
Carlos mengawasi Mike yang sedang berjalan ke depan, Carlos mengeluarkan pistol dan memasang peredam di ujung pistolnya, dia melihat salah satu musuh keluar kemudian Carlos langsung menembak orang itu. Mike terkejut melihat orang itu terkapar di dekatnya kemudian dia menoleh kepada Carlos
Carlos memberi isyarat kepada Mike untuk berhati-hati.
Mike mengangguk kepala kemudian dia dan beberapa polisi setengah berlari dengan menunduk lalu terdengar suara tembakan.
Mike dan anak buahnya langsung melompat mencari perlindungan. Terjadi saling baku tembak di dalam gudang.
Charlie mendengar suara tembakan di dalam kemudian dia langsung berlari. Mereka masuk lewat jendela.
Carlos melihat Charlie kemudian dia melindungi Charlie dengan menembak seseorang yang sedang membidik Charlie.
Charlie tersenyum dan mengacungkan jempol kepada Carlos. Carlos memberi isyarat dengan menunjuk lantai dua.
Charlie menganggukkan kepala, sedangkan Tim Mike masih saling baku di dekat tangga.
Terdengar senjata otomatis menggema di dalam gudang.
Mike membidik dengan pistolnya saat melihat beberapa orang berlari turun ingin membantu rekan mereka yang semakin terdesak dengan serangan anak buah Mike dan beberapa polisi.
Mike melepaskan tembakan lalu salah satu dari mereka terjatu di tangga.
Carlos memutar ke arah lain, dia ingin membantu Mike. Dia membidik sesorang yang berada di dekat tangga. Carlos melepaskan tembakan dan orang itu terjatuh dari lantai dua.
Di lantai dua Anak Tuan Rolland beserta rekan bisnisnya menjadi khawatir dan saling curiga.
"Pasti di antara anak buahmu ada yang membocorkan transaksi kita," ujar rekan bisnis anak Tuan Rolland.
"Tidak mungkin, semua anak buahku setia. Mungkin anak buahmu," sanggah anak Tuan Rolland dengan wajah marah.
"Anak buahku juga setia padaku, kamu jangan asal bicara."
Mereka mulai bertengkar dan saling todong senjata.
"Sudah cukup, lebih baik kita cari cara untuk keluar dari tempat ini," kata salah satu dari mereka sambil mencari jalan untuk keluar. Lalu dia melihat tangga dan mengajak mereka untuk ikut bersamanya sementara yang lain melindungi mereka untuk melarikan diri.
Carlos, Charlie dan Mike beserta anak buah mereka masih saling baku tembak dengan para musuh. Carlos ingin mencoba untuk naik ke lantai dua tapi dia dan timnya di berondong oleh senjata otomatis. Carlos langsung melompat ke dus-dus yang di susun sambil melepaskan tembakan.
Tapi tembakan Carlos meleset. Carlos terjatuh di susunan dus dan mengambik shotgun yang dia gantungkan di punggungnya. Carlos melepaskan tembakan lalu mengenai orang itu sampai tubuh orang itu terpental.
Terlihat emosi di wajah Carlos. Dia berdiri dan mencoba kembali untuk naik ke lantai dua bersama anak buahnya, sedangkan Mike masih terlibat saling baku tembak.
Charlie melihat Carlos berusaha naik ke lantai dua, dia berlari untuk menarik Carlos agar tidak naik tapi Charlie terkena tembakan.
Carlos langsung melepaskan beberapa tembakan ke tubuh orang yang menembak Charlie.
Carlos menjadi brutal melihat Charlie tertembak. Dia berlari menghampiri Charlie, dia melepas ikat pinggang dan mengikatkannya di paha Charlie.
Salah satu mata-mata Carlos berlari menghampiri Carlos lalu dia berbisik.
"Mereka berusaha keluar lewat pintu lain."
Carlos langsung berdiri dan meminta salah satu rekan Charlie untuk mengurus Charlie.
Carlos berdiri tapi tangan Charlie begitu cepat menahan Carlos.
"Jangan pergi sendiri ajak semua rekan-rekanku ikut bersamamu," ujar Charlie sambil berusaha berdiri.
