End Of Love

End Of Love
SS2 EOL Eps 71


__ADS_3

Mendengar Diego berkata begitu, Carlos berdiri dan menggulung lengan kemejanya. Dia tersenyum kepada Diego dan Anak Tuan Rolland.


"Aku merasa tidak rugi kalau anakku tidak menikah dengan anakmu," ucap Kairos setengah menghina Diego.


Mike juga berdiri, dia menatap Acel dan memegang punggung Acel. Dan mendekatkan wajahnya di kuping Acel.


"Kita pulang, kamu tidak usah khawatir percayakan semuanya kepada Pamanmu ini," bisik Mike lalu Acel menganggukan kepala.


Acel melepaskan tangan Mecy kemudian dia berdiri, dia tersenyum kepada Diego.


"Terima kasih, Tuan Diego," ucap Acel kemudian dia berbisik kepada Mecy. "Kamu jangan khawatir."


Mecy menganggukan kepala dan tersenyum kepada Acel.


"Ayo kita pergi, Pap." Acel menatap anak Tuan Rolland kemudian dia tersnyum sinis. Dia berjalan melewati anak Tuan Rolland kemudian dia berbisik.


"Bersyukur kamu masih hidup, berikut kamu mati!"


Anak Tuan Rolland menatap Acel dengan wajah yang menahan emosi.


Acel, Carlos dan Mike keluar dari kediaman Diego, mereka bertiga berjalan ke mobil lalu terlihat Jessica keluar dari mobil.


"Bagaimana?" tanya Jessica sambil menatap Acel.


"Dia menolak lamaran Acel, biarkan saja," ujar Carlos sambil membuka mobil dan menyuruh Jessica dan Acel masuk.


Sedangkan Mike dia pergi ke mobilnya dan masuk. Dia mengikuti mobil Carlos dari belakang.


Sementara di dalam mobil terjadi percakapan antara Jessica, Carlos dan Acel.


"Kenapa mereka menolak lamaran Acel?" tanya Jessica penasaran.


"Kata Tuan Diego tanya kepada Papa dan Paman Mike," sahut Acel dengan nada kecewa


"Papa dan Paman Mike akan menjelaskan semuanya kalau kita sudah di rumah," ujar Carlos kepada Acel sambil mengusap punggung Acel.


Mereka tiba di rumah lalu Carlos, Jessica dan Acel turun dari mobil dan masuk ke rumah. Mereka langsung menuju ke ruang santai.


Mike tiba, dia langsung masuk menemui Carlos dan Acel. Dia langsung duduk di sofa dan menatap Acel.


"Kamu ingin tahu kenapa Diego tidak mengijinkan kamu menikah dengan Mecy?" tanya Mike kepada Acel sambil meletakkan tangan satunya di punggung Acel.


"Iya, Paman. Aku ingin tahu kenapa," sahut Acel, dia terlihat penasaran.


"Baiklah." Mike menatap Carlos, "apakah rekaman itu masih kamu simpan?" tanya Mike kepada Carlos.


"Iya, masih ada padaku,"


"Itu bagus," ujar Mike kemudian dia menatap Acel. "Apakah kamu sanggup melihatnya?"


"Iya, aku sanggup," sahut Acel.


"Baiklah kalau begitu, ikut papa ke ruang kerja."


Mereka bertiga berdiri dan pergi ke ruang kerja. Carlos mengambil rekaman itu kemudian dia menyalakan komputer. Carlos memasukan rekaman yang sudah dia pindahkan ke cd ke dalam komputer.


"Ayo sini, Acel."


Acel berdiri kemudian dia duduk dekat dengan Carlos. Dia melihat semua video tentang detik-detik Dario adik Carlos di bunuh.


Tampak mata Acel terbelalak melihat isi rekaman itu, wajahnya berubah menjadi merah, dia mengepalkan tangannya.


Sedangkan Carlos, dia hanya diam. Tak terasa air mata menetes di pipinya.


Acel menghentikan rekaman itu kemudian dia berdiri dan menatap Carlos dan Mike.


"Mengapa Papa dan Paman Mike tidak membunuh mereka semua?"


"Papa tidak tega untuk membunuh mereka," sahut Carlos kemudian dia menatap Acel.


"Apakah kamu masih menginginkan Mecy?"


"Iya, Pap. Aku mencintainya," sahut Acel.


"Baiklah, bawah Mecy tinggalkan Amerika.


"Serius, Pap? Bagaimana kalau Tuan Diego tahu?"


