
Acel mendapatkan kabar dari informan tentang dokter yang menyuntil Carlos di rumah sakit, informan memberikan informasi tentang tempat tinggal dokter itu. Acel langsung bergegas pergi bertemu dengan informan itu, dia menghubungi teman-temannya dan meminta bertemu di tempat mereka berkumpul.
Acel tiba lalu melihat teman-temannya sudah terkumpul, sang informan juga suda berada di sana. Acel masuk dan menyapa mereka semua. Acel duduk dan mulai bertanya kepada si informan, Acel menganggukan kepala mendengar penjelasan sang informan.
“Baiklah, kalaiu begitu kita berangkat sekarang. aku tidak ingin melepaskannya,” ujar Acel sambil berdiri.
“Iya, lebih baik kita pergi sekarang sebelum dia tahu kalau kamu sedang mencarinya,” kata teman Acel kemudian mereka semua berdiri dan mengambil pistol yang di bagikan oleh Acel.
Mereka semua keluar dan masuk ke dalam mobil, Acel bersama dua orang temennya masuk ke dalam mobil kemudian Acel langsung menjalankan mobilnya menuju ke rumah dokter itu.
Acel menghentikan mobilnya sedikit jauh dari rumah dokter itu, mereka semua turun dari mobil dan berkumpul kembali. Acel mulai mengatur strategi dan teman-temannya mengerti. Mereka mulai masuk dengan mengendap-endap.
Acel mengintip di jendela, dia mengamati kalau ada orang di dalam. Dia memberi isyarat kepada temennya untuk membobol jendela. Teman Acel membobol jendela kemudian Acel masuk perlahan-lahan lewat jendela. Temannya juga ikut masuk, mereka berdua berjalan mengendap-endap di dalam rumah, sedangkan teman Acel yang lain mencoba masuk lewat pintu belakang.
“Hati-hati, bisa saja dia memasang cctv di dalam rumah,” bisik Acel kepada salah satu temannya.
Mereka menuju ke ruang kerja, Acel menempelkan kupingnya di pintu, dia ingin mendengar kalau ada orang di dalam. Tapi tidak terdengar ada kegiatan di dalam ruang kerja.
Acel memberi isyarat untuk pergi ke kamar, mereka berjalan perlahan-lahan menuju ke salah satu kamar. Acel juga menempelkan telinganya di pintu lalu terdengar suara laki-laki sedang berbincang di telepon.
Acel membei isyarat kepada temannya kalau di dalam ada orang, teman Acel yang lain juga berhasil masuk, Acel menyuruh mereka untuk memerika setiap ruangan yang ada di dalam rumah itu.
Teman-teman Acel mengikuti perinta Acel, ada yang naik ke lantai dua dan memeriksa setiap ruangan tapi mereka tidak menemukan penghuni lain di dalam rumah itu. mereka turun kembali dan menemui Acel.
“Berarti hanya dia sendiri di dalam rumah ini, lebih baik kita mendobrak pintu kamar ini,” ujar Acel dengan suara pelan.
“Iya, kita dobrak saja,” sambung salah satu teman Acel.
Mereka mendobrak pintu kamar itu lalu Acel langsung dan mendongan pistorlnya kepada dokter itu. dokter terkejut melihat Acel menodongkan pistol kepadanya, dia melepaskan ponsel di atas tempat tidur dan mengangkat kedua tangannya.
Acel menghampiri dokter itu kemudian dia meminta salah satu temannya untuk mengikat dokter itu.
“Bawah dia ke mobil,” perintah Acel kepada temannya.
Mereka membawa dokter itu ke mobil, lalu Acel masuk ke dalam mobil. Dia menghidupkan mesin mobil dan langsung menjalankannya. Dia membawa dokter it uke pinggiran kota, Acel menyewa salah satu gedung untuk menyekap dokter itu.
Mereka tiba lalu Acel dan teman-temannya membawa dokter itu ke dalam. Mereka mendudukkan dokter itu di kursi dan mengikat kedua tangannya.
“Siapa kalian? mengapa kalian membawaku ke sini?” tanya dokter itu dengan wajah ketakutan.
