End Of Love

End Of Love
EOL 38


__ADS_3

Jessica POV


Hari ini aku tidak masuk sekolah, aku minta ijin sama wali kelas dan aku bersyukur wali kelasku sangat baik padaku. Walaupun aku sering tidak masuk sekolah tapi aku selalu mengerjakan tugas dan nilaiku sangat bagus. aku menunggu Glen untuk menjemputku, hari ini babak semi final, mudah mudahan aku bisa konsentrasi. Masalahnya hati ini masih korslet, jujur saja aku belum bisa melupakan Carlos dan tidak semudah itu untuk melupakannya, aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Terdengar bunyi klakson mobil aku melihat keluar, itu mobil Glen. Aku keluar dan mendekati mobil Glen dan menyapanya.


“Selamat siang Glen.” Aku menyapa Glen dan Glen tersenyum padaku.


“Selamat siang cantik.” Balas Glen padaku dan Aku hanya tersenyum kecil sambil masuk ke mobil.


“Mau jemput Fanya.” Tanyaku pada Glen sambil menutup pintu mobil


“Tidak Jess, kita langsung ke gedung pertandingan karena Fanya sudah pergi bersama Tini.” Kata Glen


“Ohh begitu, ya sudah kita langsung saja kesana.” Glen menjalankan mobilnya, sepanjang jalan aku hanya diam. Aku terus memikirkan Carlos.


“Jess kamu baik baik saja?” Tanya Glen padaku


“Iya aku baik baik saja.” Glen memandangku


“Kamu masih memikirkan Carlos?”


“Tidak usah bahas Carlos Glen, nanti hilang konsentrasiku bermain.” Kataku pada Glen, aku tidak ingin dia tau kalau aku memikirkan Carlos


“baiklah, kamu harus bermain bagus Jess kata Fanya banyak pejabat negara yang akan hadir. Ini adalah kesempatan baik buat kamu.” Kata Glen. Aku hanya tersenyum


Tidak lama kemudian aku dan Glen sampai di gedung perrtandingan, Glen memarkirkan mobilnya selesai memarkir kami turun dan Fanya menghampiri aku dan Glen. Aku langsung bertanya pada Fanya


“Kenapa tidak datang bersama Glen?”


“Tadi Tini nongkrong di kosan ku jadi sekalian aja bareng.” Kata Fanya padaku


“Kalian nongkrong gak ngajak ajak aku.”


“Sorry aku pikir kamu pingin sendiri jadi aku gak mau ganggu kamu Jess.”


“Tidak apa apa, ayo masuk.”


Kami pun masuk ke dalam, aku mendekati coach dan berbisik pada coach. Aku ingin Glen duduk di dekat pemain cadangan supaya dekat aku dan Fanya dan coach memberi ijin. Aku memanggil Glen dan mengantar Glen duduk dekat pemain cadangan.


Aku melihat dia mengeluarkan stick camera dan dia memasang kamera kecil dan menyambungkan ke handphonenya. “Apa yang akan di lakukan Glen? Hmm..Glen ada ada saja.


Kami masuk keruang ganti, aku mengganti pakaianku dan Fanya menghampiriku.


“Jess kamu bisakan?” Tanya Fanya padaku, Fanya tau suasana hatiku sekarang.


Aku menganggukan kepala, aku memakai sepatu dan pelindung lutut. Kemudian aku keluar menemui Glen dan duduk di sampingnya. Aku melihat sudah banyak penonton, ini pasti karyawan karyawan yang ingin memberi semangat untuk tim utusan kantor mereka.


Aku melihat Glen, dia sibuk dengan cameranya. Aku tersenyum melihatnya.


“Glen untuk apa camera itu?”


Glen tersenyum padaku. “Aku ingin merekam kalian bermain.”


Aku tertawa dan geleng geleng kepala, dan tim ku keluar kemudian mereka duduk di dekatku. Coach memberikan briefing


“Kita pakai Formasi 6-2. Jess kamu siapkan? kamu babak pertama masuk.” Kata coach padaku

__ADS_1


“Siap coach. Coach aku ingin Tini setter.” Kataku pada coach, karena tini tahu cara mengukur dalam mengumpan bola pada smasher. Tini hebat dalam hal itu.