"Serahkan kepada Paman, biar Paman yang selesaikan," sahut Mike kepada Acel.


"Kamu jangan takut," ujar Carlos sambil menepuk punggung Acel.


Acel dia sejenak, dia berpikir tentang Mecy. Apakah Mecy juga mau? Tanya Acel dalam hati.


Sementara di kediaman Dieogo, terlihat Mecy menangis dia marah kepada Diego.


"Kenapa Daddy lakukan itu padaku?"


"Kamu tidak tahu apa yang sudah di lakukan orang tua Acel dan paman Acel kepadaku dan Diego. Kalau kamu tahu, kamu juga pasti akan membencinya," ujar anak Tuan Rolland


"Apa yang sudah di lakukan oleh orang tua Acel dan paman Acel?" tanya Mecy penasaran.


"Begini Mecy ...." Anak Tuan Rolland mulai menjelaskan apa yang mereka alami dulu kepada Mecy.

__ADS_1


Wajah Mecy berubah serius mendengar penjelasan anak Tuan Rolland.


Sedangkan Diego hanya diam saja dan membiarkan anak Tuan Rolland menjelaskan kepada Mecy.


"Begitu ceritanya, Mecy. Apakah kamu masih menginginkan menikah dengan Acel?" tanya anak Tuan Rolland tapi Mecy hanya diam saja.


Dia berdiri dan pergi ke kamarnya, dia belum sepenuhnya percaya dengan apa yang di katakan anak Tuan Rolland.


Aku harus bertemu dengan Tuan Carlos, aku ingin mendengar penjelasan darinya. Gumam Mecy dalam hati kemudian dia melepaskan gaun dan mengganti dengan pakaian tidur.


Di ruang tamu, Diego dan anak Tuan Rolland masih berbincang-bincang.


"Kita harus berhati-hati kepada Carlos dan Mike," ujar Diego.


"Bukan hanya Carlos dan Mike, tapi Acel juga. Dia sangat berbahaya, dia yang menembakku," sahut anak Tuan Rolland dengan geram.


"Oh ... jadi dia yang menembakmu?" tanya Diego dengan wajah terkejut.


"Iya, Diego. Dia yang menembakku, untung saja aku selamat."


Mereka selesai berbincang-bincang lalu anak Tuan Rolland berpamitan kepada Diego.


****


Kairos mendapatkan undangan pertunangan Nasya dari Pak Bramontoro. Kairos mengajak Gilang untuk pergi bersamanya.


Kairos berencana untuk membatalkan pertunangan Nasya dan Rayhan.


Kairos dan Gilang masuk ke mobil dajn pergi ke kediaman Pak Bramantoro, mereka tiba lalu Kairos dan Gilang masuk ke dalam.


Melihat Kairos dan Gilang, Pak Bramantoro langsung menyambut mereka.


"Selamat datang," ucap Pak Bramantoro kepada Kairos dan Gilang. Lalu dia mengajak Kairos dan Gilang masuk ke dalam.


Kairos dan Gilang mengikuti Pak Bramantoro dari belakang. Pak Bramantoro memperkenalkan mereka berdua kepada istrinya.


Kemudian istri Pak Bramantoro menyuruh Kairos dan Gilang duduk.


Kairos memperhatikan foto-foto Nasya yang terpajang di dinding.


Lalu tidak lama kemudian Rayhan bersama orang tuanya datang, Pak Bramantoro dan istrinya menyambut keluarga Rayhan. Mereka masuk dan duduk.


Sedangkan Nasya dia masih di kamar, dia baru saja selesai. Nasya keluar dari kamarnya dan perlahan-lahan dia menuruni setiap anak tangga.


Kairos menatap Nasya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Begitu juga dengan Nasya, dia terkejut melihat Kairos dan Gilang berada di rumahnya.


Mereka berdua saling bertatap mata, lalu Nasya berpaling dari Kairos, di menatap Rayhan dan tersenyum.


Nasya berjalan menghampiri Rayhan dam berdiri di samping Rayhan.


Dia pasti sedang hamil. Gumam Kairos dalam hati. Terlihat dari perutnya. Aku harus bicara padanya.


Selesai acara pertunangan Kairos mencari kesempatan untuk bicara kepada Nasya. Dia menarik tangan Nasya menjauh dari Pak Bramantoro.


Kairos membawa Nasya keluar, dia menatap Nasya dengan tajam.


"Kamu lagi hamil anakku, bukan?"


"Siapa yang hamil?" Nasya berpura-pura di depan Kairos.


