
Kairos kembali ke perusahaan Pak Bramantoro, dia ingin membicarakan tentang penyewaan Mother Vessel untuk mengangkut biji nikel dari Sulawesi. Sekaligus dia ingin mencari tahu siapa anak Pak Bramantoro.
Pak Bramantoro mengajak Kairos masuk ke ruang kerja dan mempersilahkan Kairos duduk. Pak Bramantoro duduk di depan Kairos.
“Teman kamu mana?” tanya Pak Bramantoro
“Um, dia kembali kembali ke Jakarta. Ada yang sedang dia kerjakan,”
“Oh, begitu. Aku sudah membaca surat permintaan dari perusahanmu, dan armada sudah di siapkan sesuai dengan tanggalnya,” ujar Pak Bramantoro kemudian dia keluar menemui sekertarisnya, dia meminta sekertaris untuk membuat surat perjanjian antara perusahannya dan perusahan Kairos. Lalu dia masuk kembali dan berbincang-bincang dengan Kairos.
“Putri bapak bekerja di perusahan ini juga?” tanya Kairos
“Oh, iya. Dia membantu aku di sini, cuma hari ini dia tidak masuk karena ada yang sedang dia kerjakan,” sahut Pak Bramantoro dengan tersenyum.
“Ohh …” gumam Kairos, “Apakah putri bapak pernah tinggal dan bekerja di Jakarta?” tanya Kairos lagi, dia sangat penasaran.
“Iya, dia pernah tinggal di Jakarta dan baru beberapa bulan yang lalu dia kembali ke sini,” sahut Pak Bramantoro
Kairos semakin yakin kalau Nasya anak Pak Bramantoro, dia berdiri dan berpamitan kepada Pak Bramantoro.
“Baiklah pak, nanti kalau surat perjanjiannya sudah selesai langsung saja kirim di emailku,”
“Ah, tentu saja. Aku akan segera mengirimnya,” sahut Pak Bramantoro sambil berdiri dan mengantar Kairos sampai di depan kantor.
Kairos masuk ke mobil dan meninggalkan kantor Pak Bramantoro, Kairos kebmali ke rumah yang dia kontrak. Dia tiba dan masuk ke rumah, Kairos duduk di sofa dan memikirkan Nasya.
“Aku hanya ingin memastikan dia hamil atau tidak, kalau dia tidak hamil aku akan langsung kembali ke Jakarta. Tapi kalau dia hamil aku harus bertanggung jawab, walaupun aku tidak mencintainya aku harus menikahinya,” gumam Kairos kemudian dia mangambil rokok dan menyalakannya.
****
Nasya bertemu kembali dengan Rayhan, mereka berdua membicarakan tentang rencana pernikahan mereka berdua.
Nasya dan Rayhan bertemu di T. Plaza mereka berbincang di St. Buck.
Sedangkan Kairos dia juga pergi ke T. Plaza, dia pergi bersama Gilang. Kairos mengajak Gilang masuk di St. Buck, mereka berdua memesan kopi dan duduk.
Tiba-tiba Gilang menyikut tangan Kairos dan mengisyaratkan matanya kepada Kairos.
"Ada apa?" tanya Kairos dengan heran kepada Gilang.
"Lihat meja yang di pojok itu. Nasya bersama pria," ujar Gilang dengan setengah berbisik.
Kairos melihat ke arah yang di tunjuk Gilang, lalu dia tersenyum.
"Jangan sampai dia melihat kita, nanti kita ikuti dia sebentar. Aku ingin tahu di mana dia tinggal," ujar Kairos.
Sedangkan Nasya, dia tidak tahu kalau Kairos dan Gilang sedanga berada di situ juga. Dia terlihat serius berbincang-bincang dengan Rayhan.
"Bagaimana kalau bulan depan kita atur pernikahan kita?" tanya Rayhan sambil memegang tangan Nasya.
"Iya, bulan depan kita menikah. Nanti aku akan mengatur pertemuanmu dengan orang tuaku."
Lebih baik aku menikah dengan Rayhan dari pada Kairos, aku membencinya. Karena dia aku sampai begini. Batin Nasya
"Baiklah, bagaimana kalau kita pulang sekarang? Aku masih harus kerja."
Nasya dan Rayhan berdiri lalu meninggalkan St. Buck.
Kairos melihat Nasya pergi kemudian dia dan Gilang mengikuti Nasya.
"Kamu ikuti Nasya, aku parkiran mobil. Nanti kamu beritahu plat nomor mobil Nasya nanti aku ikuti dia," ujar Kairos lalu Gilang menganggukan kepala.
Kairos dan Gilang berbpisah, Gilang mengikuti Nasya sedangkan Kairos dia pergi ke parkiran dan masuk ke mobil.
Kairos menunggu kabar dari Gilang lalu ponsel berbunyi, Kairos Melihat pesan dari Gilang. Kairos membacanya kemudian dia tersenyum.
Kairos keluar dari parkiran kemudian dia menuggu di luar. Tidak lama kemudian keluar mobil yang di beritahu Gilang lewat pesa.
Kairos mengikuti mobil itu, dia mengambil jarak dengan mobil Nasya.
Nasya tiba di rumah orang tuanya, Leo membukakan pintu pagar untuk Nasya lalu Nasya masuk. Dia memasukkan mobil ke garasi kemudian dia turun dan pergi ke dalam.
Kairos berhenti di jauh dari rumah orang tua Nasya dan memperhatikan dari jauh rumah itu.
"Aku yakin, dia anak Pak Bramantoro. Besok aku akan mengikuti Pak Brantoro pulang dari kantor untuk memastikan Nasya anaknya." Kairos menjalankan mobilnya dengan perlahan-lahan lalu dia melihat ada mobil yang masuk.
Kairos kembali menghentikan mobilnya, dia ingin melihat itu mobil siapa.
Kairos berhenti tepat di depan rumah Nasya. Lalu dia melihat Pak Bramantoro turun dari mobil, Kairos langsung tersenyum kemudian dia menepuk gagang stir mobil.
Kairos kembali menjalankan mobilnya dan kembali ke rumah. Kairos melihat Gilang sudah menunggunya di depan rumah.
Kairos turun dari mobil sambil tersenyum. Dia langsung menyapa Gilang.
"Sudah lama?"
"Belum, aku juga baru sampai. Bagaimana? Apakah kamu menemukan tempat tinggalnya?" tanya Gilang sambil mengikuti Kairos masuk ke dalam rumah.
"Iya, dan aku sangat beruntung. Saat aku mau pergi ada mobil lain masuk, dan aku lihat Pak Bramantoro turun dari mobil. Ternyata benar dugaanku, dia anak Pak Bramantoro." wajah Kairos terlihat gembira, dia duduk di sofa di ikuti Gilang.
***
__ADS_1
Amerika
Acel segera ingin menikah dengan Mecy, dia menemui Carlos di kantor. Acel langsung menuju ke ruang kerja Carlos, dia masuk dan menyapa Carlos.
“Hi, Pap. Apakah Papa sibuk?” tanya Acel sambil duduk di depan Carlos.
“Um, sedikit. Ada apa?”
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan Papa,” sahut Acel sambil tersenyum.
“Apa itu?” tanya Carlos lagi.
“Ehm … begini, Pap. Aku ingin menikah,”
“Menikah? Kamu mau menikah dengan siapa Acel?” tanya Carlos dengan tersenyum
“Aku ingin menikah dengan Mecy, Pap?”
“Ohh … kita bicarakan dengan mama di rumah,” sahut Carlos sambil berdiri, “kita pulang sekarang, papa sudah lapar,”
“Baiklah, Pap,” ujar Acel sambil ikut berdiri.
Carlos dan Acel keluar dari ruang kerja menuju ke parkiran. Mereka berdua masuk ke mobil mereka masing-masing dan meninggalkan kantor. Carlos dan Acel kembali ke rumah.
Mereka tiba lalu masuk ke rumah, mereka berdua berpapasan dengan Jessica lalu Carlos memeluk Jessica dan mengecup bibir Jessica.
“Aku sudah lapar, Sayang.” ujar Carlos lalu Jessica tersenyum
“Aku juga, Mam,” sambung Acel lalu mereka pergi ke ruang makan.
Jessica pergi ke kamar Carissa dan mengajak Carissa untuk ikut makan, dia juga menggendong Laura dan pergi ke ruang makan. Jessica meletakkan Laura di kursi bayi.
Jessica mengambilkan makanan untuk Carlos dan Carissa, kemudian dia mengambil makanan untuk Laura dan menyuapinya.
“Oh ya, Sayang. Acel ingin segera menikah. Dia tidak tahan lagi,” canda Carlos lalu Jessica dan Acel tertawa.
“Benarkah, Sayang?”
