
Orang tua Nasya bergitu khawatir, sudah dua hari Nasya tidak ada kabar berita. Ponselnya terkadang aktif dan terkadang tidak aktif. Mereka melaporkan ke polisi dan meminta bantuan polisi untuk mencari Nasya.
Sedangkan Gilang sudah merasa yakin kalau Nasya di bawah lari oleh Rayha. Gilang belum ingin menyampaikan kepada Kairos tentang Nasya. Dia takut Kairos akan marah besar kapadanya.
Sementara di villa Nasya masih di sekap oleh Rayhan di kamar, terlihat Nasya sedang berbariing di tempat tidur dan menangis. Dia tidak tahu lagi bagaiman cara untuk membujuk Rayhan agar membawanya pulang. Nasya tidak mengenal daerah dimana Rayhan menyekapnya.
Sedangkan Rayhan dia pergi ke kota untuk membeli makanan dan susu buat Nasya dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Nasya dan kandungannya. Belanjaan dan tas nasya masih berada di dalam mobil Rayhan. Rayhan tiba di kota, dia langsung masuk ke toko dan membeli susu. Rayhan pergi ke kasir dan membayarnya.
Dari toko Rayhan pergi restoran dan membeli makanan untuk dia dan Nasya, setelah itu Rayhan kembali ke villa. Dia masuk dan pergi ke kamar tempat dia menyekap Nasya, Rayhan meletakkan makanan di piring dan menyuruh Nasya makan.
Nasya menolak untuk makan, dia malah muntah-muntah di dalam kamar. Rayhan menjadi panik kemudian dia memberikan air putih kepada Nasya dan menyuruh Nasya minum.
“Ray, tolong kembalikan aku ke orang tuaku. Aku sedang hamil, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandunganku. Aku mohon padamu Ray,” mohon Nasya kepada Ray sambil menangis.
“Tidak Nas, aku harus menikah denganmu. Selesai menikah kita kembali ke kota, kita tidak akan tinggal di Surabaya.” Rayhan sudah bertekad, dia harus menikah dengan Nasya apapun yang terjadi.
Nasya tidak mau makan, dia hanya menangis dan berbaring di tempat tidur. Dia berharap orang tuanya mencari dia. Rayhan meninggalkan Nasya dan mengunci pintu dari luar. Dia pergi duduk di depan teras.
Sedangkan Gilang, dia terus mencari informasi tentang Rayhan. Dia meminta sepupunya untuk menyamar sebagai teman Rayhan, dia meminta sepupunya pergi ke rumah orang tua Ray dan mencari informasi keberadaan Rayhan dimana.
Sepupu Rayhan berkunjung ke rumah orang tua Rayhan, dia menekan bel yang ada di pagar, sedangkan Gilang dia mengawasi sepupunya dari kejauhan. Terlihat pintu rumah terbuka dan keluar seorang perempuan menghampiri sepupu Gilang. Mereka terlihat berbincang-bincang kemudian sepupu Gilang berjalan menghampiri mobil Gilang.
Dia masuk dan duduk, sepupu Gilang memakai sabuk pengaman kemudian dia menatap Gilang.
“Sudah beberapa hari Rayhan tidak pulang, mereka juga tidak tahu Rayhan dimana,” info sepupu Gilang kepada Gilang kemudian Gilang menjalankan mobilnya.
“Aku ingin kamu dan teman-temanmu terus mengawasi rumah orang tua Rayhan, kalau Rayhan kembali kalian terus mengawasinya dan kalau dia keluar kalian ikuti kemana dia akan pergi.
***
Setelah penyerangan di rumahnya Carlos, Charlie menempatkan beberapa polisi untuk mengawasi rumah Carlos. Di dalam kediaman Carlos terlihat mereka sedang berbincang-bincang di ruang santai. Tampak Acel dan Kairos sedang bersenda gurau. Sedangkan Jessica dan Carlos hanya tertawa melihat Acel dan Kairos, terkadang Carissa ikut bercanda dengan mereka berdua.
