
Kairos terus memikirkan Nasya, dia tidak tahu lagi harus mencari Nasya dimana. Dia dan Gilang sudah berusaha mencarinya tapi tidak berhasil.
Sebulan sudah Nasya tidak pernah ke kantor, dia memilih berdiam diri di rumah orang tuanya.
Pintu kamar Nasya di ketuk lalu Nasya menyurunya masuk, pintu terbuka. Nasya tersenyum kepada mamanya.
"Hi, Ma. Papa sudah ke kantor?" tanya Nasya sambil berdiri dan mencium kedua pipi mamanya.
"Iya. Papa sudah pergi, Sayang bagaimana kalau kamu membantu papa di perusahan,"
"Minggu depan saja, Ma," sahut Nasya seraya duduk di tempat tidur.
"Benar ya, Sayang. Mama senang mendengarnya," ucap mama Nasya dengan lembut.
Nasya tersenyum kemudian dia berbaring di tempat tidur. Sedangkan mama Nasya, dia berdiri dan meninggalkan Nasya sendiri di kamar.
Nasya mencoba mengingat kejadian di apartemen, tapi tak satupun yang dia ingat.
Aku pernah mabuk tapi gak pernah sampai tidak sadarkan diri, tapi waktu sama Gilang dan direktur aku sama sekali tidak ingat apa-apa. Gumam Nasya kemudian dia memejamkan mata.
Sedangkan Kairos, dia menjadi penasaran kepada Nasya, dia ingin mencari Nasya kembali.
***
Amerika
Acel mondar-mandir di dalam kamar, dia teringat dengan ucapan orang tua Mecy. Dia tidak menyangka kalau anak Tuan Rolland berteman akrab dengan orang tua Mecy.
Aku harus bagaimana? Terus bagaimana kalau orang tua Mecy tahu kalau aku yang menembak orang itu. Ah shit, kenapa bisa jadi begini. Batin Acel.
Dia keluar dari kamar dan mengambil kunci motor. Acel naik ke motor lalu dia langsung meluncur ke tempat mereka berkumpul.
Dia tiba lalu Acel turun dari motor. Acel masuk dan menyapa teman-temannya.
Acel duduk kemudian dia mulai berbincang-bincang dengan teman-temannya.
"Orang itu masih hidup, dia koma."
Teman Acel terkejut lalu salah satu temannya duduk di depan Acel.
"Kamu tahu dari mana?"
"Kemarin aku ke rumah sakit bersama Mecy. Ternyata orang itu teman baik dari orang tua Mecy, Leo," sahut Acel lalu dia menyalakan rokok.
"Dia bahkan ingin mencari siapa yang telah menembak orang itu," sahut Acel seraya mengisap rokok yang di apit jarinya.
"Kamu harus berhati-hati Acel." Leo memperingatkan Acel, dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Acel.
"Tentu saja, Leo. Yang aku takutkan kalau dia tahu aku orangnya, dia pasti akan menentang hubunganku dengan Mecy." Acel menarik napas panjang, dia memikirkan bagaimana cara agar orang tua Mecy tidak mengetahuinya.
****
Kairos meminta bantuan kepada Tiara untuk mencari Nasya, Kairos tahu Nasya dekat dengan Tiara. Kairos memanggil Tiara untuk ke ruang kerjanya. Tiara menemui Kairos lalu mereka berdua berbincang-bincang.
Kairos menceritakan kepada Tiara apa yang terjadi antara dia dan Nasya, Tiara terkejut tapi dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak ingin menyalakan Kairos maupu Nasya.
“Kairos, Nasya berasal dari surbaya, tapi aku tidak tahu alamatnya. Nasya hanya bercerita kalau dia berasal dari Surabay, dia melarikan diri dari orang tuanya karena dia akan di jodohkan,”
“Oh, begitu,” gumam Kairos, “jadi dia berasal dari Surabaya?”
“Iya, Kairos. Dia anak satu-satunya, orang tuanya punya perusahan pelayaran di Surabaya,” jelas Tiara kepada Kairos.
“Oh ya? Apa nama perusahaannya?”
“Itu juga aku tidak tahu,” ujar Tiara dengan wajah memelas.
