End Of Love

End Of Love
EOL 50


__ADS_3

Jessica POV


Aku bangun dan melihat di luar kaca jendela sudah terang, aku melihat disamping Carlos tidak ada. Aku bangun dan keluar kamar, aku lihat Carlos lagi di depan laptop. Dia tersenyum melihatku, aku menghampirinya dan langsung meletakkan kepalaku di pahanya. Carlos membelai rambutku dan mencium keningku, dan aku menguap.


“Masih mengantuk sayang?” Tanya Carlos sambil membelai rambutku


“Iya beb, habis semalam kamu terlalu rakus.” Mendengar aku berkata begitu Carlos langsung tertawa


“Semalam kamu yang mintakan sayang?”


“Iya memang aku yang minta tapi belum lama istirahat kamu sudah minta lagi, aku jadi capek.”


“Iya maaf, tapi kamu sukakan?” Aku tertawa dan mencubit perut Carlos lalu dia tertawa.


“Beb kamu tidak kekantor?”


“Tidak sayang aku ingin menemanimu disini.”


“Ke kantor saja beb, nanti Fanya dan Tini mau kesini. Aku tidak apa apa.”


”Ya sudah, sebentar sayang aku mau buatkan susu untuk mu.” Kata Carlos sambil berdiri.


Aku duduk di sofa dan Carlos berdiri pergi ke dapur, dia membuatkan susu untukku dan tidak lama kemudian dia naik sambil membawa susu dan roti. Dia meletakan susu dan roti di meja.


“Sayang susunya di habisin ya, supaya kamu dan anak kita sehat.” Kata Carlos padaku


“Iya beb.” Aku mengambil susu dan meminumnya, aku juga memakan roti sambil melihat Carlos lagi ngecek emailnya.


“Sayang ini ada email dari kedutaan, mereka memberitahukan tentang visa kamu.”


“Mereka memberikan visa padaku?”


“Iya sayang kamu berhasil mendapatkan visa, berarti lima hari lagi kita akan berangkat ke America.” Kata Carlos


Aku menatap Carlos. “Hari apa kita akan berangkat beb?”


“Sesuai dengan tiket hari selasa, inikan hari kamis berarti lima hari lagi sayang.”


“Iya ya.”


Aku menghabiskan susu dan berdiri membawa piring dan gelas ke dapur, aku turun ke dapur meletakkan piring dan gelas di tempat cuci piring kemudian aku mulai mencucinya. Carlos menghampiriku dan memelukku dari belakang, dia mengatur rambutku ke samping.


Dia mencium punggungku dan mengelus perutku lalu mencium leherku lagi.


“Beb apa yang kamu lakukan?”


“Aku ingin melakukan itu sebelum ke kantor sayang.” Kata Carlos sambil mencium leherku


“Beb semalamkan sudah.”


Carlos memelukku dari belakang. “Ummm… Semalam lain sayang.”


“Dasar nakal..." Carlos tertawa dan mencium kembali leherku, tangannya mulai menggerayangi tubuhku.


Dan akhirnya aku dan Carlos melakukannya di dapur. Selesai itu Carlos menggendongku dan masuk kamar mandi, aku dan carlos mandi bersama. Selesai mandi dia bersiap siap untuk ke kantor, aku memakai pakaianku dan berbaring di tempat tidur. Carlos sudah selesai dan dia duduk disisi tempat tidur dan memegang tanganku.


“Sayang Fanya dan Tini datang jam berapa?” Tanya Carlos padaku


“Mungkin sebentar lagi beb.”


“Ya sudah kalau begitu, aku ke kantor dulu ya.”


“Iya beb, hati hati ya.”


“Iya sayang.”


Carlos mencium kening dan bibirku kemudian dia mencium perutku.


“Sayang papa pergi dulu ya, temani mama ya.” Kata Carlos sambil terseyum melihatku. Carlos berdiri dan akupun berdiri, kami berdua keluar dari kamar. Aku duduk di sofa dan Carlos pergi ke kantor, sambil menunggu Fanya dan Tini aku menyetel instrumen music lalu berbaring di sofa dan membaca buku dan aku tertidur.


Aku terbangun karena handphoneku berbunyi, aku mlihat pesan dari tini ternyata mereka sudah di lobby. Aku harus turun menjemput mereka karena mereka tidak bisa masuk lift tanpa kartu. Aku keluar dan menuju lift aku masuk lift dan turun, sampai di lobby aku melihat mereka berdua lagi duduk.


“Fanya Tini ayo masuk.” Aku menahan tombol agar pintu lift tetap terbuka, Fanya dan Tini langsung masuk kedalam lift


“Jess berarti gak boleh sembarang orang masuk kesini ya.” Kata Tini padaku


“Iya... Khusus yang tinggal disini jadi kalau ada tamu kita jemput di lobby.”


“Oh begitu..


