
Jessica POV
Sudah beberapa hari ini Carlos selalu pulang malam dan tidak pernah memberikan kabar padaku. Akupun begitu selesai latihan aku menghabiskan waktu dengan teman teman dan terkadang aku pulang sudah jam sepuluh kadang jam sebelas malam, sebelum pulang kami nongkrong dulu di cafe. Dan setiap malam aku tidak tidur di kamar Carlos. aku kembali tidur di kamarku dan selalu mengunci pintu kamar, aku sudah mulai cuek sekarang.
Besok pertandingan pertama untuk tim kami. Aku harus istirahat , sebelum tidur aku selalu membuat susu. Aku turun kedapur aku lihat jam baru jam tujuh, aku memanaskan air dan membuat susu kemudian aku duduk di ruang makan dan pintu terbuka. Aku melihat Carlos yang datang. “Tumben pulang cepat.” Kataku dalam hati. Carlos menghampiriku dan menciumku dan dia duduk di sampingku.
“Sayang malam ini aku ingin ke cafe, temanku ulang tahun dan dia mengundangku.” Kata Carlos padaku. Aku meminum susu dan menatap Carlos.
“Iya pergi saja.” Dalam hatiku aku sudah tidak perduli lagi kamu mau kemana.
“Tapi aku ingin kamu pergi bersamaku.” Kata Carlos lagi
“Aku tidak bisa Carlos, besok ada aku pertandingan.”
“Sayang please ikutlah denganku.” Carlos memohon padaku untuk ikut dengannya.
“Baiklah aku siap siap dulu.”
Aku menghabiskan susu dan kembali ke atas, aku masuk kamar dan mengganti pakaianku. selesai ganti pakaian aku keluar menemui Carlos. “Sudah siap?”
“Iya.. Kita jalan sekarang.” Kata Carlos padaku
Aku dan dan Carlos berangkat ke Café, sepanjang jalan aku hanya diam. Dan diaia juga diam, aku melihat sosmedku dan sesekali aku membaca berita. Tidak lama kemudian kami sampai di Cafe. Aku dan Carlos turun dari mobil dan masuk ke dalam , temannya menyambut kami. Carlos memperkenalkan aku pada temannya
“Hi.. Glen Happy Birthday.” Ucap Carlos pada Glen sambil berjabat tangan, Glen menyambut jabat tangan Carlos
“Thank you carlos.” Kata Glen sambil menatapku dan tersenyum.
“Oh ya.. Ini Jessica.” kata Carlos pada Glen dan aku menyalami Glen.
“Happy Birthday Glen.” Ucapku pada Glen.
“Thank you Jess.” Balas Glen sambil tersenyum padaku.
Glen mengajak kami duduk dan terdengar live music, Carlos duduk di sampingku dan Glen duduk depanku. Setiap kali menatapku dia selalu tersenyum, dalam hatiku. Glen tampan sekali di bandingkan carlos masih gantengan Glen. Badannya juga lebih tinggi dari carlos.
Kami berbincang bincang sambil mendengarkan music, sesekali teman teman Glen menghampiri Glen dan menyapanya. Glen masih duduk bersama aku dan carlos, dia selalu menatapku. Aku jadi risih. Glen berasal dari amerika dia datang ke Indonesia untuk berbisnis.
Setiap kali dia memandangku aku hanya tersenyum, dan Carlos sedang menikmati music.
Tiba tiba singer datang mendekat ke meja kami dan menarik Carlos untuk berdansa. Carlos menatapku seolah olah ingin minta ijin. Aku menganggukan kepala, Carlos berdiri dan berdansa dengan singer.
Glen berdiri dan duduk di sampingku, dia mulai ngobrol denganku
“Kamu cantik sekali Jess, umur kamu berapa sekarang?” Tanya Glen padaku.
“Umurku enam belas tahun.” Jawabku sambil tersenyum.
“Masih muda sekali, aku dua puluh enam tahun.” Kata Glen padaku.
“Kamu juga masih muda.” kataku pada Glen dan Glen tersenyum. Glen memandangku dengan nakal, aku melihatnya dan mengangkat keningku. “ Glen jangan memandangku seperti itu.” kataku pada Glen sambil tertawa
__ADS_1
“Kenapa? apa aku tidak boleh memandang kecantikanmu?” Glen mencoba menggodaku dan aku tertawa. Aku dan Glen mulai akrab, aku melihat Carlos memandang aku dan Glen tapi aku tidak perduli. aku bercanda terus dengan Glen lagi pula orangnya asik tidak kaku.
Glen berbisik di kupingku.
“Tinggalkan saja Carlos dan pergi denganku.” Aku langsung tertawa, dan Glenpun tertawa.
“You are so crazy Glen.” Kataku pada Glen sambil tertawa. Glen merubah duduknya dan menghadap aku.
“Ya memang aku gila.” Jawabnya sambil tertawa.
“Aku takut sama yang gila.” Candaku pada Glen
“Justru yang gila itu yang menyenangkan, yang membawa nikmat.” Aku membelalakan mata pada Glen dan Glen langsung tertawa.
“Aku bercanda Jess, kamu orangnya asik Jess. Humoris aku suka, kata Glen padaku.
“Thanks, kamu juga orangnya humoris.” Kataku pada Glen.
Glen mengeluarkan Handphonenya dari saku celananya.
“Jess kita foto berdua ya.” Pinta Glen padaku.
“Ok ayo.” Glen mengarahkan camera dan mendekatkan wajahnya padaku dan dia mengambil gambar, dia melihat hasil fotonya.
“Lagi Jess. kamu smile Jess.” Kata Glen.
