End Of Love

End Of Love
SS2 EOL Eps 54


__ADS_3

Carlos, Charlie dan Mike serta semua anak buah Carlos sedang bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat, Carlos dan Mike membagikan senjata kepada semua anak buah mereka. Sedangkan Charlie bekerja sama dengan rekan-rekan polisinya.


Mereka masuk ke dalam mobil lalu mereka mengikuti Charlie dari belakang. Sniper yang di sewa Carlos sudah menunggu di lokasi, dia sedang mengawasi sebuah rumah mewah dan mengabarkan kepada Carlos.


Mereka semua langsung menuju ke rumah itu, mereka tiba dan menghentikan mobil jauh dari rumah itu.


Sniper memberi kabar kepada Carlos, kalau di dalam rumah tidak ada aktivitas hanya terlihat beberapa penjaga di depan rumah.


Carlos, Charlie dan Mike mengatur strategi, masing-masing memimpin anak buahnya.


Carlos meminta sniper untuk terus mengawasinya, mereka masuk dengan mengendap-endap.


Mereka berpencar, Carlos dan anak buahnya berjalan memutar ikut belakang. Sedangkan Charlie bersama Mike ikut dari depan, sampai di dalam Carlie dan Mike berpisah.


Mike membawa anak buahnya berputar ke samping.


Terdengar percakapan Carlos dan sniper di talki walkie.


"Hati-hati, Carlos. Satu orang sedang berjalan ke arahmu,"


"Terima kasih Bradley," ucap Carlos sambil bersembunyi di balik tong air besar.


Sedangkan Charlie dia berjalan perlahan-lahan lalu dia membekap mulut salah satu penjaga dan melumpuhkannya.


Charlie memberi isyarat kepada rekan-rekannya untuk masuk ke dalam.


Mereka masuk perlahan-lahan lalu Charlie melihat seorang pelayan sedang membawa kopi dan masuk ke ruang kerja.


Sedangkan Carlos dan anak buahnya kembali berjalan mengendap-endap. Carlos melihat seseorang sedang berjalan kemudian dia memukul belakang orang itu dan orang itu terjatuh.


Anak buah Carlos langsung mengikat dan membekap mulut orang itu.


Carlos dan anak buahnya langsung berlari masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.


Carlos mengintip kemudian dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk masuk.


Sedangkan Mike dia sudah melumpukan beberapa penjaga kemudian dia langsung menerobos masuk.


Dia nelihat di dalam rumah sepi kemudian dia berjalan menuju ke ruang kerja.


Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan, Mike langsung tersungkur. Dia terkena tembakan di dada.


Anak buah Mike langsung merunduk dan menarik Mike.


Carlos melihat Mike tergeltak di lantai dengan bersimbah darah. Carlos langsung berlari menghampiri Mike.l, dia memegang tangan Mike dan menenangkan Mike.


"Bawah dia ke rumah sakit," perintah Carlos kepada anak buah Mike kemudian dia berjalan merunduk dan berlindung di balik sofa.


"Hati-hati, Carlos. Ada yang nemegang senjata sedang mengarah padamu." Suara Bradley di talki walkie.


"Terima kasih, Brad. Bisakah kamu menyelesaikannya?"


"Tentu saja, aku akan menyelesaikannya."


Bradley langsung menembak orang itu. Dia tersungkur lalu Carlos berdiri dan melihat Charlie juga sudah berada di dalam.


"Charlie memberi isyarat kepada Carlos dengan jari telunjuknya sambil menunjuk ruang kerja.


Carlos menganggukan kepala kemudian dia dan Charlie berjalan menuju ke ruang kerja.

__ADS_1


Carlos mengokang pistolnya, begitu juga dengan Charlie. Mereka berdua saling tatap lalu Charlie memberi isyarat dengan menggunakan jarinya.


Mereka berdua langsung mendobrak pintu, pintu terbuka lalu mereka melihat seorang pria sedang duduk di kursi kerjanya. Dia tersenyum dan menepuk tangan saat melihat Carlos dan Charlie.


"Selamat datang, Tuan Carlos," ucap pria itu sambil berdiri.


Carlos menatap pria itu dengan heran. Carlos sama sekali tidak kenal pria itu.


"Siapa kamu? Mengapa kamu ingin mencelakaiku?" tanya Carlos dengan heran.


"Kamu memang tidak mengenalku tapi aku sangat mengenalmu, siapa yang tidak mengenal Carlos Gomes seorang pengusaha yang terkenal. Tapi sayang dia banyak musuh."


Carlos semakin heran lalu dia menodongkan senjata kepada pria itu.


"Katakan padaku, siapa kamu!" tegas Carlos sambil mengarahkan pistolnya kepada pria itu.


"Hei ... hei ... hati-hati dengan pistolmu itu," ledek orang itu kepada Carlos.


"Katakan atau kutembak kepalamu itu."


Carlos melangkah menghampiri pria itu sambil menodongkan pistol, begitu juga dengan Charlie, dia menodongkan pistolnya ke arah pria itu.


Saat pria itu berdiri, tiba-tiba dia tersungkur dengan lika tembak tepat di dahinya.


Carlos dan Charlie terkejut kemudian mereka berdua langsung berlindung di balik meja kerja.


"Bradley, apakah kamu yang menembak pria ini?" tanya Carlos kepada Bradley lewat talki walkie.


"Bukan aku, Carlos. Sepertinya ada orang lain lagi,"


"Bradley lindungi aku dan Charlie, kami berdua akan keluar dari ruang kerja.


