel. Kami baik-baik saja, oh ya apakah Kairos sudah memberi kabar padamu?” tanya Cella sambil mengaduk-aduk kopi.


“Iya, kemarin dia meneleponku, dia sudah beraktifitas sekarang,” sahut Acel seraya meniup kopi yang masi panas.


“Aku kasihan padanya, baru saja dia merasakan kebahagiaan malah Laura meninggal,”


“Iya, aku juga kasihan kepadanya.” Acel menarik napas kemudian dia meminum kopinya.


“Itu mobil Joe, dia mau menjemputku,” ujar Cella sambil berdiri kemudian dia memeluk Acel dan mencium kedua pipi Acel.


“Hati-hati ya!” pesan Acel, dia dan Cella keluar dari café dan berjalan ke parkiran.


Mereka berdua berjalan menghampiri mobil Joe lalu terlihat Joe keluar dari mobil dan tersenyum kepada Cella dan Acel.


Dia menghampiri Acel dan Cella kemudian dia mengecup bibir Cella. Joe juga menyapa Acel dan berbincang-bincang sedikit lalu Cella dan Joe pamitan kepada Acel dan kembali ke rumah.


Acel masuk ke dalam mobil dan mengarahkan mobil ke rumahnya, sementara menyetir dia menerima telepon dari informan. Sang informan memberikan informasi tentang anak Tuan Rolland.


"Baik, terus beri kabar padaku," ujar Acel lalu dia menutup teleponnya.


Acel melajukan mobilnya kemudian dia tiba di rumah. Acel langsung turun dan masuk ke rumah. Dia langsung menuju ke kamar.


Acel membuka laci meja kemudian dia mengambil pistol lalu dia selipkan di pinggangnya, Acel mengambil jacket dan memakainya.


Acel kembali keluar dan naik ke atas motor. Acel langsung menjalankan motornya menuju ke tempat dia dan teman-temannya berkumpul.


Dia tiba lalu memarkirkan motornya dan masuk menemui teman-temannya yang sudah berkumpul.

__ADS_1


"Apakah kalian sudah siap?" tanya Acel sambil menarik kursi dan duduk.


"Kami semua sudah siap Acel, kami menunggu perintah darimu," sahut salah satu teman Acel.


"Baiklah, headset jangan lupa di pakai agar kita bisa berkomunikasi."


Acel berdiri kemudian dia meminta teman-temannya untuk mencoba headset mereka masing-masing.


Acel mengatur rencana untuk mencari anak Tuan Rolland di club.


Malamnya mereka keluar dan naik ke motor mereka masing-masing.


Mereka langsung menuju ke club tempat anak Tuan Rolland berkumpul.


Mereka menghentikan motor jauh dari club. Kemudian mereka mengatur rencana. Acel membagi kelompok


Acel mengajak dua temannya untuk ikut bersamanya, sedangkan yang lain berpencar.


Acel memakai topi kemudian dia mengajak kedua temannya masuk ke dalam club.


Terdengar house music di dalam club, Acel dan kedua temannya masuk lalu duduk di bartender.


Mata Acel terus mencari anak Tuan Rolland.


"Pesan apa, Tuan?" tanya pria yang ada di dalam bartender.


Acel memutar tubuhnya dan menatap kedua temannya.


"Kalian pesan saja minuman, tapi jangan banyak-banyak nanti kalian mabuk dan misi kita gagal," ujar Acel sambil mencari anak Tuan Rollan.


Acel tidak menemukan anak Tuan Rolland kemudian dia berdiri dan pergi ke lantai dua.


Acel mencari meja kosong kemudian dia duduk, mata Acel tertuju kepada seorang pria yang sedang bermesraan dengan wanita pendampingnya.


Pria itu terlihat lebih mudah dari Carlos, Acel terus mengawasi pria itu dan berkomunikasi dengan teman-temannya lewat talkie walki.


Acel mengeluarkan pistol dari balik pinggangnya dan memasang peredam di ujung pistol.


Kedua teman Acel naik ke lantai dua dan duduk dekat Acel. Terlihat teman-teman Acel yang lain juga sudah berada di lantai dua.


Acel memberi isyarat kepada salah satu temannya untuk berdiri dan menghampiri anak Tuan Rolland.


Teman Acel berdiri kemudian dia menghampiri anak Tuan Rolland dan berpura-pura terjatuh di meja yang berisikan minuman.