“Tini siap ya.” Kata coach pada Tini


“Siap coach.” Jawab Tini sambil tersenyum padaku


Akhirnya kami masuk lapangan wasit menyuruh memilih sisi coin dan kami memilih angka, wasit melemparkan coin ke atas dan menangkapnya dan membuka telapak tangannya dan kami yang duluan service.


Aulia melakukan service, service di mulai dan di terima oleh pihak lawan mereka mencoba melakukan smash dan di block oleh Fanya dan Okta bola di ambil Tini aku keluar sisi lapangan untuk bersiap melakukan smash. Tiba tiba emosi datang saat aku mengingat carlos, Tini berteriak Jess ambil aku refleks melompat dan melampiaskan amarahku dengan memukul bola. Bola di terima lawan tapi keluar lapangan skor pertama bagi tim kami.


Aku mendengar teriakan Glen dan aku memandangnya, dia lagi merekam kami dan aku mengacungkan jempol padanya dan dia tersenyum


Masih Aulia melakukan service tapi service Aulia terlalu kencang dan bola di biarkan oleh lawan. Service over, dan skor sama. Tim lawan melakukan service, di terima oleh Okta dan di berikan pada Tini. Tini mengumpan bola dan di smash oleh Fanya tapi bola masih di terima kembali oleh tim lawan dan langsung berpindah ke tim kami dan bola langsung di sambar oleh Iren. Pukulan smash Iren sangat kencang dan bola masuk ke daerah lawan. Bola berpindah ke tim kami, giliran Endah yang melakukan service dan service sudah di lakukan, bola di terima lawan dan mereka melakukan smash aku dan Fanya melompat untuk melakukan block dan kami berhasil, Tini mengumpan bola padaku dan aku langsung melompat dan melakukan pukulan smash bola masuk. Skor bertambah dan babak pertama kami menang. skor 25 – 16


Babak kedua aku tidak masuk di gantikan oleh Indah, aku duduk dekat Glen dan memperhatikan mereka bermain. Aku tahu Glen selalu memandangku tapi aku berpura pura melihat pertandingan. Pada saat tim memasukan bola aku bersorak dan Glen selalu merekamku, teriakan teriakan penonton memberikan semangat kepada tim saling berbalasan. Babak kedua terjadi rally point tapi tim kami kalah.


Masuk babak ketiga aku ikut main. Service dilakukan oleh tim lawan, Enda menerima bola dan di berikan kepada Tini, Tini mengumpan bola pada Fanya dan Fanya melakukan smash dan bola masuk, kamipun berpelukan. Giliran Fanya melakukan service, sudah di lakukan. Fanya berlari ke depan net, tim lawan melakukan smash aku dan Fanya melakukan block. Bola berpindah ke Tini dan Tini langsung mengumpan bola dan aku melakukan smash tapi bola masih bisa di terima oleh pihak lawan, dan mereka melakukan smash aku dan Fanya melompat dan memblock bola tapi bola jatuh di daerah lawan.


Skor saat ini 24-24 dan terjadi rally poin lagi. Kami harus mencari dua poin lagi, giliranku melakukan service. Kami harus mencari dua point untuk memenangkan pertandingan. Di dalam gedung semakin bergemuruh sorak sorak penonton dalam memberikan dukungan pada masing masing tim. Aku menjadi gugup. “Ayo Jess... Ayo Jess...Kamu bisa.” Kataku dalam hati. Aku memutar mutar bola di tanganku.


Aku melempar bola ke atas dan melompat tinggi dan melakukan service, bola di terima lawan dan langsung berpindah tangan ke tim kami Tini mengambil bola aku segera berlari ke luar sisi lapangan untuk menerima umpan dari Tini, Tini mengangkat bola aku melompat berbarengan dengan Fanya dan Fanya melakukan smash dengan cepat dan keras. Bola masuk tepat di tengah daerah lawan.


