End Of Love

End Of Love
SS2 EOL Eps 81


__ADS_3

Merasa bosan di rumah, Nasya Memutuskan untuk pergi ke Mall. Dia ingin mengajak Gilang tapi Gilang sibuk.


Akhirnya Nasya pergi dengan menggunakan taxi online. Tanpa Nasya sadari Rayhan sedang mengikutinya.


Nasya tiba di mall kemudian dia turun dari taxi dan masuk ke dalam.


Rayhan memarkirkan mobil kemudian dia turun dan berlari masuk ke mall. Rayhan sempat Melihat Masya di tangga escalator.


Rayhan mengejar Nasya, dia berdiri di belakang Nasya dan menepuk punggung Nasya.


Nasya menoleh ke belakang, dia terkejut melihat Rayhan.


"Hi, kamu di sini juga?" tanya Nasya tanpa curiga kepada Rayhan.


"Iya, tadi aku ke toko yang di sebelah sana terus aku melihatmu dan mengejar kamu. Oh ya kamu sendiri saja? Kairos mana?"


"Oh, dia lagi di Amerika," sahut Nasya sambil tersenyum.


"Kamu mau kemana?" Ryahan kembali bertanya.


"Aku hanya ingin jalan-jalan saja, aku bosan di rumah," sahut Nasya sambil matanya melihat-lihat toko mana yang ingin dia hampiri.


"Oh .. begitu," gumam Rayhan, "Bagaimana kalau kita minum kopi?"


"Um, boleh juga," ujar Nasya dengan tersenyum.


Rayhan dan Nasya kembali turun ke lantai satu dan masuk ke St. Coffee. Nasya Rayhan memesan kopi lalu Rayhan membayarnya dan pergi duduk.


Nasya dan Rayhan duduk saling berhadapan.


"Ray, aku minta maaf ya. Aku tidak menyangka kalau Kairos bisa menemukanku." ucap Nasya dengan wajah memelas.


"Tidak apa-apa, Nas. Mungkin kita tidak berjodoh," sahut Rayhan sambil tersenyum dan menatap mata Nasya.


Aku akan membatalkan pernikahan kalian, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku harus memilikimu apapun caranya. Gumam Rayhan dalam hati sambil menatap Nasya.


"Terima kasih sudah mau mengerti, sebenarnya aku tidak ingin membatalkan pernikahan kita tapi Kairos mengancamku. Dia juga ternyata rekan bisnis papa." Nasya memalingkan wajahnya dari tatapan Rayhan.


"Aku mengerti, tidak apa-apa Nas," ujar Rayhan seraya meminum kopinya.


Selesai minum kopi, Rayhan menemani Nasya berbelanja. Rayhan membantu membawa belanjaan Nasya.


"Aku antar kamu pulang ya,"


"Ah, aku pulang sendiri saja," sahut Nasya sambil mengambil belanjaan dari tangan Rayhan tapi Rayhan tidak melepaskannya.


"Ayolah, Nas. Kamu sedang hamil, ijinkan aku mengantarmu pulang," desak Rayhan akhirnya Nasya menganggukan kepala.


Dia mau di antar Rayhan. Nasya tidak curiga sama sekali dengan Rayhan.


Mereka berdua pergi ke parkiran lalu Rayhan memasukkan belanjaan Nasya ke dalam mobil. Rayhan membukakan pintu kepada Nasya kalu Nasya masuk dan duduk.


Rayhan berjalan perlahan sambil mengeluatkan obat bius dan menuangnya di kain. Rayhan memasukkan kain ke saku celana kemudian dia masuk ke mobil.


Rayhan duduk kemudian dia menghidupkan mesin mobil dan menatap Nasya dengan tersenyum.


Nasya membalas senyuman Rayhan tanpa ada curiga. Saat Nasya memalingkan wakahnya menghadap jendela, Rayhan langsung menutup hidung Nasya dengan kain yang sudah dia berikan obat bius.


Nasya memegang tangan Rayhan dan mencoba mendorongnya tapi Rayhan terlalu kuat membekap hidung dan mulut Nasya.


Perlahan-lahan kesadaran Nasya hilang. Tangan yang memegang Rayhan terkulai lemas.


Rayhan langsung menjalankan mobilnya pergi ke suatu tempat. Rayhan membawa Nasya jauh dari kota.


