End Of Love

End Of Love
SS2 EOL Eps 69


__ADS_3

Semenjak lulus kuliah Acel menggantikan pekerjaan Jessica, dia membantu di perusahan Well's Group.


Jessica memusatkan diri mengurus putri Kairos. Dia sangat menyayangi Laura, Jessica mencurahkan kasih sayang kepada Laura.


Begitu juga dengan Carlos, dia sangat menyayangi Laura, dia tidak mau berlama-lama di kantor hanya karena ingin bersama Laura.


Terlihat Carlos, Jessica dan Carissa sedang bermain-main dengan Laura.


Terdengar tawa Laura saat Carissa menggelitik pinggangnya, Carlos dan Jessica ikut tertawa juga.


Acel tersenyum melihat mereka lalu dia menghampiri Carlos dan Jessica.


Jessica melihat Acel dan menyapanya.


"Kamu sudah pulang, Sayang,"


"Iya, Mam," sahut Acel lalu dia tertawa melihat Carissa dan Laura yang sedang berlari-lari di halaman belakang. " Laura semakin lucu ya, Mam,"


"Iya, dia semakin lucu dan cerewat," kata Jessica dengan tersenyun.


"Baiklah. Mam, Pap. Aku ke kamar dulu. Aku ingin siap-siap dulu,"


"Kamu mau kemana, Sayang?"


"Aku ingin pergi dengan Mecy, Mam," sahut Acel kemudian dia pergi meninggalkan Carlos dan Jessica.


Jessica mengangkat kedua keningnya lalu menatap Carlos.


****


Kandungan Nasya masuk tiga bulan, dia belum mengatakan kepada orang tuanya kalau dia sedang hamil. Nasya takut kalau orang tuanya akan marah padanya, dia juga takut kalau papanya sakit. Nasya menjadi bingung, lalu dia keluar dari kamar dan masuk ke dalam mobil.


Nasya ingin menenangkan pikirannya, dia masuk ke dalam mobil lalu dia pergi ke mall, Nasya tiba lalu dia masuk ke mall. Nasya masuk ke salah satu toko pakaian, dia melihat-lihat tapi tak ada satupun yang menarik. Nasya keluar dan berjalan lagi.


Tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya, Nasya berhenti lalu dia menoleh ke belakang. Dia terkejut.


"Rayhan?"


"Hi, Nasya. Apa kabar?" tanya Rayhan sambil tersenyum


"Um, aku baik-baik saja. Kamu?"


"Sama sepertimu," sahut Rayhan sambil memperhatikan Nasya. "Kamu sendiri?"


"Iya, aku sendiri," jawab Nasya dengan tersenyum


"Bagimana kalau kita ke St. Buck, kita minum kopi di sana," ajak Rayhan lalu Nasya menganggukkan kepala.


Mereka berdua pergi ke St. Buck mereka masuk lalu Rayhan langsung pergi memesan kopi.


Kairos mendapatkan kabar dari Jakarta kalau pengiriman biji niker ke Korea tesendat karena kapal Moher Vessel yang akan mengangkut biji Nikel dari Sulawesi sedang bermasalah. Kairos langsung mencari perusahan pelayaran yang berada di Surabaya. Kairo mendapatkan perusahan tersebut kemudian dia mengajak Gilang untuk pergi ke perusahaan tersebut.


Kairos dan Gilang tiba di perusahan pelayaran kemudian mereka masuk dan menuju ke Customer service, Kairos ingin bertemu dengan manager tapi sang manager tidak berada di tempat lalu terdengar suara seorang pria menyapa customer service.


“Manager belum datang?”


“Belum, Pak. Tadi manager menelepon kalau dia sedang berada di lokasi,” sahut customer service.


Kairos menatap pria itu sambil tersenyum kemudian dia bertanya kepada pria itu.


‘Apakah anda pemilik dari perusahan ini?”


“Iya benar, maaf Anda siapa dan ada keperluan apa?” tanya Pria itu kepada Kairos


“Oh, aku Gilang dan ini pimpinanku namanya Kairos,” sela gilang dan memperkenalkan diri kepada pria itu.


“Aku Bramantoro, ada yang bisa aku bantu?”


