End Of Love

End Of Love
SS2 EOL Eps 80


__ADS_3

Masih terdengar bunyi tembakan di kediaman Carlos, bertambahya anak buah Diego di kediaman Carlos membuat Carlos dan anak buahnya semakin terdesak. Bunyi rentetan senjata otomatis menghujani rumah Carlos.


Terlihat Carlos langsung merunduk dan tiarap di lantai, anak buah Carlos mencari perlindungan. Mereka tidak sanggup menghadapi anak buah Diego yang bersenjatakan senjata otomatis. Mereka memilih menghindar.


Kaca jendela rumah Carlos semuanya pecah, Carlos merayap di lantai dan berusaha masuk ke ruang kerja untuk mengambil peluru. Sedangkan Kairos dan Acel mereka masih terlibat saling baku tembak di belakang di bantu Luca dan Dean.


Carlos berhasil masuk ke ruang kerja dia menarik kotak berisikan peluru kemudian dia memasukan peluru ke mesin pistol. Carlos keluar perlahan-lahan dari ruang kerja lalu dia melihat salah satu musuh mencoba menyelinap masuk ke dalam rumah. Tanpa pikir panjang Carlos langsung menembak orang itu.


Mata Carlos melihat ke kiri dan ke kanan memperhatikan kalau-kalau ada yang masuk ke dalam rumah. Carlos merasa aman kemudian dia berjalan dengan menunduk dia menuju ke depan dan mengunci pintu, Carlos berlari ke dalam menuju ke belakang, peluru masih menghujam rumahnya.


Sedangkan Joe kembali menghubungi Tuan Arnets, dia ingin menanyakan Lokasi mereka. Dan Tuan Arnets menginformasikan kalau mereka semua sudah dekat.


“Dad, cepat. Kami di sini sudah terdesak. Mereka menggunakan senjata otomatis dan kakiku tertembak,”


“Iya, Nak. Kami sudah dekat, kalian bertahan. Lindungi cucuku,” ujar Tuan Arnets dari seberang telepon. Suaranya terdengar sangat khawatir.


Joe menutup telepon dan berusaha berdiri, dia mengambil pistol dan mencoba keluar dari kamar, dia ingin membantu Kairos, Acel dan Carlos.


Cella keluar dari kamar mandi dan melihat kaki Joe, dia langsung berlari menghampiri Joe.


“Honey, kamu tertembak? aku obati kakimu,” kata Cella sambil memegang Joe dan mendudukan Joe di kursi.


“Aku tidak apa-apa, Sayang. Kamu kembali ke kamar mandi, jangan tinggalkan mereka. Ayo cepat kembali ke kamar mandi!”


“Tapi ….”


“Sayang, sudah kembali ke kamar mandi,” sela Joe kemudian dia berdiri dan menarik Cella dan memasukkan Cella ke kamar mandi. “Jaga anak kita, daddy dalam perjalanan ke sini. Mereka sudah dekat.”


Cella merasa tenang mendengar Tuan Arnets sedang dalam perjalanan, Cella masuk ke kamar mandi dan menggendong Bryan.


Jessica kembali menelpon Charlie, dia khawatir kalau Charlie masih jauh dari rumah mereka tapi telepon tidak di jawab oleh Charlie. Terlihat semakin khawatir.


Cella menenangkan Jessica, dia meletakkan Bryan di kereta dorong dan memegang tangan Jessica.


“Mam, Tuan Arnets sudah dekat. Mama tidak usah khawatir,”


“Mama khawatir dengan papa dan Kairos juga Acel,” ujar Jessica dengan menghapus air matanya dan memeluk Laura.


“Aku juga khawatir, Mam. Tapi Tuan Arnets sudah dekat,” kata Cella lalu Jessica menganggukan kepala.


Di luar Joe kembali mencari Kairos dan Acel, dengan berjalan pincang Joe pergi ke belakang, dia melihat Kairos dan Acel semakin terdesak, anak buah Diego menghujani Kairos dan Acel dengan senjata otomatis. Acel dan Kairos memegang kepala dengan kedua tangannya dan berlindung di balik dinding taman.


Joe langsung tiarap dan membidik anak buah Diego yang sedang memegang senjata otomatis, kemudian dia melepaskan tembakan. Orang itu langsung tersungkur, Joe kembali berusaha berdiri dan berjalan menunduk menghampiri Carlos yang sedang tiarap di dekat taman.