Kairos menarik napas panjang lalu dia bersandar di sandaran kursi dan menatap Tiara.
“Baiklah, nanti aku cari informasi perusahan pelayaran di Surabaya,” sahut Kairos kemudian dia dan Tiara berdiri dan keluar dari ruang kerja.
Tiara kembali ke ruangannya sedangkan Kairos dia pergi ke parkiran dan menelepon Gilang. Dia mengajak Gilang untuk bertemu dengannya di restoran yang berada di daerah Senayan. Kairos masuk ke dalam mobil lalu dia meluncur ke restoran tersebut.
Kairos tiba lalu dia masuk dan melihat Gilang sudah berada di restoran, Kairos menghampiri GIlang lalu dia duduk.
‘Sudah lama?”
“Baru saja,” sahut Gilang, “apakah sudah ada informasi tentang Nasya?”
“Aku baru dapat informasi dan Tiara, ternyata Nasya berasal dari Surabaya dan aku berpikir dia mungkin sekarang berada di rumah orang tuanya,” sahut Kairos sambil membuka menu.
“Kamu sudah memesan makanan?” tanya Kairos sambil melihat-lihat makanan yang tertera di buku menu.
“Belum, aku menunggu kamu,”
“Oh … kalau begitu pesan saja,” ujar Kairos lalu dia memanggil pelayan, “Aku pesan dada tuna dan sayur capcae,”
“Baik, Tuan.” Pelayan menulis pesanan Kairos
“Kalau aku kakap bakar ya,” pesan Gilang sambil tersenyum kepada pelayan
__ADS_1
“Minumnya?” tanya pelayan kepada Kairos dan Gilang
“Aku lemon juice,” ucap Gilang
“Um, aku es the tawar saja,”
Pelayan menulis pesanan Kairos dan Gilang kemudian dia pergi. Kairos dan Gilang melanjutkan pembicaraan mereka.
“Jadi Nasya berasal dari Surabaya?”
“Iya, Gilang. Kata Tiara orang tuanya memiliki perusahaan pelayaran di Surabaya. Menurutmu apakah aku harus mencarinya ke Surabaya?”
“Tentu saja, aku akan menemanimu ke Surabaya. Kita cari bersama, nanti aku minta tolong sepupuku di sana,”
“Terima kasih, Gilang. Kamu sudah banyak membantuku,” ucap Kairos dengan tersenyum lalu gilang menganggukkan kepala.
Itu salahku, kalau saja aku tidak memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Nasya pasti tidak akan seperti ini. Aku hanya ingin membuat mereka berdua dekat saja, tapi malah jadi begini. Gumam gilang dalam hati.
Pesanan mereka datang lalu Kairos dan Gilang makan. Mereka makan sambil berbincang-bincang.
“Kapan rencananya ke Surabaya?” tanya Gilang dengan menyuap makanan ke dalam mulutnya
“Bagaimana kalau besok kita pergi ke Surabaya?”
“Boleh juga,” sahut Gilang
“Apakah tidak mengganggumu?” tanya Kairos lagi.
“Ah … kamu tenang saja, pekerjaanku aku serahkan kepada asistenku,”
“Sekali lagi terima kasih ya.”
Gilang tersenyum lalu mereka berdua melanjutkan makannya. Selesai makan Kairos membayar makanan mereka dan mereka tinggalkan restoran. Kairos kembali ke kantornya bersama Gilang.
***
Perut Cella mulai terlihat membesar, Joe mengantar Cella untuk memeriksa kandungannya. Joe membawa Cella ke klinik dan menemui dokter kandungan. Dokter kandungan adalah teman Joe, dia memanggil Cella lalu Cella berdiri dan masuk.
Joe memperkenalkan Cella kepada Dokter kandungan.
“Ini Istriku, namanya Cella,”
Dokter tersenyum kemudian dia menyalami Cella, “ Senang bertemu denganmu,” ucap dokter lalu dia menyuruh Cella duduk.
“Senang juga bertemu denganmu,” sahut Cella kemudian dia duduk
“Bagaimana kalau langsung berbaring saja?” ujar dokter kepada Cella lalu Cella berdiri dan berbaring di tempat tidur.
