
Acel meminta pistol kepada salah satu temannya kemudian dia kembali masuk ke dalam, dia langsung mengarahkan pistolnya ke Anak tuan Rolland, Acel melepaskan tembakan. Anak Tuan Rolland langsung tersungkur di lantai.
Charlie dan rekan-rekannya terkejut, Charlie langsung memutar tubuhnya. Dia melihat Acel masih ingin menembak Anak Tuan Rolland lalu Charlie berusaha merebut pistol dari tangan Acel. Charlie berhasil merebut pistol dari Acel kemudian dia menarik Acel keluar dari rumah itu. Dia membawa Acel ke mobil lalu memborgolnya.
Acel tida bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Charlie padanya. Dia bersandar di sandaran kursi dan menatap keluar jendela.
“Mudah-mudahan dia mati,” umpat Acel dengan kesal.
Terdengar ambulance datang lalu mereka memasukkan anak Tuan Rolland ke dalam ambulance. Acel hanya bisa melihat dari kejauhan saat anak Tuan Rolland di masukkan ke dalam ambulance. Lalu dia melihat Charlie sedang berjalan menuju ke arahnya.
Charlie membuka pintu mobil kemudian dia melepaskan borgol di tangan Acel, dia menyuruh Acel keluar dari mobil.
“Sekarang kamu pulang sekarang," perintah Charlie kepada Acel. Acel keluar dari mobil dan pergi bergabung dengan teman-tamnnya.
Charlie mengeluarkan ponsel dan menghubungi Carlos. Charlie menceritakan semua kepada Carlos tentang Acel.
Di rumah Carlos terlihat tidak tenang setelah mendapat telepon dari Charlie. Dia mondar-mandir di dalam rumah, matanya selalu menengok keluar. Carlos sedang menunggu Acel.
Carlos merasa geram kepada Acel. Carlos melihat ada cahaya motor masuk, Carlos langsung membuka pintu.
Dia melihat Acel sedang turun dari motornya. Jessica keluar dari kamar dan menemui Carlos di depan.
Acel turun dari motor kemudian dia berjalan menghampiri Carlos yang sedang berdiri di depan pintu.
Acel mengangkat kepalanya dia menatap Carlos lalu tangan Carlos melayang ke pipi Acel.
Jessica terkejut melihat Carlos menampar Acel, dia tidak percaya lalu dia menghampiri Acel.
__ADS_1
“Apa yang sudah kamu lakukan sampai papa menamparmu?” tanya Jessica dengan memegang kedua pipi Acel.
“Dia ingin mencari mati, lebih baik aku memukulnya dari pada dia di bunuh oole anank dari musuhku,” marah Carlos sambil menunjuk wajah Acel, dia terlihat sangat emosi.
“Apakah kamu membuat ulah lagi?” tanya Jessica sambil menatap Acel dengan heran.
“Aku hanya ingin membalas apa yang sudah dia perbuat kepada papa,” sahut Acel dengan menunduk. “Aku minta maaf,”
“Masuk kamu! Dan jangan pernah keluar dari rumah!” bentak Carlos kepada Acel
Acel masuk ke dalam dan menuju ke kamarnya, dia masuk dan menghempaskan tubuhnya di kasur. Pikirannya tertuju ke anak Tuan Rolland.
“Mudah-nudahan dia tidak selamat. Kalau dia masih hidup aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Acel berdiri kemudian dia melepaskan kaos dan pergi ke kamar mandi.
****
Terlihat Kairos dan Gilang sudah mulai mabuk, Kairos memberi isyarat kepada pelayan untuk membawa bir lagi. Kairos tersenyum melihat Nasya kemudian dia menyodorkan gelas yang berisi bir kepada Nasya.
“Ayo, Nasya. Segelas saja, kamu tidak akan mabuk,” canda Kairos
“Iya, Nasya. Coba saja, bir ini enak kok,” sambung Gilang sambil menuang bir kedalam gelas dan meminumnya.
Nasya mengambil gelas yang di berikan Kairos lalu dia meminumnya, Kairoes kembali menuang bir kedalam gelas Nasya dan menyuruh Nasya minum. Nasya kembali minum, terlihat Nasya mulai mabuk.
Kairos menambah lagi minuman mereka, Nasya sudah tidak mau minum lagi. Sedangkan Gilang sudah tertidur di atas meja. Kairos memanggil pekerja tambang dan meminta mereka untuk membopong Gilang ke mobil. Kairos berdiri dia juga merasakan pusing tapi dia masih bisa berjalan.
Kairos membantu Nasya berdiri lalu dia membopong Nasya ke mobil. Kairos meminta sopir perusahaan untuk mengantar mereka ke hotel. Tiba di hotel Kairos membopong Nasya pergi ke kamarnya. Sedangkan Gilang di bopping sopir masuk ke kamar Gilang.
__ADS_1
Kairos membaringkan Nasya di tempat tidur, dia menaikkan kedua kaki Nasya di tempat tidur lalu Nasya menarik Kairos, karena Kairos dalam pengaruh alkohol dan badannya terasa lemas juga, Kairos terjatuh di atas tubuh Nasya.
Nasya langsung memeluk Kairos, dia berpikir Kairos adalah guling. Karena Kairos masih terasa pusing dia membiarkan Nasya memeluknya. Kairos tidur samping Nasya, Nasya memutar tubuhnya dan menaikan kaki ke atas perut Kairos.
Kairos memutar tubuhnya menghadap Nasya lalu mereka berpelukan.
Nasya memasukkan kakinya di antara paha Kairos dan menggerakkannya.
"Ah, Nasya singkirkan kakimu," ujar Kairos dengan suara pelan.
"Aku tidak mau, aku mau tidur," sahut Nasya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Kairos.
Kairos membuka matanya dan menatap Nasya, Nasya juga membuka matanya dan menatap Kairos.
Mereka berdua saling bertatap mata lalu Kairos mencium bibir Nasya.
Nasya membalas ciuman Kairos. Mereka saling berciuman lalu Kairos menindih tubuh Nasya.
Nasya memegang kedua pipi Kairos dan terus menerjang bibir Kairos.
Kairos meremas dada Nasya yang masih terbungkus dengan kaos yang sedikit ketat sambil memasukkan lidahnya ke dalam mulut Nasya.
Nasya memejamkan mata dan merasakan lidah Kairos menerobos ke dalam mulutnya.
Nasya berhenti dan berusaha mendorong Kairos tapi dia terlalu lemah. Nasya menutup mata dan dia tertidur.
Kairos berhenti kemudian dia menatap Nasya dan turun dari atas tubuh Nasya. Dia duduk di sisi tempat tidur dan menatap tubuh Nasya yang sexi itu.
__ADS_1
Kairos menepuk-nepuk kepalanya kemudian dia berdiri, Kairos keluar dari kamar Nasya dan masuk ke kamarnya. Kairos masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower.