
Kepergian Laura meninggalkan duka yang dalam bagi Kairos, dia mengurung diri terus di dalam kamar. Kairos belum bisa menerima kepergian Laura. Dia terus memeluk foto perkawinan dia dan Laura.
“Secapat itu kamu meninggalkanku, seandainya kamu mengikuti perkataanku kamu pasti tidak akan pergi. Sekarang kamu lihat anak kita, dia tidak bisa melihatmu lagi.” Kairos mengusap foto Laura dan menangis.
Pintu terbuka dan Kairos melihat Jessica sedang menggendong anaknya, Kairos berdiri kemudian dia menghapus air matanya. Dia berjalan menghampiri Jessica dan menggendong putrinya. Jessica menghapus air mata Kairos dan membelai pipi yang sudah basah dengan air mata itu.
“Kamu belum memberi nama kepada putrimu?” ujar Jessica sambil menatap Kairos yang sedang membelai wajah putrinya.
“Aku ingin memberi Nama Laura, sepertinya mommynya,” sahut Kairos dengan mencium pipi putrinya dan membawanya ke tempaty tidur. Kairos meletakkan putrinya di tempat tidur kemudian dia ikut berbaring di samping putrinya dan membelai wajah putrinya.
Jessica duduk di sisi tempat tidur dan mengusap rambut Kairos, dia tidak tega melihat keadaan Kairos.
“Relakan Laura pergi, jangan menyiksa dirimu. Kasihan putrimu kalau kamu begini terus, mengurung diri di kamar dan tidak mau makan.”
Kairos duduk dan memeluk Jessica dengan erat, dia menangis di pelukkan Jessica.
“Aku sangat mencintainya, kenapa orang-orang yang aku cintai pergi meninggalkanku. Elena juga pergi meninggalkanku dan sekarang Laura juga pergi meninggalkanku untuk selamanya. Apakah aku pembawa sial bagi mereka?”
“Ssttss … jangan bicara begitu, bukan kamu yang menentukan hidup mati seseorang. Jangan menyalahkan dirimu.” Jessica membelai rambut Kairos dan menyeka air mata Kairos.
“Mam, aku ingin sendiri bersama putriku. Mama tidak usah khawatir, aku baik-baik saja,”
Jessica menganggukan kepala kemudian dia berdiri, Jessica mencium ubun kepala Kairos lalu dia meninggalkan Kairos bersama putrinya. Jessica pergi ke kamarnya kemudian dia duduk di sofa, dia memikirkan Kairos lalu Carlos masuk dan duduk di sampingnya.
“Bagaimana keadaan Kairos? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Carlos dengan meluruskan kakinya di meja.
“Iya, dia baik-baik saja. Aku ingin dia pergi berlibur untuk menenangkan pikirannya,” sahut Jessica seraya menyandakan kepalanya di bahu Carlos.
“Aku pikir juga begitu, nanti aku akan bicara kepadanya. Oh ya, apakah dia sudah memberikan nama kepada putrinya?”
“Iya, sudah. Dia memberi nama Laura,” jawab Jessica kemudian dia berdiri dan pergi berbaring di tempat tidur.
Carlos berdiri kemudian dia menghampiri Jessica, dia duduk di sisi tempat tidur dan memegang tangan Jessica.
“Kamu juga istirahat nanti kamu sakit,” ujar Carlos dengan membelai rambut Jessica, dia menarik napas panjang dan berdiri. Carlos keluar dari kamar dan pergi ke ruang kerja.
****
Sebulan kematian Laura, akhirnya Kairos mengikuti bujukan Jessica untuk pergi ke Indonesia. Jessica meminta Kairos untuk mengurus perusahaan dia dan Carlos.
Carlos dan Jessica ingin Kairos menjalani hidup dengan normal, mereka tidak ingin Kairos berlarut-larut dalam kesedihan.
“Baiklah, Mam. Tapi tolong jaga dengan baik putriku,” pinta Kairos dengan menatap Laura yang sedang tertidur di box
“Tentu saja, Sayang. Mama pasti akan menjaga Laura dengan baik, dia cucu mama,” sahut Jessica dengan memegang kedua pipi Kairos.
“Terima kasih, Mam. Minggu depan aku ke Indonesia.”
Jessica tersenyum kemudian dia mengecup kening dan pipi Kairos. Kairos tersenyum dan memeluk Jessica dengan erat.
