
Menjelang siang terlihat Nasya sedang mengganti pakaian di kamar Kairos, dia dan Kairos akan pergi ke kantor papanya.
Kairos keluar dari kamar mandi dan melihat Nasya hanya menggunakan pakaian dalam. Kembali dia terbayang Laura, Kairos menghampiri Nasya dan memeluk Nasya dari belakang.
Dia memejamkan mata dan mengecup punggung Nasya, dia selalu membayangkan Nasya adalah Laura.
"Aku sangat mencintaimu, Laura." Kairos memeluk erat tubuh Nasya.
Nasya hanya memandang Kairos dari cermin, dia hanya memilih diam saat Kairos menyebutnya Laura. Nasya mengerti dengan perasaan Kairos.
Nasya membiarkan Kairos menganggap dirinya Laura, karena dia juga tidak mencintai Kairos. Apa yang sering dia dan Kairos lakukan hanyalah suatu kebutuhan.
Nasya membiarkan Kairos mengecup punggungnya dan meremas dadahnya.
Napasnya naik turun saat jemari Kairos mulai menyelinap di balik celananya.
"Kairos, bukankan kita akan ke kantor papa?" Nasya mengingatkan Kairos.
Kairos tersadar dan menatap Nasya dari cermin.
"Maaf, aku akan memakai pakaianku," ujar Kairos seraya melepaskan pelukannya dan mengambil pakaian di dalam lemari.
Nasya memakai pakaiannya dan duduk di depan cermin, dia merias wajahnya.
Mereka berdua selesai lalu keluar dari kamar, Kairos membukakan pintu untuk Nasya. Kemudian Kairos naik ke mobil, dia menjakan mobil menuju ke kantor Pak Bramantoro.
"Kairos, aku takut papa marah padaku," ujar Nasya. Dia terlihat tidak tenang.
Sambil menyetir Kairos memegang tangan Nasya.
"Kamu tenang saja, aku jamin papa kamu tidak akan marah padamu. Percaya padaku." Kairos berusaha meyakinkan Nasya.
Mereka tiba di kantor Pak Bramantoro, lalu Kairos dan Nasya turun dari mobil. Mereka berdua masuk ke kantor menuju ke ruang kerja Pak Bramantoro.
Nasya menatap Kairos kemudian dia menarik napas dan mengetuk pintu.
Terdengar suara Pak Bramantoro menyuruh mereka masuk. Nasya membuka pintu kemudian dia dan Kairos masuk.
Pak Bramantoro melihat Nasya dan Kairos, dia merasa senang. Pak Bramantoro berdiri kemudian dia menyambut Nasya dan Kairos.
"Oh .. kalian berdua, ayo duduk," ujar Pak Bramantoro sambil memeluk Nasya dan menciun kedua pipi Nasya. Dia juga bersalaman dengan Kairos.
Mereka bertiga duduk di sofa, Kairos duduk dekat dengan Nasya sedangkan Pak Bramantoro duduk tepat di depan Kairos dan Nasya.
"Ada apa kalian ke sini?" tanya Pak Bramantoro kepada Nasya dan Kairos.
"Pa, ada yang ingin Kairos bicarakan dengan papa," sahut Nasya sambil menatap Kairos. Nasya mulai tidak tenang.
Kairos memegang tangan Nasya dan Tersenyum. Pak Bramantoro mengkerutkan dahinya saat melihat Kairos menggenggam tangan Nasya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Pak Bramantoro sambil melihat terus tangan Kairos yang sedang menggenggam tangan Nasya.
"Um. Begini, Pak Bram. Aku ingin Nasya dan Anda membatalkan pernikahan Nasya dan Rayhan,"
"Alasannya?" sela Pak Bramantoro.
Kairos tersenyum dan menatap Nasya, dia menenangkan Nasya dengan menepuk-nepuk pelan tangan Nasya.
"Alasannya karena janin yang di kandung Nasya adalah anakku,"
"Apa?!" Pak Bramantoro terkejut dia memajukan badannya dan menatap Kairos dan Nasya, dahinya mengkerut. Dia tidak percaya dengan apa yang Kairos katakan.
"Kalian hanya bercandakan?" tanya Pak Bramantoro.
"Tidak, Pak Bramantoro. Aku bicara serius, aku yang menghamili Nasya. Aku akan menceritkan semuanya supaya Pak Bramantoro mengerti," sahut Kairos kemudian dia menceritakan kepada Pak Bramantoro awal mula dia dan Nasya.
Tampak kepala Pak Bramantoro mengangguk-anggukkan kepala.