Dia membawa Nasya ke suatu desa, di sana dia menyewa sebuah villa.


"Disini kamu tidak bisa menghubungi siapapun karena tempat ini belum ada jaringan telepon."


Rayhan mengangkat tubuh Nasya yang belum sadarkan diri ke dalam villa.


Rayhan membaringkan Nasya di tempat tidur. Dia menatap Nasya sambil tersenyum.


"Sekarang Kairos tidak akan memilikimu lagi. Kamu sekarang milikku selamanya."


Rayhan meninggalkan Nasya di kamar, dia mengunci pintu dari luar.


****


Karena hari sudah larut malam Carlos memutuskan untuk membatalkan penyerangan ke rumah Diego.


Dia meminta semua kembali ke rumah. Semua menuruti perintah Carlos, mereka semua kembali ke kediaman Carlos.


Carlos turun dari mobil kemudian dia masuk ke rumah.


Dia melihat Jessica yang sedang berdiri memperhatikan rumah mereka yang terlihat sangat berantakan.


Selongsong peluru banyak banyak berserakan di lantai. Carlos menghampiri Jessica dan memeluknya.


"Aku tidak tenang, Beb. Aku ingin semuanya selesai," ujar Jessica sambil melingkarkan tangannya di pinggang Carlos.


"Aku akan menyelesaikan semuanya, segeraa!" tegas Carlos seraya membelai rambut Jessica.

__ADS_1


Kairos datang sambil menggendong Laura yang sedang menangis. Dia terus membujuk Laura agar Laura diam.


Jessica melepaskan pelukan Carlos lalu dia mengambil Laura dari tangan Kairos. Jessica menggendong Laura dan membujuk Laura dengan mainan.


Carlos memanggil semua anak buahnya dan meminta mereka untuk membantu merapikan rumah.


Kairos dan Acel ikut membantu merapikan rumah. Sambil merapikan rumah Acel berbisik kepada Kairos.


"Aku akan memberi pelajaran kepada Diego. Berani sekali dia menyerang rumah kita. Aku tidak peduli Mecy marah padaku.


"Acel, jangan gegabah. Diego bukan orang sembarangan, kamu jangan macam-macam nanti papa bisa marah besar."


Acel diam dan melanjutkan merapikan rumah. Mereka memasukkan semua selongsong peluru kalam dus dan meletakkan di belakag rumah.


Jessica mengeluarkan Gorden dan tirai lalu meminta Acel dan Kairos untuk memasangkan tirai dan Gorden itu.


Sedangkan Carlos terlihat sedang berbincang-bincang dengan Tuan Arnet dan Mike.


"Aku harus melenyapkan Diego, selama dia masih hidup keluargaku akan terus dalam ancaman," ujar Carlos dengan meletakkan tangannya di pinggang.


"Kamu benar Carlos, aku juga tidak tenang selama dia masih hidup. Dia pasti akan terus mengusik keluargamu." kata Mike dengan menepuk punggung Carlos.


"Kalau kalian butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk mengatakan padaku," ujar Tuan Arnet kepada Carlos dan Mike.


"Aku siap membantu kalian, lagipula kita sudah menjadi keluarga sekarang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada anak dan menantu serta cucuku.


Carlos tersenyum dan menepuk punggung Tuan Arnets.


"Terima kasih," ucap Carlos lalu Tuan Arnets berpamitan kepada Carlos dan Mike.


Tuan Arnets meninggalkan beberapa anak buahnya untuk membantu menjaga rumah Carlos.


Mike dan Carlos pergi ke dalam menemui Jessica.


***


Nasya mulai sadar, dia memegang kepalanya dan mencoba melihat sekeliling. Pandangannya masih buram, Nasya mencoba bangun dan duduk di sisi tempat tidur.


"Apa yang terjadi padaku? Dimana aku ini?" Nasya berdiri dan berjalan menuju pintu.


Dia mencoba membuka pintu tapi tidak bisa, pintu di kunci Rayhan dari luar. Nasya berjalan ke arah jendela dan mencoba mengintip lewat jendela.


Nasya hanya melihat perbukitan. Dia tidak melihat rumah-rumah penduduk.


"Ini tempat apa? Mengapa Rayhan membawaku ke sini?"


Nasya mulai takut, dia kembali duduk di tempat tidur dan menangis.