“Begini, Pak Bramantoro. Tujuan kami kesini karena perusahan kami lagi membutuhkan kapal untuk mengangkut biji nikel. Tapi managernya tidak ada,” jelas Gilang kepada Pak Bramantoro.


“Oh, kalau begitu kita bicara saja di ruanganku,”

__ADS_1


Pak Bramantoro mengajak Kairos dan Gilang untuk pergi ke ruang kerjanya. Kairos berjalan di belakang Pak Bramantoro sambil matanya melihat sana-sini berharap Nasya berada di perusahan itu. Mereka masuk lalu Pak Bramantoro menyuruh Kairos dan Gilang duduk.


Kairos dan Gilang duduk di ikuti Pak Bramantoro. Mereka muali berbincang-bincang.


“Oh ya, perusahan kalian akan menyewa kapal?” tanya Pak Bramantoro sambil menatap Kairos dan Gilang.


“Benar sekali, Pak. Sebenarnya kapal sudah ada tapi ternyata lagi bermasalah, sedangkan pengiriman ke Korea sudah harus berjalan,” sahut Gilang, sedangkan Kairos dia hanya diam saja sambil memperhatikan Gilang dan Pak Bramantoro.


“Oh … begitu, apakah tongkang atau mother vessel?” tanya Pak Bramantoro lagi


“Mother Vessel, Pak. Ada armadanyakan?”


“Um .. sebentar aku tanya.” Pak Bramantoro berdiri dan keluar, dia menemui sekertarisnya dan menyuruh menghubungi manager. Pak Bramantoro masuk kembali ke ruang kerjanya, dia kembali duduk di depan Kairos dan Gilang.


Sambil menunggu kabar dari sekertaris, mereka bertiga berbincang-bincang. Terlihat Pak Bramantoro semakin akrab dengan Gilang dan Kairos, terdengar tawa Pak Bramantoro saat Gilang bercanda.


“Oh jadi mama kamu berasal dari Indonesia?”


“Iya. Benar pak, dari Sulawesi Utara dan papa dia berasal dari spanyol tapi besar di Amerika,” sahut Kairos dengan tersenyum.


“Apakah Anda sudah menikah?” tanya Pak Bramantoro lagi.


“Iya dan aku sudah memiliki seorang putri. Tapi istriku meninggal setelah melahirkan putriku,” sahut Kairos tampak wajahnya langsung berubah sedih.


“Ah … maaf, aku turut prihatin.” Ucap pak Bramantoro


“Tidak apa-apa, Pak."


Terdengar pintu di ketuk, Pak Bramantoro berdiri kemudian dia membuka pintu. Dia tersenyum dan mengambil secarik kertas dari tangan sekertaris.


Pak Bramantoro kembali duduk dan menatap Kairos dan Gilang.


"Masih ada armada," ucap Pak Bramantoro sambil meletakkan kertas di atas meja.


"Ah, syukur. Sistem penyewaan kapal di sini seperti apa, Pak?" tanya Gilang lagi.


"Di sini bisa freight Charter dan Time Charter," jelas Pak Bramantoro


"Bagus kalau begitu, kami butuh Freight Charter,"


Kairos menatap Pak Bramantoro, dia memberanikan diri bertanya kepada Pak Bramantoro.


"Apakah Pak Bramantoro memiliki anak?"


"Iya, aku memiliki anak perempuan. Um, mungkin seumuran dengan kalian berdua," sahut Pak Bramantoro sambil tersenyum.


Kairos dan Gilang saling tatap, kemudian Gilang menyikut lengan Kairos dan Kairos menganggukan kepala, mereka berdua yakin itu pasti Nasya.


"Baiklah, Pak. Kalau begitu kami permisi, nanti aku minta asistenku untuk mengirim surat permintaan untuk perusahaan ini," ujar Kairos sambil berdiri.


"Oh, itu perusahanmu,"


"Um, bukan. Itu perusahan milik orang tuaku," sahut Kairos dengan tersenyum.


"Oh ... begitu," gumam Pak Bramantoro dengan menganggukan kepala.


Mereka meninggalkan ruang kerja lalu Kairos dan Gilang masuk ke mobil.


Mereka berdua langsung meninggalkan parkiran dan kembali ke rumah.


"Aku yakin Nasya anak dari Pak Bramantoro," ujar Kairos dengan menatap Gilang.