“Aku sangat menyanyangimu, Mam,” ucap Kairos kemudian dia melepaskan pelukannya.
“Mama juga menyayangimu.” Jessica menepuk pipi Kairos dengan pelan kemudian dia meninggalkan Kairos dan Laura. Jessica kembali ke kamarnya.
Kairos mengelus pipi Laura lalu Laura menggerakkan kepalanya dan membuka mata, Kairos tersenyum dan mengangkat Laura lalu dia menggendognya. Kairos membawa Laura ke kamarnya kemudian dia meletakkan Laura di tempat tidur.
Kairos duduk bersila di tempat tidur lalu dia memegang tangan Laura dan bermain. Pintu terbuka lalu Kairos melihat Cella yang masuk. Kairos tersenyum kepada Cella kemudian dia kembali bermain dengan Laura.
Cella berjalan menghampiri Kairos kemudian dia duduk di sisi tempat tidur dan meletakkan tangannya di punggunga Kairos.
“Dia sangat cantik,” puji Cella dengan mengelus pipi Laura.
“Iya, dia cantik sekali.” Kairos tersenyum dan ikut memegang pipi Laura.
“Oh ya, apa benar kamu akan ke Indonesia?” tanya Cella sambil naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Laura, dia memiringkan tubuhnya menghadap Laura.
“Iya, pasti kamu dengar dari mama ya?”
“Hem hem ….” Cella tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Minggu depan aku ke Indonesia, nanti kamu bantu mama mengurus Laura ya.”
Cella duduk di tempat tidur kemudian dia memegang tangan Kairos. “Relakan Laura pergi, belajar jalani hidup tanpa Laura. Aku tahu kamu sangat mencintainya, tapi dia sudah pergi untuk selamanya. Sekarang pikirkan putrimu dan dirimu.
“Aku sebenarnya tidak setuju kamu pergi ke Indonesia, aku ingin kamu terus mendampingi Laura karena dia pasti membutuhkan kasih sayang darimu, dia butuh perhatian darimu.”
__ADS_1
“Kamu benar, Cella. Tapi aku percaya papa dan mama bisa memberikan kasih sayang kepada Laura, mungkin di Indonesia aku akan lebih baik lagi,” ujar Kairos dengan menundukkan kepala.
“Kalau itu juga kemauanmu tidak apa-apa tapi jangan lama-lama di Indonesia. Aku juga pasti akan merindukanmu, kamu tahukan kita tidak pernah terpisah jauh.”
Kairos tertawa dan menarik Cella ke dalam pelukkannya. “Aku sangat menyayangi kalian, aku juga tidak bisa berjauhan dengan kalian. Mudah-mudahan aku tidak lama di Indonesia.”
Kairos melepaskan pelukkannya kemudian dia turun dari tempat tidur dan menggendong Laura, Kairos membawa Laura ke kamarnya dan meletakkan Laura di box.
“Sebentar, Sayang. Papi akan membuatkan susu untukmu,”ujar Kairos kemudian dia pergi ke dapur.
Kairos membuatkan susu untuk Laura kemudian dia pergi ke kamar Laura, Kairos mengangkat Laura kemudian dia duduk dan memberikan susu kepada Laura.
****
Akhirnya Kairos pergi ke Indonesia, dia di jemput oleh sopir perusahaan. Sopir langsung mengantar Kairos ke apartemen. Kairos meletakkan barangnya di kamar kemudian dia berbaring.
“Nanti malam saja aku telepon papa dan mama,” gumam Kairos kemudian dia berdiri dan melepaskan kaosnya lalu dia turun ke bawah. Dia membuka kulkas dan mebersihkannya, dia juga pergi ke kamar mandi dan membuang semua barang-baranag yang tidak di pakai lagi.
Kairos membasuh wajahnya kemudian dia mengambil kaos di dalam koper dan memakainya. Kairos keluar dari apartemen dan berjalan kaki menuju ke Supermarket. Lima belas menit dia berjalan lalu dia sampai di supermarket.
Kairos membeli bahan-bahan untuk memasak, dia juga membeli perlengkapan untuk di kamar mandi. Selesai berbelanja Kairos berjalan ke kasir tanpa sengaja dia menabrak sorang wanita.