"Baik, Carlos. Tunggu sebentar, aku melihat seseorang dengan menggunakan peralatan sniper. Aku akan menembaknya."


"Aman, Carlos. Keluar saja dari ruang kerja itu.


Carlos dan Charlie langsung berlari keluar dari ruang kerja.


Merka langsung pergi ke titik kumpul. Carlos langsung mengajak mereka untuk ke kantor.


Mereka tiba lalu Carlos menyuruh mereka ke ruang meeting.


Carlos memanggil Charlie untuk ke ruang kerjanya, mereka berdua masuk dan duduk.


"Bagaimana dengan mayat pria itu?" tanya Carlos dengan khawatir.


"Kamu tenang saja, rekan-tekan polisi sudah mengurusnya," sahut Charlie dengan tersenyum.


"Baguslah kalau begitu. Oh ya, kira-kira siapa pria itu. Aku sama sekali tidak mengenalnya,"


"Aku akan menyelidikinya, sepertinya dia menyinpan rahasia sampai dia di tembak."


"Aku pikir juga begitu, Charlie."


Carlos menarik napas panjang dan bersandar di sandaran kursi. Dia begitu penasaran dengan pria itu.


"Charlie tolong kamu selidiki siapa dalang dari semua ini. Aku merasa tidak tenang kalau belum menemukannya,"


"Kamu tenang saja, Carlos. Kami pasti akan mencarinya. Kalau begitu kita ke ruang meeting sekarang," ajak Charlie kepada Carlos kemudian mereka berdua keluar dari ruang kerja dan menuju ke ruang meeting.

__ADS_1


Mereka berdua masuk lalu Carlos langsung bicara kepada seluruh anak buahnya. Dia meminta mereka untuk terus mengawasi keluarganya, dan yang lainnya mencari informasi tentang orang yang menembak pria di rumah mewah itu.


Carlos dan Charlie meninggalkan ruang meeting, Charlie langsung kembali ke kantornya sedangkan Calos dia kembali keruang kerja. Carlos duduk dan berpikir, dia menjadi gelisah karena orang yang ingin mencelakainya belum di temukan.


Carlos berdiri dan meninggalkan ruang kerja, dia pergi ke parkiran dan masuk ke dalam mobil. Carlos mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Carlos meninggalkan parkiran dan pergi ke suatu tempat, dia ingin bertemu dengan orang yang di teleponnya.


***


Cella dan Joe pergi menemui Jessica, mereka berdua ingin membicarakn pernikahan mereka berdua. Cella mengetuk pintu kamar Jessica lalu pintu terbuka. Cella tersenyum kepada Jessica dan mengajak Jessica pergi ke ruang kerja.


Mereka bertiga masuk lalu duduk di sofa, Cella duduk dekat dengan Joe kemudian dia memegang tangannya Joe.


“Mam, aku ingin menikah dengan Joe. Aku sangat mencintainya,” ujar Cella kepada Jessica


“Secepat itu, Sayang? mengapa?” tanya Jessica dengan heran.


“Aku hanya ingin menikah saja, Mam. Nanti selesai menikah aku bisa melanjutkan kuliahku,” sahut Cella dengan wajah memohon.


Jessica menatap Cella dan Joe dengan heran, dia menjadi curiga kepada Cella.


“Apakah kamu hamil?” tanya Jessica lagi lalu Cella langsung tertawa


“Mam, aku tidak hamil. Aku dan Joe hanya ingin menikah secepatnya


“Iya, Nyonya. Aku dan Cella ingin menikah bukan karena Cella hamil, tapi kami berdua ingin punya ikatan saja yang sah,”


“Oh begitu, nanti kita bicarakan lagi dengan papa,” ujar Jessica dengan tersenyum.


“Terima kasih, Mam,” ucap Cella kemudian dia mencium kedua pipi Jessica dan mengajak Joe pergi ke halaman belakang.


Jessica juga keluar dari ruang kerja kemudian dia pergi ke kamar Carissa, dia mengajak Carissa pergi ke kamarnya.


Sedangkan Acel dia sedang bersama teman-temannya dia juga meminta bantuan kepada mereka untuk mencari informasi siapa yang ingin mencelakai keluarganya. Tanpa sepengetahuan Carlos Acel juga menyewa detektif.


Acel kembali ke rumah, dia langsung masuk ke kamar dan berbaring di tempat tidur.


“Kalau sampai aku bertemu dengan orang yang mencelakai papa, aku akan menghabisinya,” gumam Acel dengan geram.


Dia duduk di sisi tempat tidur lalu ponselnya berbunyi, dia melihat panggilan dari Mecy. Acel langsung menerima panggilan itu.


“Hallo, Sayang. Kamu lagi dimana,”


“Aku lagi di rumah, kita akan makan malam bersama?” tanya Mecy dari seberang telepon.


“Iya, nanti aku akan menjemputmu untuk makan malam di rumahku,”


“Tapi Acel, aku malu bertemu dengan orang tuamu,”


“Hei … mengapa harus malu, aku juga ingin mengenalkanmu kepada orang tuaku. Cella sudah mengenalkan Joe kepada orang tuaku, sekarang giliranku untuk mengenalkanmu,”


“Baiklah kalau begitu, jam berapa kamu akan menjemputku?’ tanya Mecy lagi.


“Nanti jam 18:30 aku jemput kamu,”


“Baiklah kalau begitu, aku mencintaimu,” ucap Mecy.


“Aku juga mencintaimu,” balas Acel kemudian dia menutup teleponnya.


Acel kembali berbaring di tempat tidur lalu dia mengambil batal dan menutup wajahnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selamat membaca


__ADS_2