"Aku juga begitu, Kairos."


Mereka tiba di rumah lalu masuk ke rumah. Kairos juga Gilang duduk dan berbincang-bincang.


"Kamu harus dekati terus Pak Bramantoro, aku yakin Nasya anaknya." ujar Gilang kepada Kairos sambil mengeluarkan rokok dari tas pinggangnya.


"Iya, Gilang. Kamu benar, aku ingin ajak kerja sama dengan perusahaanku," sahut Kairos sambil menepuk punggung Gilang lalu mereka berdua tertawa.


Sementara di kantor Pak Bramantoro, terlihat beliau tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Aku ingin perkenalkan dia kepada putriku, siapa tahu putriku menyukainya." Pak Bramantoro berdiri kemudian dia keluar dari ruang kerja.


Pak Bramantoro memanggil sopirnya dan memintanya untuk mengantar dia pulang.


****


Nasya sering bertemu dengan Rayhan bahkan dia menceritakan kepada Rayhan kalau dia sedang hamil, Nasya menceritakan semua yang terjadi padanya.


Rayhan adalah teman kuliah Nasya, tanpa Nasya tahu Rayhan sangat menyukainya.


Rayhan menawarkan diri kepada Nasya untuk menjadi ayah dari anak yang ada di dalam perut Nasya.


"Kamu serius, Ray?" tanya Nasya sambil menatap mata Rayhan.


"Iya. Aku sangat serius, Nasya. Sebenarnya aku sangat menyukaimu, tapi aku tidak berani mengatakan padamu." sahut Rayhan dengan mengalihkan pandangannya.


"Maafkan aku," ucap Nasya sambil menunduk.


"Menikahlah denganku, aku akan menyayangi anakmu seperti anakku sendiri,"


"Tapi, Ray. Aku tidak mencintaimu," sahut Nasya sambil mengangkat kepalanya dan menatap Rayhan.


"Demi anakmu, Nas."


Nasya terdiam, dia memikirkan tawaran Rayhan. Kemudian dia menatap mata Rayhan.


"Kamu serius, Ray?" tanya Nasya dengan wajah serius.


"Aku serius, Nas."


"Baiklah," ucap Naya sambil menganggukan kepala.


Rayhan tersenyum lalu memegang tangan Nasya. Mereka berdua saling bertatap mata.


Demi anak ini, aku akan menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Batin Nasya


Nasya kembali ke rumah, Nasya langsung masuk ke kamarnya.


"Aku harus secepatnya mengatur pernikahanku dengan Rayhan sebelun perutku membesar," gumam Nasya sambik duduk di sisi tempat tidur.


****


Amerika


Acel pergi ke rumah Mecy dia ingin mengajak Mecy untuk pergi ke villa bersamanya.


Acel tiba di rumah mecy kemudian dia menghampiri salah satu penjaga.


"Aku ingin menemui Mecy," kata Acel kepada penjaga.


"Apakah Anda sudah buat janji?"


"Iya sudah, kalau tidak percaya aku akan meneleponya." Acel mengeluarkan ponsel lalu dia menghubungi Mecy. Terdengar suara Mecy dari seberang telepon.


"Hi, Honey. Kamu sudah sampai?"


"Iya, aku sudah di depan. Aku tunggu kamu," sahut Acel sambil menatap penjaga.


"Baiklah, aku keluar sekarang."


Acel meutul telepon dan memasukkan kembali ke dalam saku celananya.


Acel pergi berdiri di samping mobil lalu dia melihat Mecy berlari menuju ke arahnya.


Acel tersenyum dan menyambut Mecy, dia mengecup bibir Mecy dan mengajak mecy masuk ke mobil.


Acel langsung menjalankan mobil menuju ke Villa. Mereka tiba lalu Acel dan Mecy langsung masuk ke dalam menuju kamar.


Tiba di kamar Acel langsung membuka pintu arah ke teras kemudia dia turun kembali dan pergi ke mini bar.


Acel mengambil red wine dan gelas lalu dia kembali ke kamar.

__ADS_1


Acel membuka botol red wine dan menuang ke dalam gelas lalu dia berikan kepada Mecy kemudian dia menuang kembali di gelasnya.


Acel dan Mecy duduk di teras sambil minum wine.


__ADS_2