"Baik." Carlos berdiri dan mengajak anak buah dan rekan-rekan polisi untuk mengikuti mata-mata Carlos.
Mereka berlari pergi ke pintu lain. Carlos melihat anak Tuan Rollan berlari di dampingi oleh anak buahnya.
Carlos melepaskan beberapa tembakan dan mengenai anak buah dari anak Tuan Rolland.
Polisi yang bersama Carlos juga melepaskan tembakan, mereka saling baku tembak dengan musuh.
Carlos berlindung di balik drum dan terus menembak.
Dia mengintip dari bakik drum dan melihat anak Tuan Rolland berlari ingin melarikan diri. Carlos langsung mengejarnya.
Dia tidak perduli dengan anak buah yang bersama anak Tuan Rolland.
Salah satu anak buah menghadang Carlos dan melayangkan pukulan ke wajah Carlos tapi dengan gesit Carlos menangkis pukulan itu dan membalas melayangkan pukulan ke perut lawan.
Lawan tersungkur lalu Carlos menendang perut orang itu, sehingga orang itu neringis kesakitan.
Carlos kembali mengejar anak Tuan Rolland yang berusaha mendekati mobil. Semakin dekat lalu Carlos melompat dan mendorong tubuh anak Tuan Rolland sehingga mereka berdua terjatuh.
Carlos menarik kerak kemeja anak Tuan Rolland dan melayangkan pukulan di wajahnya.
Anak buah Carlos dan polisi terlibat saling baku tembak, salah satu anak buah dari anak Tuan Rolland ingin menembak Carlos tapi dengan cepat polisi menembak orang itu.
Sedangkan Mike dia masih berusaha melumpuhkan lawan mereka. Banyak korban berjatuha dari lawan, sedangkan anak buah Mike dan Carlos juga ada yang tertembak.
Carlos masih terlibat perkelahian dengan anak Tuan Rolland.
Mereka berdua saling melepaskan pukulan.
__ADS_1
Anak Tuan Rolland tersungkur saat Carlos melepaskan tendangan di wajahnya.
Carlos berjalan menghampiri anak Tuan Rolland lalu dia menendang perutnya, terdengar anak Tuan Rolland meringis kesakitan.
Dia mengambil pistol dan langsung menembak Carlos, peluru mengenai lengan Carlos. Carlos langsung menghindar dan berlindung. Dia mengambil pistolnya dan langsung menembak anak Tuan Rolland.
Tembakan Caros mengenai dada anak Tuan Rollan, dia tersungkur di tanah dan mencoba mengangkat pistol dan ingin menembak Carlos.
Tapi Carlos lebih dulu melepaskan beberapa tembakan ke tubuh anak Tuan Rolland.
Anak Tuan Rolland langsung terbaring di tanah, Carlos berdiri dan dengan pistol yang siap di tembakkan dia berjalan perlahan-lahan menghampiri anak Tuan Rolland.
Carlos membungkuk dan meraba leher anak Tuan Rolland apakah masih ada denyutan.
Anak Tuan Rolland mati seketika, sedangkan rekan bisninsnya berhasil di tangkap oleh polisi.
Charlie berjalan di bantu oleh rekannya, dia ingin menemui Carlos.
Mike juga berlari mencari Carlos, dia khawatir terjadi sesuatu kepada Carlos. Dia melihat Carlos dan Charlie sedang berbincang kemudian dia menghampiri mereka.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Mike sambil memperhatikan tubuh Carlos.
"Aku tidak apa-apa tapi Charlie tertembak di kaki, dia harus segera dibawah ke rumah sakit," sahut Carlos seraya memperhatikan kaki Charlie.
"Kalian harus tinggalkan tempat ini sekarang, sebelum kepala polisi datang bersama tim yang lain," ujar Charlie kepada Carlos dan Mike.
"Baiklah kalau begitu, oh ya Mike apakah ada anak buah kita yang tertembak?" tanya Carlos sembari mencari anak buahnya yang lain.
"Iya, ada empat orang yang tertembak,"
"Dimana mereka?" tanya Carlos lagi.