"Tentu saja kamu,"


"Aku tidak hamil," sahut Nasya. Dia memalingkan wajahnya, Nasya tidak tahan dengan tatapan Kairos.


"Kamu pikir, kamu bisa bohongi aku? Lihat perutmu."


Nasya memperhatikan perutnya yang mulai kentara itu lalu dia menatap Kairos.


"Ya, aku lagi hamil. Tapi ini bukan anakmu, ini anak Rayhan," jawab Nasya lalu Kairos menarik tangan Nasya.


"Aku tidak sebodoh itu, selesai kamu melahirkan aku akan tes DNA terhadap anak itu. Kalau dia anakku, aku akan membawanya darimu, aku akan membawa dia ke Amerika. Kita lihat saja nanti." ancam Kairos kepada Nasya


Nasya terdiam dan menata Kairos, dia menjadi takut dengan ancaman Kairos lalu dia tertunduk.


"Iya, aku sedang mengandung anakmu," sahut Nasya dengan suara pelan.


"Batalkan pertunanganmu dan ikut aku ke Jakarta,"


"Aku tidak bisa, Kairos. Aku sudah tunangan, lagi pula aku tidak ingin bersamamu. Karenamu aku jadi seperti ini," ujar Nasya dengan menatap marah kepada Kairos.


"Apa? Kamu menyalahkanku? Kalau bukan kamu yang lebih dulu, tidak mungkin aku menyentuhmu."


"Tapi aku dalam keadaan mabuk, semestinya kamu bisa mengontrol dirimu," ujar Nasya dengan emosi.


"Bagaimana aku bisa mengontrol diriku kalau aku juga dalam pengaruh alkohol. Aku katakan padamu, ikut aku ke Jakarta dan menikah denganku, aku ingin bertanggung jawab.


"Aku tidak bisa!" sahut Nasya dengan tega


"Kenapa tidak bisa?"


"Karena aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku cintai," jawab Nasya sambil memalingkan wajahnya.


"Kamu pikir aku juga bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai? Aku ingin menikahimu karena anak yang ada dalam kandunganmu. Kamu pikir aku mencintaimu? Tidak sama sekali!" tegas Kairos kepada Nasya lalu Nasya terdiam.

__ADS_1


"Batalkan pernikahanmu atau aku katakan kepada papamu kalau anak yang dalam kandungan itu adalah anakku," ujar Kairos kemudian dia meninggalkan Nasya dan kembali ke dalam.


Nasya terbengong sendiri di luar, dia menjadi bingung pikirannya langsung tertuju kepada Rayhan.


"Bagaimana cara aku mengatakan kepada Rayhan? Mengapa juga Kairos bisa ada di sini, dan dia terlihat dekat dengan papa." Nasya kembali ke dalam dan bergabung kembali dengan keluarha Rayhan.


Mata Nasya tertuju terus kepada Kairos, dia takut kalau Kairos mengatakan semuanya kepada papanya. Dia terlihat tidak tenang.


Rayhan memperhatikan Nasya yang terlihat gelisah.


"Ada apa? Mengapa wajahmu terlihat khawatir?" tanya Rayhan sambil memegang tangan Nasya.


"Um, tidak apa-apa," sahut Nasya dengan berusaha tersenyum kepada Rayhan.


"Tadi kamu kemana? Aku mencarimu,"


"Oh, tadi aku ke kamarku," bohong Nasya.


"Oh ..." gumam Rayhan kemudian dia kembali berbincang dengan keluarga Nasya.


Akhrinya Rayhan dan keluarganya berpamitan kepada keluarga Nasya, sedangkan Kairos dan Gilang masih berada di kediaman Nasya. Pak Bramantoro masih menahan Kairos dan Gilang.


Mereka duduk di ruang tamu dan berbincang-bincang.


"Sayang sekali Kairos terlambat bertemu dengan putriku, coba kalu bertemu dari awal sudah aku jodohkan," canda Pak Bramantoro lalu Kairos tertawa dan melirik Nasya.


"Iya, sayang sekali Pak. Tapi masih ada harapan, ini baru tunangan belum menikah." Kairos balas bercanda lalu Pak Bramantoro tertawa.


"Kamu bisa saja, sayang sekali tidak bisa di batalkan," ujar Pak Bramantoro dengan tersenyum


"Baiklah, Pak. Kami permisi dulu, sudah malam," ucap Kairos ssmbil berdiri di ikuti Gilang.