"Mengapa aku percaya padanya? Aku harus mencari cara untuk keluar dari tempat ini.


Rayhan membuka pintu kamar dan masuk, dia duduk di sisi tempat tidur. Rayhan memperhatikan wajah Nasya yang cantik kemudian dia membelai wajah itu.


"Aku sangat mencintaimu, Nasya. Aku tidak rela kamu menikah dengan Kairos, kamu harus menikah denganku." Rayhan mengecup kening Nasya lalu dia memegang tangan Nasya.


"Aku akan menyayangi anakmu seperti anakku sendiri. Aku janji."


Nasya terus berpura-pura tidur, dia mendengarkan semua apa yang di katakan Rayhan.


"Rayhan sangat nekat, apakah aku berpura-pura saja kepadanya. Tapi ponselku ada di tas dan aku tidak tahu tasku di mana, ah ... aku haru bagaimana?"


Sementara itu, Gilang pulang ke rumah orang tua Nasya. Dia masuk ke rumah dan menyapa istri Pak Bramantoro.


"Selamat sore tante,"


"Selamat sore, Gilang. Nasya mana?" tanya istri Pak Bramantoro sambil matanya mencari Nasya.


"Um, aku tidak bersama Nasya,"


Dahi istri Pak Bramantoro mengkerut, dia menatap Gilang dengan heran.


"Bukannya Nasya pergi bersama kamu," tanya istri Pak Bramantoro lagi.


"Aku dari kantor tante, dari jam berapa Nasya pergi?" tanya Gilang penasaran.


"Dari jam sepuluh pagi dan ini sudah jam 9 malam dia belum pulang juga," kata istri Pak Bramantoro.


"Belum pulang? Sebentar tante, aku coba telepon Nasya," ujar Gilang kemudian dia mengeluakan ponsel dari saku celan dan menghubungi Nasya.


Ada nada panggil tapi tidak di jawab, Gilang kembali menelepon Nasya tapi tetap tidak ada jawaban.


"Mengapa Nasya tidak menjawab teleponku? Biasanya tiap aku telepon dia langsung menjawabnya?"


Perasaan Gilang langsung tidak enak, tapi dia tidak mau menunjukkan kepada istri Pak Bramantoro.


"Tante, telepon Nasya aktif tapi dia tidak menjawabnya. Mungkin dia lagi dalam perjalanan ke sini." Gilang ingin membuat istri Pak Bramantoro tenang.


"Iya, mungkin saja. Tante ke kamar dulu, nanti kalau Nasya sudah pulang suruh ke kamar tante ya."


"Iya, tante."


Istri Pak Bramantoro pergi ke kamar, sedangkan Gilang dia menjadi gelisah karena Nasya belum pulang.

__ADS_1


"Mengapa dia tidak memanggilku untuk pergi dengannya. Ah .. mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Nasya." Gilang pergi ke depan dan duduk di teras. Dia menunggu Nasya pulang.


Gilang menyalakan rokok, dia berdiri dan mondar-mandir di teras rumah Pak Bramantoro. Dia terlihat sangat gelisah, sedikit-sedikit dia melihat jam di tangannya.


Monil Pak Bramantoro masuk lalu beliau turun dari mobil, Pak Bramantoro melihat Gilang dan menyapanya.


"Sendiri saja? Nasya mana?" tanya Pak Bramantoro.


"Nasya belum pulang om."


Pak Bramantoro mengkerutkan dahinya dan bertanya.


"Nasya kemana?"


"Aku juga tidak tahu, kata tante Nasya pergi dari pagi," kata Gilang dengan wajah yang cemas, dia melihat kembali jam di tangannya sudah menunjukan pukul 23:15.


"Dia tidak mengatakan kemana dia pergi?" tanya Pak Bramantoro lagi.


"Kata tante dia hanya pergi ke mall,"


"Tapi jam begini mall sudah tutup," sahu Pak Bramantoro kemudian dia pergi ke dalam.


Pak Bramantoro langsung menuju ke kamarnya, dia masuk dan langsung bertanya kepada istrinya.


"Ma, Nasya pergi kemana? Jam begini dia belum pulang?" tanya Pak Bramantoro serata melepaskan dasinya.


"Itu dia, Pa. Mama juga tidak tahu, tadi pagi Nasya bilang dia hanya ke mall."