“Joe, mengapa kamu keluar. Jangan tinggalkan mereka bagaimana kalau orang-orang itu masuk dari depan?” Carlos mencoba merayap, dia ingin kembali ke dalam. Carlos merasa khawatir kepada Jessica, Cella, Carissa dan Laura juga putra Cella.


Joe mengikuti Carlos merayap masuk ke dalam rumah. Carlos langsung berlari dengan menunduk kea rah jendela samping dan memperhatikan di luar. Sedangkan Joe dia mengintip dari balik jendela depan lalu dia melihat mobil Tuan Arnets dan anak buahnya tiba.


Dia langsung berlari menghampiri Carlos dan menunduk, “Orang tuaku dan anak buahnya sudah di depan,” info Joe dengan mengencangkan ikatan di pahanya.


“Ah, aku merasa tenang. Terima kasih Joe, ayo kita ke depan.” Carlos dan Joe berjalan dengan menunduk ke depan. Carlos membuka pintu dengan perlahan dan melihat anak buah Tuan Arnets berlari bergabung dengan anak buah Carlos.


Anak buah Tuan Arnets bersenjatakan otomatis, mereka membalas tembakan dari anak buah Diego. Tuan Arnets bersama salah satu anak buahnya berlari masuk ke rumah. Dia melihat kaki Joe kemudian dia memeluk Joe.


“Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya Tuan Arnets sambil memegang kedua pipi Joe.


“Iya, Dad. Aku hanya tertembak di kaki saja,” sahut Joe.


“Di mana cucuku?” tanya Tuan Arnets sambil memperhatikan keadaan rumah Carlos.


“Merka di kamar,” jawab Carlos dengan tersenyum lalu peluru mengenai punggung Carlos.


Tuan Arnet dan Joe langsung menunduk dan menarik Carlos, Anak buah Tuan Arnets langsung menembak orang yang menembak Carlos. Joe dan Tuan Arnet langsung membawa Carlos ke kamar dan mendudukan Carlos di kursi.


Joe langsung merobek kemeja Carlos dan mencari alcohol juga gunting, Joe menemukan alcohol lalu dia menyiram di punggung yang terkena tembak. Terdengar Carlos meringis kesakitan.

__ADS_1


Tuan Arnets keluar dari kama Carlos, dia mengambil pistol yang di selipkan di pinggang dan keluar. Dia melihat beberapa mobil polis masuk ke pekarangan Carlos, dia memasukkan kembali pistol itu di balik jacketnya.


Charlie bersama rekan-rekannya tiba lalu mereka langsung turun dari mobil dan menyebar di pekarangan rumah Carlos, mereka mencari perlindungan. Sedangkan Charlie dia langsung berlari ke dalam rumah dia terkejut melihat keadaan rumah Carlos yang sudah sangat berantakan. Charlie berpapasan dengan Tuan Arnets.


“Dimana Carlos?” tanya Charlie dengan wajah khawatir kepada Tuan Arnets.


“Dia di kamar. Carlos tertembak di punggung,” kata Tuan Arnets.


Charlie terkejut kemudian dia berlari masuk ke kamar Carlos, dia melihat Joe sementara mengobati luka Carlos. Charlie menghampiri Carlos.


“Dimana Jessica dan yang lainnya?”


“Mereka di kamar mandi,” sahut Carlos, “Acel dan Kairos masih di belakang, mereka terdesak.” Tampak wajah Carlos merah menahan marah.


“Aku akan mencari mereka.” Charlie langsung keluar dari kamar dan berlari ke belakang.


Charlie keluar lalu peluru menembus kaca, Charlie langsung melompat mencari tempat perlindungan. Tuan Arnets melihat salah satu orang yang mencoba menembak Charlie lalu Tuan Arnets melepaskan tembakan dan mengenai orang itu, dia langsung terkapar di tanah.


Sedangkan Acel dan Kairos masih berusaha melakukan perlawanan kepada anak buah Diego lalu Charlie datang membantu di susul Tuan Arnets.