Akhirnya kami sampai aku memasukan kode pengaman dan membuka pintu.


“Pintu aja pake pengaman ya, enak tinggal disini gak takut kemalingan.” Kata Tini lagi


Aku tersenyum melihat tini, kami masuk dan duduk di ruang tamu.


“Apartemennya besar ya Jess, pemandangannya juga bagus. Pantas aja kamu betah disini Jess.”


“Gak juga, terkadang aku bosan disini. Kalian belanja apa?”


“Belanja buat kita masaklah.” Jawab Tini padaku


Aku mengajak mereka ke dapur dan mereka meletakkan belanjaan di meja. Fanya dan Tini mengeluarkan semua belanjaan dan di letakkan di atas meja.


“Kalian mau masak apa?”

__ADS_1


“Aku mau coba bikin bistik Jess.” Jawab fanya


“Ya sudah kalian masak aja dulu ya, aku mau rebahan sebentar.”


Entah mengapa sekarang kok aku cepat capek dan ngantuk, aku berbaring di sofa


Dan membiarkan mereka memasak.


Author POV


Sementara di dapur terjadi percakapan antara Tini dan Fanya


“Fanya... Jessica beruntung ya dapat pacar kayak Carlos, sudah ganteng baik, kaya pula.”


“Bukan Jessica yang beruntung Tini tapi Carlos yang beruntung mendapatkan Jessica. Jessica itu sudah cantik, tinggi , pintar terus masih muda lagi. Gila umur Jessica itukan baru enam belas tahun lalu Carlos sudah tiga puluh satu tahun, umur mereka sangat berbeda jauh.


“Iya juga sich, tapi namanya kalau sudah cinta umur tidak di pandang lagi ya Fanya.” Kata Tini pada Fanya


“Iya, aku senang melihat mereka berdua, romantis banget cinta mereka begitu kuat.”


“Aku ingin seperti mereka berdua Fanya.”


“Aku juga Tin.


Mereka berdua saling pandang dan tertawa.


Jessica POV


Aku bangun dan menghampiri mereka, mereka belum selesai masak.


“Belum selesai juga?”


“Sedikit lagi jess, kamu sudah lapar?” Tanya Tini padaku


“Belum, aku mau bikin juice dulu.” Aku mengeluarkan alpukat dari kulkas dan mengupasnya lalu aku masukan ke mesin juicer. Selesai bikin juice aku duduk di meja makan, Fanya dan Tini ikut duduk di meja makan. Aku ingin berterus terang pada mereka dua.


“Fanya Tini kalian temanku aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian.”


“Apa itu Jess?” Kata Fanya


Aku melihat mereka berdua.


“Katakan Jess kamu mau ngomong apa?” Kata Tini padaku


Aku menarik nafas panjanga. “Um… Begini aku dan Carlos akan segera menikah.” Aku menatap wajah mereka berdua yang langsung berubah.


“Serius Jess…?” Tanya mereka berdua dengan serempak


“Kapan kalian menikah terus menikahnya dimana?” Tanya Fanya


Tini menatapku dengan heran, dia menatapku sambil berpikir. “Ehmm.. Jess kenapa kamu begitu cepat mau menikah dengan Carlos?” Tanya Tini curiga. “Apa kamu.... Jess apa kamu sudah te’dung?”


“Tin apa itu te’dung?” Tanya Fanya pada Tini


“Fan, masa kamu tidak tau itu.” Kata Tini sambil mempraktekkan tangannya di perutnya


Fanya langsung menatapku. “Jess kamu hamil?” Aku hanya menganggukan kepala. “Serius Jess?” Tanya Fanya lagi seolah olah tidak percaya


“Iya serius, makanya minggu depan aku dan Carlos akan segera ke amrik visaku sudah keluar.”


“Jadi kamu akan meninggalkan kita berdua Jess?”


“Iya Jess kamu akan tinggalkan aku dan Tini, aku jadi sedih nggak ada lagi yang bakalan iseng padaku.


“Kitakan bisa video call, aku tidak akan melupakan kalian.”


Fanya memelukku dia merasa sedih karena aku akan meninggalkan mereka.


“Kenapa kamu sedih, aku juga belum pergi.”


“Oh ya Jess, sudah berapa bulan?” Tanya Fanya


“Sudah empat bulan Fan.”


Tini terkejut mendengarnya. “Jadi Jess selama kita bertanding voli kamu sudah hamil?”


“Iya Tin, aku juga gak tau kalau aku sudah hamil. Habis gak ada tanda tanda.”


“Jess kan kamu bisa tahu dari tamu bulanan.” Kata Fanya padaku


“Iya waktu aku terlambat bulan aku tidak memikirkan apa apa, karena aku pernah sampai enam bulan gak dapet terus kata dokter terkadang siklusnya begitu. Jadi aku gak curiga kalau aku hamil.