Kairos menceritakan kepada Pak Bramantoro mengapa dia sampai di surabaya.
Kembali Pak Bramantoro menganggukan kepala tanda dia mengerti.
"Mengapa kamu tidak menjelaskan kepada Kairos tentang kehamilanmu, seandainya kamu menjelaskan semuanya kepada Kairos, tidak akan serunyam ini."
"Saat itu aku sangat marah kepada Kairos, Pa. Lalu aku bertemu dengan Rayhan, aku menceritakan semuanya kepada Rayhan dan Rayhan bersedia menikah denganku karena dia juga mencintaiku," jelas Nasya kepada Pak Bramantoro lalu Pak Bramantoro tersenyum.
"Aku senang kalau kamu mau bertanggung jawab, Kairos dan buat kamu Nasya. Jangan khawatir, papa dan Kairos akan menemui keluarga Rayhan dan papa akan menjelaskan semuanya kepada mereka."
Nasya seakan tak percaya mendengar apa yang di katakan Pak Bramantoro.
"Benarkah, Pa?"
__ADS_1
Pak Bramantoro tersenyum dan menganggukkan kepala. Nasya langsung berdiri dan memeluk Pak Bramantoro.
"Tadi saat ke sini aku takut sekali, aku takut papa memarahiku,"
"Untuk apa papa memarahimu. Papa senang kalau kamu berkata jujur," sahut Pak Bramantoro.
Nasya terlihat senang kemudian dia duduk di samping Kairos.
"Bagaimana kalau nanti malam kita ke rumah orang tua Rayhan. Kita harus menjelaskan secepatnya, mumpung perkawinannya masi beberapa minggu lagi.
"Aku rasa juga begitu, Pak. Kita harus secepatnya bertemu dengan keluarga Rayhan," sambung Kairos sambil menatap Nasya.
"Nanti malam kita kerumah mereka." Pak Bramantoro terlihat senang sekali melihat Kairos dan Nasya.
Kairos dan Nasya berpamitan kepada Pak Bramantoro, lalu mereka kembali ke rumah Kairos.
Kairos dan Nasya langsung duduk di depan tv kemudian Kairos menyalakan tv.
"Benarkan apa yang aku katakan, papa kamu pasti akan senang,"
"Iya," sahut Nasya dengan suara pelan.
"Aku buatkan susu untukmu,"
"Nanti sore saja aku minum susu, aku ingin makan sekarang. Aku lapar," ujar Nasya sambil memegang perutnya.
"Disini tidak ada makanan, aku pesan lewat online saja ya." Kairos mengambil ponsel dan memesan makanan.
Kairos duduk di samping Nasya dan mengelus perut Nasya.
"Kamu ingin kita menikah di sini atau Tomohon tempat omaku?"
"Terserah kamu saja," sahut Nasya sambil bersandar di sofa.
"Baiklah, aku ambilkan air minum untukmu." Kairos berdiri dan pergi ke dapur dan mengambik air minum untuk Nasya.
Kairos memanjakan Nasya seperti dia memanjakan Laura. Dia memberikan perhatian yang lebih kepada Nasya.
Kairos memberikan air minum kepada Nasya lalu ponselnya berbunyi. Kairos membaca pesan.
"Makanan sudah di antar, aku ambil dulu." Kairos ke depan mengambil makanan kemudian dia kembali ke dalam.
Kairos duduk di samping Nasya dan mengambil makanan dengan sendok.
"Biarkan aku menyuapimu Laura." Kembali Kairos menyebut Nasya dengan nama Laura.
Nasya hanya menarik napas panjang dan membuka mulut menerima suapan dari Kairos.
Kairos belum menyadari kalau dia selalu menyebut nama Laura.
Selesai menyuapi Nasya, Kairos pergi ke ruang makan dan makan.
Nasya berdiri dan pergi ke ruang makan, dia duduk dan memperhatikan Kairos yang sedang makan.
"Kamu tidak bisa melupakan istrimu, kamu pasti sangaat mencintainya."
Kairos menghentikan makannya, dia meletakkan sendok di piring.
"Iya, aku sangat mencintainya." ujar Kairos dengan menunduk, wajahnya terlihat sedih.
"Aku bisa melihatnya," sahut Nasya lalu Kairos mengangkat kepalanya menatap Nasya. "Kamu tahu, saat kita melakukan hubungan sex, kamu selalu menyebut nama istrimu.
"Tadi siang saat kamu memelukku di depan cermin kamu berbisik padaku kalau kamu sangat mencintainya, dan tadi juga kamu menyebut nama istrimu. Aku mengerti Kairos."