“Oh ya Acel bagaiman kalau kamu ikut bersamaku ke Indonesia, nanti setelah pernikahanku kamu kembali lagi ke sini,”
“Um, boleh juga. Kalau begitu aku akan membeli tiket untuk aku dan Mecy,” sahut Acel dengan tersenyum.
“Oh ya, dimana Mecy?” tanya Carlos kepada Acel
“Dia di kamar, Pap. Kalau begitu aku ingin melihat tiket sekarang besok kamu sudah harus kembali ke Indonesia bukan?” tanya Acel kepada Kairos sambil berdiri.
“Iya, Acel. Besok malam aku kembali ke Indonesia, kamu menuyusul nanti aku jemput kamu,”
“Baiklah.” Acel berjalan pergi ke kamarnya
Sedangkan Kairos kembali berbincang-bincang dengan Jessica dan Carlos, mereka membicakan kembali rencana pernikahan Kairos dan Nasya. Lalu ponsel Kairos berbunyi, dia melihat panggilan dari Pal Bramantoro. Kairos berdiri dan menjawa telepon Pak Bramantoro.
“Hallo, Pak Bram. Apa kabar?” tanya Kairos sambil memberi isyarat kepada Jessica dan Carlos kalau dia akan ke depan. Carlos dan Jessica menganggukan kepala.
“Aku baik-baik saja tapi, Kairos. Um, Nasya ….” Pak Bramantoro terhenti
“Ada apa dengan Nasya, Pak Bram?” tanya Kairos, dia mulai khawatir.
“Nasya sudah beberapa hari tidak pulang, kami tidak tahu dimana dia sekarang. Kami mencoba menghubungi ponselnya tapi saat ponsel aktif dia tidak menjawabnya,” jelas Pak Bramantoro dari seberang telepon.
“Apa?” Kairos terkejut, “Bagaimana bisa? Apakah Gilang tidak menemani Nasya kemana pun Nasya pergi?”
__ADS_1
“Saat Nasya pergi ke mall Gilang sedang sibuk, kami sudah laporkan ke polisi dan sekarang mereka masih mencarinya.”
Kairos menutup telepon, dia tidak ingin mendengar lagi informasi dari Pak Bramantoro. Dia merasa kesal kepada Gilang. Kairos kembali ke dalam dan menemui Carlos dan Jessica, dia duduk di sofa dengan wajah terlihat khawatir.
Carlos dan Jessica saling tatap kemudian Carlos bertanya kepada Kairos.
“Apa yang terjadi? Mengapa wajahmu seperti itu?”
“Nasya sudah beberapa hari tidak pulang, aku curiga Rayhan sudah membawanya,” sahut Kairos dengan kesal. “ Ah … seandainya Indonesia dekat aku sudah berangkat dan pergi mencari manusia keparaa itu,” sambungnya dengan mengepalkan tangannya. Kairos merasa geram karena dia tidak berada di Indonesia saat Nasya dalam masalah.
“Nasya di culik?” tanya Jessica dengan wajah khawatir.
“Sepertinya, Mam. Ah … besok malam aku baru bisa kembali ke Indonesia. Kenapa juga Gilang tidak memberi tahuku, dia benar-benar keterlaluan,” ujar Kairos. Dia memikirkan kehamilan Nasya, Kairos takut terjadi apa-apa dengan kandungan Nasya.
Carlos berdiri kemudian dia duduk di samping Kairos, kamu bisa berangkat saat ini juga. Papa akan meminjam pesawat Opa Federico, sebentar papa telepon pilotnya untuk menghubungi otoritas airport di Indonesia.
Kairos menganggukan kepala, dia terlihat tidak tenang. Jessica berdiri dan menenangkan Kairos lalu terlihat Acel sedang berjalan menghampiri Kairos dan Jessica, dia langsung duduk di sofa dan memperhatikan wajah Kairos.
“Ada apa denganmu? Mengapa wajahmu seperti itu?” tanya Acel
“Nasya di culik,” jawab Kairos kepada Acel.
