
Carlos melihat jam sudah menunjukkan pukul 20:30 dia mengeluarkan ponsel dam menghubungi Mike, panggila terhubung lalu terdengar suara Mike dari seberang telepon.
“Hallo, Carlos. apakah kamu sudah siap?”
“Iya, Mike. Apakah kita bertemu di lokasi saja?” tanya Carlos sambil berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerjanya.
“Sudah ada kabar dari Charlie?”
“Sudah, tadi Charlie meneleponku dan meminta kita berkumpul. Dia sudah mengirim lokasi titik kumpul. Apakah kamu akan ke sini atau aku kirim saja lokasinya padamu?” Carlos memindahka ponsel ke teling satunya kemudian dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bersiap-siap.
“Kamu kirim saja lokasinya nanti aku langsung ke sana,” ujar Mike
“Baiklah kalau begitu, aku kirim sekarang,” Carlos menutup telepon kemudian dia mengirim lokasinya kepada Mike. Carlos kembali ke ruang kerja kemudian dia mengambil senjata shotgun juga pisto, dia mengisi peluru ke mesin pistol dan menyelipkan ke pinggangnya.
Carlos mengambil topi dan jacket lalu dia memakainya. Carlos keluar dari ruang kerja kemudian dia masuk ke mobil di ikuti anak buahnya. Mereka menggunakan enam mobil van dan mobil sedan. Carlos berada di mobil sedan, mereka langsung menuju ke lokasi.
Tiba di lokasi, Carlos melihat Mike sudah berada di sana. Carlos turun dari mobil kemudian dia menghampiri Mike.
“Dimana Charlie?” tanya Carlos sambil melihat ke sana ke mari.
“Sebentar lagi dia dan rekan-rekan polisi tiba, kita tunggu Charlie saja untuk masuk ke lokasi mereka,” sahut Mike lalu terlihat cahaya lampu mobil sedang merapat, mereka semua langsung mengeluarkan senjata dan menyebar.
Carlos pergi ke mobil lalu dia mengambil shotgun dan mengisi peluru kemudian dia berlari bersembunyi. Beberapa mobil berhenti dekat dengan mobil Carlos dan Mike lalu terlihat Charlie dan rekan-rekan polisi turun dari mobil.
Carlos dan Mike langsung keluar dari persembunyian dan menemui Charlie. Mereka berkumpul lalu Charlie membagi kelompok. Mike beserta bebeapa anak buanhnya bergabung dengan empat orang polisi, begitu juga Carlos dan beberapa anak buahnya di damping polisi juga. Sedangkan sebagian anak buah Mike dan Carlos di bagi beberapa kelompok dan di damping polisi juga.
“Carlos, jenis senjata yang kalian gunakan sama dengan jenis senjata kami, aku sarankan gunakan peluru kami agar mereka tahu bahwa mereka saling baku tembak dengan polisi,” jelas Charlie kepada Carlos dan Mike kemudian dia meminta rekan-rekannya untuk mengambil peluru di mobil dan membagikan kepada Carlos dan Mike juga para anak buah.
Carlos mengganti peluru yang ada di pistol kemudian dia menyimpan pelurunya di dalam mobil. Begitu juga Mike dan para anak buah mereka. Mereka semua mengganti pelurunya dan menyimpan peluru yang lain di mobil.
Charlie membagi tugas kemudian mereka berjalan menghampiri Gudang yang berjarak 500M dari lokasi mereka berhenti. Mereka tiba lalu Charlie memberi isyarat agar mereka semua menyebar dan mengepung Gudang itu.
Carlos dan anak buahnya juga keempat polisi mereka masuk dari belakang, mereka berjalan merunduk. Carlos memberi isyarat berhenti karena melihat seseorang yang sedang buang air kecil. Carlos berjalan perlahan-lahan kemudian dia memukul leher belakang orang itu sehingga orang itu pingsan, lalu Carlos menarik orang itu ke semak-semak dan menyuruh anak buahnya untuk mengikat kaki dan tangan orang itu. mereka juga menyumbat mulut orang itu.
Sementara Mike dan beberapa anak buah juga beberapa polis ikut dari samping gedung, mereka membungkuk lalu Mike mengisyaratkan kepada anak buahnya untuk maju satu persatu. Mereka tiba di sebuah pos dan bersembunyi.
Terlihat beberapa cahaya mobil mendekati Gudang itu, Charli dan beberapa anak buah Carlos bersembunyi di balik tong yang sudah kosong. Mereka melihat mobil-mobil itu berhenti tepat di depan Gudang lalu turun banyak pria berbadan besar, dua orang pria membukakan pintu mobil yang terlihat dia adalah bos mereka.