Pak Bramantoro menjadi khawatir, dia mengganti kemejanya dan memakai kaos kemudian dia keluar menemui Gilang.


Sementara Gilang masih mondar-mandir di teras depan. Dia menunggu Nasya pulang.


Pak Bramantoro menghampiri Gilang, wajahnya terlihat cemas.


"Gilang apakah kamu sudah menelepon Nasya?"


"Sudah, Om. Tapi tidak ada jawaban dari Nasya, aku jadi khawatir, Om. Biasanya kalau aku meneleponnya dia langsung jawab. Tapi ini sudah beberapa kali aku telepon tapi dia tidak menjawabnya." jelas Gilang kepada Pak Bramantoro.


"Ah ... Gilang aku jadi khawatir. Om takut terjadi sesuatu padanya, apalagi dia sedang hamil. Kita harus mencarinya,"


"Cari kemana, Om? Aku tidak tahu teman-teman Nasya," ujar Gilang


Pak Bramantoro kembali ke dalam menemui istrinya, dia langsung masuk ke kamar.


"Ma, apakah mama tahu teman-teman Nasya?"


"Mama juga tidak tahu, Pa." jawab istrinya, dia mulai terlihat khawatir. "Pa, kemana kita harus mencari Nasya? Dia lagi hamil, mama khawatir terjadi sesuatu padanya,"


"Ma, tenang. Kita tunggu sampai besok saja, mungkin dia sedang menginap di rumah temannya,"


"Iya, Pa. Mudah-mudahan saja dia di rumah temannya.


Di depan Gilang masih menunggu Nasya, Jam sudah menunjukkan pukul 00:00 tapi Nasya belum pulang juga.


Mereka tidak tahu kalau Nasya di culik oleh Rayhan.


Sementara di Villa Nasya sedang duduk di sisi tempat tidur. Air matanya menetes di pipi, dia takut Rayhan melakukan sesuatu padanya.


Pintu kamar terbuka lalu Nasya melihat Rayhan, di tangannya ada piring.


Rayhan membawakan makanan untuk Nasya. Dia meletakkan makanan di atas meja lalu dia duduk di samping Nasya.


"Makanlah, kamu sedang hamil,"


"Aku ingin pulang Ray, aku tidak mau di sini."


"Tidak bisa,Nas. Kamu harus bersamaku, kamu dan aku akan menikah di tempat ini," ujar Rayhan dengan membelai pipi Nasya.


"Please Ray, aku ingin pulang. Tidak baik sedang hamil di tempat seperti ini, aku mohon kepadamu, Ray." Nasya menangis dan terus memohon kepada Ray.


"Jangan menangis, Sayang. Aku tidak suka melihat orang yang aku cintai menangis," ujar Rayhan serata menghapus air mata Nasya.


"Aku mohon, Ray. Aku takut di tempat ini." Kembali Nasya memohon kepada Rayhan sambil menangis.


Rayhan membelai rambut Nasya, dia mencoba menenangkan Nasya.


"Ayo makan, aku akan menyuapimu." Rayhan berdiri dan mengambil makanan milik Nasya. Dia mengambil makanan dengan sendok kemudian dia menyuapi Nasya.


Nasya akhirnya makan di suapi Rayhan, selesai makan Rayhan menyuruh Nasya untuk tidur.


Sementara di kediaman Pak Bramantoro, Gilang kembali menelpon Nasya tapi ponsel Nasya tidak aktif lagi.


"Sekarang ponselnya mati, aku curiga telah terjadi sesuatu kepada Nasya."


Gilang masuk ke kamar dan duduk di sisi tempat tidur. Dia memikirkan Nasya.


"Apakah aku beritahu Kairos saja? Ah, tunggu sampai besok saja baru aku kabari Kairos. Mudah-mudahan dia berada di tempat temannya."


Gilang berbaring di tempat tidur dia mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Pikirannya tertuju terus kepada Nasya.


"Kalau Rayhan sampai menculik Nasya, aku akan menghajarnya. Lihat saja nanti."

__ADS_1


Rayhan kembali berdiri dan keluar pergi ke teras, dia menyalakan rokok dan mencoba kembali menghubungi Nasya. Tapi ponsel Nasya tidak aktif.


Gilang mengisap rokok dan menyemburkan asap lewat hidung dan mulutnya.


__ADS_2