“Apa? Nasya di culik? Siapa yang menculikntya?” tanya Acel dengan wajah terkejut.
“Ada pria yang sangat suka dengan Nasya, aku pikir pasti dia yang menculiknya,” sahut Kairos dengan kesal.
“Terus bagaiman sekarang? Apakah orang tuanya sudah melapor ke polisi?”
“Iya, mereka sudah melapor ke polisi,” jawab Kairos lalu terdengar suara Carlos.
“Siap-siap saja Kairos, Opa sudah memberi ijin untuk menggunakan pesawatnya. Papa dan mama nanti menyusul,” ujar Carlos sambil berjalan menghampiri Kairos.
“Bukannya kamu sudah membeli tiket?” tanya Carlos kepada Acel
“Aku belum membayarnya, aku akan siap-siap dulu.” Acel kembali ke kamarnya dan meyuruh Mecy untuk bersiap-siap.
Sedangkan Kairos, dia berdiri dan memeluk Carlos dengan erat.
“Terima kasih, Pap,” ucap Kairos dengan suara pelan.
“Ayo, kamu harus siap-siap sekarang.” Carlos melepaskan pelukan Kairos dan meminta Jessica untuk membantu Kairos.
“Tidak usah, Mam. Aku hanya membawa tas punggung,” ujar Kairos kemudian dia mencium kedua pipi Jessica.
Kairos pergi ke kamarnya dan mengambil tas punggung kemudian dia memasukkan laptop ke dalam tas punggung. Kairos kembali ke ruang santai menemui Carlos dan Jessica, dia duduk di sofa. Terlihat kairos tidak tenang.
“Sayang, tenangkan dirimu,” ujar Jessica
“Bagaimana aku bisa tenang, Mam. Kalau Nasya tidak tahu berada dimana, aku memikirkan anakku yang ada di dalam kandungannya,” sahut Kairos dengan kesal. Lalu dia teringat sesuatu. Dia langsung menatap Carlos dan Jessica.
“Pap. Tanpa sepengetahuan Nasya, ponselnya aku hubungkan dengan ponselku. Jadi aku bisa melacak dimana dia berada,”
“Benarkah?” tanya Carlos dengan wajah yang senang.
“Iya, Pap. Waktu Nasya tidur di rumahku, aku mengambil ponselnya dan menghubungkan dengan ponselku,”
__ADS_1
“Itu bagus,” ujar Carlos lalu ponselnya berbunyi. Dia melihat pesan dari pilot, Carlos membaca pesan itu kemudian dia menatap Kairos.
“Pesawat sudah siap, sebaiknya kalian berangkat sekarang,” kata Carlos kemudian dia berdiri dan memeluk Kairos.
“Baik, Pap. Aku akan memanggil Acel.” Kairos pergi ke kamar Acel kemudian dia mengetuk kamar Acel.
Acel membuka pintu kemudian dia tersenyum kepada Kairos.
“Berangkat sekarang?” tanya Acel
“Iya, kita harus pergi selarang. Pesawat sudah siap,” jawab Kairos dengan tersenyum kepada Acel dan Mecy.
Acel mengambil koper miliknya dan Mecy kemudian mereka turun menemui Jessica dan Carlos. Kairos dan Acel memeluk Jessica dan Carlos sedangkan Kairos dia mengambil Laura kemudian dia mencium kedua pipi Laura.
Kairos juga memeluk Carissa dan mencium kedua pipi Carissa. Begitu juga dengan Acel dia mencium kedua pipi Carisa kemudian dia kembali mengangkat koper miliknya dan Mecy dan membawa ke depan. Acel memasukkan kedua koper ke dalam bagasi kemudian dia menyuruh Mecy masuk.
Kairos masuk ke mobil di ikuti Acel kemudian Dean mengantar mereka ke landasan milik Federico. mereka tiba lalu Kairos dan Acel turun dari mobil di ikuti Mecy. Kairos membantu Acel mengangkat koper mereka lalu naik ke pesawat.