Charlie memperhatikan pria itu, tapi dia tidak mengenalnya. Dia memakai headset dan berbicara kepada rekan-rekannya yang lain.
“Salah satu dari mereka sudah datang, tunggu aba-aba dariku,” kata Charlie dengan setengah berbisik
“Baik, Charlie. Kami menunggu perintahmu,” balas rekan Charlie
Charlie memberi isyarat kepada anak buah Carlos dan Mike agar maju perlahan-lahan. Charlie memperhatikan orang-orang berbadan besar masuk ke dalam sambil membawa dua tas koper berwarna silver.
Tidak lama kemudian datang lagi beberapa mobil sedang dan van. Mobil-mobil itu berhenti tepat di deoan Gudang dan turun lagi banyak pria bersenjata lengkap, salah satu dari mereka membuka pintu mobil sedan lalu turun anak Tuan Rollanda dari mobil. Beberapa anak buah membuka mobil van dan mengangkat bungkusan-bungkusan yang berisikan heroin lalu membawanya ke dalam.
Charlie kembali menghubungi rekan-rekan dan memberitahukan kepada mereka kalau semua target sudah berada di dalam.
***
Nasya selesai bersiap-siap lalu ponselnya berbunyi, dia melihat pesan dari Kairos lalu membacanya. Nasya langsung menyambar tas kemudian dia bergegas keluar dari kamar. Dia pergi ke kamar mamanya dan meminta ijin untuk pergi.
Nasya langsung menemui Kairos, dia membuka pintu mobi lalu masuk. Dia memasang safety belt lalu Kairos tersenyum padanya. Kairos membelai perut Nasya kemudian dia menjalankan mobilnya menuju ke klinik. Sepanjang jalan mereka berdua hanya diam, di mobil hanya terdengar lagu Someone You Loved. Terdengar suara Kairos ikut bernyanyi, Nasya memalingkan wajahnya melihat keluar jendela.
Nasya merasakan lirik lagu itu begitu dalam, dia merasakan itu adalah gambaran diri Kairos yang lagi kesepian. Dan mungkin saja merindukan Laura.
Mereka tiba di klinik lalu Kairos dan Nasya masuk ke klinik, mereka berdua mengambil nomor urut dan mendaftar. Selesai mendaftar Kairos memegang tangan Nasya dan mencari tempat duduk. Mereka berdua duduk dan menunggu.
Tidak lama kemudian terdengar suara petugas memanggil nama Nasya,
__ADS_1
“Ibu Nasya Gomes.”
Nasya mengkerutkan dahinya mendengar namanya berubah kemudian dia menatap Kairos dengan heran. Kairos menatap Nasya dan mengangkat kedua keningnya, dia tahu Nasya akan protes.
“Ayo masuk, kamu sudah di panggil.” Kairos berdiri dan memegang tangan Nasya kemudian masuk ke ruang dokter kandungan.
“Selamat pagi, Dok,” sapa Nasya sambil menarik kursi dan duduk di depan dokter. Begitu Kairos dia duduk di samping Nasya.
“Ada keluhan apa, Bu Nasya?”
“Aku hanya ingin memeriksa kandunganku saja, Dok,” sahut Nasya sambil tersenyum.
“Oh begtu, kalau begitu silahkan Bu Nasya berbaring di situ ya,” ujar dokter sambil menunjuk tempat pasien di periksa.
Nasya berdiri di ikuti Kairos kemudian Nasya berbaring di tempat tidur, dia menatap Kairos yang berdiri di sisi tempat tidur. Kairos tersenyum dan memegang tangan Nasya.
Dokter mengoleskan gel di perut Nasya dan menggerakkan akat usg di atas perut Nasya. Mata Kairos dan Nasya tertuju ke layar monitor. Tampak wajah Kairos terlihat gembira, matanya tak berkedip melihat janin yang ada di layar monitor.
“Bagaimana, Dok? Apakah janinnya sehat?” tanya Kairos sambil matanya tertuju terus ke monitor.
“Iya, janinnya sehat,” sahut dokter seraya membersihkan sisa gel di perut Nasya.
Dokter kembali ke meja di ikuti Kairos dan Nasya, mereka berdua kembali duduk di depan dokter. Mereka berbincang-bincang lalu dokter memberikan vitamin kepada Nasya. Kairos dan Nasya keluar dari ruang dokter dan pergi ke mobil.