“Kira-kira janinya berumur berapa bulan?” tanya Joe sambil matanya tidak lepas dari layar monitor
“Ini sudah tujuh bulan, sebentar aku ingin melihat jenis kelaminnya.” Dokter menggerakkan usg di perut Cella, dia ingin melihat jenis kelamin janin itu. Dokter tersenyum kemudian dia menatap Joe,
“Janinnya laki-laki.”
Joe dan Cella saling bertatap mata kemudian dia mencium kening Cella, dia terlihat sangat bahagia saat dokter memberitahukan kalau janinnya laki-laki, dia memegang tangan Cella.
Dokter membersihka sisa gel di perut Cella kemudian dia kembali duduk di kursinya. Joe membantu Cella berdiri kemudian mereka berdua duduk. Mereka berbincang-bincang lalu dokter memberikan vitamin kepada Cella.
Joe dan Cella berpamitan kepada kepada dokter lalu mereka berdua meninggalkan ruang dokter dan pergi keruangan Joe. Joe duduk lalu dia menarik Cella duduk di pangkuannya, dia membelai perut Cella.
“Aku sangat bahagia sayang, akhirnya anak kita laki-laki,” ujar Joe sambil tersenyum.
"Aku juga," balas Cella sambil melingkarkan tangan satunya di punggung Joe.
Cella mencium bibir Joe kemudian dia berdiri.
"Kamu masih bekerja?"
"Um, iya. Apakah kamu sudah mau pulang?" tanya Joe sambil ikit berdiri.
"Iya, aku ingin istirahat," sahut Cella lalu Joe menanggukan kepala.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Nanti aku kembali lagi ke sini.
Cella tersenyum lalu dia dan Joe keluar dari ruangan. Mereka berdua menuju ke parkiran. Cella dan Joe masuk ke mobil dan kembali ke rumah.
***
Dua bulan sudah Kairos mencari Nasya tapi dia belum juga menemukkannya, Kairos menyewa rumah di Surabaya, dia terus berusaha untuk mencari Nasya.
Sementara Nasya dia sibuk membantu di perusahan papanya.
Terlihat Nasya mondar-mandir di kamarnya, wajahnya terlihat cemas.
Sudah dua bulan aku tidak period, jangan-jangan aku hamil. Batin Nasya kemudian dia duduk di depan cermin, Nasya menatap wajahnya di cermin.
Ketakutan menyelimutinya, dia berdiri lalu keluar dari kamar. Nasya masuk ke mobil lalu dia pergi ke apotik, dia ingin membeli tes pack. Nasya tiba di apotik lalu dia langsung pergi ke dalam. Nasya mengambil tes pack lalu dia pergi ke kasir dan membayarnya.
Selesai membayar Nasya langsung pulang ke rumah. Nasya masuk pergi ke kamar lalu dia duduk di sisi tempat tidur.
__ADS_1
Nasya melihat jam sudah menunjukkan pukul 09:00 Wib. Dia menarik napas panjang dan berdiri, Nasya perginke dapur lalu memgambil air minum dan meminumnya.
Nasya kembali ke kamar sambil membawa gelas yang berisikan air, dia duduk di kursi dan menunggu untuk buang air kecil.
Tidak lama kemudian Nasya berdiri kemudian dia mengambil botol kecil yang dia beli tadi bersama tes pack di apotik. Dia masuk ke kamar mandi dan buang air kecil, Nasya menampung urin di botol kemudian dia memasukkan tes pack ke dalam botol.
Nasya menunggu hasil di kamar mandi. Dia terus memperhatikan botol yang dia letakkan di wastafel. Jantungnya berdebar dengan cepat.
Nasya mengeluarkan tes pack dari botol dan melihat hasilnya. Nasya membelalakan mata, dia tidak percaya dengan hasil yang dia lihat.
"Shit, aku hamil." Nasya duduk di lantai kamar mandi dan menangis. " Kenapa aku harus hamil, sialan kamu Kairos," umpat Nasya.
Dia berdiri dan keluar dari kamar mandi, Nasya berbaring di tempat tidur dan menangis. Dia takut papa dan mamanya tahu kalau di hamil.