"Maafkan aku, aku memang tidak bisa melupakan istriku. Tidak ada satu wanitapun yang dapat menggantikannya,"
"Aku mengerti," ujar Nasya sambil tersenyum. "Habiskan makanmu."
Kairos tersenyum lalu dia melanjutkan makannya.
****
Sorenya Kairos mengantar Nasya pulang, kali ini Kairos ikut turun dari mobil dan masuk bersama Nasya ke rumah. Pak Bramantoro dan istrinya menyabut Kairos, mereka duduk di ruang tamu dan membicarakan pernikahan Kairos dan Nasya.
“Apakah kalian sudah menetapkan tanggal dan tempat pernikahan kalian?” tanya Pak Bramantoro kepada Nasya dan Kairos.
“Aku terserah Kairos saja.” Nasya menatap Kairos dia ingin Kairos yang mengatakan kepada orang tuanya tentang rencana Kairos.
“Oh, mengenai tanggal kita pakai saja tanggal yang sudah di tentukan saat waktu Nasya tunangan. Aku tidak ingin menunda mengingat perut Nasya semakin kentara dan mengenai tempat aku ingin di Tomohon Sulawesi Utara. Aku sudah melihat di internet, tempatnya sangat bagus,” jelas Kairos sambmil tersenyum.
“Itu bagus, kami akan persiapkan semuanya dan sebentar lagi aku dan istriku juga kamu akan pergi ke rumah orang tua Rayhan. Nasya kamu tinggal saja di rumah,” ujar Pak Bramantoro lalu Kairos dan Nasya menganggukan kepala.
__ADS_1
“Oh ya, aku akan kembali ke Amerika. Aku harus bicara kepada kedua orang tuaku. Kalian tidak usah khawatir, kedua orang tuaku sangat baik. Begitu juga adik-adikku mereka juga sangat baik, aku hanya seminggu di Amerika dan datang bersama keluargaku,
“Apakah kamu ingin ikut bersamaku?” tanya Kairos kepada Nasya.
“Apakah harus?” Nasya balik bertanya.
“Tidak juga,” sahut Kairos dengan tersenyum, “Tapi aku juga ingin memperkenalkan kamu kepada keluargaku,”
“Nanti juga mereka akan mengenalku saat mereka sudah di sini,” ujar Nasya sambil tersenyum.
“Menurut papa, alangkah baiknya kamu ikut bersama Kairos ke Amerika,” sela Pak Bramantoro
“Pa, Kairos hanya seminggu di Amerika dan dia kembali ke sini bersama keluarga besarnya. Aku lebih baik di sini saja, penerbangan ke Amerika lama, Pa. Aku lagi hamil,”
“Apa yang di katakan Nasya itu benar,” sela Kairos, “lebih baik dia di sini saja,” sambungnya sambil memegang tangan Nasya.
“Baiklah kalau begitu.” Pak Bramantoro melihat jam kemudian dia berdiri. “Sebaiknya kita pergi sekarang.”
Kairos dan istri Pak Bramantoro berdiri di ikuti Nasya lalu mereka pergi ke depan, Pak Bramantoro masuk ke mobil bersama istrinya dan Kairos. Sedangkan Nasya dia tinggal di rumah.
Kairos menyetir mobil menuju ke kediaman orang tua Rayhan, mereka tiba lalu Kairos, Pak Bramantoro dan istrinya turun dari mobil. Kairos menekan bel lalu tidak lama kemudian pintu terbuka, seorang pembantu membukakan pagar dan menyuruh mereka masuk.
Orang tua Rayhan keluar dan menyambut Pak Bramantoro dan istrinya. Pak Brmantoro mengenalkan Kairos kepada orang tua Rayhan lalu mereka masuk ke dalam. Rayhan keluar dan menemui Pak Bramantoro serta istrinya juga Kairos.
Mereka duduk dan saling menanyakan kabar, Pak Bramantoro belum ingin menyampaikan tujuan mereka datang, mereka masih berbicara soal bisnis. Sedangkan Rayhan, dia merasa bingung melihat Kairos juga ikut bersama Pak Bramantoro.
Pak Bramantoro menatap istrinya lalu istri Pak Bramantoro menganggukan kepala, dia mengisyaratkan kepada Pak Bramantoro untuk segera mengatakan tujuan mereka datang.
“Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan kepada Rayhan,”
“Apa, Om?” sela Rayhan,
“Ehm. Begini, Rayhan. Aku ingin kamu jujur kepada kami semua yang ada di sini,”
“Tentang apa, Om?” tanya Rayhan dengan penasaran.