Mereka berdua masuk ke mobil lalu Kairos menghidupkan mesin mobil, dia belum menjalankan mobilnya. Kairos menatap Nasya dan memegang tangan Nasya.
“Kita ke pusat perbelanjaan, aku ingin melihat perlengkapan untuk anak kita,” ujar Kairos lalu Nasya menganggukan. Kairos menjalankan mobil meninggalkan klinik dan pergi ke pusat perbelanjaan.
Mereka tiba lalu Kairos turun dan membukakan pintu untuk Nasya turun. Kairos kembali memegang tangan Nasya kemudian mereka berdua masuk ke pusat perbelanjaan. Kairos dan Nasya langsung pergi ke tempat perlengkapan bayi, Kairos langsung memilih pakaian-pakaian bayi. Dia mengambil semua dengan corak berwarna biru.
“Kenapa biru semua?” tanya Nasya dengan heran
Mereka keluar dari toko perlengkapan bayi lalu Nasya dan Kairos berpapasan dengan Rayhan, wajah Nasya langsung berubah gugup saat melihat Rayhan. Kairos tahu kalau Nasya belum siap untuk mengatakan kepada Rayhan lalu dia berbisik kepada Nasya.
“Bersikap tenang, aku tidak mau kamu stress. Kalau kamu belum siap, katakan saja padanya kalau aku temanmu. Kamu mengajakku untuk mengantarmu.” Nasya menganggukan kepala kemudian dia menghampiri Rayhan dan menyapanya.
“Hi, kamu sendiri?” tanya Nasya sambil melihat ke sana kemari melihat Rayhan jalan dengan siapa.
“Iya, aku sendiri. Aku menelponmu berkali-kali tapi kamu tidak pernah menjawabnya,” ujar Rayhan dengan tersenyum kepada Kairos.
“Oh ya? ponselku aku buat silent jadi aku tidak mendengarnya,” bohong Nasya sambil mengambil ponsel di dalam tas dan berpura-pura melihat kalau ada panggilan atau tidak.
“Oh iya, maad Ray. Aku tidak mendengarnya, oh ya kenalkan ini …” Nasya bingung ingin perkenalkan Kairos dengan nama apa tiba-tiba terdengar suara Kairos.
“Aku Acel teman Nasya, kita tidak sempat kenalan ya waktu acara pertunangan kalian,” sela Kairos dan terlihat wajah Nasya menjadi tenang.
“Oh … iya. Aku ingat, kamu hadir di acara pertunangan aku dan Nasya.” Rayhan menatap Nasya sambil tersenyum, “ kenapa tidak memanggilku untuk menemanimu belanja keperluan anak kita?”
“Um, aku pikir kamu sibuk. Aku tidak ingin menganggumu, kebetulan Acel berkunjung ke kantor papa jadi aku langsung mengajaknya.” Nasya kembali berbohong kepada Rayhan.
“Aku tidak sibuk kok, lain kali jangan ragu-ragu untuk mengajak aku untuk menemani kamu ya,”
“Iya, Ray,” sahut Nasya.
“Baiklah, kalau begitu aku antar kamu pulang ya,” pinta Rayhan sambil matanya melirik kepada Kairos.
Nasya menatap Kairos lalu Kairos menganggukan kepala. Nasya menatap Rayhan kemudian mengajaknya pergi. Kairos tersenyum melihat Nasya dan Rayhan kemudian dia meninggalkan pusat perbelanjaan, Kairos langsung kembali ke rumahnya.
Sedangkan Nasya dan Rayhan tiba di kediaman orang tua Nasya, mereka turun dari mobil dan masuk ke rumah. Rayhan melihat mama Nasya lalu menyapanya.
“Selamat siang,Tante,”
__ADS_1
“Selamat siang, Ray. Ayo duduk.” Mama Nasya duduk di sofa di ikuti Rayhan dan Nasya.
Mereka berbincang-bincang lalu ponsel Nasya bergetar, dia mengambil ponsel di dalam tas dan melihat pesan dari Kairos.
“Beri kabar padaku kalau Rayhan sudah pulang. Aku akan menjemputmu,” pesan Kairos kemudian Nasya meletakkan ponsel kembali ke dalam tasnya.
Rayhan memperhatikan Nasya yang tidak tenang kemudian dia bertanya.
“Kamu baik-baik saja?’
“Aku merasa lelah, tadi berputar-putar mencari perlengkapan bayi,” sahut Nasya. Dia ingin Rayhan cepat pulang.
“Kalau begitu kamu istriahat saja, nanti malam aku jemput kamu untuk makan di rumahku,”
“Baiklah, aku ke kamar dulu,” ujar Nasya sambil berdiri.