Masih aku melakukan service, aku melihat coach dan coach memberi aku semangat. Aku mendengar suara Glen. “Ayo Jess kamu bisa.” Aku melihatnya entah kenapa hati ini begitu sedih, aku membayangkan seandainya Carlos yang disitu dan memberikan aku semangat. Aku menunduk dan memainkan bola di tanganku.


Terdengar Fanya bertepuk tangan dan berteriak. “Jess ayo tinggal satu lagi.” Aku mengangkat kepalaku , terdengar lagi sorak sorak penonton. Mereka memberi semangat pada tim kami, aku menarik nafas panjang dan melempar bola ke atas. Aku melompat dan melakukan service, aku keluarkan segala amarahku dan memukul bola dengan kencang. Dan tim lawan tidak berhasil mengembalikan bolanya.


Aku diam dan memandang mereka, mereka saling berpelukan mereka terlihat sangat senang. Suara penonton bersorak sorak atas kemenangan tim kami bergemuru di dalam gedung. Aku melihat tim berlari dan memelukku, aku hanya tersenyum.


Author POV


Sementara di apartemen Carlos merasa kesepian, dia sangat merindukan Jessica dia tidak tahu lagi kemana akan mencari Jessica. Carlos mengambil minuman di mini bar dan duduk di meja makan dia menuangkan minuman di gelasnya dan meminumnya. “Tempat ini terasa sepi, sehari tidak melihat Jessica terasa gila. Entah dimana dia sekarang.” Kata Carlos sambil menuang lagi minuman ke dalam gelas dan meminumnya. Dia sangat merindukan Jessica. “Kamu dimana sayang? pulanglah sayang kembalilah padaku.” Kata Carlos sambil meminum minumannya.


“Semua ini menyiksaku.” Kata Carlos lagi sambil mengambil botol minuman dan dia meminum minuman itu langsung dari botol. “Aku menginginkan Jessicaku, sayang kamu dimana.” Carlos berdiri dan melangkah ke atas sambil membawa botol minuman, dia masuk ke kamar Jessica dan foto foto Jessica masih terpajang di dinding kamar.


Carlos memegang foton Jessica dan menciumnya. “Kembalilah sayang.” Kata Carlos lagi sambil membelai foto Jessica. Carlos duduk di lantai dan memegang foto Jessica, dan dia minum kembali. Carlos melihat kemeja yang bekas Jessica pakai, dia mengambilnya dan mencium kemeja itu. Bau khas Jessica masih menempel di kemejanya, Carlos memeluk kemeja itu dan membuat dia semakin merindukan Jessica. Carlos menghabiskan minuman yang di botol dan naik berbaring di tempat tidur Jessica sambil memeluk kemeja Jessica.


Jessica POV


Akhirnya tim kami menang dan masuk ke babak final, aku berjalan menuju ruang ganti tiba tiba ada yang memanggilku aku berhenti dan melihat kepada orang tersebut. dia menghampiriku dan menyapaku. “Hi aku dari perusahan UL namaku Donald boss ku ingin bertemu dengan mba Jessica, apa mba Jessica punya waktu.


“Ok nanti selesai ganti pakaian aku temui bos kamu.”


“Baik mba Jessica, kami tunggu ya.” Kata Donald padaku.


Aku menganggukan kepala dan masuk keruang ganti. Aku mengganti pakainku dengan traning dan kaos, aku keluar menemui Donal dan Donal mengantarku untuk menemu bossnya. Bossnya lagi duduk di bangku penonton. Aku dan Donal menyamperinnya, Donal memperkenalkan boss itu padaku


“Jessica ini pak rudy bossku.” Kata Donald padaku.


“Aku Jessica.” Kataku pada Rudy sambil bersalaman. Pak Rudy tersenyum memandangku. “Ada apa Pak Rudy ingin bertemu denganku?”


“Begini nak Jessica, aku ingin menawarkan nak Jessica untuk menjadi iklan di product kami. Nak Jessicakan cantik tinggi pula jadi cocok untuk menjadi bintang iklan di product kami.” Kata pak Rudy padaku.


“Umm.. Maaf pak kalau boleh tau productnya apa ya?”


“Productnya susu, kalau nak Jessica mau bisa langsung di kontrak.” Jelas pak Rudy padaku dan aku mulai tertarik.