"Terima kasih sudah datang di acara pertunangan Nasya,"


"Sama-sama, Pak." Kairos menghampiri Nasya dan tersenyum. " Ingat pesanku."


Nasya hanya diam saja, lalu dia menunduk. Kairos dan Gilang langsung meninggalkan kediaman Pak Bramantoro dan kembali ke rumah.


***


Acel bertemu dengan Mecy, dia membawa rekaman tentang kematian Dario. Acel ingin menunjukkan kepada Mecy untuk meyakinkan Mecy agar pergi bersamanya meninggalkan Amerika.


Acel membawa Mecy ke villa milik Jessica. Mereka masuk lalu Acel langsung menghidupkan laptopnya. Acel memasukan cd ke dalam laptop lalu menunjukkan rekaman itu kepada Mecy.


Mecy duduk dan memperhatikan rekaman itu. Dia terkejut saat melihat Dario di siksa oleh kakeknya, Mecy memegang tangan Acel dan menghentikan rekamannya.


"Jadi itu mengapa papa kamu membalas dendam?"


"Iya, tapi papaku masih bermurah hati dengan tidak membunuh mereka," sahut Acel dengan geram.


"Lalu bagaimana sekarang? Daddy sangat membenci papamu,"


"Kamu mencintaiku?" tanya Acel dengan menatap mata Mecy.


"Iya. Aku sangat mencintaimu," jawab Mecy sambil membelai pipi Acel.


"Kalau begitu ikutlah denganku, kita tinggalkan Amerika,"


"Tapi bagaimana kalau daddy tahu, aku pergi denganmu?"


"Tidak usah khawatir, dia akan tahu kalau kamu dan aku sudah di Spanyol," ujar Acel, dia membujuk Mecy agar ikut bersamanya.


Akhirnya Mecy mau ikut dengan Acel, Acel tidak mengijinkan Mecy kembali ke rumah. Dia ingin Mecy tinggal bersamanya di villa.


Acel menghubungi Carlos dia memberitahukan kalau mecy mau ikut bersamanya ke Spanyol.


Sementara itu, Carlos menyuruh Acel untuk segera berangkat, dia menyewa pesawat untuk Acel dan Mecy. Carlos juga meminta Jessica untuk membawa Carissa dan Laura ke Spanyol.


Sedangkan rumah Federico dan Jeremmy di jaga ketat oleh anak buah Carlos.


Carlos tahu, kalau Acel membawa Mecy pasti akan terjadi masalah besar


Carlos dan Mike sudah siap siaga untuk menghadapi Diego dan anak Tuan Rolland.


Carlos dan Mike sudah menyusun rencana bersama Charlie dan orang-orangnya.


Jessica mengikuti permintaan Carlos, dia membawa Carissa dan Laura ke Spanyol,dia juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada Carissa dan Laura. Jessica berangkat ke Spanyol bersama Liliana dan Carissa juga Laura.


Begitu juga Acel dan Mecy, mereka berdua berangkat ke Spanyol tanpa sepengetahuan Diego dan anak Tuan Rolland. Mereka berdua tiba di Spanyol dan tinggal di kediaman Federico.


“Kita aman di sini, papa dan Paman Mike akan menyelesaikan permasalahan ini. Kalau sudah selesai kita bisa kembali lagi ke Amerika,” ujar Acel dengan membelai pipi Mecy


“Iya. Ku harap semuanya bisa cepat selesai dan tidak ada korban lagi,”


“Mudah-mudah saja,” sahut Acel kemudian dia mengecup bibir Mecy. “Sekarang istirahat ya, besok mama dan oma juga tiba di sini. Mereka datang bersama Carissa dan Laura,”


“Oh ya?”


“Iya, papa tidak ingin terjadi sesuatu kepada mereka. Papa tahu siapa anak Tuan Rolland itu, makanya dia meminta mama dan oma untuk membawa Laura dan Carissa ke sini,” jelas Acel kepada Mecy sambil berbaring di tempat tidur.


“Oh … begitu,” gumam Mecy sambil mengangguk-anggukan kepala lalu dia berbaring di samping Acel.


‘Kita tidur, Sayang. sudah larut malam,”

__ADS_1


“Iya.” Mecy meletakkan kepalanya di dada Acel dan meletakkan tangannya di atas perut Acel kemudian dia memejamkan mata.


Keesokan harinya Jessica, Liliana dan Carissa juga Laurs tiba di Spanyol. Mereka di jemput oleh Acel.


__ADS_2