“Hei ... apakah kamu tidak punya mata!” bentak wanita itu kepada Kairos dengan menggunakan Bahasa Inggris.
“Maaf, Nona. Aku tidak melihatmu, sekali lagi aku minta maaf,” sahut Kairos dengan menggunakan Bahasa Indonesia
Wanita itu meninggalkan Kairos dan pergi ke kasir, Kairos juga pergi ke kasir dan membayar belanjaannya.
Kairos kembali ke apartemen, dia mengatur belanjaannya di dalam kulkas. Kairos ke kamar mandi dan meletakka perlengkapan yang di belinya.
Kairos mengambil handuk dan mandi, selesai mandi dia masuk ke kamar dan kembali berbaring lalu Kairos tertidur.
Paginya dia bangung lalu turun ke dapur, dia membuat sarapan dan duduk di meja makan. Hari ini Kairos akan pergi ke kantor. Selesai sarapan Kairos pergi mandi.
Kairos memakai pakaiannya dan sepatu lalu dia meniggalkan apartemen, sopir pribadi sudah menunggu di mobil. Kairos masuk ke mobil lalu sopir menjalankan mobilnya ke kantor.
Tiba di kantor Kairos langsung menuju ke ruang meeting, semua karyawan menyapa Kairos. Kairos hanya membalas dengan senyuman. Kairos masuk ke ruang meeting, dia sambut oleh Tiara dan Halima. Kairos menyapa mereka semua kemudian dia duduk di kursi.
Kairos memperkenalkan diri kepada Dewan direksi dan Komisaris. Kairos menjelaskan kepada mereka apa yang akan dia lakukan terhadap perusahaan orang tuanya. mereka setuju dengan usulan Kairos. meeting selesai lalu Kairos pergi keruang kerjanya.
Pintu di ketuk lalu Kairos menyuruh masuk, Kairos tersenyum dan meminta Tiara untuk duduk.
“Iya, Bu Tiara. Aku membutuhkan asisten, dan aku ingin asisten ini menemaniku kemanapun aku pergi,” ujar Kairos kepada Tiara.
“Baik, Tuan Kairos. Kebetualan kami baru menerima karyawati bulan yang lalu, aku pikir dia cocok menjadi asistenmu,” sahut Tiara dengan tersenyum.
“Um, suruh dia menemuiku!” perintah Kairos kepada Tiara. “Oh ya, tolong jangan panggil aku tuan. Panggil saja Kairos,”
“Baiklah Kairos,” sahut Tiara sambil tersenyum kemudian dia meninggalkan ruang kerja Kairos dan pergi memanggil karyawan yang ingin di jadikan asisten.
“Nasya, apakah kamu sudah bertemu dengan anak dari pemilik perusahaan ini?” tanya Tiara sambil duduk di samping Nasya.
“Belum,” sahut Nasya, “kenapa, Bu?”
“Dia lagi mencari asisten, kamu saja ya,” pinta Tiara dengan memohon.
“Apakah dia baik?”
“Tentu saja, dia itu sangat baik dan tampan,” canda Tiara lalu Nasya tertawa.
“Ok, Bu Tiara.”
“Terima kasih, Nasya. Kalau begitu ikut aku keruang kerjanya.”
Tiara dan Nasya berdiri lalu mereka berdua pergi menemui Kairos, Tiara mengetuk pintu lalu terdengar suara Kairos dari dalam menyuruh mereka berdua masuk. Tiara membuka pintu dan langsung menyapa Kairos.
“Apakah aku mengganggumu?” tanya Tiara sambil menarik tangan Nasya untuk masuk
Nasya membelalakkan mata melihat Kairos, dia tidak percaya kalau pria yang bertabrakan dengannya di supermarket adalah pimpinannya. Nasya melepaskan tangannya dari Tiara lalu dia membalikkan badannya ingin keluar dari ruang kerja Kairos. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Kairos.
“Kamu mau kemana? Duduk di situ!” perintah Kairos lalu Nasya melangkah mundur dan mengkerutkan dahinya, jantung berdegub dengan cepat kemudian dia duduk di sofa.
“Kenapa dia yang menjadi pimpinanku,” guma Nasya dalam hati dia tidak berani menatap Kairos
“Bu Tiara, bisakah tinggalkan kami berdua?” pinta Kairos kepada Tiara lalu Nasya membelalakan mata
__ADS_1
“Baik, Kairos. Aku tinggalkan kalian berdua,” ujar Tiara kemudian dia meniggalkan ruang kerka Kairos.