"Mereka sudah dibawah di mobil, lebih baik kita pergi sekarang," ajak Mike kepada Carlos lalu mereka segera berlari pergi ke mobil.
Carlos langsung masuk ke mobil dan memerintahkan semua anak buahnya untuk pergi.
Begitu juga Mike dia dan anak buahnya langsung meninggalkan lokasi.
Sedangkan Charlie dia berdiri di dekat jasad anak Tuan Rolland dengan pistol di tangannya.
Kepala polisi dan timnya tiba di lokasi, kepala polisi langsung menemui Charlie. Dia melihat Charlie dan menghampirinya.
Dia menatap Jasad anak Tuan Rolland kemudian dia menatap Charlie.
"Kenapa kamu menembaknya sampai mati?"
"Aku terdesak, dan harus menembaknya," sahut Charlie dengan menahan sakit.
"Lebih baik kamu ke rumah sakit, biar mereka yang mengumpulkan barang bukti itu."
"Baik, Sir." Charlie berjalan di bantu temannya. Dia pergi keluar lalu terdengat beberapa ambulance datang.
Charlie langsung di masukkan ke ambulance dan di bawah ke rumah sakit.
Sedangkan Carlos dia membawa anak buah yang tertembak ke rumah sakit. Dia tiba di rumah sakit dan masuk.
Carlos berpapasan dengan Joe kemudian dia menyapanya.
"Joe, kamu tugas malam?"
"Iya, Carlos. Siapa yang sakit? Tanya Joe sambil melihat anak buah Carlos sedang membopong rekan mereka yang tertembak.
"Tolong obati mereka,"
"Baiklah, bawah mereka ke ruangan," sahut Joe sambil berjalan masuk ke ruangan.
Mike juga tiba di rumah sakit dan meminta anak buahnya untuk mengangkat rekan mereka yang terkena tembak.
Mereka membawa masuk, Mike melihat Carlos dan menghampirinya.
Di dalam Joe dan rekan dokter menangani anak buah Carlos dan Mike yang terkena tembak.
Di luar Carlos dan duduk dan berbincang.
"Kamu bisa tenang sekarang, orang yang ingin mencelakai keluargamu sudah mati," ujar Mike sembari menepuk punggung Carlos.
"Belum Mike, masih ada Diego. Aku harus menemuinya, aku harus menyelesaikan masalah Acel." Carlos berdiri dan memanggil anak buahnya.
"Kalian tunggu mereka yang di dalam ruangan. Aku ingin kembali ke rumah,"
"Hei, kamu juga harus mengobati lenganmu," ujar Mike sambil menahan tangan Carlos dan membawa Carlos ke dalam ruangan.
Mike melihat Joe yang sedang mengobati salah satu anak buah Carlos.
"Joe, obati juga lengan Carlos. Dia tadi tertembak,"
"Lukaku hanya kecil saja, pelurunya mengenai jacket dan sedikit lenganku. Tidak ada selongsong peluru yang tertinggal di lenganku. Aku obati saja di rumah.
__ADS_1
"Sudahlah, Carlos. Sini aku obati lukamu," ujar Joe sambil memegang lengan Carlos. "Coba lepaskan jacketmu."
Carlos menurut dan melepaskan jacketnya lalu ponsel Carlos berbunyi. Joe mengambil ponsel Carlos dan melihat Jessica yang menelepon.
"Ini, Jessica yang menelepon," ujar Joe sambil memberikan ponsel kepada Carlos.
Carlos mengambil ponsel dari tangan Joe dan menjawab telepon Jessica.
"Hallo, Sayang. Bagaimana kabar kalian?" tanya Carlos lalu dia meringis kesakitan.
"Kami baik-baik saja, kamu kenapa, beb? Apakah kalian baik-baik saja?" Terdengar suara Jessica begitu khawatir.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Kamu tidak udah khawatir,"
"Apakah semua sudah selesai?" tanya Jessica lagi.
"Iya, sudah selesai. Kalian bisa kembali ke Amerika,"
"Ah .. aku menjadi tenang. Baiklah besok lusa kami kembali ke Amerika," ujar Jessica. Terdengar suaranya tidak khawatir lagi.