Rayhan juga berdiri kemudian dia berpamitan kepada mama Nasya. Nasya mengantar Rayhan sampai di depan kemudian dia kembali ke dalam. Dia langsung menuju ke kamarnya dan mengambil ponsel di dalam tas. Nasya mengirim pesan kepada Kairos, dia memberitahukan kalau Rayhan sudaj pergi.
***
Amerika
Carlos dan anak buah beserta empat polisi berjalan mendekati Gudang itu, mereka pergi ke jendela lalu Carlos mengintip di jendela. Dia melihat kedua anak buah yang menjadi mata-mata sedang berada di dalam Gudang. Carlos memberi isyarat kepada keempat polisi agar mendekat.
Dia menunjuk kedua anak buah dan memberitahukan kepada polisi kalau kedua anak buahnya itu jangan diapa-apakan. Keempat polisi itu menganggukan kepala kemudian mereke membungkuk.
“Aku akan mencoba membuka pintu itu, mungkin saja tidak terkunci,” ujar Carlos sambil memegang shotgun dan mengokangnya. Carlos mencoba membuka pintu belakang dan ternyata pintu tidak terkunci, Carlos memberi isyarat kepada keempat polisi dan anak buahnya agar masuk. Mereka masuk dan mencari tempat persembunyian.
Carlos melihat salah satu anak buahnya sedang berjalan ke arah mereka kemudian Carlos memanggilnya dengan suara setenga berbisik. Anak buah itu melihat Carlos lalu dia melihat ke sana ke mari, memastikan aman kemudian dia langsung menghampiri Carlos.
“Bagaimana di dalam?”
“Kalian harus hati-hati, mereka menggunakan senjata otomatis. Tunggu isyarat dariku lalu kalian boleh menyerangnya.” Jelas anak buah Carlos lalu terdengar langkah kaki orang, mereka langsung bersembunyi.
“Sedang apa kamu di situ?” tanya seseorang kepada anak buah Carlos yang menyamar.
“Aku ingin buang air kecil, aku tidak tahan lagi,”
“”Baiklah, jangan lama-lama,” ujar orang itu kemudian dia meninggalkan anak buah Carlos.
Carlos dan keempat polisi keluar dari persembunyiannya dan mereka kembali mengatur startegi, anal buah yang menyamar itu memberitahukan posisi-posisi musuh mereka.
“Oh ya, mereka melakukan transaksi di lantai dua,” info sang informan Carlos.
“Baiklah kalau begitu, kamu kembali bergabung dengan mereka. Jangan sampai mereka curiga padamu,”
“Baik, kalau begitu aku ke dalam dulu.”
Informan itu masuk dan bergabung dengan anak buah dari anak Tuan Rolland. Sedangkan Charlie mereka mulai mendekati gudang. Dia memberi isyarat kepada rekan-rekan dan anak buah Carlos untuk ikut di belakangnya. Mereka semua sudah siap dengan senjata mereka masing-masing.
Sementara itu Mike dia mengintip dari jendela dan menghitung orang-orang yang berada di dalam gudang. Dia memberi isyarat agar membuka jendela secara perlahan-lahan. Mereka mengawasi beberapa orang yang berada di lantai satu. Lalu dia melihat Carlos sedang berjalan mengendap-endap sedang menghampiri seseorang yang sedang duduk sendiri.
Dia melihat Carlos memukul kepala orang itu dengan shotgun hingga pingsan, dia melihat lagi Carlos menyeret pria itu. Mike menggeleng-gelengkan melihat aksi Carlos.
Mike melihat sudah tidak ada orang lagi lalu dia mencongkel jendela dan berusaha masuk, dia berhasil masuk lalu polisi dan anak buahnya ikut masuk. Mereka langsung mencari tempat persembuyian.
Mata Mike terus mengawasi, dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melindunginya, dia ingin menarik salah satu penjaga di dekat tangga. Anak buah Mike dan polisi menganggukan kepala lalu Mike berjalan secara perlahan-lahan kemudian dia melingkarkan tangan di leher orang itu dan langsung mematahkan leher orang tersebut.
Carlos melihat Mike dan memberi isyarat dengan menunjuk lantai dua, Mike menganggukan kepala dan memberi isyarat kepada Carlos kalau dia akan ke depan untuk membuka pintu buat Charlie. Mike dan beberapa polisi serta anak buah Mike berjalan mengarah ke pintu depan.
Mereka berjalan dengan perlahan-lahan sambil mata mereka mengawasi di dalam gudang.
__ADS_1