Anak Tuan Rolland menjadi marah karena minuman tumpah ke celananya. Dia berdiri dan menarik kerak teman Acel dan melayangkan pukulan ke wajah teman Acel.


Tiba-tiba naik beberapa anak buah dari anak Tuan Rolland, Acel dan teman-temannya terlibat baku hantam dengan anak buah Tuan Rolland.


Salah satu anak buah mereka melayangkan pukulan ke wajah Acel, tapi Acel begitu gesit menghindar lalu dia membalas dengan melayangkan pukulan ke perut orang itu.


Acel milihat salah satu temannya di keroyok oleh anak buah dari anak Tuan Rolland, dia langsung berlari dan melompat, dia melayangkan pukulan ke wajah salah satu orang yang menahan temannya kemudian orang itu terjatuh.


Teman Acel berhasil melepaskan diri dan menghajar anak buah dari anak Tuan Rolland


Di lantai dua terjadi kekacauan, mereka masih terlibat saling baku hantam.


Salah satu dari anak buah menelepon anak buah dari Tuan Rolland. Lalu terlihat beberapa pria berbadan besar naik ke lantai dua.


Acel menarik salah satu temannya kemudian dia berlindung di balik meja, dan terdengar tembakan.


Teman-teman Acel mengeluarkan pistol dan membalas menembak.


Di dalan club orang-orang berlarian keluar, sedangkan di lantai dua masih terjadi saling baku tembak.


Acel membidik salah satu musuh lalu musuh itu terjatuh.


Terdengar mobil polisi di luar, Acel dan teman-temannya langsung berlari turun dari lantai dua dan keluar dari pintu belakang.


Mereka berlari menuju ke tempat mereka memarkirkan motor mereka.


Mereka langsung pergi kembali ke tempat mereka berkumpul.


Mereka masuk dan duduk, Acel menatap mereka satu persatu.


"Kita harus berhati-hati, mereka pasti mengenal wajah kita. Shit aku tadi hampir saja menembaknya tapi anak buahnya keburu datang," ujar Acel dengan menepuk meja.


"Lain waktu kita akan mendapatkannya," kata salah satu temannya.


Acel menganggukkan kepala kemudian dia pamitan kepada teman-temannya dan kembali ke rumah.


****


Kairos pergi ke kalimantan bersama Nasya, Kairos ingin berkunjung ke tambang batu bara milik perusahaan orang tuanya.


Mereka tiba di kalimantan malam hari, dari airport mereka langsung menuju ke hotel, Nasya langsung chek in dia memesan 2 kamar.


Petugas hotel mengantar Nasya dan Kairos ke kamar. Dia meletakkan koper Nasya di lantai dekat lemari lalu Nasya memberikan tip kepada petugas hotel dan petugas hotel meninggalkan Nasya. Nasya mengambil kopernya kemudian dia mengambil pakaian tidur dan menggantinya.


Sedangkan Kairos dia langsung berbaring di tempat tidur, dia mengeluarkan foto Laura dan putrinya lalu dia mengelus foto Laura.

__ADS_1


“Aku sangat rindu padamu, mengapa kamu begitu cepat pergi meninggalkanku?” Kairos meletakkan foto Laura dan putri di dadanya kemudian dia memejamkan mata.


****


Kairos dan Nasya pergi sarapan bersama, pagi ini mereka akan berkunjung ke tambang. Kairos dan Nasya duduk berhadapan dan sarapan.


Nasya tidak berani menatap Kairos, dia selalu mengalihkan pandangan saat mata mereka bertemu.


Selesai sarapan mereka berdua kembali ke kamar mereka masing-masing. Kairos langsung mengganti pakaiannya dan memakai sepatu kets.


Nasya juga begitu, dia memakai celana jeans dan kaos. Dia mengambil sepatu kets dan memakainya.


Mobil jemputan sudah menunggu, Kairos dan Nasya keluar dari hotel dan masuk ke mobil.


Mereka langsung menuju ke tambang. Perjalanan yang jauh membuat Nasya tertidur, tanpa dia sadari, Nasya menyandarkan kepalanya di bahu Kairos.


Kairos ingin menghindar tapi dia mengurungkan niatnya, dia membiarkan Nasya menyandarkan kepala di bahunya.


Kairos juga tertidur di mobil. Nasya terbangun dan sadar kalau kepalanya berada di bahu Kairos. Dia cepat-cepat mengatur duduknya dan menatap Kairos yang masih tertidur.