‘Iya, Mam. Aku ingin menikah dengan Mecy,” sahut Acel sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
“Apakah orang tuanya sudah mengenalmu?” tanya Carlos sambil menatap Acel
“Iya, Pap. Sudah beberapa kali aku bertemu dengan orang tuanya,”
“Bagus kalau begitu, kapan kamu akan melamarnya?” tanya Jessica sambil menyuap Laura.
“Minggu depan, Mam.”
****
Kairos mendapat telepon dari Pak Bramantoro, di mengundang Kairos bertemu di kantornya. Terlihat Kairos masuk ke mobil, dia meluncur ke kantor Pak Bramantoro. Kairos tiba, dia melihat Pak Bramantoro sedang berdiri di depan kantor. Kairos turun lalu dia menghampiri Pak Bramantoro.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Kairos sambil tersenyum.
“Hi, Kairos. Selamat pagi,” balas Pak Bramantoro, “ayo ke ruanganku.” Pak Bramantoro mengajak Kairos pergi ke ruang kerjanya, mereka berdua masuk lalu Pak Bramantoro menyuruh Kairos duduk.
Kairos duduk lalu Pak Bramantoro kembali keluar menemui sekertarisnya, dia meminta lembaran yang harus Kairos tanada tangan kemudian dia masuk kembali dan duduk di depan Kairos.
“Ada yang harus kamu tanda tangan,” ujar Pak Bramantoro membuka percakapan.
“Oh ya, ada lembaran yang tidak di kirim ya?”
“Iya, mereka lupa mengirimnya,” sahut Pak Bramantoro sambil tersenyum kepada Kairos.
Sekertaris masuk dan memberikan lembaran yang Pak Bramantoro minta, dia meletakkan di meja kemudian dia keluar kembali. Pak Bramantoro menyodorkan lembaran itu kepada Kairos lalu Kairos membacanya. Dia mengambil pulpen lalu menandatangi lembaran itu dan memberikannya kepada Pak Bramantoro.
“Terima kasih, Kairos. Oh ya, bagaimana kalau kamu makan siang di rumahku?” ajak Pak Bramantoro.
“Um, terima kasih, Pak. Tapi aku sudah janji dengan temanku untuk makan siang dengannya,”
“Oh … sayang sekali. Kalau begitu lain kali saja.” ujar Pak Bramantoro
“Iya, Pak. Kalau begitu aku pamit dulu,” kata Kairos sambil berdiri di ikuti Pak Bramantoro.
“Baiklah kalau begitu.” Pak Bramantoro mengantar Kairos sampai di depan.
Kairos masuk ke mobil kemudian dia meniggalkan kantor Pak Bramantoro. Dia kembali ke rumahnya.
Pagi-pagi Nasya ikut sarapan bersama Orang tuanya, dia juga ingin membicarakan pernikahannya dengan Rayhan.
"Pa, Ma. Aku akan menikah bulan depan," ujar Nasya membuka percakapan.
"Oh ya? Kenapa secepat itu?" tanya Pak Bramantoro dengan heran.
"Aku ...." Nasya terhenti, dia takut untuk mengatakan kalau dia sedang hamil.
"Ada apa, Nas?" tanya mama Nasya penasaran.
"A--ku ... aku hamil."
Pak Bramantoro dan istrinya terkejut mereka berdua menatap Nasya.
__ADS_1
"Sudah berapa bulan?" tanya Pak Bramantoro dengan tegas.
"Tiga bulan, Pa." Nasya menjawab dengan menundukkan kepala, dia takut menatap Pak Bramantoro.
"Siapa lelaki yang menghamilimu?" tanya mama Nasya
"Rayhan, dia ingin bertanggung jawab," bohong Nasya kepada Mamanya.
Pak Bramantoro menghentikan sarapannya kemudian dia bertanya kepada Nasya.
"Kapan kalian akan menikah,"
"Bulan depan, Pa dan minggu depan aku dan Rayhan berencana untuk melamarku.
"Baiklah kalau begitu." Pak Bramantoro berdiri dan pergi, dia tidak bergitu suka dengan Rayhan tapi karena Nasya sudah hamil, terpaksa dia merestuinya.
Nasya merasa tenang karena Pak Bramantoro tidak marah. Sambil tersenyum dia pergi ke kamarnya.
****
Acel sedang bersiap-siap hari ini Acel ingin melamar Mecy, terlihat juga Carlos dan Jessica sedang bersiap-siap. Mereka berdua ingin menemani Acel melamar Mecy.