Di depan, Mike dan anak buahnya juga tiba. Mereka langsung menyebar membantu polisi dan anak buah Carlos dan Tuan Arnets. Mike langsung berlari ke dalam rumah, dia masuk dan terkejut malihat keadaan rumah Carlos. Mike langsung menjadi khawatir dia langsung berteriak memanggil Carlos dan Jessica sambil berjalam menuju kamar Carlos.


Mike langsung membuka pintu dan melihat Carlos sedang duduk dan di obati oleh Joe.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Mike dengan wajah yang penuh ke khawatiran.


“Iya, aku hanya tertembak di punggung,” sahut Carlos dengan berusaha tersenyum.


“Dimana Jessi dan laura?”


“Mereka semua di kamar mandi,” jawab Carlos.


“Aku akan mencari Kairos dan Acel,” ujar Mike kemudian dia keluar dari kamar dan langsung mencari Acel.


Mike keluar lewat pintu depan dan memanggil salah satu anak buahnya untuk ikut bersamanya. Mereka berjalan memutar menuju ke halaman belakang. Dia memegang pistolnya dan menembak anak buah Diego yang mencoba menembak mereka.


Mike melihat salah satu anak buah Diego berjalan mengendap-endap ke arah Acel dan Kairos kemudian dia langsung menembak orang itu. Mike langsung menuju ke tempat Kairos dan Acel.


Di depan akhirnya polisi berhasil melumpuhkan anak buah Diego, mereka melucuti senjata anak buah Diego dan memborgol mereka. Polisi yang lain berlari menuju ke halaman belakang dan membantu Charlie, mereka menembaki anak buah Diego yang sementara menembaki Charlie dan Tuan Arnets yang sedang berlindung di balik tembok taman.


Di kamar Acel, tampak Mecy sedang menangis, dia tidak menyangka Diego bisa menyerang rumah Carlos hanya karena ingin membalas dendam atas kematian anak Tuan Rolland. Dia merasa bersalah kepada Carlos. Mecy terus menangis di kamar mandi, dia juga takut dengan kejadian ini Carlos tidak akan menerimanya lagi dan Acel akan meninggalkannya.


Sedangkan Mike, dia berhasil membawa Kairos dan Acel ke dalam rumah. Merasa aman, Acel langsung berlari naik ke atas menemui Mecy, dia membuka pintu kamar mandi dan melihat Mecy lagi menangis. Acel memeluk Mecy dan menenangkannya.


“Jangan menangis lagi, di luar sudah aman. Polisi sudah datang,”


“Aku takut, Honey,” ujar Mecy sambil menangis


“Tidak usah takut lagi, semua sudah terkendali,” sahut Acel sambil membelai rambut Mecy.


“Bukan itu, Honey. Aku takut papamu tidak menerimaku karena ulah orang tuaku,”


“Jangan berpikiran seperti itu, papaku tidak seperti itu.” Kembali Acel menenagkan Mecy.


Sementara di luar terlihat mereka semua berkumpul, Jessica, Cella keluar dari kamar mandi sambil menggendong Bryan dan Laura. Carlos berdiri dan langsung memeluk Jessica.


“Aku akan mencarinya, berani sekali dia mengusik keluargaku,” bisik Carlos di kuping Jessica tapi Jessica hanya diam.


Tuan Arnets melihat Cella dan Bryan kemudian dia memeluk Cella dan mengambil Bryan dari tangan Cella.


“Aku sangat mengkhawatikan kalian,” kata Tuan Arnets seraya mencium pipi Bryan.


Carlos duduk dengan wajah menahan marah, kemudian dia berteriak memanggil Luca. Terlihat luca berlari-lari menemui Carlos dan bertanya.


“Ada apa Carlos?”

__ADS_1


“Apakah ada korban dari kalian?” tanya Carlos dengan wajah marah.


“Dua orang tertembak di kaki,”


“Sudah bawah mereka ke rumah sakit?” tanya Carlos lagi sambil tatapan mata lurus.


“Iya, mereka sudah di bawah dengan ambulance,”


“Bagus, kumpulkan yang lainnya di halam belakang,” perintah Carlos kemudian dia mengambil ponsel dan menghubungi Garry. Panggilan terhubung.


“Hallo Garry, aku ingin kamu dan Albert kirim semua anak buah kalian ke rumahku!” perintah Carlos


“Ada apa Carlos? Apakah kalian baik-baik saja?”