Mereka tiba di tambang malam hari, Kairos dan Nasya langsung di antar ke mes karyawan.


Kairos dan Nasya masuk ke dalam mes dan meletakkan tas punggung di lantai.


Kamar mereka berdua terpisah, Kairos langsung berbaring di tempat tidur. Dia merasa sangat lelah.


Begitu juga dengan Nasya, dia langsung berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata.


"Direktur sangat tampan, tapi sayang orangnya dingin. Apakah karena kehilangan istrinya sampai dia seperti itu? Untung aku tidak suka cowok bule, jadi tidak pengaruh kalau dia dingin padaku." Nasya mengambil bantal dan menutup wajahnya.


Amerika


Beberapa hari setelah kejadian di club, Carlos mendapatkan kabar dari temannya tentang Acel. Carlos menjadi marah kemudian dia kembali ke rumah.


Tiba di rumah Carlos langsung mencari Acel, dia berteriak memanggil Acel.


Jessica terkejut kemudian dia menggendong Laura dan keluar dari kamar. Jessica langsung menemui Carlos.


"Ada apa kamu berteriak?" tanya Jessica sambil berjalan menghampiri Carlos.


"Acel dan teman-temannya beberapa hari yang lalu membuat kekacauan di club, mereka terlibat baku tembak dengan anak buah dari anaknya Tuan Rolland," jelas Carlos kepada Jessica, dia terlihat kesal kepada Acel.


Terlihat Acel keluar dari kamar, dia ingin menemui Carlos. Acel tahu Carlos pasti akan memarahinya.


Acel turun dan melihat Carlos dan Jessica, Acel menyapa Carlos.


"Aku di sini, Pap,"


Carlos menatap Acel dengan marah, dia berjalan menghampiri Acel dan memegang dagu Acel.


"Lihat aku! Apakah kamu ingin cari mati? Berani sekali kamu membuat kekacauan di club," ujar Carlos dengan emosi dan melepaskan tangannya dari dagu Acel


"Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada orang itu, Pap," sahut Acel sambil matanya menatap Jessica.


"Sayang, yang kamu lakukan itu sangat berbahaya. Bagaimana kalau dia mencari dan membunuhmu?" tanya Jessica dengan menatap mata Acel.


" Aku hanya ingin balas denda saja, Mam. Dia yang sudah memisahkan kami dengan papa dan mama." Acel menundukkan kepala, dia tahu kalau dia sudah salah.


"Jangan pernah lakukan itu lagi, mulai sekarang Luca dan Dean akan mengawal kamu. Papa khawatir mereka akan mencarimu," ujar Carlos kepada Acel.


Acel menganggukan kepala kemudian dia meninggalkan Carlos dan Jessica. Acel kembali ke kamarnya. Dia masuk dan duduk di sisi tempat tidur.


"Aku harus berhati-hati, mereka pasti mengenal wajahku. Tapi aku tidak akan berhenti untuk menghabisi orang itu, saat ini kamu bisa lolos. Berikut kamu harus mati di tanganku," ujar Acel dengan geram sambil mengepalkan tangannya.


Sementara itu Jessica dan Carlos berbincang di kamar.


"Aku khawatir, mereka pasti akan mencari Acel. Apalagi mereka tahu kita berdua masih hidup," ujar Jessica dengan meletakkan Laura di tempat tidur.


"Ah ... mengapa Acel bisa bertindak sebodoh itu, dia membuat dirinya dalam bahaya sekarang." Carlos masih terlihat kesal kepada Acel.


Carlos berbaring di tempat tidur dan memegang jemari Laura. Carlos tersenyum melihat Laura yang memainkan jarinya.


Jessica meninggalkan Carlos dan Laura, dia pergi membuatkan susu untuk laura.


****


Cella dan Joe terlihat sedang bermesraan di kamar, mereka saling berciuman dan memainkan lidah.


Joe berhenti mencium Cella kemudian dia menatap mata Cella.


"Aku tidak sabar lagi ingin memiliki anak darimu," ujar Joe dengan membelai pipi Cella.


"Tahun depan aku selesai kulia, kita bisa program. Dua bulan sebelum wisuda kamu sudah bisa mengeluarkan cairanmu di dalam milikku," canda Cella lalu Joe tertawa.


"Kenapa dua bulan? Empat bulan sebelum kamu wisuda kamu sudah harus hamil." Joe balik bercanda lalu mereka berdua tertawa bersamaan.


Cella dan Joe berpelukan dan tidur.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2