Carlos juga mengajak Mike untuk pergi dengannya. Laura dan Carissa di titipkan kepada pengasuh.
Mereka pergi ke kediaman orang tua Mecy. Mereka tiba lalu Carlos memerintahkan anak buahnya siaga di luar.
Carlos melihat Mike turun dari mobilya. Carlos berjalan menghampiri Mike dan bertanya.
"Apakah kamu juga membawa anak buahmu?"
"Tentu saja Carlos, kita tidak mengenal orang tua Mecy jadi kita harus berhati-hati," sahut Mike
"Baguslah, kalau begitu kita masuk sekarang."
Mereka berdua menghampiri Jessica dan Acel dan mengajak mereka untuk masuk.
Mereka masuk di periksa oleh penjaga, selesai di periksa mereka masuk. Lalu pelayan menyambut mereka dan mengantar mereka ke ruang tamu.
Mereka duduk dan menunggu Mecy dan oranh tuanya keluar.
Terlihat Mecy sedang menurini tangga sambil tersenyum. Acel berdiri dan menghampiri Mecy, dia memegang tangan Mecy lalu Acel dan Mecy duduk.
Tidak lama kemudian orang tua Mecy keluar dari kamarnya dan menemui Carlos, Jessica dan Mike Juga Acel.
Dia terkejut melihat Carlos dan Mike, wajahnya langsung berubah. Lalu terdengar suara laki-laki di depan.
"Hei, Diego. Akhirnya anakmu akan segera menikah."
Acel terkejut mendengar suara itu lalu dia melihat pria itu. Dia lebih sangat terkejut saat melihat Anak Tuan Rolland.
Begitu juga anak Tuan Rolland terkejut melihat Acel, Carlos dan Mike. Wajahnya juga langsung berubah.
Carlos dan Mike saling pandang, mereka berdua langsung curiga ada sesuatu.
Carlos langsung berbisik kepada Jessica.
"Pergi ke mobil sekarang dan suruh anak buah untuk siap-siap."
"Ada apa, Beb?" tanya Jessica dengan heran.
"Ikut saja perintahku."
Jessica menganggukkan kepala kemudian dia berjalan keluar, Jessica langsung menemui anak buah Carlos dan Mike. Dia menyuruh mereka untuk bersiap-siap.
Sementara di dalam kediaman orang tua Mecy tampak Carlos memakai headset bloototh di kupingnya dan berpura-pura menerima panggilan, Carlos memberi isyarat kepada anak buahnya.
Carlos tidak menutup teleponnya, kemudian dia tersenyum kepada orang tua Mecy dan Anak Tuan Rolland. Carlos hanya mengenal anak Tuan Rolland, sedangkan Diego sama sekali Carlos tidak kenal, begitu juga Mike dia tidak kenal dengan Diego.
Mereka saling bersalaman lalu Diego orang tua Mecy menyuruh mereka duduk.
Tampak wajah Acel begitu tegang, di menatap Mike dan Carlos.
Carlos tersenyum melihat Acel lalu dia memberi isyarat agak Acel tenang.
"Terima kasih sudah menerima kami di sini," ucap Carlos membuka pembicaraan, dia tampak terlihat tenang.
"Sama-sama." balas Diego dengan dingin.
Carlos hanya tersenyum lalu dia menatap Mecy dan Diego.
"Kalian pasti sudah tahu tujuan kami datang ke sini." ujar Carlos dengan suara yang tenang. Dia ingin menunjukkan kepada Diego bahwa dia tidak takut sama sekali kepada Diego dan anak Tuan Rolland.
"Tentu saja, Tuan. Putriku sudah menceritakannya," sahut Diego, "tapi aku tidak mengijinkan putriku menikah dengan anakmu."
Acel dan Mecy terkejut, lebih-lebih Mecy. Dia tidak menyangka Diego tidak mengijinkan dia menikah dengan Acel. Dia terkejut karena Diego merubah keputusan yang awalnya dia sangat senang Acel menikah dengannya.
"Dad, kenapa Daddy tidak mengijinkan aku menikah dengan Acel? Tadi pagi Daddy begitu senang mendengar aku akan menikah dengan Acel, kenapa sekarang Daddy berubah pikiran?"
"Kenapa Anda tidak mengijinkan aku menikah dengan Mecy, apa alasannya?" tanya Acel dengan heran.
"Tanyakan kepada Papamu dan Pamanmu kenapa! Suruh mereka berdua yang menjelskannya," sahut Diego dengan tersenyum sinis kepada Acel.
__ADS_1