“Ini aku sudah smile Glen dan dia mengambil gambar lagi kemudian dia melihat hasil fotonya.
“Nomor apa Glen.”
“Nomor hanphone kamu Jess, memang nomor apa lagi.” Kata Glen padaku dan aku tertawa
“Umm.. Aku pikir nomor sepatu.” Canda Jessica dan Glen langsung tertawa
“Kamu bisa saja Jess.”
Aku memberitahukan nomor ku pada Glen dan Glen menyimpannya.
“Oh ya, jess bagaimana kalau kita berdansa?” Tanya Glen padaku.
“ayo...” Aku dan Glen berdiri dan berdansa. Glen melingkarkan tangannya di pinggangku dan kedua tanganku di bahunya. malam ini songs nya bagus, sesekali Glen berbisik di kupingku memuji aku tapi aku hanya tersenyum.
Author POV
Carlos memperhatikan Jessica dan Glen. “Mereka terlihat akrab aku menjadi cemburu, cara glen memandang Jessica aku tidak suka, kenapa pakai foto foto segala. Apa yang mereka bicarakan. kenapa Jessica memberikan nomor pada Glen dan mereka berdansa lagi.” Kata Carlos dalam hati. Carlos ingin segera duduk tapi singernya masih menahan Carlos. Carlos mengumpat dalam hati..sial.. Carlos kemudian berbisik pada singer dia ingin duduk dan akhirnya Carlos bisa duduk. Carlos memperhatikan Glen dan Jessica, hatinya terasa panas.
Jessica POV
Aku masih berdansa dengan Glen, aku melihat wajah Carlos seperti lagi kesal. Mungkin dia lagi cemburu melihat aku dan Glen. Kemudian Glen berbisik
“Jess carikan aku perempuan untuk jadi pacarku, setidaknya tingginya seperti kamu.
__ADS_1
Aku langsung teringat Fanya, diakan lebih tinggi dariku dia cocok dengan Glen apa lagi Fanya cantik.
“Glen aku punya teman namanya Fanya teman main voli dia lebih tinggi dariku dan cantik. nanti aku kenalkan sama kamu.” Kataku pada Glen
“Bener ya, kapan kamu mau perkenalkan dia padaku?” Tanya Glen
“Besok kami akan mengikuti pertandingan voli, kamu datang saja
“Jam berapa?” tanya glen lagi
”Jam dua siang di gedung olahraga S dekat dari sini.” Kataku pada Glen.
“Bagus, besok aku hubungi kamu ok.”
“Ok..” Akhirnya aku dan Glen kembali ke tempat duduk, aku duduk di samping Carlos dan Glen duduk tepat di depanku. Aku menatap Carlos, kami saling tatap dan dia tersenyum tapi senyumnya beda. Musik kembali terdengar aku memegang tangan Carlos dan menarik Carlos untuk berdansa. Carlos berdiri dan berdansa denganku, aku melingkarkan tanganku di lehernya dan dia melingkarkan tangannya di pinggangku.
Dia menatapku dan aku tersenyum padanya, dia mencium bibirku dan aku membalasnya dan kami berciuaman. Dan dia berbisik di kupingku, “kita pulang sayang?” Aku meganggukan kepala.
Aku dan Carlos berpamitan pada Glen dan Glen berbisik di kupingku. “Jangan lupa besok ya.” Aku tersenyum dan menganggukan kepala, Carlos menarik tanganku dan berjalan ke parkiran.
Kami masuk ke dalam mobil dan Carlos langsung tancap gas aku tau dia lagi kesal. Aku diam saja di mobil, dia juga diam. Akhirnya kami sampai, kami berdua masuk kedalam apartemen. Aku langsung naik ke atas di ikuti carlos, aku masuk ke kamarku carlos mengikutiku dan dia berdiri depan pintu kamarku.
Aku mengganti pakainku dengan baju tidur dan carlos masih berdiri di depan pintu kamarku, aku menatapnya.
“Ada apa?”
“Kenapa kamu tidak pernah tidur lagi di kamarku.”
“ Kamu selalu pulang larut malam kamu, sudah tau kalau aku terbangun susah tidur lagi jadi aku memilih tidur di kamar ini.”
Dia menundukan kepala.
“Aku mengerti, malam ini tidurlah denganku mulai besok aku akan pulang cepat.”
Aku menganggukan kepala dan mengikuti Carlos masuk ke kamarnya. Aku naik ketempat tidur. dan dia mengganti pakaianya, dia hanya memakai underware boxernya kemudian dia naik ketempat tidur dan berbaring di sampingku. Dia menarikku dan memelukku dia berbalik menghadapku dan memegang pipiku.
Carlos menatap mataku, dia membelai pipiku. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku, kemudian dia memelukku dengan erat. Dia berbisik di kupingku, “aku mencintai mu sayang.” Aku menatap Carlos dan memegang pipinya, aku tersenyum dan mencium bibirnya
Dan aku juga berbisik. “Aku juga mencintaimu beb.” Carlos memelukku dengan erat, aku merasakan Carlos malam ini seperti lain.
Ada apa dengan Carlos, kenapa dia seperti ini. Tidak biasanya memelukku seperti ini.
“Beb kamu kenapa?” tanyaku pada Carlos, dia menatapku dan menggelengkan kepala.
“Tidak apa apa, aku hanya ingin memelukmu. Hampir seminggu aku tidak memelukmu, aku jadi rindu.” Kata Carlos padaku.
“Ohhh, kalau begitu kita tidur ya, aku mengantuk.
“Iya kita tidur sayang.”
Carlos memelukku dan kamipun tidur.
__ADS_1
Selamat membaca