“Begini, Rayhan. Om ingin kamu berkata jujur kepada orang tuamu kalau anak yang di kandung Nasya bukan anakmu.”
Orang tua Rayhan terkejut dan menatap Rayhan, Rayhan juga terkejut mendengar Pak Bramantoro berkata begitu.
“Om, siapa yang mengatakannya?” tanya Rayhan lagi sambil menatap Kairos, dia belum tahu kalau di depan dia adalah Kairos. Rayhan tahu itu adalah Acel.
“Rayhan. Nasya sudah berkata jujur kepada om dan tante dan Kairos sudah menjelaskan semua kesalah pahaman ini. Aku tidak ingin nantinya saat orang tuamu mengetahui ternyata anak Nasya bukan anakmu pasti orang tuamu kecewa,”
“Rayhan, apakah yang di katakan Pak Brmantoro itu benar?” tanya papa Rayhan
Rayhan menunduk lalu dia menganggukan kepala. “Iya, Pa. Apa yang di katakan Om Bram itu benar,”
“Mengapa kamu membohongi papa dan mama?” tanya mama Rayhan dengan suara kecewa.
“Ma. Kalau aku mengatakan yang sebenarnya, Papa dan Mama pasti tidak akan setuju. Aku sangat mencintai Nasya, Ma.”
Terlihat wajah kedua orang tua Rayhan kecewa, mereka sangat berharap Nasya hamil anak Rayhan dan bisa menikahi Nasya.
“Jadi bagaimana, Pak Bram? Apakah sebaiknya kita membatalkan pernikahan mereka?”
“Aku tidak ingin pernikahan aku dan Nasya di batalkan, Pa. Aku sangat mencintai Nasya, aku ingin menikah dengan Nasya aku tidak perduli dia hamil dengan siapa. Om Bram, tolong jangan batalkan pernikahanku dengan Nasya,” mohon Rayhan kepada Pak Bramantoro.
“Rayhan. Om harus mebatalkan pernikahanmu dengan Nasya,”
“Pak Bram, aku tidak keberatan Rayhan menikah dengan Nasya walaupun anak yang ada di dalam kandungan Nasya bukan anak Rayhan. Kami akan menganggap juga anak itu cucu kami,” ujar papa Rayhan.
“Iya, Om. Aku akan menyayangi anak itu seperti anakku sendiri,” mohon Rayhan kepada Pak Bramantoro.
Kairos hanya diam dan memperhatikan perbincangan mereka, dia tidak ingin menyela. Kairos ingin Pak Bramantoro yang mengatakan semuanya.
“Ehm. Begini, Rayhan. Masalahnya lelaki yang menghamili Nasya ingin bertanggung jawab, dia ingin menikahi Nasya. Tadi siang dia dan Nasya datang ke kantor lalu mereka berdua menjelaskan semuanya kepadaku dan ini adalah kesalahan anakku karena tida mau jujur. Lelaki itu juga datang bersama kami, dia ingin meminta maaf kepadamu kalian.”
“Iya, apa yang di katakan Pak Bram itu sangat benar. Akulah yang menghamili Nasya dan aku ingin bertanggung jawab,”
“Kenapa baru sekarang kamu mencarinya? Di saat aku dan Nasya sudah bertunangan dan kamu baru mengatakannya?”
“Kamu salah, sudah lama aku berada di sini dengan tujuan untuk mencari Nasya. Akhirnya aku bertemu dengan Pak Bramantoro yang ternyata orang tua Nasya. Saat beliau mengundangku di acara pertunangan kalian di situ baru aku tahu Nasya hamil,” jelas Kairos kepada Rayhan tapi Rayhan tidak percaya.
“Apa yang di katakan Kairos benar, dia sudah lama di surabaya mencari Nasya. Rayhan, om minta maaf. Om harus membatalkan pernikahan kamu dan Nasya, aku juga minta maaf kepada Bapak dan Ibu. Kami tahu kami salah.”
Papa Rayhan menarik napas dan menganggukan kepala, sedangkan Rayhan dia tidak terima pernikahannya di batalkan dia menatap Kairos dengan marah kemudian dia berdiri dan langsung pergi ke kamar.
“Tidak, aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan Nasya,” ujar Rayhan dengan marah. Dia melempar ponselnya ke dinding. “Aku tidak akan membiarkan kalian menikah, lihat saja Kairos. Kalian berdua akan melihatnya.” Rayhan keluar dari kamar dan menuju garasi, dia masuk ke mobil dan langsung tancap gas.
Sedangkan Pak Bramantoro bersama istrinya juga Kairos masih berbincang-bincang dengan orang tua Rayhan.
__ADS_1