“Iya, rumahku di serang dan aku ingin semua anak buah kalian datang ke rumahku!” perintah Carlos sekali lagi.


“Baiklah aku akan kumpulkan anak buahku dan anak buah Albert, kami segera menuju ke rumahmu.”


Carlos menutup telepon dan menatap Mike, dia merasa marah kepada Diego.


“Dia sudah berani bermain-main denganku, dia ingin melihat aku siapa,” kata Carlos dengan geram.


“Apa yang akan kamu lakukan Carlos?” tanya Charlie dengan cemas.


“Nanti kamu akan lihat, Charlie. Mike apakah aku bisa meminjam anak buahmu?” tanya Carlos tanpa menatap Mike.


“Tentu saja, aku akan mendukungmu apapun renacamu,:” sahut Mike.


“Kalau kamu juga butuh anak buahku, aku siap membantumu,” ujar Tuan Arnets.


“Terima kasih Arnets, aku juga butuh anak buahmu,” ujar Carlos kemudian dia menelepon Ron.


“Hallo Ron, aku butuh senjata. Tolong bawah senjata ke rumahku terserah jenis apa saja yang penting senjata. Bawah yang banyak nanti aku bayar di tokomu,” kata Carlos kepada Ron


“Baiklah, Carlos. segera aku ke sana.”


Carlos menutup telepon dan menatap Acel, “Kalian tinggal di rumah jangan ikut,”


“Tidak, Pap. Aku harus ikut,” sahut Acel


“Aku juga,” sambung Kairos


“Tidak, kalian berdau tetap di rumah,” sanggah Mike kepada Kairos dan Acel, dia tidak ingin mereka berdua ikut. Mike tidak ingin terjadi sesuatu kepada Acel dan Kairos.


“Apakah papa akan membunuh Diego?” tanya Acel dengan cemas


“Iya, papa akan membunuhnya. Dia sudah berani mengusik keluarga kita, dia harus mati,” jawab Carlos dengan geram.


“Tapi, Pap. Bagaimana dengan Mecy?”


Carlos berdiri kemudian dia menghampiri Acel, “Aku tida perduli lagi Acel, kalau orang tuanya meninggal dia bisa tinggal di sini kalau dia mau,” sahut Carlos kemudian dia pergi ke kamar.


Charlie tidak bisa menahan Carlos, dia tahu sifat Carlos seperti apa. Charlie mengajak rekan-rekan polisi untuk kembali ke kantor, dia tidak ingin terlibat. Charlie membiarkan Carlos pergi untuk menyerang kediaman Diego. Charlie kembali ke kantor.


Sedangkan Acel, dia hanya diam lalu dia pergi ke kamar menemui Mecy Acel duduk di kursi dan menatap Mecy.


“Papa akan membalas menyerang kediaman orang tuamu,” kata Acel sambil menatap mata Mecy.


“Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, tapi aku juga tidak bisa kehilangan orang tuaku juga,” sahut Mecy kemudian dia menangis.


Acel berdiri dan memeluk Mecy. “Aku tidak bisa berbuat apa-apa, papaku sangat emosi.”


Mecy hanya diam dan menangis, dia berbaring di tempat tidur. Acel ikut berbaring dan memeluk Mecy dari belakang.


Sementara di luar, semua anak buah Carlos sudah berkumpul. Terlihat beberapa mobil masuk ke pekarang rumah Carlos lalu turun dari mobil Garry dan Albert bersama anak buah mereka.

__ADS_1


Anak buah Mike dan Tuan Arnets bergabung dengan anak buah Carlos, Garry dan Albert. Lalu tidak lama kemudian Ron datang, dia langsung menemui Carlos dan mengajak Carlos melihat senjata di mobilnya. Ron membuka pintu van mobil dan membuka beberapa peti yang berisikan senjata. Dia juga membuka dus-dus yang berisikan bermacam-macam peluru. Carlos memanggil mereka semua dan menyuruh mereka untuk mengambil senjata. Mereka semua bersiap-siap untuk pergi ke rumah Diego.


Mereka semua masuk ke mobil, begitu juga Mike, Tuan Arnets dan Carlos. mereka ikut masuk ke mobil lalu mereka menuju ke kediaman Diego.


__ADS_2