“Aku membawamu ke sini karena ada yang ingin aku tanyakan,” ujar Acel sambil menarik kursi dan duduk di depan dokter.
“Apa yang ingin kau tanyakan padaku?”
Acel berdiri dan mengeluarkan dompet dari saku celananya, dia mengambil foto Carlos dan menunjukkan foto itu kepada dokter.
“Apakah kamu kenal dia?” tanya Acel sambil duduk kembali.
Dokter itu memandang foto Carlos lalu dia terkejut, tapi dia tidak menunjukkan kepada Acel. Dia bersikap tenang saat melihat foto Carlos. Dokter itu menatap Acel.
“Aku tidak mengenalnya,” sahut dokter itu
Acel menundukkan kepala, dia merasa geram terhadap dokter itu, dia menatap dalam mata sang dokter.
“Kamu jangan berbohong kepadaku, apakah kamu ingin aku membawa orang yang ada di foto itu untuk bertemu denganmu? Kamu tidak tahu siapa dia, kalau dia tahu kamu di sini dia akan membunuhmu,”
“Aku bersumpah, aku tidak mengenal pria yang ada di foto itu.” dokter itu berusaha meyakinkan Acel tapi Acel tidak percaya.
“Kamu pikir aku percaya, aku ingin bertanya sekali lagi kepadamu. Mengapa kamu menyuntikkan virus di tubuh orang yang ada di foto ini?”
“Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu,” ujar dokter sambil memalingkan wajahnya.
Acel tidak percaya dengan omongan dokter itu, dia berdiri dan menodongkan pistolnya di kepala dokter itu.
“Katakan dengan jujur atau ku tembak kepalamu!” teriak Acel dengan marah
“Aku bersumpah, aku tidak pernah bertemu dengan pria yang ada di foto itu.”
Acel menjadi marah kemudian dia mengeluarkan ponselnya dia langsung menghubungi Carlos.
“Kamu akan lihat sendiri, aku menelepon orang yang ada di foto ini. Oh ya kamu tahu? Dia adalah papaku,” ujar Acel sambil menempelkan ponsel di kupingnya.
Dokter itu terkejut kemudian dia menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat sangat khawatir mendengar kalau Acel anak dari Carlos.
__ADS_1
Sementara itu Acel masih belum terhubung dengan Carlos, dia mencoba menelepon kembali lalu terdengar suara Carlos dari seberang telepon.
“Hallo, Acel. Ada apa?” tanya Carlos dari seberang telepon.
“Pap, bisa papa datang ke sini? Ada yang ingin aku tunjukkan kepada papa,” sahut Acel
“Datang kemana, Acel?” tanya Carlos dengan hera.
“Aku kirim lokasinya, Pap,”
“Baiklah kalau begitu, papa tunggu.”
Acel menutup telepon kemudian dia mengirim lokasi tempat mereka kepada Carlos. Acel tersenyum menatap dokter itu.
“Kita lihat saja, kamu masih mau berbohong atau tidak.” Acel tertawa dan kembali duduk di depan dokter itu.
Terlihat wajah dokter itu semakin panik, dia terlihat sangat gelisah. Acel memperhatikan si dokter kemudian dia tersenyum.
“Kenapa Anda terlihat gelisah?” ledek Acel kepada dokter, tapi dokter hanya diam saja.
Tidak lama kemudian terdengar beberapa mobil berhenti di depan gedung, Acel mengeluarkan pistol dan mengintip dari jendela, dia menyelipkan kembali pistol di pinggangnya kemudian dia turun menemui Carlos.
“Pap, ada yang ingin aku tunjukkan kepada papa,” ujar Acel
Carlos menatap Acel dengan heran, dia melihat ada pistol di pinggang Acel kemudian dia mengambilnya.
“Mengapa kamu membawa pistol dan dari mana kamu mendapatkannya?”
“Aku membelinya di toko senjata,” jawab Acel dengan memalingkan wajahnya.
“Kenapa banyak orang bersenjata di sini? Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Carlos dengan memegang dagu Acel
“Aku ingin menunjukkan kepada papa dokter yang sudah menyuntikkan virus di tubuh papa,” sahut Acel kemudian dia menarik tangan Carlos untuk masuk ke dalam gedung.