Fanya mendekatiku dan memegang perutku. “Sayang ini aunty Fanya kalau yang jelek sana namanya aunty Tini.” Sambil menunjuk ke Tini dan aku langsung tertawa. Tini melihat Fanya dengan wajah cemberut. Tini mendekat dan duduk di sampingku dia juga memegang perutku.


“Enak aja bilang aunty Tini jelek, sayang biar aunty kamu ini hitam tapi manis.”


Kami bertiga bercanda dan bel pintu berbunyi.


“Biar aku yang buka pintu.” Kata Fanya


“Eh.. Liat dulu siapa yang datang baru buka.” Kata Tini pada Fanya


“Itu pasti Andrew, dia sudah sering kesini security sudah mengenalnya karena dia juga tinggal di apartemen cuma kita beda tower makanya dia bebas aja masuk.”


“Ohh begitu, ya sudah Fanya buka pintunya.”

__ADS_1


Fanya pergi membuka pintu dan bener Andrew yang datang, dia langsung masuk dan menyapa Tini dan Fanya lalu dia duduk dekatku.


“Hemm… Sepertinya bau gosong?” Kata Andrew


Fanya dan Tini saling pandang dan lari ke dapur.


“Untung tidak gosong.” Kata Tini dari dapur


Aku menertawai mereka berdua dan mereka kembali keruang makan.


“Sudah masak?”


“Sudah Jess, malah hampir gosong.” Jawab Fanya sambil tertawa.


Mereka membawa makanan dan diletakkan di meja makan, Tini mengambil piring dan nasi.


Aku tidak lapar karena baru saja minum juice


“Jess ayo makan.” Ajak Tini padaku


“Aku masih kenyang kalian saja yang makan.”


Fanya menatapku. “Jess kamu harus makan demi ponakanku yang ada di dalam perutmu.”


“Iya Jess kamu harus makan aku ingin ponakanku sehat.” Andrew ikut ikutan lagi


“Tapi aku masih kenyang, aku baru saja minum juice alpukat.”


“Jeesssss… Makan ya aku tidak mau ponakanku yang di perutmu itu sakit, ayo makan.” Kata Tini padaku


Tini mengambilkan makanan untukku dan andrew mengambilkan air putih untukku.


Fanya duduk di sampingku. “Sini aku mau suapin kamu makan.”


“Fanya aku bisa sendiri aku bukan anak kecil terus disuapin.”


“Sudah sini aku mau suapin kamu.”


Andrew dan Tini tertawa melihat aku dan Fanya dan pintu terbuka aku melihat Carlos datang.


Aku berdiri dan Carlos menghampiriku, dia memeluku dan mencium keningku serta bibirku.


Fanya dan Tini saling pandang.


“So sweet.. Aku juga mau donk. “Bisik Fanya ke Tini


Tini menyikut Fanya dan mereka berdua tertawa.


“Kamu sudah makan sayang?”


“Ini baru mau makan, kamu sudah makan beb?”


“Belum sayang.” Jawab Carlos padaku


“Ya sudah kita makan sama sama, fanya dan Tini tadi masak.”


“Bagus, ayo kita makan.”


Kami berlima duduk di meja makan, aku memberikan makanan pada Carlos dan Carlos mencicipi masakan Fanya dan Tini.


“Hmm.. Makanannya least, kalian pintar masak ya.”


“Iya kamu juga pintar. Pintar bikin anak.” Sahut tini dalam Bahasa Indonesia, Carlos tidak mengerti


Aku hampir keselek mendengar Tini bicara begitu, Fanya mencubit lengan Tini dan tertawa. Akupun ikut tertawa dan Carlos melihat kami dengan heran.


“Ada apa sayang mengapa tertawa?”


“Tidak kenapa kenapa beb, Tini hanya melucu saja.


“Ohh..” Gumam Carlos sambil menyuapiku.


Selesai makan Tini dan Fanya membereskan meja makan dan mencuci piring, Carlos naik ke atas dan mengganti pakaiannya kemudian dia turun lagi.


Selesai cuci piring kami ngobrol ngobrol di ruang tamu, tidak terasa hari suda sore. Tini Fanya dan Andrew pamit pulang, aku mengantar mereka sampai depan lift.


“Jess besok kita kesini lagi ya.” Kata Fanya padaku


“Iya bener ya aku tunggu.”


“Iya..”


“Ok kalau begitu.”


Pintu lift tertutup dan aku kembali ke apartemen, aku langsung naik ke atas dan masuk kamar,


Carlos sedang berbaring dengan bertelanjang dada. Aku naik ke tempat tidur dan memeluknya, Carlos membalas pelukanku.


“Istirahat ya sayang.”


Aku menganggukan kepala dan memejamkan mata kami tidur berpelukan.


Dan thor juga mau tidur.


Selamat membaca dan jangan bosan ya.

__ADS_1


“Terima kasih bagi yang masih setia memberi like dan koment”


__ADS_2