"Baiklah sayang, lenganku lagi di obati oleh Joe. Nanti aku telepon kamu lagi.
"Iya, beb."
Carlos menutup telepon dan membiarlan Joe mengobati lukanya.
****
Kairos bersiap-siap untuk menjemput Nasya. Dia mengambil topi dan keluar dari kamar menuju ke depan. Kairos mengunci rumah dan masuk ke mobil, dia langsung meluncur ke rumah Nasya.
Sedangkan Nasya dia bersiap-siap, dia memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas. Dia tahu Kairos pasti tidak akan mengijnkannya untuk pulang.
Ponsel berbunyi, Nasya memgambilnya lalu melihat pesan dari Kairos. Nasya mengambil tas dan pergi ke kamar mamanya.
Nasya mengetuk pintu lalu terdengar suara mamanya menyuruh Nasya masuk.
Nasya membuka pintu lalu dia menghampiri mamanya yang lagi duduk membaca buku.
"Ma, nanti aku tidak pulang. Aku mau tidur di tempat teman soalnya dia hanya beberapa hari di sini. Aku ingin bersamanya. Boleh ya?
"Iya, tapi jaga kandunganmu ya!" Sambil tersenyum mama Nasya membelai perut Nasya.
"Tentu saja, Ma. Aku pergi ya." Nasya mencium kedua pipi mamanya kemudian dia meninggalkan kamar dan pergi menemui Kairos yang sudah menunggunya di seberang jalan.
Nasya masuk ke mobil. Kairos tersenyum dan mengecup perut Nasya. Kairos menjalankan mobilnya.
"Kita cari restoran untuk makan siang, kamu sudah laparkan?" tanya Kairos seraya tangannya memegang perut Nasya.
"Iya, aku sudah lapar." sahut Nasya dengan suara pelan.
Nasya dan Kairos masuk di restoran, mereka berdua duduk dan melihat-lihat menu.
"Kamu mau makan apa?" tanya Kairos sambil melihat-lihat menu.
"Aku masih melihatnya," sahut Nasya. Membuka lembaran menu kemudian dia memanggil pelayan.
"Pesan apa, Mba?"
"Aku ingin sop kepala kakap dan dada tuna bakar," pesan Nasya lalu pelayan menulisnya.
"Minumnya?" tanya pelayan lagi.
"Um .. juice semangka saja,"
Pelayan kembali menulis lalu dia menunggu Kairos yang masih melihat-lihat menu.
"Aku pesan udang goreng mentega dan sayurnya kangkung saja. Oh ya minum aku mau .." Kairos kembali melihat menu, "juice sirsak saja."
Pelayan kembali menulis pesanan Kairos dan membaca kembali pesann mereka.
"Aku baca kembali ya pesanannya, kalau Tuan pesan udang goreng mentega, sayur kangkung terus minumnya juice tomat. Kalau mba sop kepala ikan kakap dan dada tuna bakar. Minumnya juice semangka.
"Iya benar," sahut Nasya lalu pelayan tersenyum dan meninggalkan Kairos dan Nasya.
Kairos berdiri dan pindah duduk di samping Nasya.
"Mungkin lebih baik kamu jujur kepada papamu supaya papa kamu membantumu untuk bicara dengan Rayhan dan keluarganya,"
"Tapi, Kairos. Aku takut kepada papaku ..."
"Aku akan bantu kamu, kita berdua temui papa kamu dan bicara. Kalau menunggumu untuk bicara kepada Rayhan itu tidak bisa. Aku tahu kamu tidak berani bicara kepada Rayhan." sela Kairos kemudian dia memegang tangan Nasya.
"Besok kita temui papa kamu di kantornya,"
"Tapi Kairos ..."
"Nasya, serahkan padaku. Papa kamu tidak akan marah."
__ADS_1
Nasya hanya menganggukan kepala lalu Kairos tersenyum. Kairos berdiri dan mengecup keninga Nasya dan dia pindah duduk di depan Nasya.
Pesanan mereka datang lalu Kairos dan Nasya makan.