"Bagaimana aku mengatakan kepada papa dan mama, mereka pasti kecewa padaku." Nasya terus menangis di dalam kamar.
Sedangkan Kairos dia mencari daftar perusahan pelayaran di Surabaya, dia memeriksa satu persatu dan menyewa orang untuk mencari informasi tentang Nasya.
Dia memberikan foto Nasya dan menyuruh masing-masing orang untuk memantau perusahan pelayaran.
"Mungkin saja dia bekerja di perusahan orang tuanya." Kairos berdiri lalu dia mondar-mandir di dalam rumah. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Kairos melihat panggilan dari Gilang.
Kairos langsung menjawabnya.
"Hi, Gilang. Apakah kamu sudah mendapat kabar Nasya?"
"Belum, Kairos. Aku lagi di jalan menuju ke tempatmu, nanti kita bicarakan di sana," sahut Gilang dari seberang telepon.
"Terima kasih, Gilang. Aku menunggumu." Kairos menutup telepon kemudian dia duduk di sofa.
Tidak lama kemudian terdengar mobil berhenti di depan rumah yang di sewa Kairos. Kairos berdiri dan mengintip dari balik tirai, dia melihat Gilang yang datang.
Kairos membuka pintu dan menyuruh Gilag untuk masuk.
Gilang masuk kemudian mereka berdua duduk disofa.
"Bagaimana, apa yang harus kita lakukan?"
"Tunggu saja kabar dari orang yang kamu sewa, aku juga sudah meminta sepupuku untuk mengawasi beberapa perusahan pelayaran di sini.
"Terima kasih, Gilang. Aku merasa bersalah kepada Nasya. Mengapa aku tidak bisa menahan diriku juga," ujar Kairos dengan wajah sedih.
"Hei, tidak usah disesalkan lagi. Semua sudah terjadi."
Kairos hanya menganggukan kepala, pikirannya terus tertuju kepada Nasya.
Bagaimana kalau dia hamil? Batin Kairos kemudian dia meminta rokok kepada Gilang.
Gilang mengeluarkan rokok dari tas pinggang dan memberikannya kepada Kairos.
Gilang juga memberikan korek kepada Kairos lalu dia mengambil sebatang roko dan meletakkan bungkusan rokok di atas meja.
Gilang merasa bersalah kepada Kairos dan Nasya, karena ulahnya Kairos dan Nasya jadi seperti itu.
***
Joe menamani Cella di ruang bersalin. Terlihat Cella merintih kesakitan, dia terus meremas tangan Joe.
Sedangkan di depan ruang bersalin nampak Carlos mondar-mandir, dia merasa khawatir kepada Cella. Carlos teringat kepergian Laura.
Tuan Arnets dan istrinya duduk dekat dengan Jessica, mereka juga terlihat tidak tenang.
Carlos bersandar di dinding lalu dia mendengar tangisan bayi.
"Sayang, Cella sudah melahirkan," ujar Carlos dengan wajah yang penuh lebahagiaan.
Tuan Arnets berdiri kemudian dia dan Carlos berpelukan.
"Akhirnya cucu kita lahir," ujar Tuan Arnets dengan gembira.
"Iya, cucu laki-laki kita sudah lahir." Carlos menatap Jessica lalu dia memeluknya.
"Aku sangat bahagia, Sayang,"
"Aku juga," balas Jessica lalu dia melihat Joe keluar dari ruang bersalin sambil tersenyum.
"Bagaimana keadaan Cella?" tanya Carlos dengan cemas.
"Dia baik-baik saja, Anda jangan khawatir," sahut Joe menenangkan Carlos yang terlihat cemas.
"Ah, syukurlah." Carlos terlihat tenang.
Joe mengajak mereka untuk melihat anaknya di ruang bayi. Mereka mengikuti Joe dari belakang.
Mereka berdiri di depan kaca lalu Joe menunjukkan putranya. Terlihat wajah mereka penuh kebahagiaan.
Terlebih Tuan Arnets dan istrinya, mereka berdua berpelukan. Tampak air mata menetes di pipi istri Tuan Arnets.
Joe tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Joe memeluk kedua orang tuanya, dia juga memeluk Jessica dan Carlos.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Cella dipindahkan di ruang vip
\*\*\*\*