Carlos mengikuti Acel, dia dan Acel masuk ke dalam gedung. Mereka naik ke lantai dua lalu Acel menunjukkan dokter itu kepada Carlos.
“Apakah dia orangnya, Pap?”
Carlos menghampiri dokter itu kemudian dia melayangkan pukulan ke wajah dokter itu sehingga dokter itu terjatuh.
Dia menarik kerak kemeja dokter itu dan kembali melayangkan pukulan ke wajah dokter. Acel menahan Carlos dan menenangkannya.
“Pap, sudah hentikan!” Acel membantu dokter berdiri dan mendudukkan kembali di kursi.
“Aku minta maaf, itu bukan keinginanku. Aku hanya di suruh oleh seseorang,” kata dokter itu sambil menunduk menahan sakit.
Carlos mengangkat wajah dokter itu dan membungkukkan badannya sehingga wajahnya begitu dekat dengan wajah dokter itu.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Carlos dengan geram
“Orang itu, dia ingin membalas dendam padamu. Dia ingin kamu mati,” sahut sang dokter
“Siapa orang itu?” tanya Carlos sekali lagi.
“Kalau aku mengatakannya, keluargaku akan di bunuh,” jawab dokter itu dengan ketakutan.
“Katakan saja, aku janji akan melindungi kamu dan keluargamu,”
“Benarkah? Kamu mau berjanji?” tanya dokter dengan menatap mata Carlos
“Iya, aku janji,” jawab Carlos dengan memegang punggung dokter itu
“Baiklah, orang yang menyuruhku dia memilik perusahaan ternama di kota ini. Dia ingin membalas dendam atas kematian orang tuanya. orang tuanya bunuh diri karena menyaksikan langsung dirinya mengalami pelecehan seksual yang di suruh oleh Anda.”
Carlos terdiam dan menatap dokter itu dan dia bertanya kembali.
“Katakan siapa dia?” Carlos tidak tahu karena saat Carlos membalas dendam ada tiga lelaki yang mengalami pelecehan seksual.
“Orang tuanya bernama Rolland,” jawab dokter
Mendengar penjelasan dokter Acel langsung menghampiri Carlos, dia tidak mengerti apa yang sudah terjadi di masa lalu Carlos.
“Pap, bisakah papa jelaskan apa maksud dari perkataan dokter ini?”
__ADS_1
Carlos hanya diam dan menatap Acel, dia bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada Acel. Dia tidak takut Acel salah paham dengannya.
“Nanti papa jelaskan nanti, lebih baik sekarang kita pulang. Dan kalian tolong jaga dokter ini jangan apa-apakan dia.
“Dan yang lain tolong jaga keluarga dokter ini, jangan sampai terjadi apa-apa dengan keluarganya,” perintah Carlos kepada anak buahnya.
Carlos dan Acel meninggalkan gedung itu dan kembali ke rumah, tiba di rumah Carlos langsung masuk ke ruang kerjanya. Carlos mengambil ponsel di saku celananya dan menghubungi Mike, panggilan tersambung.
“Hallo, Mike. Apakah kamu sedang sibuk?”
“Hi, Carlos. Aku tidak sibuk, ada apa?” terdengar suara Mike di seberang telepon.
‘Bisakah kamu datang ke rumahku?” tanya Carlos lagi sambil berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruang kerja.
“Baiklah, aku kesana sekarang,” sahut Mike
“Terima kasih, Mike,” ucap Carlos kemudian dia menutup telepon dan menghubungi Charlie.
Carlos juga meminta Charlie untuk datang ke rumahnya, Carlos tidak ingin bertindak gegabah karena dia tahu anak dari Tuan Rolland suka berbuat nekat. Carlos duduk di kursi kerjanya lalu pintu terbuka, dia melihat Acel yang masuk.
Acel menghampiri Carlos dan duduk di depan meja kerja, dia menatap mata Carlos.
“Bisa papa jelaskan semua yang di katakan dokter padaku, apakah itu semua benar? Apakah papa melakukan pelecehan seksual kepada anak Tuan Bernard?”
“Acel, papa tidak akan menjawabnya sebelum paman Mike ada di sini,” ujar Carlos kepada Acel.