“Habis aku, dia pasti akan memarahiku. Ah mudah-mudah aku tidak menjadi asistennya, kalau aku jadi asistennya dia pasti akan membalas dendam padaku. Ah … God please,” gumam Nasya dalam hati sambil memperhatikan Tiara meninggalkan ruang kerja
Kairos berdiri kemudian dia duduk di sofa, dia menatap Nasya tanpa tersenyum.
“Siapa namamu?” tanya Kairos dengan memangku kaki satunya
“Um, a-ku … aku ….” Suara Nasya terbata-bata
“Aku siapa?” tanya Kairos dengan sedikit membentak, Kairos berpura-pura marah kepada Nasya.
“Aku Nasya, Pak,” sahut Nasya sambil menundukkan kepala dan mengekerutkan keningya.
“Kamu sudah tahu tugamu?”
Nasya menggelengkan kepala, dia hanya tahu Tiara memintanya untuk menjadi asisten.
"Baiklah, aku beritahu padamu. Tugasmu mendampingi aku kemanapun aku pergi, mengerti!" tegas Kairos kepada Nasya.
"Kemanapun?" tanya Nasya dengan heran
"Ya!"
Nasya menarik napas panjang lalu perlahan dia menatap Kairos.
"Apakah ke luar kota juga aku harus menemanimu, Tuan?" tanya Nasya lagi dengan mengkerutkan dahinya.
"Tentu saja, satu hal lagi. Jangan panggil aku tuan lagi!" tegas Kairos lagi sambil menatap mata Nasya.
Nasya langsung memalingkan wajahnya, dia tidak tahan dengan tatapan Kairos.
"Lalu aku harus memanggil apa?"
"Terserah, asalkan jangan memanggil aku tuan lagi," ujar Kairos sambil berdiri dan pergi ke meja kerjanya.
"Baiklah aku panggil Pak saja," sahut Nasya
Kairos tidak jadi duduk kemudian dia menatap Nasya kembali.
"Apakah aku terlihat sangat tua sehingga kamu memanggilku Pak?"
"Oh ... bukan begitu, itu panggilan untuk atasan saja." Nasya menjadi bingung dia meremas tangannya sendiri, dia menjadi geram kepada Kairos.
"Lalu aku harus panggil apa? Masa aku panggil nama, itukan tidak sopan."
"Panggil saja namaku," ujar Kairos kemudian dia membuka map yang berisikan pekerjaan.
"Tapi aku tidak tahu nama Anda," kata Nasya dengan suara pelan. "Baiklah aku panggil saja Direktur,"
"Terserah," ujar Kairos, "ini map, di sini ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan. Ambil!" perinta Kairos sambil meletakkan kembali map di atas meja
Nasya berdiri kemudian dia berjalan ke meja kemudian dia mengambil map dan dia berpamitan kepada Kairos.
"Baiklah, Direktur. Aku kembali ke tempatku."
Kairos menganggukan kepala dan kembali duduk di kursi.
****
Pagi hari Jessica sudah menyiapkan sarapan untuk Carlos, Acel dan Carissa. Jessica pergi ke kamar Laura lalu dia menggendongnya.
Jessica meletekkan Laura di kereta dorong dan membuatkan susu untuk Laura.
Carlos keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan. Dia mengecup bibir Jessica dan menggendong Laura.
"Selamat pagi cucu grandpa yang cantik," ucap Kairos dengan menciun kedua pipi Laura. "Apakah Kairos sudah meneleponmu?" tanya Carlos sambil duduk dan membelai pipi Laura.
"Iya, semalam dia meneleponku. Dia sudah mulai bekerja,"
"Oh. Begitu, aku senang dia bisa beraktifitas kembali." ujar Carlos lalu dia meletakkan kembali Laura di kereta.
Jessica menggendong Laura dan memberikan susu. Acel datang dan menciun Laura kemudian dia duduk di meja makan dekat dengan Carissa.
Selesai memberikan susu kepada Laura, Jessica meletakkan kembali Laura di kereta dan mengambilkan sarapan untuk Carlos dan Carissa, lalu mereka sarapan bersama.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat membaca