__ADS_1


”Ehm… Aku pikir pikir dulu ya pak.”


“Iya tapi jangan lama lama mikirnya.” Kata pak Rudy lagi dan aku tersenyum.


“Iya pak, secepatnya aku hubungi pak Rudy.”


“Ini kartu namaku, nanti secepatnya beri kami kabar ya.” Kata pak Rudy sambil memberikan kartu Namanya padaku, aku mengambil kartu nama itu dan melihatnya.


“Pasti pak, secepatnya akan saku kabari, aku permisi dulu ya pak.” Aku pamit pada pak Rudy dan Donald


“Iya, jangan lupa.” Pak Rudy mengingatkan lagi dan menganggukan kepala kemudian aku meninggalkan pak rudy dan donald. Aku melihat Glen dan Fanya memperhatikanku, aku menghampiri mereka berdua.


“Siapa mereka Jess?” Tanya Fanya dengan penasaran


“Ohh mereka pak Rudy dan Donal.”


“Kamu mengenal mereka Jess?” Tanya Fanya lagi


“Aku baru kenal tadi Fan.”


“Kenapa mereka?” Tanya Fanya lagi padaku. Dia terlihat penasaran, aku melihatnya sambil tersenyum


“Mereka menawarkan aku untuk menjadi bintang iklan di product mereka.”


“Bagus itu, terus kamu sudah setuju?”


“Umm.. Belum Fan aku bilang nanti saya kabarin.”


“Jess ambil saja, itu kesempatanmu.” kata Fanya padaku. “Kamu bisa tunjukan pada Carlos tanpa dia juga kamu bisa.” Kata Fanya lagi.


Aku hanya tersenyum. “Hmm… Carlos lagi Carlos lagi.” Kataku dalam hati, setiap nama itu di sebut rasa sakit di hati.


“Aku mau pulang, aku capek.”


“Jess Dirut mengajak kita makan nanti malam.” kata Fanya


“Iya aku pulang dulu mau istirahat.”


Kami berjalan keluar dari gedung dan menuju parkiran aku membuka pintu mobil dan masuk. Fanya duduk di depan dan aku duduk di belakang, Glen menjalankan mobilnya. Aku pikir dia akan mengantarku duluan ternyata Fanya yang duluan di antar. Tiba di tempat kos Fanya turun dan kami langsung pergi, aku diam di mobil dan Glen membuka pecakapan


“Jess bermainmu bagus.” Puji Glen padaku dan aku tersenyum sambil bercanda padanya


“Bermain apa?” Candaku pada Glen


“Bermain voli Jess, masa bermain di ranjang.” Kata Glen padaku dan aku langsung tertawa. “Jess pikiran kamu itu aneh, aku lagi bahas voli malah pikiranmu lain. Pakai bertanya bermain apa.” Kata Glen padaku. Aku memandang Glen dan tertawa, tidak lama kemudian kami sampai di tempat kos. Aku turun di ikuti glen, aku masuk ke kamar meletakkan tas olahragaku dan glen megikutiku masuk ke dalam kamar.


Aku menatap Glen


“Aku mau ke kamar mandi.” Kata Glen


“Ohh, masuk saja.” Glen masuk dan aku mengeluarkan pakaian voliku dan aku masukan kedalam keranjang. Aku mengeluarkan sepatuku dan Glen keluar dari kamar mandi dia mendekatiku dan tiba tiba dia mencium bibirku. Aku terdiam dan aku menolak secara pelan badan Glen.


“Apa yang kamu lakukan Glen?”Aku menatap Glen dengan raut wajah aneh


“Ahh sorry Jess, aku tidak tau apa yang aku lakukan tiba tiba saja aku ingin mencium kamu, sorry Jess jangan marah ya.” Kata Glen padaku

__ADS_1


Aku hanya menganggukan kepala. Glen keluar dari kamar dan duduk di teras depan, tidak lama kemudian Glen pamit pulang dan aku masuk ke kamar dan berbaring. Pikiran dan badan terasa lelah, aku memejamkan mata dan tertidur.


Selamat membaca


__ADS_2