Acel, Mecy dan Kairos duduk. Pesawat take off lalu Kairos memejamkan matanya.
***
Nasya tidak bisa tidur, dia merasakan sakit di perutnya dia berdiri dan mengetuk-ngetuk pintu dengan kencang agar Rayhan terbangun. Dia memegang perutnya dan merintih kesakitan.
Rayhan terbangun mendengar Nasya memanggilnya, dia berdiri dan pergi ke kamar Nasya. Rayhan membuka pintu dan melihat Nasya sedang terduduk di lantai dengan memegang perutnya, Rayhan menjadi khawatir, dia berlari menghampiri Nasya dan mengangkat Nasya kemudian dia mendudukkan Nasya di sisi tempat tidur.
“Ray, perutku sakit sekali. Bawah aku ke dokter, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandunganku,” mohon Nasya kepada Rayhan sambil menangis dan menahan sakit.
“Tida bisa, Nas. Itu hanya akal-akalan kamu saja untuk meloloskan diri dariku,” ujar Rayhan. Dia tidak percaya dia berpikir Nasya hanya berpura-pura saja.
“Ray. Tolong, peruku sakit sekali. Aku janji aku tidak akan melarikan diri, aku tidak akan mengatakan kepada dokter kalau kamu menculikku. Aku janji padamu Ray, tolong bawah aku ke dokter. Perutku sakit sekali,” mohon Nasya kembali seraya menangis dan memegang perutnya.
“Baiklah, kamu janji?” tanya Rayhan untuk memastikan.
“Iya, Ray. Aku janji,” ucap Nasya lagi.
Rayhan memegang tangan Nasya dan membawa Nasya ke mobil. Rayhan langsung menjalankan mobilnya menuju ke kota, dia akan membawa Nasya ke rumah sakit. Rayhan terlihat khawatir juga dengan kandungan Nasya.
Mereka tiba di rumah sakit kemudian Ray mengangkat Nasya dan membawanya ke dalam rumah sakit. Petugas langsung membawa Nasya ke ruangan dokter kandungan. Rayhan ikut masuk dan duduk di depan dokter.
Dokter berdiri dan menghampiri Nasya yang sudah bebaring di tempat tidur, dia mengecek denyut nadi Nasya kemudian dia mengangkat kaos Nasya dan mengoles gel di perut Nasya. Dokter memeriksa kandungan Nasya kemudian dia membersihkan sisa gel di perut Nasya.
Dokter membantu Nasya berdiri kemudian dia kembali duduk, begitu juga dengan Nasya dia duduk di samping Rayhan.
“Um, kandungannya sehat tapi ibu jangan terlalu stress nanti itu akan berpengaruh terhadap perkembangan janin.
“Iya, Dok. Terima kasih,” ucap Rayhan sambil tersenyum dan memegang tangan Nasya.
“Baiklah aku akan memberikan vitamin untuk istri Anda,” kata dokter kemudian dia memberikan resep kepada Rayhan.
Rayhan dan Nasya berpamitan kepada dokter dan kembali ke mobil, dengan perlahan Nasya masuk ke mobil dan duduk. Rayhan masuk ke mobil dan menjalankan mobil kembali ke villa.
“Ray, tolong aku tidak ingin kembali ke villa. Aku sangat stress kamu mengunci aku di kamar itu, aku mohon kepadamu, Ray,”
“Malam ini kita tetap menginap di villa, besok aku akan mencari rumah untuk kita tinggal,” sahut Ray sambil menyeti mobil.
__ADS_1
Nasya hanya diam dan memikirkan rencana untuk melepaskan diri dari Rayhan. Mereka tiba lalu Rayhan mengantar Nasya ke kamar kmudian Rayhan keluar kembali dan menginci pintu kamar Nasya dari luar.
Nasya berbaring di tempat tidur dan terus berpikir mencari cara untuk melepaskan diri dari Rayhan.