“Baiklah, aku akan menunggu paman Mike di sini,” sahut Acel dengan bersandar di sandaran kursi.
Tidak lama kemudian Mike datang, dia masuk dan menuju ke ruang kerja Carlos. Tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk.
“Hi, Carlos. Ada apa kamu menyuruhku ke sinis?” tanya Mike sambil duduk di sofa.
Carlos berdiri dan ikut duduk di sofa, begitu juga dengan Acel. Dia berdiri lalu ikut duduk di sofa.
“Begini, Mike. Dokter yang menyuntikku di temukan oleh Acel dan ternyata dia juga hanya di suruh,” jelas Carlos kepada Mike sambil matanya melirik kepada Acel.
Mike terkejut dan memajukan badannya sambil kedua sikut menyanggah di pahanya.
“Siapa yang menyuruhnya, katakan padaku?” tanya Mike penasaran.
“Dia anak dari Tuna Rolland, dia yang menyuruh dokter itu untuk menyuntikkan virus di tubuhku. Dia ingin membalas dendam atas kematian Tuan Rolland dan dia juga ingin membalas dengan apa yang terjadi waktu itu.”
Mike bersandar kembali di sandaran sofa dan berpikir, dia juga tidak ingin gegabah. Lalu terdengar pintu di ketuk. Acel berdiri dan membukakan pintu, dia melihat Charlie kemudian Acel tersenyum dan menyuruh Charlie untuk masuk.
Charlie masuk dan langsung duduk di sofa, dia menatap Carlos dan Mike.
“Apakah sudah dapat kabar?” tanya Charlie kepada Carlos
“Iya, Charlie. Kami sudah mendapatkan informasi siapa yang telah menyuntikkan virus di tubuhku.” Carlos menjelaskan kepada Charlie, terlihat Charlie mengkerutkan keningnya saat mendengar penjelasan Carlos.
“Kalian harus berhati-hati karena dia bukan orang sembarangan, jangan bertindak gegabah,” ujar Charlie kepada Carlos dan Mike.
“Pap, di sini sudah ada Paman Mike. Bisakah papa menjelaskan semua apa yang di katakan dokter itu?” pinta Acel kepada Carlos, dia sangat penasaran dengan penjelasan dokter tadi.
“Acel, nanti paman Mike yang akan menjelaskannya agar kamu tidak salah paham kepada papa,” sahut Carlos kepada Acel kemudian dia menatap Mike dan meminta Mike untuk menjelaskan semuanya kepada Acel.
Mike berdiri lalu dia duduk di samping Acel, dia meletakkan tangannya di punggung Acel dan mulai menjelaskan kepada Acel dari kematian Dario sampai pembalasan yang di lakukan Carlos kepada anak-anak Calvin, Bernard dan Rolland. Tampak wajah Acel berubah saat mendengar Dario mengalami pelecehan seksual sebelum dia di tembak.
Wajah Acel berubah menjadi merah menahan marah saat mendengar Mike menjelaskan saat Dario sudah mati masih mengalami pelecehan seksual. Dia mengepalkan tangannya dan mencoba menahan amarahnya. Carlos berdiri dan duduk di samping Acel.
“Kamu mengerti sekarang mengapa papa dan Paman Mike melakukan itu?”
Acel menganggukan kepala dan memeluk Carlos dengan erat.
“Mendengarnya saja aku merasakan sakit, seandainya aku papa, bukan hanya itu yang akan aku lakukan kepada mereka. Aku pasti membunuh mereka semua,” ujar Acel dengan geram.
Carlos melepaskan pelukan Acel kemudian dia memegang kedua pipi Acel.
“Papa tidak ingin kamu ikut dalam masalah ini, papa tidak ingin terjadi sesuatu denganmu,”
“Iya, Acel. Apa yang dikatakan oleh papa kamu itu benar, kamu jangan ikut campur. Nanti kami yang akan menyelesaikannya,” sambung Charlie.
Carlos, Mike dan Charlie masih berbincang-bincang di ruang kerja, sedangkan Acel dia kembali ke kamarnya dan memikirkan cara untuk bertemu dengan anak Tuan Rolland.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat membaca